Li Shin begitu senang ketika menjadi seorang murid sekte Seribu Pedang. Bakatnya yang sampah menjadikannya sebagai bahan olokan, namun semua itu tidak dirinya pedulikan.
Penatua yang menerimanya sebagai seorang murid, memiliki identitas yang tidak biasa. Itu karena Gurunya adalah seorang jenius yang cukup terkenal. Hal ini semakin membuat Li Shin tertekan karena bakatnya yang buruk.
Menjadi seorang murid hanya dalam sekejap saja bagi Li Shin. Karena gurunya terbunuh oleh seseorang yang cukup misterius dan mati begitu saja.
Li Shin sekali lagi terjatuh dan dia hanya bisa kembali menjadi pelayan sekte. Tetapi siapa sangka jika Gurunya meninggalkan sesuatu untuknya secara diam - diam. Itu adalah sebuah peta untuk keberadaan tempat tersembunyi.
Berpikir jika dirinya harus mengunjungi apa yang ada di dalam peta tersebut. Li Shin bertemu dengan sesuatu yang dapat mengubah takdirnya. Dari yang awalnya hanya seorang sampah menjadi seorang Jenius menentang langit.
Tempat tersembunyi yang ada di dalam peta tersebut memiliki Pedang Kelahiran. Sejak saat itu Li Shin mengalami titik balik. Dengan pedang kelahiran di tangannya, Li Shin berhasil membuka jalur meridian dan juga Dantiannya berhasil di buka dan sejak saat itu dia memiliki takdir menentang langit.
"Di saat kematianku akan datang, mengapa aku mengingat masa - masa itu lagi..." Kata Li Shin sambil menggelengkan kepala.
Kemudian menambahkan beberapa kata lagi, "Mati tanpa meninggalkan keturunan, sepertinya kehidupanku berakhir dengan sia - sia..." Segera dia menatap musuh - musuhnya dengan tatapan tajam. Walaupun ada penyesalan dihatinya, Li Shin tidak ingin memikirkannya lagi.
"Tuan Li, apakah kamu sudah memikirkannya?..."
Walaupun Pria paruh baya di depan mereka hanya menunggu kematian mengingat kondisinya yang tidak memungkinkan lagi untuk bertahan, namun tidak ada yang berani bergerak lebih awal untuk menyerangnya.
Dengan Pedang Kelahiran di tangannya, Li Shin masih tidak terkalahkan dan musuhnya memahami hal tersebut. Dia juga tidak ingin menunggu musuhnya bergerak lebih awal.
LI Shin sangat menginginkan perdamaian sejak era kekacauan datang. Dan ketika perdamaian akan benar - benar terwujud, namun dia tidak dapat melihat perdamaian yang dia impikan. Selain mendapatkan penghianatan.
"Aku akan mengigat kalian semua. Jika ada kesempatan kedua, aku akan membalas perbuatan kalian semua..." Kata Li Shin sedingin es.
"Haha... Tuan Li, sepertinya kamu terlalu percaya diri. Jika kamu menginginkan balas dendam, tunggulah kami di alam baka..." Jawab salah satu diantara mereka.
Li Shin menggelengkan kepala, mungkin menghancurkan Pedang Kelahiran akan menjadi pilihan yang tepat. Setidaknya pedang yang gurunya tinggalkan untuknya tidak boleh berakhir di tangan orang jahat.
Dia tahu tidak mudah untuk menghancurkan Pedang Kelahiran, namun dia bisa meledaknya dengan menggunakan pedang kelahiran itu sendiri.
"Kalian menginginkan pedang ini?..." Li Shin memperlihatkan Pedang Kelahiran yang ada di tangannya dengan santai. Itu terlihat seperti pertunjukan dan semua orang ingin meneteskan air liur ketika melihatnya.
"Benar, Tuan Li tolong serahkan pedang itu kepada kami..."
Li Shin menyeringai ketika mendengar kata - kata mereka. "Bahkan dalam mimpi kalian, aku tidak akan menyerahkan. Pedang ini sudah terikat denganku begitu lama, dan dengan kematian diriku. Maka pedang ini harus dihancurkan!..."
Segera Li Shin menelan esensi darah miliknya. Teknik yang akan dia gunakan tidak hanya menggunakan kehidupannya, itu adalah salah satu teknik terlarang yang akan membunuh penggunanya.
"Langkah Pedang Kehancuran!..." Teriak Li Shin untuk terakhir kalinya.
Faktanya Pedang Kelahiran sudah mengalami kerusakan. Dalam pertarungan melawan ras iblis sejati, Telah banyak mengalami keretakan. Sehingga Li Shin memiliki kesempatan untuk menghancurkannya.
Cahaya menyilaukan terpancar dari tubuhnya, juga memancar dengan sangat menyilaukan dari pedang kelahiran. Tidak berhenti di sana, gesekan udah di sekitarnya menciptakan nyala api yang muncul begitu saja.
Buuuzzzzz!
Tidak ada yang tahu jarak dari jangkauan ledakan penghancur yang Li Shin lakukan. Setidaknya daya ledakan tinggi itu akan mencakup keseluruhan pegunungan yang tidak lagi memiliki daun hijau itu.
Kach!
Cahaya menyilaukan dengan cepat membesar ke segala arah. Mereka yang menyadari lebih cepat langsung melarikan diri. Sedangkan mereka yang terlambat hanya bisa mati bersama di dalam ledakan yang begitu dahsyat tersebut.
"Tidak!..."
"Sial, Dia merusaknya..."
"Menjauh sekarang jika ingin selamat..."
"Sial, Cepat pergi dari sini..."
Semua orang dengan tertekan, berusaha untuk melarikan diri. Mereka menjauh dengan semua kemampuan mereka. Cahaya menyilaukan semakin lebih besar dan menelan lingkungan di sekitarnya.
Booooommm!
Ledakan yang begitu dahsyat dan besar terjadi dan menghancurkan pegunungan yang membentang luas.
_
_
_
Ledakan besar itu mengakhiri segalanya, Li Shin sudah tidak dapat merasakan tubuhnya lagi. Dia tenggelam di dalam kegelapan, rasa sakit yang dia rasakan selama ini telah menghilang dan menandakan jika jiwanya akan pergi ke alam baka.
Kini jiwanya bergentayangan di kegelapan, lebih tepatnya dalam bentuk astral, yang tidak memiliki tujuan dan hanya diam di sana.
"Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi, setidaknya dalam hidupku aku sudah melakukan hal yang benar." Ketika Li Shin mulai memilih untuk pasrah dan merelakan semuanya, tiba-tiba sebuah cahaya terang dan menyilaukan muncul di hadapannya.
"Apa ini, hangat dan dingin pada saat yang sama!." Belum sempat Li Shin berpikir lebih jauh, cahaya terang itu semakin besar dan mendekatinya.
Li Shin yang melihat cahaya terang itu merasakan perasaan yang begitu nyaman. Mungkin ini adalah apa yang semua orang mati rasakan. Segera cahaya terang itu mengelilinginya dan menelan tubuh astral miliknya.
Tubuh astral Li Shin kemudian memancarkan cahaya putih terang sebelum pandangannya kembali menjadi kabur kemudian gelap. Tetapi kali ini seluruh tubuhnya kembali merasakan rasa sakit yang seharusnya tidak di miliki oleh orang yang telah mati.
"Aahh! Apa yang terjadi padaku?!." Yang Mengejutkan Li Shin adalah, dia secara tiba-tiba merasakan sakit pada bagian perutnya.
Bukankah seharusnya dia sudah mati?
Mengapa dia masih harus merasakan sakit seperti ini?
Li Shin tidak pernah mengira jika orang mati masih dapat merasakan rasa sakit di perutnya. Bukannya tubuhnya sudah hancur, mengapa dia merasakan rasa sakit yang mirip dengan sensasi kelaparan?
Ketika Li Shin meronta lebih jauh, dia tersadar bisa membuka matanya dan menemukan dirinya sedang berbaring sambil mendengarkan jejak keramaian yang ada di sekelilingnya.
Apa yang ada di depannya adalah sebuah pasar yang cukup ramai dan banyak orang yang berjalan di sepanjang dia melihat. Menyadari dia berbaring di tepi jalan sambil merasakan kelaparan, dia tidak jauh dengan seorang pengemis.
"Mungkinkah aku belum mati?." Li Shin dengan perlahan bangkit dan mencoba untuk duduk. Ketika dia melihat lagi apa yang ada di sekelilingnya, dia begitu yakin jika dirinya belum mati.
"Bagaimana mungkin ledakan besar itu tidak membunuhku!." Li Shin tidak bisa percaya, dia yakin dirinya telah tewas dan tempat ini juga terasa asing baginya, mungkinkah alam baka berbeda dengan yang selama ini ada di benaknya?
Kruuuk!
Sekali lagi perutnya berbunyi, dia benar - benar lapar dan tidak sanggup untuk menggerakkan tangannya. Tetapi ketika dia melihat tangannya sendiri, Li Shin menemukan hal yang mengejutkan. Yaitu tangannya begitu kecil dan halus.
"Mungkinkah aku kembali ke masa lalu?..." Gumam Li Shin dengan sulit percaya.