Angin berhembus dengan kencang membuat bunga-bunga serta pepohonan menari. Burung-burung berkicau kesana kemari. Dan perjalanan ini membuat Alea terduduk kelelahan. Sudah seharian Alea berjalan tanpa arah dan tak menemukan tanda-tanda penduduk sekitar.
“Hah...” Alea menghela nafas panjang. Dia lalu membaringkan tubuhnya. “Ibu... ayah...” Gumamnya lalu memejamkan matan. Rasa lelah sangat terasa di sekujur tubuhnya. Dia haus, lapar, dan sempat-sempatnya ingin buang air mini. Dia rindu keluarga, teman-teman, bestie-bestie, kerabat jauh, kerabat dekat, guru-guru, tetangga-tetangga, hewan-.
“Grr...” Suara gerungan hewan terdengar dari arah yang tak jauh dari tempat Alea duduk. Refleks tubuhnya berdiri dan merasa waspada.
Tak lama kemudian seekor harimau keluar dari arah semak-semak dan mendapatinya. Harimau itu menatap Alea bagaikan musuh yang enak untuk dimakan. Kakinya perlahan maju mendekati Alea yang gemetaran.
Astaga ibu...
Tanpa berpikir panjang, Alea langsung berlari dengan kencang melewati pohon-pohon besar yang tumbuh di sekitar hutan. Dia tak peduli ke mana lari membawanya pergi. Yang penting hanyalah dia bisa selamat dan masih hidup dalam kondisi yang utuh.
Alea berjalan gesit. Dia terus berlari dan terus berlari tanpa arah. Namun kesalahannya adalah pada semakin dia masuk ke dalam, semakin banyak predator yang mengejarnya. Ular, singa, harimau, bahkan buaya yang rela meninggalkan habitatnya di dalam air demi mangsanya. Dan semakin lama, hutan semakin menjadi gelap gulita.
Kenapa pula ada kelinci yang ikutan rombongan mereka.
Alea, siswi SMA yang hobinya berpetualang. Tak sia-sia dirinya mendapat julukan itu yang diberikan oleh teman-temannya. Di saat seperti ini, kakinya dengan lincah berlari, melompat, bahkan menunduk dari pohon yang amat besar. Namun, yang namanya Alea tetaplah Alea. Dia tak bisa menyaingi kecepatan para predator yang lebih lincah darinya. Apalagi dengan tubuhnya yang perlahan-lahan mulai lemah karena kelaparan.
“KYAAK!” Predator lain tiba-tiba melompat di depan Alea. Untungnya dia dengan gesit menghindar.
Apa itu? Rubah ekor Tiga?
Rubah ekor tiga yang lumayan besar mulai ikutan mengejarnya. Masuk ke dalam rombongan predator lainnya.
KRAK!
“Aw!” Alea mengaduh kesakitan. Dahan berduri menusuk permukaan kulit kakinya. Dia lalu berlari tertatih-tatih. Darahnya keluar dan membuat aroma amis di sekitar hutan. Dan yang paling mengerikan, kecepatan larinya mulai menurun dan membuat jarak antara dirinya dengan para predator semakin dekat.
Mayoran sore kali ini semoga saja bukan dagingku.
“KWAK!” Burung besar tiba-tiba ingin menyambarnya dan membuatnya berteriak kaget. Untungnya burung besar tidak tertarik untuk mengejarnya pula.
Astaga... dosa apa yang kulakukan sampai-sampai aku mendapat siksaan seperti ini.
Di depan Alea terdapat jurang yang curam. Tak segan-segan Alea menuruninya dengan penuh gaya. Kakinya berkali-kali menahan rasa sakit dari tanaman yang berduri. Rasa gatal ditubuhnya tak ia hiraukan. Dia terus berlari dan berbelok selagi ada jalan.
Di depannya ada sungai kecil. Kakinya melompat melewati ikan-ikan yang juga melompat-lompat mencari mangsa. Di belakangnya, para predator masih saja mengejar tanpa merasa lelah.
Sarang lebah!
Alea mempercepat larinya dan mengambil sarang lebah sebesar kepala. Dilemparkannya sarang itu pada para predator di belakangnya. Dengan kesibukan yang para predator alami terhadap kemarahan para lebah, dia gunakan kesempatan itu dengan berbelok menuju gua yang tak jauh darinya. Dia terduduk lemas. Mencoba menetralkan napasnya yang ngos-ngosan.
Semoga saja sementara aku aman disini.
Baru juga dia berdoa, seekor beruang hitam tiba-tiba muncul dari arah lubang pintu gua. Tubuh Alea gemetaran tak karu-karuan. Bagaimana tidak? Hewan yang besarnya dua kali lipat lebih besar dari bapaknya datang dengan menampakkan gigi taringnya yang tajam dan air liur yang menetes ke tanah. Tatapannya sama seperti para predator sebelumnya.
Astaga... aku masuk sarang kematian.
Alea mundur perlahan. Dia bingung harus bagaimana. Kalau ke belakang, jalannya buntu. Kalau ke depan, mungkin...
Lari, Alea!
Alea merengsek maju ke depan dan kabur lewat celah yang ada. Celah yang berada di bawah si beruang. Larinya si mangsa membuat si beruang mengejarnya tanpa ampun. Enam predator teratasi, predator lainnya mendatangi. Meski hanya seekor beruang, tetap saja beruang lebih besar.
Kaki Alea tersandung. Dia hampir saja terjatuh dan untungnya langsung menyeimbangkan tubuhnya kembali meskipun kakinya terpincang-pincang. Dia beberapa kali menunduk dan melompat.
Tanpa disadarinya, di depan ada jurang lagi. Dia akhirnya terpeleset dan terguling-gulung. Tubuhnya terutama kepalanya beberapa kali terbentur batu dan pohon yang ada. Ketika tubuhnya telah berhenti , dia segera bangkit dan berlari kembali. Sempat dia menyambar buah yang bergelantung di pohon lalu memakannya.
Enak. Seperti apel tapi ada rasa mangganya. Tapi-
“AKH!” Alea berseru. Lumpur penghisap menyeret kakinya ke bawah. Dia panik setengah mati.
Tidak boleh panik Alea. Tidak boleh panik. TIDAK BOLEH PANIK!
Alea perlahan berjalan mendung dengan tenang. Menetralkan kepanikannya agar tidak panik dan semakin terseret.
Alea menangis. Susah sekali dia mengangkat kakinya untuk keluar. Tapi matanya menemukan sulur-sulur pohon yang besar dan tampak kuat di atasnya. Tangannya lalu memegang sulur di atasnya dengan kuat dan menariknya. Perlahan tubuhnya ke atas dan kakinya terlepas dari lumpur di bawahnya.
Beruang yang berada jauh di belakang tiba-tiba terlihat lagi. Dengan cepat Alea mengayunkan tubuhnya dan sulur itu membawanya melayang ke sulur-sulur lain layaknya monyet yang bergelantungan.
Entah kenapa tubuhku sangat ringan seperti tidak ada beban. Apakah berat badanku semakin turun?
Alea tertawa karena dengan profesionalnya dia terus bergelantungan dan meninggalkan beruang itu jauh sekali. Sayangnya, terlalu senang membuatnya lalai dalam memilih sulur. Tangannya bukan menangkap sulur melainkan ular yang bergelantungan. Dia kemudian terjatuh bersamaan dengan ular yang ditangkapnya.
Ular itu marah dan membuka mulutnya lebar-lebar. Ular yang sebesar siku-siku itu mengejar Alea yang langsung berlari. Bukan hanya satu ular saja yang mengejarnya, melainkan bersama induknya sebesar paha.
Dua masalah teratasi, yang lainnya pun datang lagi.
Alea melihat baru besar di depannya dan segera naik. Dia adalah juaranya memanjat pohon selama ini. Sampainya di atas, dia segera melompat ke bawah.
“HUWAAA!!!”
TUING... TUING...
Alea terlompat-lompat. Sesuatu yang dipijaknya membuatnya melompat-lompat seperti bermain trampolin.
“Eh?” Tanpa harus berpikir sangat panjang, dia segera menggunakan kesempatan untuk terus melompat. Semakin dia jauh melompat, semakin tahu dia bahwa yang dipijaknya adalah jamur super elastis.
Ini.. seperti dunia novel dan komik yang k****a.
Alea tersenyum lebar. Dia terlalu senang karena keasyikan membuatnya lupa dengan kejadian sebelumnya. Namun, keasyikan itu tak berlangsung lama. Dia malah terjun ke sesuatu yang licin dan kenyal seperti daging. Itu ular raksasa yang besarnya dua kali lebih lipat daripada induk ular sebelumnya.
“Alamak...” Alea melongo. Dia meneguk ludahnya dan berjalan mundur. Kali ini dia tidak lari melainkan melompat ke dalam sungai di dekatnya dan berenang secepat mungkin. Sayangnya, skilnya dalam berenang sangat rendah. Dia tidak ahli berenang sama sekali. Namun, itu semua terjadi di sebelumnya dan tidak untuk sekarang. Tubuhnya mengambang dan dia dengan cepat berenang menuju daratan.
Ular yang di hadapi Alea sekarang bukanlah ular yang hobinya hanya melata di tanah, melainkan ular itu juga hobi berenang dan bahkan lebih cepat dari pada Alea. Melihat hak tersebut, terbirit-b***t Alea berenang dan menggerakkan seluruh tubuhnya.
Alea berdoa dalam hatinya yang paling dalam. Dia berharap keajaiban datang dan menyelamatkannya. Dia masih belum ingin mati apalagi mati muda. Dia juga tidak ingin mati dengan kondisi yang seperti ini. Jika ia mati, maka sia-sialah usahanya untuk kabur.
Kata ibu, keajaiban akan selalu datang pada orang yang baik. Tapi, apa-apaan ini.
Mata Alea perlahan mulai berkunang-kunang. Dia kelelahan. Di matanya, samar-samar dirinya melihat burung besar yang membentangkan sayapnya.
Apakah itu malaikat maut yang mau menjemputku? Mana sabitnya?
Burung itu dengan cepat menyambar tubuh Alea dan menyelamatkannya dari gigitan ular yang telah siap untuk melahapnya habis-habis. Burung besar yang biasanya disebut burung phoenix yang hanya ada dalam legenda, akhirnya datang dengan mencengkeram tubuh Alea yang lemas.
Alea memuntahkan isi dalam perutnya. Ketinggian membuatnya takut setengah mati. Burung itu terus terbang dengan kecepatan tinggi yang membuatnya takut untuk membuka mata.
Mau di bawa kemana aku?
Burung Phoenix memperlahan terbangnya. Takut-takut Alea mencoba membuka sedikit matanya. Di depan, dia melihat sarang burung yang sangat besar dengan beberapa burung anakan yang melompat-lompat kegirangan.
Astaga...
Alea meronta-ronta mencoba untuk turun dari cengkeraman phoenix. Berkali-kali dia terus berusaha dan jarak antara dia dengan sarang burung sudah dekat.
Aku harus...
Krauk!
Alea menggigit kulit kakinya burung phoenix dengan kuat.
“KYAAAHH!” Burung Phoenix berteriak kesakitan. Suaranya amat nyaring membuat gendang telinga Alea hampir jebol.
Burung phoenix kemudian melepaskan mangsanya. Alea benar-benar membuatnya merasa tercubit dengan gigitan dan cubitan kecil Alea. Dia bagaikan semut yang merasa terancam.
Alea terjun bebas di udara. Ini pertama kalinya dia mengalami hal seperti ini dan jantungnya berdetak dengan cepat. Antara bingung, pasrah dan lemas menjadi satu.
Kalau saja aku mati dalam keadaan terjatuh, aku ikhlas kok. Asalkan bukan mati karena menjadi santapan penghuni di sini. Aku...
TUING! TUING!
Tubuh Alea terpantul-pantul. Dia mendarat di atas jamur-jamur besar yang sangat elastis seperti trampolin dan di tempat yang sangat gelap. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, dia lalu melompat-lompat dalam keadaan lemas. Dengan matanya yang berkunang-kunang, Alea mendapati cahaya yang sangat terang di depan. Tidak terlalu jauh darinya.
Aku harus segera keluar dari sini.
Alea semakin mempercepat gerakannya. Ini sudah keadaan genting. Ada seekor kodok besar yang menemukan mangsanya dengan cepat dan jarak antara Alea dengan kodok itu sudah benar-benar tinggal satu meter dengannya. Kalau saja kodok itu menjulurkan lidahnya, bisa saja sekarang Alea akan berteriak dan hanya meninggalkan kenangan di dalam hutan.
“KROTOK! KROTOK!”
Alea memaksakan tubuhnya untuk terus bergerak. Dia harus mempertahankan kesadaran dirinya.
Sedikit lagi...
Alea mulai melompat dan hanya dalam beberapa centi kakinya telah sampai pada cahaya yang-
“KROTOK” Kodok menjulurkan lidahnya yang panjang ke arah Alea. Dia mendapatkan mangsanya dengan mudah.
“KYAAAA TOLOOONG!!!” Alea meronta-ronta dan menangis kencang.
“ROOOARRR!!!!” Seekor naga tiba-tiba datang dan meraung amat kencang. Aumannya itu membuat kodok yang menyerang Alea segera melepaskan mangsanya dan pergi terbirit-terbirit karena ketakutan. Bagaimana tidak? Hewan legendaris yang tubuhnya tiga kali lipat lebih besar daripada dirinya tba-tiba datang dengan gagahnya dan membentangkan sayapnya. Napas apinya menderu membuat keringat bercucuran. Dia datang dengan tatapan mata tajam yang seperti ingin membunuh semua yang ada di depannya.
“HAI NONA!” Teriakan seorang laki-laki tiba-tiba muncul dari atas kepala si naga dan menghancurkan suasana tegang yang menimpa Alea. Suara yang pernah dia dengar. “KAU BAIK-BAIK SAJA? MASIH UTUH KAN!” Tentu saja lelaki itu adalah Sian. Lelaki berambut hitam dan bermata hitam. Bajunya tentu saja berwarna putih bersih yang cocok sekali dengan kulitnya yang juga putih bersih. Lelaki tampan yang akan menjadi idaman teman-teman Alea. Namun ketampanan itu tidak akan berlaku untuk seorang bernama Alea.
“Kau... sialan...” Mata Alea perlahan menutup dan tubuhnya mulai limbung lalu terjatuh. Wajah yang tampak lelah dengan tubuh yang tergores dimana-mana.
Sian menatap Alea sejenak. Dia lalu turun dari kepala si naga dan menggendong Alea. “Kau memang perempuan yang hebat.” Bisik Sian pada Alea yang jatuh pingsan lalu tersenyum tipis menatap wajah lelah Alea.
Sian lalu berganti menatap naga yang menjadi tunggangannya sekarang. “Kau tidak marah kan?” Tanya Sian pada si naga.
Naga itu mendengus kasar lalu menggeleng. Pupil matanya yang semulanya kecil berubah menjadi lebar. Pupil mata yang menandakan pertemanan.
Sian tertawa sejenak lalu naik ke kepala naga yang menunduk. Dia lalu mendudukkan Alea di depannya dan memeluknya agar tidak terjatuh.
“Ayo pergi. Mereka pasti sedang menungguku.” Perintah Sian pada si naga. Tidak perlu perintah dua kali, si naga langsung membentangkan sayapnya dan terbang naik setinggi mungkin. Perjalanan ini baru saja dimulai.
》¤《