Bau kaldu ayam menyusup dari lantai bawah, menyelinap lewat celah ubin yang retak, dan menempel di mana-mana. Vina sudah hafal jadwalnya: kalau aromanya mulai pekat, berarti jam sebelas siang, dan Pak Hardi di warung bawah mulai merebus mie untuk antrean kuli proyek seberang.
"Aku bersumpah," kata Vina sambil mengetik tanpa menoleh, "suatu hari nanti kode kita bakal kebawa rasa micin."
Reno yang duduk di meja seberang—kalau dua meja yang ditempel jadi satu bisa disebut "seberang"—mengangkat kepala dari layarnya. "Kalau kode kita bisa kebawa apa pun, harusnya kebawa enak. Punyamu masih error di baris dua ratus tujuh belas."
"Itu bukan error. Itu fitur."
"Fitur yang bikin aplikasi nutup sendiri kalau orang pencet tombol login dua kali?"
Vina membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Reno menyeringai. Vina membenci seringai itu. Membenci dengan sepenuh hati, sungguh, dengan tingkat kebencian yang sama seperti ia membenci hari Senin, kabel charger yang ketuker, dan orang yang berhenti mendadak di eskalator.
Kantor Juara App menempati satu ruangan persegi di lantai dua sebuah ruko tua. Lantai satu adalah warung mie Pak Hardi, lengkap dengan spanduk merah yang catnya sudah memudar jadi merah muda sedih. Untuk mencapai kantor, kamu harus melewati tangga sempit di samping warung, tangga yang anak-anaknya berdecit seperti protes setiap diinjak.
Di dalam, ada lima meja, satu kulkas kecil yang lebih sering kosong daripada isi, satu papan tulis penuh coretan rencana yang separuhnya sudah dilupakan, dan satu pendingin ruangan yang menyemburkan udara dengan semangat seekor kakek yang baru bangun tidur siang.
Lima karyawan. Itu seluruh kerajaan mereka.
"Vinaaa! Renoo!" Suara Pak Damar menggelegar dari ruang sebelah—yang sebenarnya cuma area yang dipisah lemari arsip. "Sini sebentar. Aku punya ide."
Vina dan Reno bertukar pandang. Tiga kata itu, "aku punya ide," adalah tiga kata paling menakutkan di seluruh kantor. Lebih menakutkan dari "server down," lebih menakutkan dari "investor mau ketemu."
"Giliranmu," bisik Vina.
"Tadi pagi udah giliranku waktu dia mau ganti logo jadi macan."
"Itu setengah ide. Ini ide utuh."
Reno mendelik, tapi mereka berdua tetap bangkit dan menyeret kaki menghadap takhta. Pak Damar—pendiri, CEO, dan satu-satunya orang yang masih percaya seratus persen bahwa Juara App akan mengubah dunia—berdiri di depan papan tulis dengan spidol di tangan dan mata berbinar bahaya.
"Bayangkan," katanya, "aplikasi yang bisa mesenin makanan, manggil ojek, sama nyariin jodoh. Sekaligus. Dalam satu tombol."
Hening.
"Pak," kata Vina hati-hati, "kita kan aplikasi catat pengeluaran harian."
"Itu yang sekarang. Aku ngomongin masa depan."
"Masa depan kita seminggu lagi, Pak," sahut Reno. "Pendanaan dari Pak Sugianto baru cair kalau kita tunjukin versi yang jalan. Versi yang sekarang. Yang catat pengeluaran. Yang masih banyak bug-nya."
Pak Damar menurunkan spidol perlahan, seperti pendekar yang menyarungkan pedang. "Bug apa aja?"
Vina menarik napas. "Login dobel bikin crash. Grafik bulanan kebalik. Tombol simpan kadang nyimpen, kadang enggak, tergantung mood semesta."
"Tombol simpan punya mood?"
"Itu bercanda, Pak. Tapi separuhnya serius."
Pak Damar mengangguk, lalu menepuk pundak mereka berdua dengan gerakan yang dimaksudkan menyemangati tapi terasa seperti vonis. "Kalian berdua yang terbaik yang aku punya. Sebenarnya kalian satu-satunya programer yang aku punya. Tapi tetap, yang terbaik. Aku percaya kalian bisa beresin semua sebelum demo."
"Tujuh hari, Pak."
"Tujuh hari," ulang Pak Damar, seolah mengulang angka itu akan membuatnya terdengar masuk akal. "Penuh keajaiban, tujuh hari."
Vina kembali ke mejanya dan menatap layar yang penuh baris kode seperti menatap musuh lama. Di luar jendela, langit Jakarta sudah mulai berwarna jingga keruh. Sebentar lagi malam. Sebentar lagi, ia tahu, ia akan lembur. Lagi.
Reno menjatuhkan diri ke kursinya, berderit. "Tujuh hari buat benerin tiga bulan kekacauan."
"Empat bulan," koreksi Vina.
"Lebih buruk dari dugaanku."
Mereka diam sejenak. Dari bawah, terdengar Pak Hardi berteriak ke pelanggan, "Mie ayam dua, pangsit satu, yaa!" Suara wajan beradu, suara kompor menyala, suara kehidupan biasa yang berputar tanpa peduli bahwa di lantai atas ada lima orang sedang mempertaruhkan masa depan mereka di atas aplikasi yang tombol simpannya punya mood.
"Vin," kata Reno akhirnya.
"Apa."
"Kalau kita berhasil, aku traktir kamu mie ayam Pak Hardi."
Vina mendengus. "Hadiah keberhasilan kita mie ayam yang baunya udah kita hirup tiap hari gratis?"
"Pakai pangsit."
Vina hampir tertawa. Hampir. Ia menahannya, karena tertawa pada lelucon Reno adalah bentuk pengakuan, dan ia belum siap mengakui apa pun. Ia hanya kembali mengetik, sementara di luar, malam pelan-pelan turun ke atas kota.