Segala hal yang meliputi kebaikan Shinta bagi seorang Rama adalah sifat pemaafnya. Mungkin hanya berlaku bagi Rama yang mana bukan sosok yang dicintai ataupun dihormati oleh Shinta. Lantas bagaimana jika yang berdusta adalah orang yang selama ini ia harapkan?.
Menjelang akhir tahun, warga di kampung paman Supar ramai mengagendakan acara tahunan. Tidak ada lampu kelap-kelip ataupun ornamen yang menghiasi jalanan desa. Mereka hanya mengadakan acara makan bersama dari hasil budidaya dan olahan warga desa. Puncak acaranya diisi dengan doa yang dipimpin tokoh agama setempat untuk meminta keberkahan dan keselamatan dari Yang Maha Kuasa.
Rama dan mas Jo yang bertetangga, membantu bagian pasang tenda dan dekorasi panggung. Sementara paman Supar dengan giat menguras air kolam dan menangkapi ikan lele yang dibudidaya oleh pak Narendra sendiri. Para ibu juga sibuk mempersiapkan racikan bumbu aneka olahan makanan yang akan dimasak untuk nanti dan esok hari. Tidak ketinggalan anak-anak kecil bermain ataupun sekadar melihat pekerjaan yang dilakukan orang dewasa.
“Mas Jo! Besok sore temani saya ke rumahnya Shinta ya?” Pinta Rama.
“Mau apa lagi? Bukannya kamu bilang belum lama ini pergi ke sana?” Tanya mas Jo dari atas tiang penyangga sambil mengaitkan kain tenda.
“Saya ingin mengundangnya untuk datang ke acara kita besok malam.” Jawab si Rama.
“Untuk apa? Dia kan bukan warga desa sini! Apa kamu tidak takut sama bapaknya itu?” Mas Jo menjelaskan situasi yang dihadapi.
Rama beralasan, “Ya… tidak apa-apa! Sekalian bisa tahu kabarnya setelah terakhir kali saya ke sana! Tidak masalah kan, Mas! Mas Jo!”
Paijo hanya sibuk dengan pekerjaannya yang beralih hendak memasang lampu.
“Apa sih? Kerja yang betul! Bawa tangganya ke sini!” Perintah si Paijo sambil menunjuk tangga yang disandarkan pada tiang rumah bapak Kepala Desa. Di halaman rumah yang paling luas itu acara akan diselenggarakan.
Dengan memasang wajah cemberut, Rama mengambilkannya.
Brukkk! Rama malah sengaja membuat tangganya tergeletak di atas tanah. Dengan mata sayu mas Jo menatap ke arah Rama. Serangan pun dilancarkan. Tubuh Rama dijatuhkan ke tanah lalu kedua pergelangan kakinya dikunci. Mas Jo meluapkan emosi dengan menggelitiki telapak kaki Rama si tukang rengek. Itu adalah hal yang paling tidak disukai oleh Rama sejak kecil mereka berteman. Sekejap Rama tertawa geli sekejap pula ia marah hingga memaki.
“Hahaha! Hentikan! Hahahaha! Dasar sialan! Buahaha! Ampun..ampun!”
Mas Jo menghentikan kejahilannya. Alih-alih mengggunakan tangga bambu tadi, mas Jo memilih untuk mengambil sendiri tangga lipat sebagai pijakan saat memasangkan lampu. Rama disuruh berjaga di bawahnya. Mereka kemudian beristirahat pada siang hari.
Di tempat lain, Safya masih terus mencoba membujuk Shinta untuk mau makan. Sejak kepulangannya dari pertemuan hari Minggu lalu, ia lebih banyak mengurung diri di dalam kamar. Bahkan buku-bukunya tak pernah lagi ia sentuh. Kalaupun keluar hanya sekadar untuk membersihkan badan dan mengambil air minum di dapur lalu kembali ke kamarnya. Dalam sehari maksimal Shinta hanya mau makan puding yang dibuat oleh simbok Darsih.
Siang itu ayahnya berada di rumah karena sudah mulai cuti libur akhir tahun.
“Dia masih tidak mau makan?” Tanya si Bapak.
Safya hanya menggelengkan kepalanya. Ayah Shinta menghela napas dan mengerutkan kulit di dahinya.
“Kalau dia masih begitu, biar sekalian hari ini saya kurung dia di kamar sampai pak Gubernur sekeluarga datang ke rumah!” Ancam ayah Shinta.
Saat ayahnya berupaya mengunci pintu, Shinta dengan cepat menarik pintunya.
“Apa yang Bapak katakan tadi? Jadi Bapak mengundang mereka untuk datang ke sini?” Kata Shinta yang meminta penjelasan.
“Biar Bapak yang mengatur semuanya. Petang nanti kamu sudah harus bersiap diri untuk menyambut tamu. Nanti ibunya juga turut serta, jadi kamu harus bersikap sopan terhadap mereka!” Pesan Ayahnya lalu segera mengunci pintu.
Shinta yang terlambat menyadari hanya bisa menarik-narik gagang pintu dan berteriak dari dalam kamar. Safya yang diserahi kunci pintu dari si Bapak hanya disuruh membukanya pada waktunya nanti.
Senja telah tiba namun langit yang seindah biasanya. Nampak langit telah digulung oleh awan mendung. Menggantikan hawa panas yang memang sudah membuat gerah sejak tadi siang. Rama tetap pergi dengan rencana awal meski pada akhirnya sendiri juga. Sebelum berangkat, Rama menyempatkan diri untuk memotong rambutnya yang sudah bertambah panjang di tempat cukur rambut langganannya. Segera setelah selesai, Ia bersepeda melewati jalanan yang mulai ramai akan kendaraan bermotor dimana orang-orang hendak mudik atau berwisata untuk menghabiskan waktu akhir tahun.
Rama tetap melaju kencang hingga kayuhannya terhenti di dekat sudut pagar rumah dinas Bupati tersebut. Pada area taman kecil itu tidak nampak nyala lampu minyak yang remang-remang menyinari sekitarannya. Justru nampak nyala terang dari arah jendela kamar Shinta. Mata si Rama terbelalak melihat Shinta melambaikan tangan kepadanya dan memberikan isyarat untuk masuk lewat pintu belakang. Rama yang polos menurut saja. Kemudian Shinta membuka kaca jendela Nako dan berbicara dengan berbisik kepada Rama.
“Rama, tolong bawa saya pergi dari sini!” Shinta memohon.
“Apa? Saya…” Rama ingin menanggapinya namun Shinta memaksa agar ia mendobrak pintu di samping jendela itu.
“Tapi…” Kata Rama lalu dicegah oleh Shinta.
“Nanti saya jelaskan semua!” Janjinya.
Lagi-lagi Rama terpaksa menuruti apa kata Shinta. Tanpa banyak kata Rama memboncengkan Shinta untuk membawa pergi entah kemana. Di tengah jalan mereka diguyur hujan cukup deras. Rama dan Shinta memutuskan untuk berteduh di emperan warung gudheg dekat jalur kereta api yang sudah tutup. Rama mengharapkan Shinta untuk mengatakan sesuatu, tetapi Rama tidak berani untuk bertanya terlebih dahulu apalagi memaksa Shinta bicara.
“Kita mau pergi ke mana setelah ini?” Kata Rama basa-basi.
“Sebenarnya saya tidak punya tujuan. Saya…” Keluh Shinta.
“Bagaimana kalau pergi ke desa kami. Kebetulan besok malam kami ada acara bersama seluruh warga. Mungkin mbak Shinta juga bisa ikut membantu perayaan acara kami?” Saran Rama.
Rama menyadari bahwa Shinta memang berniat untuk kabur dari rumah. Paling tidak ia bisa membantunya untuk menyediakan tempat menginap sementara waktu.
Hawa dingin seusai hujan reda dengan hanya bercahayakan lampu jalanan di malam hari, mampu menguatkan kaki-kaki Rama. Secepat mungkin ia mengendarai sepeda agar sampai di rumah sebelum tengah malam.
TOK TOK TOK! Seseorang lalu membukakan pintu yang diketuk tersebut.
“Fitri, maaf malam-malam begini merepotkan! Tapi bolehkah temanku menginap di tempatmu malam ini saja?” Pinta Rama kepada Fitri, keponakan paman Supar yang hanya tinggal dengan ibu dan satu adiknya yang masih kecil.
Fitri yang melihat teman yang dikenalkan oleh Rama itu nampak lesu dan kurang sehat. Jadi ia membolehkannya masuk ke dalam rumah. Kemudian Rama meninggalkan Shinta dengan mempercayakan kepada sepupunya tersebut.
Situasi berbeda terjadi di rumah tempat tinggal sang Bupati. Ayah Shinta itu kelimpungan menghadapi ketiga tamunya yang mengetahui bahwa Shinta telah pergi melarikan diri. Rasa malu bercampur amarah seketika menghunjam jantungnya. Ia mencoba menahan kepulangan pak Gubernur sekeluarga, namun si Ayah sendiri sama sekali tidak tahu putrinya itu ada di mana. Semua orang di rumahnya juga tidak ada yang tahu keberadaan Shinta saat ini. Termasuk si Safya yang dipercayai memegang kunci kamar.
Pak Gubernur dan sang istri yang terlanjur merasa keluarganya telah dipermainkan tidak bisa menunggu lagi. Mereka memutuskan untuk pulang.
“Tolong beri Shinta satu kesempatan lagi. Mungkin ia terlalu gugup untuk pertemuan hari ini. Jadi izinkan saya untuk mengatur waktu untuk pertemuan berikutnya!” Permohonan si ayah Shinta.
Pak Gubernur saling bermain mata dengan istri dan putranya.
“Baik! Tapi kami ingin langsungkan pada acara lamaran saja. Bapak harus bisa meyakinkan putri Anda sendiri untuk menerima pinangan anak kami. Kalau tidak? Mungkin perjodohan ini harus diakhiri dan seharusnya tidak akan pernah terjadi lagi. Selain itu saya tegaskan pula, perjanjian yang pak Bupati dan saya telah sepakati harus dibatalkan secara hukum. Dan satu hal yang lebih penting, bahwa saya tidak bisa menjamin lagi kejahatan Anda selama menjabat Bupati tidak akan terbongkar dalam beberapa minggu kedepan!” Ancam sang Gubernur.
Dengan suara gemetar ayah Shinta itu menjawab, “Iya. Saya janji! Akan saya usahakan dengan sebaik-baiknya!”.
Akhirnya para tamu itu meninggalkan si tuan rumah bersama istri dan para pembantunya yang diliputi kegelisahan. Setelah cukup lengang beberapa saat, perangai buruk sang Bupati pun meluap. Dia berjalan dengan garang ke arah Safya yang paling muda.
“Kamu benar-benar tidak tahu di mana Shinta?” Tanyanya dengan geregetan kepada Safya.
“Sumpah! Saya benar-benar tidak tahu Pak! Seperti Anda lihat sendiri tadi, pintu belakang rusak seperti sudah didobrak seseorang.” Jawab Safya.
“Saya tahu itu. Tapi kamu yang sudah saya kasih kuncinya. Mana mungkin juga Shinta yang melakukannya. Jelas-jelas pintu itu hanya bisa didobrak dari arah luar.” Alasan si Bapak.
“Kamu tahu seseorang dari luar yang kenal dekat dengan Shinta?” Tanyanya lagi sedikit mengancam.
“Secara pribadi saya tidak tahu Pak! Saya hanya tahu kalau mbak Shinta punya banyak teman di yayasan.” Ujar Safya seadanya.
Ayah Shinta menjadi semakin pusing dan malah mengancam. “Saya akan coba menghubungi pengurus yayasan itu. Kalau sampai tidak ada kabar tentang Shinta? Saya akan laporkan kamu atas keterlibatan dalam upaya penghilangan orang!”
Safya tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia hanya membisu lalu didekap oleh bude Darsih yang berusaha menguatkannya. Sekilas terpintas dalam pikirnya, apakah sekarang Shinta sedang bersama dengan Rama?.