“Akhirnya kalian pulang juga!” sambut ibu Rama yang cemas menanti.
“Kamu pergi dari mana saja, Safya? Orang-orang rumah sampai pada khawatir!” sambungnya.
Menantunya itu hanya bisa tersenyum masam. Mata Safya melirik ke arah Rama, namun si Suami sama sekali tak ada tanggapan untuk disampaikan kepada Ibu.
“Ya sudah! Besok saja bicaranya. Sekarang lekas istirahat, kalian pasti sudah kecapaian! Itu diminum dulu teh panasnya!” tunjuk Ibu ke arah meja makan.
Selesai ibunya berbicara, Rama berjalan begitu saja ke dalam kamar untuk menaruh jaket pada gantungan baju. Sementara Safya mengambil air minum yang sudah tidak terlalu panas itu, ibu mertuanya kembali ke kamar untuk mengusir rasa kantuk dengan tidur nyenyak di atas kasur yang empuk.
Safya mengusap-usap gelas kaca itu dengan kedua telapak tangan. Ia minum dengan perlahan sehingga badannya merasa jauh lebih hangat sekarang. Sembari ia menunggu-nunggu, apakah Rama akan keluar dari kamar mereka sekadar untuk menengahi masalah sebelumnya. Mungkin saja, malam ini juga Rama akan memberikan penjelasan yang sebenarnya mengenai hubungan surat dari Shinta dengan jalinan rumah tangga mereka sejauh ini.
Beberapa menit berlalu tapi Rama tak kunjung muncul dari balik pintu kamar yang dibiarkan terbuka. Dalam benaknya Safya berkata, “Apa dia juga tidak mau minum dulu?”
Dan teh panasnya pun sudah terlanjur dingin. Safya lantas membereskan gelas-gelas yang sudah kotor itu ke ruangan dapur. Kemudian saat Safya sedang berjalan menuju ke kamar, tiba-tiba ada suara orang ramai yang menggedor pintu di depan rumah. Ia mendatangi asal suara dengan hati-hati. Agak mencurigakan jika ada tamu datang di jam-jam malam seperti ini dengan jumlah lebih dari tiga orang.
“Siapa itu?” tanya Safya dari dalam ruang tamu.
Namun tidak ada yang menjawab pertanyaan dari wanita tersebut.
“Rama! Mas Rama!” panggil Safya tapi suaminya itu tidak pernah menyahutnya. Rama sudah tertidur pada bantal yang nyaman.
Suara itu terus menggedor-gedor pintu. Safya mencoba mengintip melalui kaca jendela yang ditutupi oleh tirai kain.
“Mas Eka!” Safya terkejut melihat kakak iparnya, dibopong oleh orang-orang yang tidak ia kenal.
Segera Safya membuka kunci pintu dan mempersilakan mereka untuk membawa masuk mas Eka. Tubuh itu pun terkulai lemah di atas sofa yang panjang. Kemudian Safya berlari memanggilkan adik laki-laki dari mas Eka.
“Mas Rama, bangun! Mas Eka pingsan!” beritahunya.
Sontak Rama terjaga dari tidurnya yang belum lama.
“Di mana?” tanya si Rama.
“Itu! Ada beberapa orang juga di ruang tamu.” jawab si Safya.
Bergegas Rama melihat kondisi dari kakaknya tersebut. Ternyata beberapa orang yang mengantarkan mas Eka adalah teman-temannya sesama pedagang ikan di pasar. Mereka menceritakan bahwa tadi sore, Eka sengaja ikut melaut dengan para nelayan. Tapi gelombang tinggi menghantam kapal yang mereka naiki. Para nelayan mampu bertahan di atas kapalnya, tapi Eka terpental dan masuk ke dalam air. Kemampuan renangnya yang terbatas hampir membuat ia digulung oleh ombak di tengah laut. Untung ada orang yang sigap menyelamatkan Eka dan membawanya kembali naik ke atas kapal. Ayah satu anak itu pun pingsan sebab terlalu banyak meminum air laut. Katanya mas Eka sempat siuman setelah mendapatkan pertolongan pertama, tapi ia pingsan lagi dalam perjalanan di darat, lantaran belum makan apapun sejak tadi siang.
Setelah menyampaikan maksud kedatangannya yang beramai-ramai di malam yang larut itu, para tamu tak diundang tersebut berpamitan pulang. Mereka juga berharap Eka segera diberi makan oleh keluarganya. Rama dan Safya pun mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka dengan menutupi rasa malu sebagai bagian dari keluarga ini.
Setelah kondisi rumah kembali tenang, “Apa ibu belum tahu?” tanya Rama kepada istrinya.
“Belum! Aku tidak berani membangunkan Ibu. Beliau sepertinya kelelahan sampai tidak lagi mendengar jika baru saja ada keramaian di sini.” ujar Safya.
“Ya sudah, biarkan saja Ibu tidur! Sekarang, tolong kamu ambilkan selimut hangat di lemari!’ pinta Rama.
Wanita itu segera mematuhi perintah suaminya kemudian menyerahkan kain itu untuk menyelimuti tubuh sang Kakak. Pakaian mas Eka sendiri masih belum terlalu kering selama dibawa dalam perjalanan ke rumah. Safya bertanya, “Apa aku harus memanggilkan mbak Dewi? Mungkin dia tengah khawatir karena suaminya belum sampai di rumah.”
Rama sempat berpikir sejenak. Ia pun menyetujui saran dari Safya. Kemudian wanita itu keluar dari pintu depan dan mengetuk jendela luar kamar kakak iparnya. Setelah mendapatkan kabar terbaru tentang suaminya, kak Dewi terpaksa meninggalkan anaknya yang sudah tertidur lelap. Ia menjadi sangat panik hingga keluar tanpa memakai sandal jepit sebagai alas kakinya.
Akhirnya mas Eka sadarkan diri setelah dibangunkan langsung oleh istrinya. Meskipun tampaknya ia harus menahan sakit karena mbak Dewi menepuk-nepuk dan menggoyang-goyangkan badan mas Eka dengan tenaga yang sangat kuat. Selanjutnya dengan jalan yang tertatih sambil dipapah oleh sang Istri, mas Eka dibawa pulang ke rumahnya yang bersebelahan. Kasihan juga kakak si Rama, baru siuman langsung dimarahi oleh mbak Dewi karena ia tidak mendengarkan nasihat istrinya kemarin sore.
“Kan sudah aku kasih peringatan kemarin! Jangan ikut-ikutan melaut. Ini lagi musim hujan. Ombaknya tinggi-tinggi, anginnya juga kencang. Sekarang kejadian, kan? Ngeyel sih kalau dikasih tahu sama istri!” Mbak Dewi tak kuasa menahan omelannya.
“Yo mau bagaimana, dari pada rebutan sama pedagang lain karena stok ikan terbatas! Mana, harganya dipatok mahal!” curhat mas Eka.
“Makanya harus sabar! Mau harga nyawamu yang dipatok murah?” gertakan sang Istri membuat nyali suaminya ciut.
Mas Eka tidak bisa berkata apa-apa lagi di samping mbak Dewi. Sepanjang mereka berjalan bersama menuju meja makannya, sepanjang itu pula omelan sang Istri tak berhenti pula ia dengarkan. Tanpa sadar Rama dan Safya pun dibuat tertawa dengan mendengar obrolan dua karakter, kakak-kakak ipar mereka yang masih terdengar dari dalam rumah Rama.
Malam-malam kemarin, telah berlalu dengan api perdebatan di antara Rama dan Safya. Akan tetapi, hari ini komunikasi keduanya cenderung lebih baik. Ibu Rama dengan kerendahan hati meminta mereka untuk berdamai, mengikhlaskan dan memberi maaf satu sama lain. Safya sebagai menantu pun menerima nasihat mertuanya meski terus berusaha meyakinkan diri sendiri untuk percaya penuh kepada suami. Baik itu perkataan maupun perbuatannya karena sang Ibu sendiri juga mengaku sangat menaruh kepercayaan terhadap Rama selama ini dan ia selalu memegang teguh tanggung jawab. Kalimat dari ibunya tidak lain hanya dengan maksud, agar kehidupan keluarga anaknya kembali harmonis.
Meski begitu, tampaknya Rama juga berusaha keras untuk menahan diri di hadapan Ibu dan Safya. Namun sedikit demi sedikit, ia mulai memperbaiki pola komunikasi dengan istrinya sebagai wujud kesepakatan di antara mereka. Tetapi pada lain hal, Rama justru tidak menunjukkan perbaikan. Ia mengaku, belum terbersit dalam pikiran untuk bisa atau langsung memiliki anak dari pernikahannya dengan Safya. Oleh karena semata-mata demi kebaikan hubungan rumah tangganya ke depan, Safya pun rela jika memang Rama belum memiliki kesiapan dengan alasan yang macam-macam. Termasuk rencana Rama yang ingin memperluas rumah yang mereka tinggali kini dan juga membeli tanah di tempat lain. Semua persiapan materi ingin ia penuhi karena hal tersebut juga merupakan wasiat dari almarhum bapaknya dulu saat Rama baru mau beranjak ke usia remaja.
Dengan begitu Safya juga ingin mengajukan syarat kepada Rama. Ia mau kuliah seperti Rama dan mengambil ilmu keguruan. Safya berkata ingin menjadi seorang guru.
Rama heran dengan permintaan Safya. Apakah hal itu menjadi cita-cita yang masih ingin Safya wujudkan di usianya yang baru saja menginjak 30 tahun? Awal yang cukup meragukan, namun Rama akhirnya menyanggupinya. Ia akan membiayai kuliahnya sampai selesai. Tapi, benarkah Safya memiliki kesungguhan dalam ucapannya atau ia hanya berambisi untuk bisa menyamai status sosial dari seseorang.
Rama tak ingin ambil pusing. Baginya yang terpenting adalah untuk saat ini rumah tangganya kembali tenang dan tenteram. Tapi sesungguhnya Rama tidak tahu jika istrinya itu tengah mendendam dengan caranya sendiri. Rama sendiri masih menyembunyikan rasa penyesalan karena ternyata dirinya tidak bisa memberikan ataupun mewujudkan harapan kebahagiaan yang menjadi tujuan dan sebagai buah dari pernikahan. Lalu, apakah yang menyebabkan Rama sudah banyak berubah? Benarkah ia tidak ingin memiliki anak dari istrinya sendiri? Rama masihlah menjadi manusia yang baik namun kenyataannya lebih menyedihkan dari apa yang kebanyakan orang lihat pada dirinya.
Masih ingatkah dengan pak Narendra, ayah dari mas Paijo? Jauh sebelum Rama kembali ke kampung halaman dan menuntut ilmu untuk menjadi seorang arsitek seperti sekarang, ada pesan terakhir yang beliau sampaikan. Pak Narendra pernah mendapat cerita dari anaknya itu, perihal mayat yang membusuk di belakang pohon Kelor area harta karun yang pernah dicari-cari oleh keempat anak muda. Lokasinya berada di bukit belakang gudang persediaan atau lumbung pangan milik mantan bupati yang telah mati.
Setelah mengetahuinya, pak Narendra lantas melaporkan penemuan ini kepada petugas yang berwajib. Polisi waktu itu dengan cepat dan hasil yang cermat mengidentifikasi mayat korban. Hingga akhirnya dua dari pelaku kasus pembunuhan itu ditangkap. Kejahatan ini berkaitan dengan koper berisi uang dan emas batangan yang dibawa pulang oleh mendiang ayah Shinta pada satu malam. Tapi mantan bupati itu bukanlah dalangnya. Ia bahkan tidak tahu apa-apa. Hanya ada satu orang yang tahu persis dengan urusan ini dan dia adalah istri sang mantan bupati, bu Ajeng.
Rama tidak bermaksud mengungkit kejelekan atau dosa orang yang sudah meninggal, tapi pak Narendra bilang kepadanya jika sudah pernah memberikan kesaksian. Namun si Tersangka entah mengapa belum juga diperiksa, mungkin juga sampai pada hari ini. Pak Narendra hanya khawatir dengan mbak Shinta. Hal itu pun turut menjadi perhatian dari seorang Rama.