"Benar." Sang dokter pun mengangguk. "Sebenarnya, bisa jadi anak ini ingin mengatakan sesuatu. Tapi gangguan kecemasan yang dia alami mencegahnya berbicara dalam situasi sosial tertentu dan kepada orang-orang tertentu. Jadi, selain harus mendapatkan perawatan medis, kondisi mentalnya juga perlu diperhatikan."
Leonard terus mendengarkan penjelasan dari Dokter dengan serius selama bermenit-menit lamanya. Lalu begitu selesai, pria itu pun masuk kembali ke dalam kamar rawat kemudian duduk di tempat semula. Aria masih saja seperti sebelum ditinggalkan oleh Leonard. Hanya berdiam diri sambil menatap lurus ke langit-langit ruangan, sementara matanya tak pernah kering dari liquid bening yang sarat akan kesedihan tak terucap.
Pemandangan tersebut tak ayal membuat hati Leonard sesak oleh perasaan sakit dan iba. Bagaimanapun juga, dia memiliki seorang putri yang usianya sama dengan Aria sehingga naluri Leonard sebagai seorang ayah bangkit terlebih saat andai di dalam benaknya berbisik, bagaimana jika putrimu yang mengalami guncangan hebat seperti yang dialami oleh anak itu?
Sebagai jawaban, Leonard refleks menggelengkan kepala seraya membuang napas kasar, sedangkan genggaman tangannya menyelimuti tangan Aria yang terasa dingin. Cukup sekali Leonard merasakan perasaan hancur ketika putra tertuanya yang bernama Sevrin harus hidup menderita setelah mengalami kecelakaan yang membuat kaki, mata, dan telinganya tidak bisa berfungsi secara normal. Dan Leonard benar-benar tidak sanggup jika harus membayangkan hal-hal buruk terjadi lagi pada anak-anaknya.
Pengalaman menyedihkan yang terjadi padanya beberapa tahun silam membuat Leonard bisa membayangkan betapa terlukanya perasaan orang tua anak ini, jika mereka menyaksikan bagaimana terguncangnya kondisi kejiwaan buah hati mereka sampai-sampai mengeluarkan sepatah kata pun dia tidak mampu. Sambil memperhatikan Aria dalam diam, ada masalah lain yang sekarang tengah mengusik hati Leonard Lee.
Jarak antara Seoul dan kota kecil tempat mereka berada sekarang tidak cukup ditempuh dengan dua atau tiga jam perjalanan. Belum lagi kesibukannya sebagai seorang dosen yang pastinya akan membuat Leonard kesulitan untuk menjenguk Aria di sela waktu luang yang dia punya.
Menurutnya, membawa Aria pergi ke Seoul untuk menjalani perawatan sambil menunggu kabar dari polisi mengenai keberadaan orang tuanya merupakan hal yang paling efektif untuk dilakukan saat ini. Namun yang jadi pertanyaan di dalam benak pria itu adalah, bagaimana kalau Selia tidak menyetujui gagasannya untuk membawa Aria tinggal di rumah mereka? Ah, bukan tidak setuju, tapi pasti tidak setuju. Ralat Leonard selagi dia menghela napas berat.
Leonard bisa saja menitipkan Aria ke sebuah panti asuhan lalu memasrahkan semua urusannya kepada pihak yang berwajib. Tetapi, ada sesuatu yang membuat Leonard merasa terikat dengannya sehingga pria itu tidak mampu lepas tangan begitu saja terhadap Aria kendatipun mereka sama sekali tidak saling mengenal. Bukan karena dirinya takut kepada Selia yang membuat Leonard merasa bimbang. Dia hanya tidak ingin ribut dengan istrinya yang posesif, manipulatif, serta impulsif, apalagi sampai menempatkan Aria menjadi objek kebencian Selia yang tidak beralasan.
Jadi memang lebih baik kalau dia tidak tahu.
Untuk sesaat, Leonard memejamkan mata, menunduk dan berpikir tanpa melepas genggaman tangannya dari tangan Aria. Barulah ketika hatinya merasa mantap, Leonard mengangkat kepala sementara senyum ramah yang sangat tulus tersungging di bibirnya ketika dia berkata sembari mengusap lembut kepala Aria dengan kehati-hatian penuh.
"Nak, apa pun yang kau alami, kau bisa lebih tenang karena sekarang kau berada di tempat yang jauh lebih aman."
Air mata kembali menetes dari kedua sudut mata Aria yang langsung diseka oleh Leonard.
"Sudah... jangan sedih lagi, ya? Kau tidak sendirian. Ada Paman di sini bersamamu. Kalau kau mau, kau bisa menganggap Paman seperti Ayahmu sendiri."
Lambat laun tangis Aria berangsur-angsur reda diikuti pandangan yang mulai sayu. Aria mulai dibuai rasa kantuk sampai akhirnya dia pun tertidur.
"Tidurlah yang nyenyak, Aria. Semoga Tuhan menggantikan rasa sakitmu dengan kebahagiaan."
Kata-kata Leonard bagaikan senandung harapan yang mengantarkan Aria rebah di pangkuan dewa mimpi. Ada setitik perasaan lega yang menyeruak ke dalam diri Leonard begitu embus napas Aria berubah tenang dan teratur. Setidaknya dengan tidur, pikir Leonard, rasa sakit yang mengguncang jiwa raga anak ini bisa sedikit terobati meski hanya seperti titik embun yang mudah menguap.
...
Dua hari kemudian, Leonard memutuskan untuk memindahkan Aria ke rumah sakit ternama yang ada di kota Seoul tanpa sepengetahuan Selia supaya Aria bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik lagi. Setiap kali dia memiliki waktu luang, Leonard selalu menyempatkan diri datang ke rumah sakit untuk menjenguk sekaligus memeriksa perkembangan kesehatan Aria meski terkadang dia tidak bisa tinggal lama-lama di sana.
Demi mengatasi keterbatasan waktu yang dia miliki, Leonard berinisiatif menempatkan salah satu orang kepercayaannya untuk memantau kondisi Aria secara khusus supaya gadis itu tidak merasa kesepian apalagi merasa ditinggalkan di saat dia sedang tidak bisa berkunjung. Terlebih hingga detik ini, polisi belum juga memberikan kabar apa pun kepadanya terkait keberadaan orang tua Aria yang seperti hilang ditelan bumi.
Sementara pintu ruangan tertutup di belakangnya, perhatian Leonard langsung tertuju kepada sekretarisnya yang sedang berusaha membujuk Aria untuk membuka mulut. Segera Leonard mendekat ke arah ranjang lalu berdiri di samping Bella yang langsung bangun dari tempat duduk begitu dia menyadari kehadiran sang atasan.
"Aria, tadi Bella bilang padaku kalau kau tidak mau makan. Apa itu benar?" Leonard lantas duduk di bangku yang tadi diduduki oleh Bella, tangannya terulur ke samping meminta mangkuk yang sedang dipegang oleh sang sekretaris tanpa menoleh.
"Kalau kau tidak mau makan, kapan kau akan sembuh, Nak?" ujar Leonard sembari menyendokkan sesuap bubur kepada Aria. Ketika Aria lagi-lagi menggelengkan kepala, Leonard pun berkata, "Aria, dengarkan Paman. Jika kau ingin pergi mencari kedua orang tuamu, minimal kau harus makan yang banyak dan istirahat yang cukup supaya cepat sembuh. Nanti jika kau sudah sembuh, Paman janji akan membantumu mencari mereka. Bagaimana?"
Selama beberapa detik, Aria terdiam sambil memandang lekat wajah Leonard seolah-olah gadis itu sedang menerka-nerka apakah dirinya sedang dibohongi atau tidak. Untuk memperkuat persuasinya kepada Aria, Leonard terlebih dahulu meletakkan mangkuk yang dia pegang ke atas meja sebelum membalas tatapan penuh selidik yang diarahkan kepadanya dengan senyum cerah.
"Supaya kau percaya kalau Paman tidak sedang berbohong, Paman akan memberitahumu sebuah kabar baik yang Paman dapatkan sebelum berangkat ke sini. Tapi sebelum itu, kau harus makan dulu, ya?"
Aria sedikit tergerak melihat kesungguhan dalam kelembutan tutur kata Leonard. Pribadi Leonard yang baik hati dan penyayang, mampu membuat Aria membuka diri kepada pria yang di matanya sangat mirip dengan sosok sang ayah di saat kepercayaannya kepada dunia mati ditusuk anak panah yang dilontarkan oleh pamannya sendiri. Setelah peristiwa naas itu terjadi, sangat tidak mudah bagi Aria menerima kehadiran orang asing di dekatnya.
Semua wajah baru yang dia lihat, di setiap sudut ruang yang tidak dia kenali, di setiap tarikan udara yang memenuhi paru-paru, Aria selalu merasa dirinya berada di dalam bahaya, terancam, sendirian, dan terombang-ambing. Aria dilanda rasa takut yang hebat ketika dia merasakan sendiri bagaimana tersiksanya tidak memiliki seorang pun yang bisa dia percaya. Bahkan ketika dia ingin berteriak meluapkan perasaan meledak-ledak yang membuatnya frustasi pun, lidahnya seperti terkunci sementara hampa menarik semua kosakata yang dia miliki.
Ditemani air mata yang membayang namun berhasil dia tahan ketika rasa rindu memvisualisasikan sosok sang ayah dengan sangat nyata di kepala, Aria mulai membuka mulut meski dia sama sekali tidak berselera menelan makanan apa pun.
"Nah, begitu." Leonard tersenyum lebar melihat Aria menghabiskan tiga sendok bubur yang dia suapkan kepadanya.
Tepat disendokan ke lima, sebuah ketukan di pintu menarik atensi tiga pasang mata yang ada di dalam ruangan. "Biar saya yang buka," kata Bella, yang dijawab anggukan kepala oleh Leonard.
Tak lama berselang, Bella kembali bersama seorang laki-laki yang mengaku sebagai kepala kepolisian kota tempat Aria ditemukan. Pria bertubuh tinggi itu pun menganggukkan kepala memberi salam kepada Leonard, sedangkan Leonard sendiri langsung berdiri dan menjabat tangan si kepala polisi.
"Silakan duduk." Leonard memandu polisi itu menuju sofa yang terletak di dekat jendela. "Bagaimana? Apa Anda mendapatkan kabar baru?"
"Sebenarnya saya masih ingin mencocokkan informasi yang saya dapat supaya tidak ragu," jawab si polisi mula-mula.
"Informasi apa itu?"
Antusiasme tinggi yang ditunjukkan oleh Leonard justru membuat si kepala polisi tersenyum pahit. Untuk sepersekian detik lamanya, perasaan berharap Leonard digantung oleh raut wajah gundah dari pria yang kini sedang menjatuhkan pandangan ke lantai sambil sesekali melirik segan ke arahnya.
"Sebelumnya, saya ingin meminta maaf terlebih dahulu karena kabar yang saya bawa bukanlah kabar baik," pria berperawakan tinggi besar itu terlebih dahulu menjeda kalimatnya demi memindai ekspresi Leonard meski hanya selintas lalu, "melainkan berita buruk."
"Berita buruk?" Leonard mendadak gugup.
Si kepala polisi pun mengangguk sebelum menyodorkan sebuah foto. Sementara si kepala polisi menjelaskan dari mana dia mendapatkan foto yang kini sedang Leonard pegang lengkap bersama kronologinya, ekspresi Leonard tiba-tiba berubah tegang begitu sepasang netranya tertuju pada gambar seorang wanita yang dulu pernah dia cintai dalam diam tampak hampir tidak mempercayai apa yang sedang dia lihat.
"Jadi, kemarin ada seorang laki-laki bernama Yordan yang datang ke kantor polisi tak lama setelah berita ditemukannya sebuah mobil yang jatuh ke sungai tersiar. Pria itu ingin memastikan apakah mobil yang jatuh itu adalah mobil milik kakaknya atau bukan, karena katanya dia merasa seperti mengenali plat mobil tersebut. Sampai sekarang baru jasad Kang Mina saja yang ditemukan. Sedangkan suami dan anaknya masih berstatus hilang."
Penjelasan dari si kepala polisi terus berputar-putar di benak Leonard layaknya tornado dahsyat yang diiringi denging menyakitkan sampai-sampai isi kepalanya terasa porak-poranda dan dia kehilangan disorientasi.
"Jadi, Kang Mina... dia..."
"Anda mengenal mayat—maaf, wanita itu?" tanya si polisi ditemani kernyit dalam di dahi begitu Leonard berhasil menyebutkan nama korban sebelum dia beritahu.
"Iya," jawab Leonard lirih seraya mengangkat wajah perlahan, terasa sekali energinya terkuras setelah mendengar berita duka yang nyaris membuatnya lupa bernapas, "kebetulan... aku mengenal wanita yang ada di foto ini."
Kembali pandangan Leonard jatuh ke foto keluarga yang masih dia pegang dengan tatapan mata tak terbaca. Jantung Leonard serasa turun ke perut dan cairan empedu seolah naik mencemari saliva yang dia telan dengan susah payah, tatkala ingatan masa lalu yang ia miliki tentang Mina berkelebat dalam tempo cepat di kepala: Mina yang memanggil namanya dengan lembut, Mina yang meminjamkannya sebuah payung sewaktu dia terjebak di sebuah toko buku tua, Mina dan rambut hitam lurusnya yang berayun indah ketika gadis itu berbalik ke belakang hanya untuk mengucapkan hati-hati di jalan kepadanya sambil melambaikan tangan dan tersenyum cerah.
Sudah bertahun-tahun lamanya Leonard tidak pernah bertemu dengan gadis yang mampu mencuri hatinya dengan begitu mudah. Leonard pikir... perasaan yang dia punya kepada Mina telah layu dimakan waktu. Namun ternyata hanya dengan mendengar namanya saja, hati Leonard seperti mampu mengenali Mina hingga perasaan yang dia sangka sudah mati malah seperti disirami dan tumbuh kembali. Benar! Tumbuh kembali hanya untuk ditebas dengan luka dan duka sampai-sampai yang tersisa sekarang hanyalah kekosongan.