Naufal, sakit." keluh Lusi, merasa tidak nyaman. Bukannya mengendurkan cengkraman itu, Naufal malah semakin menjadi.
"Jujur. Cuma itu yang gue minta dari lo." Naufal memperingatkan.
"Aku... enggak ngerti maksud kamu,"
Naufal membuang nafas kasar. Amarahnya sudah dipuncak, tapi gadis itu tidak kunjung mau menerima mengaku.
"WOY!" suara berat Fardo menggema di seluruh isi rumah.
Lusi tersentak, tetapi tidak dengan Naufal. Ia memutar malas bola matanya.
"Ngapain lo ke sini, hah?!" Fardo menarik kerah baju Naufal kuat-kuat. Dia menjauhkan cowok itu dari adiknya.
"Kak, jangan--"
"Diem. Biar gue yang nanganin cowok b******k ini." potong Fardo. Lusi merapatkan bibir.
"b******k? Lo yang lebih b******k! Lo gak bisa didik adik lo itu. Dia udah bikin nyawa seseorang dalam bahay