Kila berlari ke dalam kamarnya. Dia menangis tanpa suara di dalam sana. Baru pertama kalinya dia dipermalukan seperti tadi. Dia membenci dirinya sendiri. Kila benci tubuhnya yang sudah tidak suci lagi.
"Nak, Bunda mau bicara." Sheren mengetuk pintu kamar Putrinya. Dia tahu, Putrinya itu pasti sangat sedih. Ini salahnya, andai saja dia tidak memanggil rekan kerjanya.
"Arkan, Sasa..." Sheren memandang Arkan yang berdiri di belakangnya.
"Biar Arkan yang ketuk." Cowok itu berjejak di hadapan pintu. Tangannya mengetuk perlahan.
"Sa, buka. Bunda lo mau ngomong sesuatu. Buka dong. Jangan ngunci diri kaya gini. Lo kayaknya senang, ya, kalau Tante Sheren sedih?"
"Sa, buka sebentar. Satu menit aja."
Percuma. Ucapan Sheren saja tidak digrubis apalagi Arkan. Sheren memegang pundak le