“Kalian sedang apa?” Sheren terkejut dengan pemandangan yang barusan dia lihat. Mengapa Arkan dan Putrinya sedekat ini? Sejak kapan?
Mereka berdua tetap tidak menoleh. Entah suara Sheren yang kekecilan atau bagaimana. “Arkan, Sasa.” Panggil Sheren dengan suara tegas dari sebelumnya.
Arkan menengok. Namun Kila, masih menangis di dalam pelukannya.
“Sasa sayang,”
Arkan melepaskan pelukan Kila. “Bunda nanya,”
Kila menoleh ke ambang pintu. Sheren terenyuh melihat mata sembab putrinya itu.
“Kamu nangis? Kenapa?” Sheren mendekati Mereka berdua. Ia mendudukkan diri di antara Mereka.
“Aku mimpi buruk, Bunda. Aku mimpi sahabat aku meninggal,”
“Itu hanya mimpi. Tidak akan jadi kenyataan, sayang.” Sheren membelai rambut putrinya.
“Tapi gimana kalau—“
“Kamu tidak mau berangkat sek