8 Tahun kemudian
Setelah kelulusan SMA 8 tahun yang lalu, Lola dan teman-temannya melanjutkan ke
jenjang perkuliahan. Ada yang memilih satu kampus, dan ada yang memilih berbeda kampus
dengan yang lainnya. Akhirnya mereka pun bertemu kembali, di usia mereka yang sudah 25
tahun ini.
Mereka bertemu di acara reuni geng mereka. Reuni kali ini dibiayai oleh Galaksi Milan
Admaja yang saat ini sudah menjadi bos yang mempunyai berbagai macam anak perusahaan
di seluruh Indonesia.
Reuni genk tersebut mereka lakukan di Bandung, tepatnya di salah satu hotel milik
Galaksi.
Sebenarnya sewaktu kuliah, ada beberapa dari mereka yang satu kampus. Namun karena
kesibukan mereka, setelah lulus mereka menjadi sedikit berjarak. Bahkan ada yang pindah
sementara ke luar negeri untuk menlanjutkan studi mereka.
Malam itu, ballroom kecil di lantai dua hotel sudah dipenuhi suara tawa yang terlalu keras untuk ukuran orang berumur dua puluh lima tahun.
"WOY LOLA!"
Lola baru saja melepas mantelnya ketika tiga orang sekaligus memeluknya dari arah yang berbeda.
"Astaga—sesak!"
"Lo ke mana aja sih?! Chat gue dibaca doang!"
"Sibuk!"
"Sibuk apa? Sibuk pacaran?"
"BUKAN!"
Semua orang tertawa.
Lola melepaskan diri sambil merapikan rambutnya, lalu menyapu pandangan ke seluruh ruangan.
Wajah-wajah itu masih sama. Hanya saja sekarang ada yang berkacamata, ada yang jauh lebih kurus, ada satu yang sudah punya perut dan bangga sekali memamerkannya.
Delapan tahun.
"Lo lama banget berdirinya," ucap sebuah suara dari belakang.
Lola berbalik.
Galaksi Milan Admaja berdiri di sana dengan setelan yang jelas mahal dan wajah yang sama sekali tidak berubah—kecuali mungkin sedikit lebih lelah di sekitar mata.
"Galaksi."
"Halo, Lola."
Mereka saling menatap beberapa detik.
Lalu Lola mengulurkan tangannya.
Galaksi menatap tangan itu, lalu tersenyum kecil dan menyambutnya.
"Salaman? Serius?"
"Ya masak gue peluk."
"Dulu lo pernah nendang gue di kantin."
"ITU DELAPAN TAHUN LALU!"
"Gue masih inget sakitnya."
***
Reuni itu berjalan seperti semua reuni di dunia: setengah jam pertama canggung, setengah jam berikutnya sibuk memperbarui informasi, dan sisanya kembali persis seperti dulu.
"Jadi lo sekarang arsitek?" tanya Dena sambil menyendok makanannya.
"Iya," jawab Lola.
"Di Bandung?"
"Iya."
"Kok gak balik Jakarta?"
Gerakan tangan Lola melambat sedikit.
"Nyaman di sini."
Dena mengangguk dan tidak bertanya lagi. Anak-anak ini memang begitu—mereka tahu bagian mana dari cerita Lola yang tidak boleh dikorek.
"Bang Leon gimana kabarnya?" tanya yang lain.
Nah, yang ini boleh.
"Baik. Sekarang di Surabaya, udah punya anak dua."
"DUA?!"
"Iya."
"Gila. Bang Leon punya anak dua."
"Yang kedua baru lahir bulan lalu."
"Lo udah jenguk?"
Lola tersenyum. "Udah. Tiga kali."
***
Pukul sebelas, sebagian sudah pulang.
Lola berdiri di balkon lantai dua sambil memegang gelas air putih, memandangi jalanan Bandung yang masih basah sisa hujan sore.
"Nggak minum?"
Ia menoleh. Galaksi bersandar di pintu balkon.
"Nggak."
"Sejak kapan?"
"Sejak dulu, Lak. Lo aja yang nggak pernah merhatiin."
Galaksi tertawa pendek dan berdiri di sampingnya.
Mereka diam beberapa saat.
"Lo apa kabar?" tanya Galaksi akhirnya.
"Baik."
"Beneran?"
"Beneran."
"La."
Lola menoleh.
"Gue nanya beneran," ucap Galaksi. "Bukan basa-basi reuni."
Lola memandangi gelasnya.
"Beneran baik, Lak," jawabnya pelan. "Sekarang beneran."
Sesuatu di bahu Galaksi melunak.
"Bagus."
"Lo sendiri?"
"Sibuk."
"Itu bukan jawaban."
"Itu satu-satunya jawaban yang gue punya."
Lola tertawa kecil.
"Lo tahu nggak," ucap Galaksi sambil memandang ke jalanan, "dulu gue mikir bakal butuh sepuluh tahun buat bisa ngomong sama lo tanpa berantem."
"Baru delapan."
"Iya. Lebih cepat dari perkiraan."
"Gue emang efisien."
"Lo emang nyebelin."
Keduanya tertawa.
Lalu Galaksi menoleh.
"La."
"Hm?"
"Gue denger dari Dena."
Lola menegang sedikit.
"Denger apa?"
"Soal Angkasa."
Lola menunduk ke gelasnya, dan untuk beberapa detik ia tidak tahu harus berkata apa.
"Iya," jawabnya akhirnya.
"Serius?"
"Serius."
"Kapan?"
"Belum ditentuin tanggalnya. Tapi tahun ini."
Galaksi mengangguk pelan, memandang lurus ke depan.
"Bagus," ucapnya.
"Lak—"
"Gue serius, La." Ia menoleh, dan senyumnya kali ini benar-benar sampai ke matanya. "Angkasa itu orang yang bener. Dari dulu."
Lola menggenggam gelasnya lebih erat.
"Lo nggak marah?"
"Buat apa gue marah?"
"Ya... "
"La." Galaksi menyandarkan sikunya ke pagar balkon. "Delapan tahun lalu gue bocah yang nggak tahu cara ngomong baik-baik sama orang. Gue kira kalau gue ganggu lo terus, artinya gue perhatian."
Lola tidak menjawab.
"Butuh waktu lama banget buat gue sadar kalau yang gue lakuin itu bukan perhatian." Ia mengangkat bahu. "Jadi nggak, gue nggak marah. Gue lega."
Balkon itu sunyi cukup lama.
"Lak."
"Hm?"
"Makasih."
"Buat apa?"
"Buat yang barusan."
Galaksi mendengus.
"Jangan dibiasain. Gue nggak akan ngomong sebaik ini lagi seumur hidup."
Lola tertawa sampai hampir menumpahkan air di gelasnya, dan dari dalam ballroom terdengar seseorang berteriak memanggil mereka berdua untuk foto bersama sebelum semuanya benar-benar pulang.