Tepat hari ini adalah h- satu minggu pernikahan antara Lola dan Angkasa berlangsung. Hari ini Lola dan Angkasa akan pergi ke toko cincin yang akan mereka pakai dalam pernikahan mereka untuk mencoba cincin tersebut. Sebenarnya Lola sudah pernah mencobanya, tapi itu sudah satu bulan yang lalu dan mereka akan mencobanya lagi hari ini.
Mereka pun berangkat ke Mall PIM, karena memang tokonya berada di dalam mall tersebut. Namun saat sampai di Mall ternyata masih jam 10, padahal mereka janjian jam 11.
Tadi mereka sudah mencoba ke toko tersebut, dan ternyata toko tersebut sedang menerima tamu yang janjian sebelum Lola dan Angkasa.
Mereka berdua pun akhirnya pergi ke Starbucks untuk membeli minuman. Setelah membeli minuman, mereka berdua pun duduk dan mengobrol sembari meminum minuman mereka.
"Jadi," ucap Galaksi sambil menyandarkan punggungnya, "besok lo nikah."
"Besok gue nikah."
"Gue masih nggak percaya."
"Gue juga."
Kafe hotel itu hampir kosong. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan hanya ada dua meja lain yang terisi.
Lola memainkan sedotan di gelasnya.
"Lo dateng kan besok?"
"Ya iyalah."
"Beneran?"
"La, gue yang nyiapin mobilnya."
"Gue tahu, tapi—"
"Gue dateng." Galaksi menatapnya. "Gue duduk di barisan tamu, gue makan, gue foto, terus gue pulang. Kayak orang normal."
Lola tertawa.
"Kayak orang normal," ulangnya.
"Iya. Gue udah latihan."
***
Mereka mengobrol hampir satu jam.
Tentang pekerjaan. Tentang anak-anak reuni yang sekarang punya grup chat baru dan isinya cuma stiker. Tentang Bang Leon yang katanya akan datang membawa dua anaknya sekaligus dan sudah mengancam akan menangis di pelaminan.
Dan akhirnya, tentang hal yang sejak tadi dihindari keduanya.
"Mereka dateng?" tanya Galaksi.
Lola meletakkan gelasnya.
"Mama dateng," jawabnya. "Papa... belum jawab."
Galaksi mengangguk pelan.
"Lula?"
Nama itu membuat sesuatu di dada Lola mengencang.
"Dia yang pertama bales chat gue," ucap Lola pelan. "Dua menit setelah gue kirim."
Alis Galaksi terangkat. "Serius?"
"Serius. Dia nanya boleh bawa suaminya apa enggak."
"Terus lo jawab apa?"
"Gue nangis dulu setengah jam, terus gue jawab boleh."
Galaksi tertawa, tetapi tawa itu pelan dan hati-hati.
"La."
"Hm?"
"Gue boleh nanya satu hal? Terus abis ini gue nggak akan pernah nanya lagi seumur hidup."
Lola mengangguk.
"Lo udah maafin mereka?"
Lola memandangi permukaan mejanya cukup lama.
"Belum," jawabnya jujur.
"Tapi lo tetep ngundang."
"Iya."
"Kenapa?"
Lola mengangkat wajahnya.
"Karena maafin sama ngundang itu dua hal beda, Lak," ucapnya. "Gue nggak ngundang mereka karena gue udah baik-baik aja. Gue ngundang mereka karena gue capek nunggu sampai gue baik-baik aja."
Galaksi tidak menjawab.
"Delapan tahun gue nunggu," lanjut Lola. "Nunggu mereka nelepon duluan. Nunggu mereka minta maaf duluan. Nunggu sampai gue ngerasa cukup kuat."
Ia mengangkat bahu.
"Ternyata nggak pernah dateng. Jadi ya udah, gue duluan aja."
***
Mereka berpisah di lobi.
"Lak."
Galaksi menoleh.
"Makasih ya," ucap Lola. "Buat semuanya. Buat hotelnya, buat mobilnya, buat—"
"Berhenti."
"Apa?"
"Berhenti bilang makasih. Aneh."
"Ya kan gue emang makasih."
"Iya, tapi tiap lo bilang makasih, gue jadi inget gue dulu jahat banget sama lo."
Lola terdiam.
Lalu ia melangkah maju dan memeluk cowok itu—singkat, canggung, seperti dua orang yang tahu persis berapa banyak yang sudah rusak di antara mereka dan tetap memutuskan untuk mencoba.
"Selamat besok, Lola Naura Wijaya," ucap Galaksi.
"Makasih, Galaksi Milan Admaja."
"BERHENTI BILANG MAKASIH."
***
Keesokan paginya, pukul delapan lewat dua puluh, Lola berdiri di ruang rias sambil menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.
Pintu diketuk.
"La?"
Suara Bang Leon.
"Masuk, Bang."
Pintu terbuka.
Dan Lola berhenti bernapas.
Karena di belakang Leon, di ambang pintu, berdiri seorang lelaki paruh baya dengan setelan yang jelas baru dijahit terburu-buru, memegang songkok di tangannya, dan berdiri seperti orang yang tidak tahu apakah dirinya diizinkan masuk.
"Pa," bisik Lola.
Lelaki itu membuka mulut.
Tidak ada yang keluar.
Ia mencoba lagi.
"Papa... " Suaranya serak sekali. "Papa boleh nganterin kamu?"
Di belakangnya, Leon memalingkan wajah ke dinding.
Dan Lola Naura Wijaya, yang riasannya baru saja selesai dua puluh menit lalu dan yang sudah diperingatkan tiga kali oleh perias untuk tidak menangis, langsung menghancurkan semuanya dalam waktu kurang dari tiga detik.