Kicauan burung Luck hari ini sedikit terlambat. Mungkin mereka sedang sibuk mencari pasangan hingga lupa berkicau pada pukul enam pagi. Aku bangun lebih awal sebelum para burung Luck berkicau karena banyak sekali pesanan bunga yang harus dipenuhi.
Sebelum memetik bunga-bunga Loot ini, aku menaburkan serbuk manis buatanku yang akan membuat hati si penerima bunga semakin bahagia. Serbuk manis ini adalah salah satu yang membuat pelangganku bertambah banyak. Mereka mengatakan bunga-bunga sangat cantik dan harum, apalagi ditambah serbuk buatanku yang membuat bunga lebih beraroma manis.
"Eliza!"
Aku mendengar seorang pria memanggilku di luar. Dari suaranya aku sangat mengenal pria itu, tanpa melihat wajahnya, aku tahu dia adalah Frans, teman yang selalu membantu setiap kali aku kerepotan karena pesanan.
"Hari ini kau datang terlambat, Frans. Dari mana saja dirimu? Kenapa terengah-engah seperti baru saja berlari?" tanyaku pada pria yang sekarang berdiri di depanku.
Frans belum menjawab, ia masih berusaha mengatur napasnya. Aku jadi penasaran, apa yang membuat Frans begitu terburu-buru.
"Sudah tenang? Coba jelaskan, ada apa?"
"Tadi dalam perjalanan ke sini, aku melihat beberapa pengawal istana datang ke rumah paman Rodrigo mereka terlihat mengancam, tapi aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan."
"Kalau begitu kau antarkan buket-buket bunga ini pada pelanggan, biar aku yang akan mengantarkan buket bunga pesanan paman Rodrigo."
Frans mengangguk menuruti perintahku. Dengan sigap Frans menyiapkan semua buket bunga yang sudah aku susun untuk dikirim pada pelanggan.
Saat Frans pergi aku bergegas pergi ke rumah paman Rodrigo untuk mengetahui situasi yang sebenarnya. Setahuku paman Rodrigo adalah orang yang baik, jadi tidak mungkin jika para pengawal istana mencoba melukai atau mengancamnya. Lagipula paman Rodrigo hanya seorang pengrajin cermin, jadi tidak mungkin para pengawal itu berusaha merampoknya dengan cara mengancam, atau mungkin paman Rodrigo menyembunyikan sesuatu yang berharga hingga para pengawal itu berusaha merampasnya?
Saat tiba di rumah paman Rodrigo, pengawal istana telah pergi dan paman Rodrigo sedang sibuk membersihkan cermin-cermin hasil buatannya.
"Paman, Frans bilang beberapa pengawal istana terlihat mengancamu tadi, lalu ke mana perginya mereka?"
Bukannya menjawab pertanyaanku paman Rodrigo hanya tersenyum memandangku. Entah kenapa dia tersenyum seperti itu.
"Para pengawal itu memang datang tadi, mereka memang mengancamku, tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku juga tidak terluka, jadi jangan cemas," ucap paman Rodrigo.
"Apa yang mereka inginkan hingga bersikap seperti itu pada Paman?"
"Mereka menginginkan sebuah cermin sakti. Dulu aku punya satu cermin sakti, tapi kini cermin itu telah memilih pemiliknya sendiri. Lagipula aku sudah tidak bisa membuatnya lagi karena cermin sakti membutuhkan ketulusan dan pengorbanan."
"Lain kali, Paman harus lebih waspada. Jika mereka menyakitimu, segera berteriak meminta bantuan, ya. Aku tidak mau Paman terluka."
"Baiklah, Eliza. Terima kasih telah menjadi seorang keponakan yang selalu perhatian padaku. Kalau begitu, masuklah. Berikan buket bunga itu pada istriku."
Paman Rodrigo bukanlah keluarga kandungku, akan tetapi hubunganku dengannya dan sang istri sudah seperti keluarga.
Aku masuk membawa buket bunga Loot pesanan paman Rodrigo. Paman memang selalu memesan bunga padaku untuk hari ulang tahun istrinya yang terbaring sakit. Sudah sepuluh tahun, istri paman Rodrigo sakit. Walau ia sakit dan harus terbaring di ranjang, ia tak pernah menunjukkan wajah sedih dan setiap kali aku datang, dia selalu tersenyum bahagia.
"Bibi, aku bawakan bunga Loot untukmu," ucapku seraya memberikan bunga yang ada dalam dekapanku.
"Terima kasih, Eliza. Aroma bunganya sangat manis, seperti permen kapas," ucap istri paman Rodrigo memuji bungaku.
Bahagia rasanya setiap kali melihat orang tersenyum karena bungaku. Itu adalah kebahagian yang tidak bisa diukur bahkan dengan kepingan emas Lootopia yang berharga.
Fokusku beralih ke sebuah cermin dengan bingkai mahkota yang terlihat sangat cantik. Sekilas, aku melihat cahaya yang keluar dari cermin itu, tetapi cahaya apa itu? Atau mungkin hanya pantulan saja?
"Kau menyukai cermin itu, kau ingin memilikinya, Eliza?" tanya paman Rodrigo.
"Oh, tidak, Paman. Aku hanya suka saja. Jika dijual pasti harganya akan tinggi, apalagi cermin itu terlihat sangat indah."
"Kalau begitu, ini untukmu saja," ucap paman Rodrigo seraya memberikan cermin itu.
"Tidak, Paman. Aku tidak bisa menerimanya. Aku pamit saja, masih ada beberapa pesanan yang harus diantar."
Aku bergegas pergi sebelum paman Rodrigo memaksaku menerima hasil karyanya itu. Melihat cermin itu, sudah pasti harganya tinggi, jadi tidak mungkin aku menerima benda itu secara cuma-cuma, jika ingin membelinya aku pun harus pikir dua kali.
Dalam perjalanan pulang, aku melihat beberapa orang sedang berkerumun. Rasa penasaran membuatku mendekati kerumunan itu. Rupanya ada pembagian undangan, tapi aku tak tahu undangan apa itu. Orang-orang yang keluar dari kerumunan membawa selembar kertas dan saat aku bertanya, mereka mengatakan kalau itu hanya undangan.
Aku masih mencoba menembus kerumunan. Jika bukan karena penasaran, aku tak akan mau berdesakan di sini.
"Nona, kau mau menonton Savana?" tanya pria yang membagikan undangan saat aku sampai di barisan depan.
"Savana? Apa itu?" tanyaku pada pria itu.
Aku mendengar beberapa orang yang berdiri di belakangku berbisik. Mereka bahkan menertawaiku walau tidak keras. Memang apa salahku?
"Savana adalah grup teater, Nona. Acara juga gratis, jika Nona membawa undangan. Tahun ini, mereka akan menampilkan kisah baru. Kau mau menontonya?" tanya pria itu padaku.
Pertunjukan teater sepertinya menarik. Lagipula acara ini gratis, jika dipikir, tak ada ruginya menonton. Acara ini juga bisa menjadi hiburan untukku yang setiap hari hanya melihat bunga-bunga bermekaran.
"Baiklah, aku mau menonton. Mana undangannya?" Aku mengulurkan tangan meminta undangan pada pria itu.
Pria itu membuka sebuah kotak emas yang sedari tadi ia bawa. Saat dibuka tak ada apapun dalam kotak itu. Lalu di mana undangannya?
Perlahan, pria itu menaburkan serbuk yang ia ambil dari saku kemeja yang ia pakai dan hasilnya, selembar kertas mulai muncul perlahan dalam kotak itu.
Ajaib, bukan?
Aku tidak heran akan hal itu, karena negeri ini adalah Lootopia. Negeri sihir yang hebat. Negeri yang dipenuhi sihir, bahkan setiap orang di sini adalah orang-orang yang memiliki kemampuan sihir, yang membedakan hanya tingkat kemampuan sihir mereka.
"Siapa namamu, Nona?" tanya pria itu lagi.
"Eliza. Namaku Eliza."
Perlahan, pria yang memakai jas merah itu menuliskan sesuatu di kertas undangan. Mungkin yang ia tulis adalah namaku.
"Datanglah tepat waktu, Nona," ucapnya seraya memberikan undangan padaku.
"Hai, Eliza," sapa Frans yang tiba-tiba berjalan di sampingku.
"Frans! Kau membuatku kaget. Aku rasa yang berjalan di sampingku tadi bukan dirimu, kenapa sekarang dirimu ada di sini?"
Frans meringis seraya menunjukkan sebuah topeng padaku. Aku punya firasat buruk tentang topeng ini. Biasanya firasatku tidak salah.
"Topeng dari mana?" tanyaku penasaran sekaligus untuk memastikan firasatku benar atau salah.
"A-aku, membelinya pada Steven."
"Steven? Kau membeli barang rongsokan darinya lagi? Kau membelinya dengan keping emas penjualan bunga Loot?"
Frans mengangguk. Sudah aku duga, firasatku benar. Frans selalu seperti itu. Aku tak mempermasalahkan jika ia menggunakan keping emasku, tetapi aku tak suka jika ia terus ditipu oleh Steven. Aku harus memberi peringatan pada pria itu. Dia harus berhenti menjadi penipu sebelum Frans kembali ditipu olehnya.