***
Pukul 00.00, Indira terbangun.
Ia melihat layar ponselnya. Belum ada balasan dari Aksa.
Ia membuka galeri ponselnya, dan memandangi foto-fotonya dengan Aksa di sana.
Indira benar-benar merindukan Aksa.
Dalam kerinduannya, Indira menangis. Hening malam kala itu, menjadi kian kelabu bagi Indira.
Entah apa yang sedang ia rasakan, tapi rasanya seperti ada bagian dari dirinya yang hilang.
Indira menggigit bibirnya sambil menahan isak tangisnya.
-
Pagi menjelang, sudah ada pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya. Indira membuka pesan singkat yang ternyata dari Aksa.
Aku kangen, Dir.
Tulis Aksa dalam pesan singkatnya.
Indira bergegas mandi dan bersiap untuk pergi.
“Mau ke mana lagi hari ini?” tanya sang Ibu yang ternyata mengejutkan Indira.
“Liat anak-anak latihan, bu.”
“Udah bilang Aksa?”
Indira menggeleng.
“Nanti Dira bilang.”
Sang Ibu menghela napasnya.
“Jangan sering-sering bohong ke Aksa, Dir.”
“Iya, bu.”
Tak lama, sebuah klakson mobil datang menjemput.
“Dijemput siapa?”
“Abi. Dira pamit ya, bu.”
Dira mencium tangan Ibunya sebelum akhirnya pergi bersama Abi.
“Hati-hati, Dir.”
“Iyaaaa.”
-
Sepanjang perjalanan, Abi dan Indira sibuk membahas soal konten video yang sedang viral di i********:. Mereka juga antusias membahas drama yang kemarin ditonton.
“Ah, pokoknya filmnya the best, sih.”
“Setujuuuu,” Indira antusias.
“Sayang, sih, Aksa gak suka nonton film genre drama – romance kayak gini,” lanjutnya.
“Yaudah, kalo butuh temen nonton drama – romance bisa sama gue aja,” ucap Abi
“Okeeee.” Indira mengacungkan jempolnya.
Sesampainya di tempat latihan, kedatangan mereka ternyata sudah ditunggu oleh Kenan, Dylan, dan Mirza.
Awalnya mereka terkejut. Akhirnya, mereka tersenyum melihat Indira yang datang bersama Abi.
“Apa kabar, Dir?”
“Baikkkk,” jawab Indira semangat.
“Lo mau nemenin kita latihan?”
Indira mengangguk.
“Abis latihan dia mau hunting foto.”
“Wih, seru. Ikut dong,” celetuk Mirza.
“Boleeh. Tadinya mau berdua aja sama Abi. Cuma, kalo kalian mau ikut, boleh, kok.”
“Asik,” ucap Mirza.
Selama keempat laki-laki itu latihan, Indira sibuk sendiri dengan ponselnya.
Ia mengabari Aksa bahwa ia sedang berada di tempat latihan dan berencana untuk pergi bersama keempat rekan satu tim Aksa.
Perbedaan waktu yang cukup signifikan, dan kesibukkan keduanya membuat komunikasi keduanya sedikit terhambat.
Setelah mengabari Aksa, Indira kembali sibuk dengan ponselnya. Akhir-akhri ini, ia sibuk membaca artikel di google untuk sekedar membunuh bosan.
Indira sempat tertidur saat menemani keempat laki-laki itu latihan.
Abi yang melihat Indira tertidur langsung mencari selimut dan menyelimutinya.
Kenan hanya bisa memperhatikan mereka dari kejauhan.
Setelah lima jam berlatih, waktu pulang pun tiba.
Indira sangat antusias, pasalnya ia akan hunting foto. Hobinya saat bosan menyerang dirinya.
Abi mengganti pakaiannya dan bersiap pergi bersama Indira.
“Kalian jadi mau ikut?”
“Ikut,” celetuk Mirza.
“Nggak, kita mau nongkrong aja, Bi,” sambar Dylan dengan cepat.
“Yah, kalian gak jadi ikut?” tanya Indira.
Ketiganya menggeleng.
“Yaudah, deh. Kita pergi dulu, yaa.”
Setelah pamit, Indira dan Abhimanyu pun pergi.
Selepas mereka pergi, ketiga anak laki-laki itu saling berpandangan.
“Aman, pasti, aman,” celetuk Dylan pada Kenan. “Yuk, ngopi.”
-
Seperti biasa, selepas latihan ketiganya memilih untuk menghabiskan waktu di sini. Hanya untuk sekedar berbincang atau membahas latihan tadi.
Kali ini, ketiganya hanya memesan smoothies. Mengingat mereka harus menjaga pola makannya menjelang tur dunia.
Sejak tiba, Kenan sibuk dengan ponselnya.
“Ngapain, sih?”
Kenan menggeleng. Tak lama, sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya.
Aksa calling....
Dengan cepat, Kenan mengangkat telpon dari sahabatnya itu.
“Halo, Sa.”
“Hai, Nan.”
“Dih, apaan dah lo nyapanya kayak cewek,” celetuka Dylan.
Panggilan antara Kenan dan Aksa di-loudspeaker, agar kedua temannya yang lain bisa mendengar.
Aksa tertawa.
“Apa kabar lo?” tanya Dylan.
“Baik. Kalian?”
“Baik juga,” jawab ketiganya bersamaan.
“Kok cuma bertiga? Abi mana?”
Ketiganya sempat terdiam dan bertukar pandang.
“Abi... gak tau Sa di mana,” jawab Dylan asal.
“Tuh anak kebiasaan deh ngilang terus.”
Suasana antara ketiga laki-laki itu terasa canggung. Mereka merasa telah membohongi Aksa.
“Eh, gimana kabar lo sama Indira, btw?”
“Baik, kok.”
“Ya bagus, deh, kalo baik.”
“Komunikasi lancar ‘kan?”
“Hmmmm... belakangan lagi jarang, sih. Soalnya gue sibuk dia nelpon. Gue nelpon, dia udah tidur. Jadi, ya gitu, deh...”
Dan, lagi. Ketiganya saling bertukar pandangan.
“Sekarang aja gue lagi nunggu balesan dari dia, nih. Tadi dia ke tempat latihan kalian, ya?”
“Iya, Sa.”
“Ke mana lagi abis itu dia?”
Ketiganya menelan ludah kering.
“Dia gak bilang ke mana?”
“Nggak, sih. Pulang kali, ya? Terakhir kata Ibu dia lagi gak enak badan, makanya kalo di rumah suka tidur terus. Kemarin aja dia tidur terus seharian.”
“Oh,” jawab ketiganya bersamaan.
Suasana mendadak hening. Ketiganya terkejut. Dan, tidak tahu harus berkata apa.
“Kapan pulang, Sa?” Mirza berusaha memecah suasana.
“Minggu depan.”
“Cepet pulang, deh, Sa,” celetuk Dylan.
“Haha, kangen lo, ya?”
“Hmm,” jawab Dylan.
Terlihat ekspresi mereka bertiga nampak bingung dengan apa yang sedang terjadi.
Setelah saling bertukar kabar, ketiganya mematikan panggilan.
Dan, kembali hening.
“See?” ucap Kenan pada Dylan dan Mirza yang diam seribu bahasa.