"Mau bangun atau tidak?" Bisikan lembut itu menggelitik indra pendengarannya. Kemudian sentuhan halus di pipinya membuat Juno semakin tidak ingin bangun dari tidurnya. Namun, lelaki itu tetap membuka matanya, sebab ada rindu yang menyerang tiba-tiba. Ia tangkap objek yang begitu terang di hadapannya, sampai-sampai ia harus menyipitkan mata.
"Hyoji-ya...," gumamnya. Ia meraih pergelangan tangan Hyoji. Menempatkan di depan d**a seraya mengelus lembut punggung tangan itu.
"Aku sudah siapkan sarapan dan kopi untukmu. Ayo bangun, sayang!"
Juno mengangguk seraya torehkan seulas senyum manis. "Tidak terlalu banyak gula, bukan?"
Wanita itu tersenyum simpul. Lantas tangannya bergerak menyisir rambut Juno ke belakang. "Aku menambahkan sedikit gula dari biasanya. Agar manis, seperti dirimu," godanya buat Juno berdecak lalu tertawa singkat.
Juno menoel pipi Hyoji. "Dari mana belajar membual begitu? Sudah jelas manisnya ada padamu. Bagaimana jika aku terkena diabetes?"
"Itu tidak akan terjadi, Jun. Kalau aku yang manis tidak akan membuatmu sakit, lho."
"Ini akan berakhir jika kita hanya membahas manisnya kopi. Tetapi tidak akan berakhir jika aku membahas manisnya dirimu." Juno masih mencoba menggoda Hyoji, kendati yang digoda malah mengurungkan senyum manisnya.
"Aku pikir ini lebih baik. Lebih baik tidak berakhir dan terus seperti ini," ujar Hyoji dengan rona wajah muram.
Juno tak terlalu ambil serius dengan perkataan istrinya. Meski ada sesuatu yang janggal mengganggu rongga d**a.
Juno bangkit dan memeluk erat tubuh Hyoji. Entahlah, mungkin karena ia terlalu mencintai Hyoji sampai rasanya ditinggal sedetik saja seperti sewindu. Bagi Juno, Hyoji itu magnet, selalu punya daya tarik yang kuat bila berada di dekatnya. Jatuh yang menyenangkan adalah jatuh dalam dekapan wanitanya.
"Selain rasa nyaman, dipeluk seperti ini juga menyesakkan."
Jantungnya mendadak berdebar gelisah. Namun ia tetap dekap erat tubuh ramping itu. Kepala sialannya tengah berspekulasi kalau sampai dilepas, Hyoji terhempas.
"Jun, dadaku sesak."
Tunggu, kenapa Hyoji berkata begitu? Membuatnya takut untuk merengkuh kuat, sedang kepala Juno benar-benar berisik. Rengkuh yang kuat, Jun. Hyoji ingin pergi. Tidak. Tidak ada yang bisa pisahkan mereka.
"Tolong lepaskan!"
Juno mencoba sadar ketika apa yang ia dengar terasa abnormal. Lingkungannya jadi terasa inkonsisten. Terasa nyata atau cuma halusinasi belaka. Jantung Juno jadi ngilu tatkala dengan rintihan Hyoji yang semakin menjauh. "Juno, tolong!"
Mengapa? Suara Hyoji yang memanggilnya seolah terus menjauh dan menghilang. Hati dan logikanya masih saja gemar bertentangan. Apa yang harus ia lakukan? Keringat dingin mengalir deras bersama debaran jantungnya yang mengeras. Juno menggelengkan kepalanya, memohon agar suara itu tetap stabil pada indra pendengarannya.
"Tidak, Hyo. Kau tidak boleh pergi. Aku tidak akan membiarkanmu!" Juno terus merengkuhnya. Mengharap suara dan raga itu masih berada di lokasi semula. Sampai Juno rasakan tangannya cuma genggam kekosongan. Tiada tubuh ramping atau kepala yang biasa bersandar di dadanya.
Juno mulai menyadarinya bahwa ia tengah disiksa dalam lingkar mimpi yang kini jadi terasa sunyi. Ia meraba dan cuma disambut oleh belai angin malam. Ia berpijak sendiri, dipeluk sepi. Sekonyong-konyong alas pijakannya hilang membuat Juno terjun dengan kecepatan cahaya.
"HYOJI!!"
Juno bangkit dari siksa bunga tidur. Jantungnya berdegup kencang sebab baru saja terjun dari ketinggian paling dahsyat. Daya ingatannya langsung tertuju pada sosok Hyoji. Vibrasi nadinya jadi berdenyut ngilu saat dekapan Hyoji terbawa dan terasa nyata.
"Menyesakkan?" gumamnya lirih, pedih.
Usai puas berdiam diri melamuni yang tak kembali, Juno raih botol mineral di atas nakas. Selama sepekan masa pencarian istrinya, ia tak pernah tertidur pulas. Jiwanya selalu memberontak saat kantuk menyapa tetapi tak ada raga tercinta di sisinya. Juno belum terbiasa menyambut bunga tidur tanpa belaian tangan Hyoji di kepalanya.
Hatinya selalu rasakan perih. Ia sungkan percaya dengan hari yang ia jalani tanpa Hyoji di sana. Bila boleh, ia ingin hidup dalam lingkar mimpi di gelap malam. Tak mengapa dialognya itu-itu saja dan skenarionya cuma di kamar saling tatap dan jatuh cinta setiap detik. Sungguh, jika Tuhan izinkan, Juno enggan bangun sampai isttrinya yang membangunkan.
Juno ambil napas dan usap pela wajahnya. Melirik jam dinding yang menunjukkan pukul empat dini hari. Tak lama kemudian alarm di ponselnya berdering, mengingatkan jadwal pertemuannya dengan Detektif Hwang dua jam lagi.
* *
"Ini sudah memasuki hari ke tujuh masa pencarian Hyoji. Kita sudah melakukan segala cara, Jun." Detektif Hwang menyerahkan beberapa lembar berisi laporan perihal kasus hilangnya Nyonya Yeon. Ia letakkan semua di atas meja dan cuma dibalas tatapan tak acuh dari Juno.
"Tujuh hari itu 168 jam," Juno melirik arlojinya, memperhitungkan waktu yang terasa begitu cepat. "Pencarian baru dilakukan selama 160 jam, masih ada delapan jam untuk mencarinya lagi," protes Juno.
Detektif Hwang mengatur napasnya sebaik mungkin. Memang membutuhkan tenaga lebih untuk menghadapi Yeon Juno. Apalagi jika sudah menyangkut tentang Hyoji. Dia tidak akan menyerah sampai dunia terbalik. Ah tidak, baginya dunia sudah terbalik saat Hyoji meninggalkannya.
"Tidak ada sidik jari yang bisa kita cek karena mobil hangus terbakar. Kartu identitas ditemukan 30 meter dari lokasi kejadian. Sebelumnya tidak ada kerusakan pada mobil. Korban hilang tanpa jejak. Tiga hari setelah kejadian ditemukan bercak darah di rerumputan 50 meter dari lokasi kejadian. Hanya ada satu kemungkinan..." Juno menatap serius detektif Hwang. "Hyoji menjadi mangsa binatang buas. Dia sudah mati."
Brakk!!
Detektif Hwang terperanjak saat lengan kekar Juno memukul keras meja kerjanya. Tatapan matanya menyorot tajam. Ingat! Juno tidak suka ada orang yang mengatakan bahwa Hyoji telah mati.
"Bawa jasadnya ke hadapanku, maka aku akan percaya jika dia sudah mati. Jangan pernah mengatakan bahwa dia sudah mati, jika kau saja tidak mampu menemukan jasadnya. Dia hanya hilang. Aku akan menunggunya sampai akhir." Perkataan Juno tersebut mengundang gelak tawa bagi detektif Hwang.
"Kau senang dengan lelucon itu? Jika binatang buas memangsanya, binatang itu pasti memakannya dengan perlahan. Meninggalkan tulang atau setidaknya ada helai pakaiannya. Pasti ada jejaknya!"
Juno bangkit dari tempat duduknya. Ia mensejajarkan wajahnya pada Detektif Hwang. "Berhenti bermain-main denganku, Hwang!" ujarnya penuh penekanan.
"Ular piton akan memakannya tanpa sisa. Bahkan ia sanggup memakan tubuh utuh manusia," balas detektif Hwang tak mau kalah.
Juno membuang pandangannya. Lelaki itu tampaknya suka dengan cerita yang ia karang sendiri. Dimakan ular piton? membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
"Kalau begitu temukan ular piton itu. Bedah setiap kau menemukan ular piton itu sampai kau dapati tubuh Hyoji! Aku akan memberikanmu apa pun, bahkan jika itu perusahaanku." Juno tetap bersikeras. Dia tidak akan diam sampai Hyoji ditemukan.
"Hari ini aku ingin beristirahat. Carilah detektif lain yang mau melayanimu. Aku tidak tertarik dengan apa pun milikmu, sekalipun perusahaan game itu. Ambil saja untukmu." Detektif Hwang balik menantang perkataan Juno. "Bahkan jika tidak bekerja untukmu, aku masih bisa mendapat apa yang aku inginkan," ujarnya sarkas.
Sejak Sungi berkata jika Detektif Hwang akan membantunya. Ada perasaan aneh merayap di dinding kepercayaan lelaki itu. Jika saja dia bukan Detektif yang sedang naik daun—sebab berhasil memecahkan kasus korupsi terbesar di Seoul—ingin sekali Juno mengajaknya ke lapangan, bergulat sampai Hwang patuh. Cuma angan.
Jika memang benar Hyoji telah mati, setidaknya biarkan Juno melihatnya untuk terakhir kali. Dalam satu minggu ini ia bahkan tidak tidur dan seringkali melupakan asupan makannya. Rambutnya memanjang tak terawat, kumis tipisnya mulai tumbuh tak dipotong. Juno yang perfeksionis itu bahkan tak lagi memikirkan penampilannya. Pekerjaannya terlantar, yang Juno lakukan di kantor hanya merenung, memikirkan Hyoji. Mungkin perusahaannya nyaris bangkrut andai saja tidak ada Reymon. Mungkin juga Juno akan gila andai saja ia tak ingat bayi kecilnya, Hyora.
Juno sekarang mengerti tujuannya. Rumah Saeyoung, sahabat Hyoji. Di sana Hyora dititipkan.
Lelaki itu tiba di depan sebuah rumah bernuansa putih. Ia melihat Saeyoung yang sedang menimang Hyora di teras rumah. Juno memarkirkan mobil di garasi, ia segera menghampiri Hyora dengan senyum yang dipaksakan, demi Hyora.
"Juno, bagaimana? Apakah ada perkembangan?" Saeyoung bertanya cemas. Dari kantung matanya yang menghitam dan sembab, terlihat jelas wanita itu tidak tidur karena menangisi Hyoji setiap malam. Wanita yang juga berprofesi sebagai dokter itu pun sampai mengambil cuti demi merawat Hyora. Juno tidak menggunakan jasa orang lain untuk merawat buah hatinya. Ia tidak mempercayai siapa pun kecuali orang terdekatnya.
"Sudah tujuh hari berlalu, pencarian dihentikan karena tidak menemukan titik terang," jawab Juno lesu. Ia melirik Hyora yang mendadak menangis. "Maaf, aku merepotkanmu."
"Tidak sama sekali. Aku tidak merasa direpotkan. Hyora sudah seperti anakku sendiri. Benar, dia juga anakku." Saeyoung mencoba menenangkan Juno. Meski dalam hatinya ia ingin menjerit, sahabatnya tidak ditemukan. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan agar bisa konsisten untuk tidak menangis di hadapan Juno.
"Biar aku menggendong Hyora, jika kau ingin menangis." Juno peka dengan perasaan di sekitarnha. Peroman Saeyoung menunjukkan tak kuat tahan beludak lara di hati.
Juno mengambil alih Hyora, ia menimangnya penuh kasih sayang. "Bagaimana mungkin bayi kecilku harus tumbuh tanpa Hyoji?" rintihnya.
Sebab memang tak mudah melupakan begitu saja. Tak mudah berpura baik-baik saja. Menangis jika memang bersedih. Marah jika memang terluka. Perasaan yang timbul memang mesti dirasa. Semua tak hilang hanya dengan dipendam dan dilupakan. Tuhan menganugerahi hati memang untuk itu, kan?
Saeyoung yang mendengar keluh derita Juno menyuruhnya masuk. Ia tidak ingin melihat Juno terpuruk di saat hanya ada dia di sini.
"Kau sudah biasa berada di sini, jadi anggap saja ini rumahmu. Kau bisa datang kapan pun, kau bisa menitipkan Hyora padaku jika kau belum bisa membangun rasa percayamu untuk orang lain."
Juno mengangguk, duduk di sofa bersama Hyora dalam timangannya.
"Kau belum makan seharian ini, 'kan?" Saeyoung masih berdiri di hadapan Juno. Memperhatikan cara lelaki itu membelai pipi Hyora.
"Tidak sempat," jawabnya singkat.
"Sebentar lagi Reymon Oppa datang. Masakanku rasanya hampir sama seperti Hyoji. Meski mungkin nanti kau akan mengingatnya, setidaknya kau bisa merasakan yang sama."
Juno tahu wanita membual supaya dirinya mau makan. Ia hanya mengangguk sebelum Saeyoung pergi ke dapur. Ia menatap lekat manik Hyora yang berkaca-kaca. Mata Hyora sangat mirip dengan Hyoji. Setiap kali melihat Hyora menangis, ia seperti melihat Hyoji menangis. Dan itu semakin membuat Juno sakit.
Sembari menunggu Saeyoung, ia bangkit untuk melihat foto-foto Saeyoung yang dipajang di setiap sisi ruang. Salah satu foto dengan bingkai hitam menarik atensinya untuk segera mendekat. Ia tersenyum. Foto Saeyoung dan Hyoji ketika SMA.
Juno membenarkan posisi Hyora yang berada di gendongannya. Ia menunjuk foto itu. "Ini Mamamu saat masih muda."
Juno beralih menatap Hyora. Ia tersenyum kemudian. "Saat besar, Hyora akan cantik seperti Mama. Papa janji, akan menjaga Hyora, agar tidak ada lagi sebuah kehilangan dalam keluarga kecil kita."
Mata bayi itu turuti arah tunjuk ayahnya, meski tal buahi ekspresi bahagia. Juno tersenyum bayinya mengerti mana sosok yang sudah melahirkannya. Sepersekian detik Juno merenung kembali. Bagaimana anak kita bisa bahagia tanpa dirimu, Hyo?
"Seharusnya dia di sini bersama kita," gumam Juno akhirnya. Sengaja senggol perih luka di hati.
Juno beralih menatap foto berikutnya. Foto itu diambil oleh Saeyoung sehari ketika Hyoji selesai melahirkan. Jiyoung—sahabat Juno terlalu aktif menyambut kehadiran Hyora dengan rusuh ingin menggendongnya.
"Ingat bagaimana foto itu diambil?"
Saeyoung yang tiba-tiba datang membuyarkan lamunanya. Juno tersenyum sekilas. "Seharusnya itu Hyoji, bukan Jiyoung Hyung."
Saeyoung hanya mengangguk, meski ia pun sempat membayangkan betapa hancurnya perasaan Juno. Ia tahu, Juno tidak bisa tidur jika tidak memeluk Hyoji. Hyoji sering bercerita betapa menyebalkannya Juno di pagi hari. Jika lelaki itu terbangun tanpa Hyoji di sampingnya, ia akan berteriak dengan lantang memanggilnya. Lelaki itu tidak akan membuka matanya sampai ia merasakan Hyoji sudah berada di dekatnya, memeluknya atau sekadar mencium pipi Juno. Bahkan jika Hyoji sedang masak sekali pun, ia harus mematikan kompornya dan segara menuju kamar. Apa pun yang sedang Hyoji lakukan terpaksa harus terhenti jika Juno sudah membuat keributan. Begitulah yang terjadi setiap pagi. Hyoji selalu repot mengurus dua bayi sekaligus. Hyora dan Juno.
"Omong-omong, ke mana Jiyoung?"
Menarik atensi Juno buat menatapnya. Ya, Juno baru menyadari si jaksa terhormat itu belum nampak selama Hyoji menghilang.