Koridor panjang itu dipenuhi jendela kaca dari lantai hingga langit-langit di kedua sisinya. Sinar matahari pagi masuk dengan sempurna, menerangi seluruh manor.
Di luar jendela terbentang taman yang luas, dan di kejauhan tampak sebuah kolam renang pribadi.
Serena berjalan cukup lama sebelum akhirnya mencapai ujung koridor.
Saat melihat dapur di depannya yang hampir sebesar apartemennya sendiri, ia langsung terpaku.
Dapur itu dilengkapi dengan segala fasilitas modern.
Hampir semua peralatan memasak kelas atas yang ada di pasaran tersedia di sana.
“Nona Serena, kenapa Anda ke sini?”
Claire yang baru saja selesai mencuci tangan segera mengeringkan tetesan air di tangannya dan mengambil mangkuk kosong dari Serena.
Tatapan Serena tertuju pada deretan peralatan dapur mahal itu. Matanya langsung berbinar.
“Bibi Claire, semua ini milik kalian?”
Claire sempat tertegun, lalu segera mengangguk.
“Iya, Semua ini dibeli oleh Tuan Drake.”
Mata Serena semakin bersinar.
Kedua tangannya berkali-kali saling menggenggam karena antusias.
“Apakah Nona ingin mencobanya?”
Claire bertanya pelan.
“Sebenarnya peralatan ini juga jarang dipakai. Tuan Drake tidak terlalu sering tinggal di sini.”
Sebelum Claire selesai bicara, Serena sudah berdiri di depan salah satu peralatan dapur.
Tangannya mengusap perlahan permukaan peralatan mahal itu.
Sudut bibirnya tanpa sadar terangkat.
Melihat ketertarikan Serena, Claire kembali bertanya,
“Nona Serena suka masak?”
Serena buru-buru menarik kembali tangannya.
“Lumayan.”
Setelah melihat sekeliling dan memastikan hanya ada Claire di dapur, Serena akhirnya bertanya dengan hati-hati,
“Bibi Claire... perusahaan Tuan Drake sangat terhebat?”
Tatapan Claire sedikit berubah.
Namun senyumnya tetap terjaga.
“Untuk hal seperti itu, saya kurang tahu sih Nona.”
“Nona bisa bertanya langsung kepada Tuan Drake.”
Ekspresi Serena langsung membeku.
Ia segera mengalihkan pandangan ke taman di luar koridor.
“Bibi Claire, bunga-bunga itu juga milik Tuan Drake?”
Serena berjalan mendekati jendela kaca.
Matanya menyapu seluruh taman yang luas.
Claire berdiri di sampingnya sambil tersenyum.
“Emm…bisa dibilang iya, bisa juga tidak sih.”
“Tuan Drake sebenarnya tidak menyukai bunga.”
“Hah?”
Serena langsung bingung.
“Kalau begitu kenapa ada taman sebesar ini?”
Sebagian besar halaman belakang dipenuhi berbagai jenis bunga dan tanaman.
Jika Drake memang tidak menyukainya, untuk apa repot-repot membuat taman sebesar itu?
Claire hanya tersenyum tanpa menjawab.
“Nona Serena, mau keluar melihat?”
“Boleh.”
Claire berjalan ke salah satu jendela kaca besar dan menekan panel di sampingnya.
Perlahan, pintu kaca itu terbuka otomatis.
“Silakan, Nona.”
Claire sedikit membungkuk dengan sopan.
Serena membalas dengan senyum tipis sebelum melangkah keluar tanpa alas kaki.
Rumput yang lembut langsung menyentuh telapak kakinya.
Ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali.
Matanya terpejam.
Pikirannya kembali memutar semua kejadian dalam dua hari terakhir.
Perdagangan manusia.
Penculikan.
Penyekapan.
Tiga kejahatan itu saja sudah cukup untuk melanggar hukum berkali-kali.
Sebenarnya siapa pria itu?
Sudah sehari berlalu.
Tidak ada satu pun temannya yang datang mencarinya.
Atau mungkin...
Mereka semua juga sudah dibohongi oleh Ethan Gu.
Angin sepoi-sepoi berembus melewati wajah Serena.
Dalam sekejap, udara terasa jauh lebih segar.
Berbagai jenis bunga bermekaran di taman.
Masing-masing menampilkan keindahan terbaiknya.
Tatapan Serena berhenti pada setangkai bunga lily.
Jarinya mengusap dengan lembut.
“Nona menyukai bunga lily?”
Suara Claire kembali terdengar dari belakang.
Senyuman di wajah Serena langsung menghilang.
Tatapannya berpindah ke bunga camellia yang tumbuh diam di sudut taman.
Tanaman itu berada di tempat yang paling tidak mencolok.
Namun justru mekar paling indah.
“Keluar tanpa alas kaki dan berdiri diterpa angin begini... ingin balik sakit lagi?”
Serena mengangkat kepala.
Julian Knight sedang bersandar di dekat jendela sambil menatapnya.
Serena menunduk melihat kedua kakinya yang kini sedikit kotor oleh tanah.
Ia mengerucutkan bibirnya.
“Bibi Claire, silakan lanjut bekerja saja.”
“Baik.”
Claire melirik Serena sejenak sebelum kembali masuk ke dalam manor.
Kini hanya Serena dan Julian yang tersisa di taman.
“Lisianthus... camellia...”
Tatapan Julian perlahan kembali tertuju pada Serena.
“Kamu tidak suka mawar?”
Serena melirik sekilas mawar Juliet yang tumbuh paling mencolok di bagian depan taman.
Namun tak lama kemudian ia kembali memandang bunga lisianthus di depannya.
“Bunga itu kelihatannya susah dirawat.”
Ia menjawab santai.
“Kelihatan seperti jenis bunga yang cuma orang kaya yang mau repot-repot untuk peliharain.”