Pura-pura bahagia itu jauh lebih sulit daripada pura-pura menangis
--
Korea University,South of Korea
Hari ini adalah hari kelulusan bagi seluruh mahasiswa di universitas korea, terdapat lebih dari 1000 mahasiswa yang lulus dan diwisuda hari ini termasuk salah satunya, gadis cantik dengan toga warna merahnya yang kini terlihat mondar - mandir dan handphone menempel pada telinganya, sesekali gadis tersebut mengigit jarinya dengan gelisah berharap telpon darinya dijawab oleh seseorang disebrang sana.
Akhirnya setelah menunggu waktu yang cukup lama terlihat tanda-tanda telpon tersebut dijawab
"Mom" sapa gadis tersebut lalu menghembuskan nafas penuh kelegaan
"Sayang, maaf mom tidak bisa pergi ke wisudamu,Nadia tiba-tiba demam,mungkin akibat jetlag, perjalanan New York-Korea cukup lama bukan? mom tidak tega meninggalkannya sendirian di apartemenmu" jelas seseorang di seberang sana panjang lebar dengan nada penuh penyesalan
gadis itupun terdiam mendengar perkataan mommy nya karena sudah bisa memperkirakan bahwa orangtuanya itu tidak akan hadir seperti sebelum-sebelumnya, orang tua nya itu terlihat enggan untuk sekadar datang. setelah terdiam cukup lama. Gadis itu pun mulai menanyakan kabar adiknya, Nadia.
"Sudah kedokter mom?" tanya gadis itu terdengar khawatir
"Nadia hanya butuh istirahat, sayang"
"Dad juga tidak bisa datang?" tanya gadis itu berharap setidaknya dad bisa datang ke wisudanya ini
"Dad juga tidak bisa datang, Dad sedang menemani nadia dikamar, mom benar benar minta maaf, kamu maukan memaafkan mom sayang?"
Gadis tersebut menghela nafas lelah dan berusaha menahan tangis "Ya sudahlah mom, kesehatan Nadia lebih penting" daripada wisudaku lanjutnya dalam hati gadis yang dipanggil Nada itu.
"Nanti Kalau Nadia sehat, kita makan malam diluar bagaimana?" berusaha menghibur
Lagi lagi Nadia yang diutamakan, Nada berusaha menahan kekesalannya
"Tidak perlu repot mom, hari ini Nada makan malam bersama Kikan saja"
"Baiklah mom tidak akan memaksa, bersenang-senanglah sayang, i love you" dan sambungan pun terputus tanpa menunggu jawaban Nada
Hate you too mom jawab Nada lalu memasukkan hp nya ke dalam tas dan melangkah dengan langkah yang terasa berat memasuki gedung dibelakangnya, karena acara akan segera dimulai.
Setelah lima jam berlangsung, acara wisuda pun berakhir, waktu yang terbilang cukup lama bagi Nada yang ingin segera pulang. Bukan pulang ke apartemen untuk melihat kondisi Nadia tetapi pulang ke hotel untuk beristirahat, bukankah tadi Nada bilang akan makan malam bersama Kikan, jadi mana mungkin ia bisa pulang ke apartemennya sekarang atau bahkan makan malam bersama Kikan, karena Kikan masih berada di New York.
Namun sayang sepertinya tidak semudah itu Nada bisa pulang dengan cepat karena kini Nada mulai di kerumuni orang-orang yang ingin berfoto dengannya, ntah itu para wisudawan ataupun pendamping wisuda. Nada yang memiliki nama lengkap Alvina Dayita D selain seorang mahasiswa juga seorang model salah satu majalah fashion yang cukup terkenal di korea. Tentu saja dengan paras cantik, tubuh semampai, dan kulit putih mulus yang dimlikinya menjadi modal utama nada untuk turun ke dunia modelling. Profesi model ini juga yang menghidupi Nada selama belasan tahun. sejak usianya 7 tahun, nada mulai mencari uang sendiri walaupun mom dan dad nya tergolong sangat mampu bahkan lebih dari mampu untuk membiayai kebutuhan Nada. Tapi Nada telah bertekad tidak akan sedikitpun memakai uang orang tuanya itu.
Perlahan Nada tersenyum dan mulai meladeni orang-orang yang akan berfoto dengannya, setidaknya Nada harus bersikap profesional walaupun harus tersenyum palsu, ketika Nada sibuk berfoto handphonenya berbunyi pertanda ada pesan masuk dari seseorang, setelah melihat sekilas siapa yang mengirim pesan padanya, Nada pun pamit dan meminta maaf karena tidak bisa melanjutkan sesi fotonya, Nada mulai berlari kecil dan langsung menaiki taksi yang berada di depannya.
Setelah menyebutkan alamat yang dituju, Nada membuka pesan tersebut
Nada, maaf kita pergi tanpa pamit sayang,
Ada masalah dikantor dad, jadi mom dan Nadia ikut pulang bersama dad
Mom minta maaf OK?
Love you
-Mom
Tidak ada ucapan selamatkah untukku mom? Batin Nada penuh dengan kecewa, Nada mulai menutup matanya berusaha meredam gejolak perasaannya ketika kenangan kenangan masa lalu itu kembali datang, merasuki hati dan pikirannya. Air mata pun perlahan jatuh meluncur begitu saja pertanda bahwa pertahanan yang dia buat selama ini telah runtuh, tangisannya berubah menjadi isakan yang menyayat hati. Sang sopir taksi pun melirik dari kaca spionnya menatap iba kepada penumpangnya tanpa tau apa yanng terjadi, hanya
mendengar tangisannya saja dapat membuat siapapun yang mendengar ikut meneteskan air mata. Nada mulai membuka mata nya menghapus kasar air matanya, tangannya bergerak membuka kaca mobil, angin musim gugur langsung menerpa wajah cantiknya itu. Nada menatap langit biru diatas sana, berharap semua ini cepat berakhir.
***
Setelah dirasa tenang, Nada berbicara kepada supir taksi untuk memutar arah, yang tentu saja di awali dengan permintaan maaf.
"Maaf pak, boleh putar arah ke Seoul Station Joey House?" ucap Nada. Sang supir hanya menganggukan kepala tanpa ingin bertanya lebih lanjut. karena sepertinya penumpangnya ini tidak dalam kondisi emosi yang bagus.
Awalnya Nada ingin pergi ke hotel untuk memenangkan diri, tentu saja untuk menghindari kehadiran orang tuanya di apartemen miliknya. Sebutlah ia anak durhaka yang tidak bisa menghargai perjuangan orang tuanya yang harus melakukan perjalanan jauh New York-Korea demi hadir di acara wisudanya, Walau perjalanan selama berjam-jam itu berakhir sia-sia. ia hanya butuh sedikit waktu menenangkan diri, demi meredam emosi yang bergejolak karena lagi-lagi nadia-lah yang selalu menjadi sumber kekecewaannya.
Namun Nada pun tidak bisa memungkiri hatinya sempat menghangat ketika mengingat kejadian dimana ia memberitahu orang tuanya mengenai acara wisudanya itu melalui telepon. Besar harapan seorang anak seperti Nada, ingin dianggap membanggakan diri, bahwa selama seluruh pendidikan yang dia tempuh, tidak menggunakan uang orang tuanya sepeser pun bahkan kartu debit dan kredit pemberian orang tuanya masih tersimpan rapi di laci meja belajarnya. Belum lagi jika seandainya orang tuanya benar-benar bisa hadir, mereka bisa menyaksikan Nada meraih penghargaan sebagai lulusan termuda dan bergelar "c*m laude". Tapi ya sudahlah harapan hanya tinggal harapan. Semua memang sudah berubah, dunia nya kini hanya ada Nada dengan seluruh rasa kesepian yang selalu menghampiri.
Setelah menempuh waktu kurang lebih 33 menit, taksi pun berhenti di depan gedung apartemennya. Nada bergegas turun dan membayar ongkos taksinya, tak lupa mengucapkan terima kasih sambil tersenyum tipis. ia mulai memasuki gedung tersebut dan memencet tombol lift di angka 8.
Dengan penuh helaan nafas, Nada memasukkan password apartemennya. ia melangkah dengan gontai memasuki unit apartemennya. Apartemen yang sudah cukup lama ia tempati.
Apartemen sederhana dengan tempat tidur dekat jendela. Menghadap langsung pemandangan kota Seoul dari lantai 8. Dengan tata letak yang sangat minimalis. Seperti di sebelah kanan, terdapat mini kitchen set lengkap dengan tempat makannya. dan di sebelah kiri, terdapat sebuah tangga mengarah ke atas, dimana disana ada tempat tidur juga dengan kasur ukuran queen size yang sering digunakan Kikan jika sedang berkunjung ke korea.
matanya kini fokus pada satu titik. Dengan langkah tergesa, Nada menuju tempat tidur kesayangannya, dan langsung membuang benda-benda yang berada di atasnya ke lantai, termasuk melepas seprai, melempar bantal gulingnya. Seolah-olah ia sedang melampiaskan emosi yang kembali muncul. Entah kenapa ketika membayangkan bahwa tempat tidurnya telah ditiduri oleh Nadia, membuat ia seketika emosi.
Aku hanya merasa kesal
Setidaknya itu adalah jawaban dari hatinya sekarang ini. Mungkin nada hanya kesal sehingga mendorongnya untuk melakukan ini. Melupakan fakta bahwa tempat tidurnya juga menjadi tempat istirahat kedua orang tuanya, tapi apa boleh buat kemarahan telah menguasai dirinya.
Ting tong ting tong
Setelah menghembuskan nafas lelah, Nada pun mulai melangkah menuju pintu, sambil merutuki siapa yang bertamu ketika dirinya tengah diliputi emosi.
saat membuka pintu, Nada dikagetkan dengan kehadiran kikan sahabatnya yang muncul dengan senyum manis menghiasi bibirnya.
"Congrats Alvin" ucap Kikan sambil memeluk alvin dengan sangat erat, sampai nada dibuat sesak oleh pelukannya. "Sesak Kikan" keluh Nada. "Upss sorry" ucap Kikan dengan kekehan ringan.
"Kikan" lirih Nada. Kikan yang tanpa sengaja melihat kekacauan yang terjadi di depan matanya, berusaha menahan mulutnya yang gatal sekali untuk bertanya apa yang terjadi. "yes Alvin, i'm here" ucap Kikan dengan memeluk alvin kembalin sambil menepuk-nepuk pelan punggungnya.
Menurutnya Nada yang sering dipanggil alvin olehnya, hanyalah seorang anak yang ingin merasa di perhatikan, dipuji ketika melakukan hal yang benar , dan ditegur ketika melakukan kesalahan. Dan sosok yang sedang dipeluknya tidak pernah atau bahkan lupa kapan terakhir diperlakukan seperti ini. Keluarga, itulah yang Alvin-nya ini rindukan.
Mungkin terdengar sepele, hanya gara-gara orang tuanya tidak menghadiri wisuda nya, Alvin-nya ini langsung merasa down seperti ini. Tapi percayalah jika Kikan berada di posisi Alvin saat ini, ia akan melakukan hal yang lebih gila. Keluarga yang tidak pernah mengunjungimu selama belasan tahun, hanya bertukar kabar lewat telepon, padahal keluarga mu lebih dari mampu untuk pergi bolak-balik ke luar negeri.
Jangan tanya Kikan tau darimana mengenai hal ini, tanpa bertanya langsung pun Kikan tahu bahwa selama ini hanya keluarganya –lah yang mampu membuat seorang alvin berlarut-larut dalam kesedihan. Mungkin bagi semua orang keluarga adalah sumber kebahagiaan, tapi untuk sahabatnya , keluarga adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan.
Kikan yang merasa Alvin sedang menangis, berusaha menghiburnya dengan mengalihkan pembicaraan.
"New york- korea itu jauh lho vin, aku cape banget, gak dibolehin masuk nih?" ucap Kikan
"Malu tuh diliat orang, ntar disangka kita lesbian" tambah Kikan dengan raut muka kesal yang dibuat-buat. Nada melepaskan pelukan Kikan, dengan tangan yang sibuk menghapus air matanya kasar. Nada menggeser badannya untuk mempersilahkan Kikan masuk sambil membantu membawa koper kecil milik Kikan.
Nada akhirnya bisa tersenyum tulus setelah setengah hari ini moodnya meluncur bebas. Kehadiran kikan memang selalu menjadi mood buster-nya. Entah kenapa, hari ini Ia merindukan seseorang memanggilnya dengan sebutan "Alvin" bukan Nada. Karena nama panggilan nada terlalu mirip dengan Nadia. Sementara nama panggilan "Alvin" membuat dirinya kuat dan tidak terbebani masalah keluarganya.
"Vin"
"ALVIN" teriak Kikan memecah lamunan Nada, yang menurut Kikan terlalu banyak melamun.
"Ih dipanggilin daritadi, gak nyahut-nyahut, mikirin apa sih?" ucap Kikan penuh kekesalan.
"Aku......" belum sempat Nada menyelesaikan ucapannya, Kikan langsung memotongnya. " Nih ya Vin, dulu jaman aku lulus kuliah, temen-temenku malah bilang, Kikan Selamat datang di dunia pengangguran yang dipenuhi dengan tes kerja sana-sini". Kikan mencoba menirukan nada suara temen-temennya. membuka kaleng soft drink berwarna merah lalu meminum sedikit sebelum melanjutkan ucapannya.
"Tapi sayangnya, aku gak bisa ledekin kamu kayak gitu vin, secara ya kamu tuh udah lebih dari aku, jadi aku bete gak bisa ledekin kamu" ucap Kikan dengan nada merajuk.
"Memang apa yang aku punya?" tanya alvin.
"Badan seksi yang sialnya dapat menghidupimu selama ini?" tanya kikan balik. "tapi aku tak bahagia" lirih nada.
"Ceritakan apa yang terjadi" ucap Kikan dengan nada memerintah.
"OK, tapi sebelum itu, bantu aku bereskan barang-barangku". Nada melangkah menuju walk in closet. mengeluarkan koper dari atas. dan mulai mengisi koper dengan pakaiannya.
Kikan menatap heran dengan kelakuan sahabatnya. "Apa kau akan pindah alvin?". dan alvin dengan entengnya menjawab YA. " tapi kenapa?" tanpa bisa lagi menutupi penasarannya.
"Karena kasurku sudah ditiduri oleh Nadia" jawab Nada. "Itu cuma ditiduri alvin, bukan dikotori, kau itu seperti mengganggap nadia kuman saja" kekeh Kikan. Alvin menatap tajam kikan. Kikan yang sudah biasa ditatap seperti itu hanya memutar mata malas. "Nadia itu lebih dari kuman, lebih tepatnya kesialan" ucap nada dengan kebencian yang tidak bisa ditutupi lagi.