Dalam rapat umum pemegang saham, para direksi dan pemegang saham menyatukan suara untuk melengserkan Haidar Dwayne sebagai penerus dan pewaris utama DW Group karena dianggap tidak mampu memimpin perusahaan. Otak di balik konspirasi ini adalah Agam Sasena yang merupakan tangan kanan sekaligus orang yang paling dipercayai oleh Hikmah Dwayne, ayah dari Haidar sekaligus komisaris tertinggi DW Group.
Dewan direksi dan para pemegang saham menganggap Haidar tidak mampu membawa perubahan besar di dalam perusahaan. Bahkan mereka menganggap Haidar hanya akan membawa kehancuran bagi perusahaan yang telah berdiri selama 40 tahun itu. Semua orang menganggap Haidar adalah orang yang ceroboh, dan tidak memiliki insting yang tajam dalam bisnis. Beberapa anak perusahaan terpaksa ditutup akibat keputusan Haidar yang dianggap terlalu membela kaum buruh dan kaum bawah. Sehingga perusahaan terpaksa membayar lebih karena sikap sosial Haidar yang dianggap bertentangan dengan kebiasaan perusahaan.
"Tiga direktur, empat manajer dan tiga divisi bergabung dalam protes kali ini," ucap Hikmah terbata-bata saat berbicara empat mata dengan putra tunggalnya. Saat ini memegang jabatan sebagai deputi CEO DW Group yang ingin dijatuhkan oleh dewan direksi.
"Bisa dibilang hampir seluruh DW Group ikut terlibat," sambung Hikmah dengan ekspresi penuh kesedihan di wajahnya.
Hikmah terbatuk setelah mengatakan kalimat yang membuat lidahnya kelu itu. Saat ini dia menderita penyakit paru-paru kronis. Penyakit yang telah menggerogoti kesehatannya selama hampir lima tahun terakhir.
"Haidar anakku. Kali ini Ayah tidak bisa melindungimu lagi, Nak," ucap Hikmah bersusah payah menegakkan tubuhnya demi menyentuh Haidar.
Haidar bergeming di samping ranjang pasien. Laki-laki berusia 30 tahun itu hanya mampu menatap ayahnya. Dia berusaha untuk tetap tegar meski hatinya begitu hancur melihat kondisi pria yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang itu. Lidahnya terasa kelu hingga satu patah katapun tidak mampu terucap dari bibirnya.
"Kamu harus bisa mempertahankan posisimu, apa pun yang terjadi. Berjanjilah pada Ayah, kamu akan melakukan hal itu, Haidar."
Haidar mengangguk pelan sambil berkata, "Aku akan melakukannya, Ayah. Meski harus kehilangan nyawaku, aku pastikan DW Group tidak akan dikuasai oleh siapapun yang tidak berasal dari keturunan kita," ucap Haidar penuh kepastian.
"Terima kasih, Nak. Dengan begini, Ayah bisa tenang menyusul ibumu."
Lalu beberapa menit kemudian Hikmah mengembuskan napas terakhir dalam pelukan Haidar. Kini Haidar benar-benar sendiri dalam melanjutkan hidupnya yang penuh liku. Orang-orang yang paling dipercayainya satu per satu pergi untuk selama-lamanya.