Ini sebuah kisah tentangku, tentang dia, dan tentang orang-orang di sekitar kami. Konsep sederhana sebuah kisah adalah komunikasi. Pertama dan terutama. Kami semua memerlukan komunikasi untuk saling berbagi, saling memberi tahu dan saling mengungkapkan. Apa jadinya jika komunikasi itu tidak berjalan semestinya? Salah paham.
Dia, Hana Paramita. Seorang gadis manis, punya mata cantik dan senyum menawan. Rambutnya bergelombang dan hitam berkilau. Aku bisa membayangkan tangannya pastilah lembut dan halus. Aku bisa membayangkan suaranya pasti sangat nyaman didengar. Aku bisa membayangkan dirinya ada di depanku dan kami saling bicara.
“Sesuai janjiku, aku datang, Hana. Kamu tetap saja cantik bagaikan bulan di sore ini,” kataku memujinya.
“Aku tidak datang bulan,” jawabnya seraya menggeleng.
Aku menahan senyum. “Kamu mau pergi ke mana?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
Dia memandangku dengan kepala agak dimiringkan. “Aku mau kamu.”
“Ah, Hana,” responsku seketika tersipu.
Aku, Lana Anggarda Praja. Seorang pemuda tujuh belas tahun yang ingin sekali mencari tahu lebih lanjut tentang siapa sebenarnya Hana. Walau sepertinya sangat gampang bagiku untuk mendapatkannya, tetapi ternyata akan sangat sulit jika kami berdua losta connecta.
***
Liburan panjang aku habiskan di rumah pamanku yang ada di Bogor. Duduk di beranda rumah sendirian, aku jadi galau. Ya, kalau sedang sendiri pasti aku teringat Ratna. Aku baru putus darinya selama lima puluh hari—astaga, aku menghitungnya! Aku bangkit dan memeluk saka kayu dengan perlahan.
“Kenapa kamu putuskan aku?” tanyaku pada saka itu.
Suara motor terdengar keras, Eldo pulang dari mengantar ibunya arisan. Sepupuku itu punya tampang tengil, alis tebal, kuping besar, dan rambut acak-acakan. Tubuhnya kurus, namun tinggi. Satu fakta tentangnya, dia adalah seorang pejantan tangguh yang tak mau berhenti mencari cewek yang mau dengannya.
“Angga! Lu lagi ngapain?” kata Eldo sembari memarkirkan motornya.
Aku segera melepaskan pelukanku pada saka itu. “Tidak sedang apa-apa,” jawabku gelagapan.
Dia menggeleng dan kemudian turun dari motornya, mendekat ke arahku dengan pandangan curiga. Aku hanya menelan ludah melihat tatapannya itu. “Tadi pagi lu cium-cium tembok, sekarang peluk-peluk saka kayu, nanti malam apa?”
“Ayolah, Do. Aku ini sedang galau. Bagaimana denganmu sendiri, kamu sudah menemukan cewek polos yang kamu cari-cari dari dulu?” tanyaku melempar arah pembicaraan.
“Di posyandu banyak tuh cewek yang polos,” jawabnya sembari tertawa.
“Itu bocah!” kataku kesal, tetapi tertawa juga.
“Positif aja, Ngga! Gue yakin di luar sana masih ada cewek polos. Gue bakal dapatkan satu.”
“Kemarin marah-marah habis ditolak, sekarang langsung percaya diri lagi,” ujarku mengingat saat dia marah-marah, putus asa, dan merendahkan dirinya sendiri.
“Memangnya cewek satu doang? Banyak!” katanya bersemangat. “Tapi, pertanyaannya, ada nggak ya yang mau sama gue?” tambahnya langsung lesu. Dasar labil kayak aku!
“Kalau bisa sih gue pengin pinjam muka lu, Ngga. Mumpung lu belum move on, mubazir itu nggak dipakai, jadi gue sewa aja sini,” pintanya antara memuji dan menyindir.
Aku tidak menjawab dan memilih menggeleng saja. “Mandi buru, kamu mau antar aku ke stasiun, nggak?” tanyaku yang langsung diiyakan dengan malas olehnya. Eldo pun segera masuk ke dalam rumah.
Aku tidak yakin dengan kata-kata Eldo. Cewek polos di zaman sekarang? Pastilah seperti sebutir berlian di gurun pasir. Di otakku memang ada pikiran naif seperti Eldo bahwa aku akan mendapatkan cewek polos yang baik hati, tetapi itu sama saja mengharapkan hujan salju di Jakarta. Hubunganku dengan Ratna kandas begitu saja karena dia sudah memilih yang lain. Antara sakit, sedih, pusing, dan cemburu, semua bergabung jadi galau.
Kalau dipikir-pikir buat apa juga aku memikirkan cewek yang meninggalkanku? Aku seharusnya sadar dia cantik cuma modal bedak. Baru ada cowok datang bawa mobil, aku ditinggalkan begitu saja. Alasan putusnya dia bilang karena aku tidak bisa mengantarnya terus-terusan ke salon langganannya. Aku ini pacar atau tukang ojek? Walau sudah tahu begitu, tetap saja aku kangen Ratna. Sudahlah, aku harus terima kenyataan kalau aku memang sulit move on.
***
Aku berpamitan pada Paman dan Bibi untuk pulang ke Jakarta. Setelahnya, Eldo segera mengantarku ke stasiun dengan motornya. Dia ini mainnya kebut-kebutan, hampir saja dia menyerempet mobil. Untung saja kami berdua pakai helm. Coba kalau tidak? Ketombenya pasti sudah menerpa wajahku saat angin menghempas.
“Sampai sini aja ya, Ngga! Hati-hati! Matanya dijaga!” ucap Eldo sembari menerima helm milik Paman yang aku kembalikan.
Aku hanya menggeleng dan meneriakinya untuk hati-hati. Aku pun segera masuk dan menunggu kereta datang. Aku membuka ponsel dan menulis pesan untuk ayahku agar tidak lupa menjemputku setibanya aku di stasiun tujuan. Sembari menunggu, pandanganku sudah berkeliling mengamati sekitar.
Seorang ibu dan anaknya yang menangis, seorang lelaki yang tampak terburu-buru dengan wajah penuh keringat, dan seorang gadis yang duduk manis tidak jauh dari tempatku duduk. Fokusku kini tertuju pada gadis itu.
Dia diam mematung sembari tersenyum. Aku melihatnya jadi ngeri, tetapi dia ternyata bukan hantu, dia bisa menoleh ke kanan dan kirinya. Aku pun segera mengalihkan pandangan saat dia menoleh ke arahku. Setelah merasa aman, aku memperhatikannya lagi. Dia pasti seumuran denganku. Dia cantik dan terlihat lugu dengan jaket tebal dan rok panjang itu.
Aku dekati saja atau tidak, ya? Ada kursi kosong di dekatnya. Ah, tidak! Aku jadi ketularan Eldo, diam saja, sok cool. Lagi pula, sekarang cewek lebih suka cowok dingin yang sok kegantengan dan seakan tidak punya perasaan. Aku harus jadi misterius. Ya, Angga! Kamu harus jadi misterius! Tetapi, memangnya aku punya misteri? Lupakan saja! Jadi diri sendiri saja!
Baru aku mau berdiri untuk pindah posisi ke sampingnya, kereta sudah datang. Terpaksa aku segera masuk, tetapi aku bisa mengikuti gadis yang ternyata masuk ke kereta yang sama denganku. Kami duduk berseberangan sehingga aku masih bisa mengamatinya.
Kenapa aku melihatnya terus, ya? Penampilannya membuatku bertanya-tanya. Selain cantik dan tampak lugu, dia juga punya senyum yang menawan. Apalagi, dua giginya terlihat saat dia diam, lucu banget, kayak kelinci. Bagaimana dia tersenyum pada nenek di sampingnya itu sangat manis, tetapi kenapa sang nenek tampak bingung saat ucapannya dijawab oleh gadis itu, ya? Apa yang dikatakan gadis itu? Kok aku jadi semakin penasaran, ya?
Entah sudah berapa lama aku memperhatikannya. Walau sesekali aku menengok ke jendela atau mengecek ponsel, tetap saja waktu melihatnya lebih banyak. Dan akhirnya kami sampai, dia berdiri, aku pun berdiri. Banyak orang yang keluar kereta di stasiun terakhir ini.
Seorang lelaki terlihat berdiri di belakangnya. Aku melihat tangannya sepertinya akan menyentuh gadis itu. Aku menggeleng dan segera menerobos serta menarik tangan gadis itu, aku membawanya jauh-jauh dari lelaki m***m yang hampir menyentuhnya itu.
“Maaf sebelumnya. Kamu lihat lelaki yang tadi? Dia hampir menyentuhmu,” ucapku dengan nada panik.
“Menyentuhku?” tanyanya dengan wajah bingung.
“Iya, dia hampir melakukan hal tidak pantas padamu,” kataku sembari mengangguk.
“Tenang saja, aku sudah memakai antiseptik. Tanganku sudah bersih dan bebas kuman,” ucapnya menunjukkan kedua telapak tangannya yang bersih.
“Maksudku di—” kata-kataku terpotong olehnya.
“Dengan perlindungan 24 jam, aku akan terhindar dari virus dan bakteri pembawa penyakit. Terima kasih, ya! Pamanku sudah menunggu di luar,” katanya yang kemudian segera pergi.
Aku hanya bisa menggeleng tanda tak mengerti. Dia melangkah cepat ke pintu keluar. Sungguh aku ingin tahu lebih lanjut tentang gadis itu. Semoga saja aku punya kesempatan untuk bertemu dengannya lagi! Dan jika kesempatan itu datang, aku tidak akan menyia-nyiakannya.