“Gea! Bantu Ibu cepat!” teriak seseorang dari dapur.
“Iya, Bu,” jawab Gea dari dalam kamar.
Gea yang penampilannya sudah rapi segera keluar kamar menuju ruang makan yang bergabung dengan dapur. Ia membantu wanita yang tengah mengangkat masakan dan menaruhnya ke mangkuk, lalu menyiapkan piring.
“Kamu ini sedang apa, sih, lama sekali di kamar?” tanya wanita yang rambutnya digelung itu pada Gea.
“Maaf, Bu, aku tadi rapihin buku di lemari dulu,” jawab Gea jujur.
“Di mana Rendi dan Dini?” tanya seorang pria yang baru saja masuk ke ruang makan.
“Kak Dini dan Rendi masih ada di kamar mereka, Pak,” jawab Gea.
“Ibu nggak bangunin mereka?” tanya pria berkumis itu pada wanita yang tengah merapikan meja makan. “Sekali-kali Dini itu suruh bantu-bantu masak juga.”
“Biarkan mereka. Dini kan ke kampusnya siang, kalau Rendi kan libur, Yah,” jawab sang istri pada suaminya. “Dini pasti capek karena banyak kegiatan di kampus, lagi pula ada Gea.”
“Iya, Pak, biar aku saja yang bantuin Ibu di dapur,” sahut Gea dengan senyum.
“Aduh! Hani! Seragammu jadi kotor, kan.”
Warna cokelat menutupi sebagian rok depan Hani yang berwarna merah. Gea menatap adiknya yang sedang tersenyum tanpa rasa bersalah itu. Mungkin bagi adiknya noda itu bukan masalah besar.
“Ayo, ganti rok dulu.” Seakan tidak ingin membuang waktu, Rini segera menarik tangan anaknya kembali ke kamar.
“Gea, beresin itu.”
Itu kalimat ibunya sebelum mereka berdua menghilang ke dalam kamar Hani. Sebenarnya, tanpa disuruh ia pasti akan membantu membereskan s**u Hani yang tumpah hingga ke lantai, mengelapnya lagi dengan air agak tidak lengket dan dirubungi semut. Tapi, mendengar kalimat perintah ibunya justru membuat perasaannya sedih.
Ah. Ibunya?
Gea bergegas mengambil lap, mengerjap mata berkali-kali dengan cepat.
***
“Pak Danang, jalannya pelan-pelan saja. Ada ramalan kalau zodiak Aquarius akan mengalami hal yang tak terduga. Itu bisa berarti kecelakaan,” kata Amel yang tengah duduk di jok belakang Land Rover berwarna hitam itu.
“Kenapa, sih, Nona Amel percaya dengan ramalan?” tanya Danang sembari terus fokus menyetir.
“Karena ramalan adalah sebuah peluang dari eksistensi takdir,” jawab Amel datar. Gadis itu memandang ke arah jendela dan mengamati pinggiran jalan. Sebentar lagi mereka akan sampai sekolah, dia sedang mempersiapkan diri. Di sekolah, murid-murid lain menganggapnya aneh dan menjauhinya karena Amel terlalu percaya ramalan.
Danang hanya mengangguki kata-kata anak majikannya itu. “Sejak kapan Nona suka dengan ramalan?” tanyanya lagi.
“Nggak tahu,” jawab Amel singkat.
“Kok nggak tahu, Non?” tanya Danang lagi. “Apa ada alasan khusus, kayak dapat wangsit gitu?”
“Nggak usah kepo,” ujar Amel dengan memasang wajah datar.
“Nona Amel lagi sedih, ya? Itu kan saya mau bercanda maksudnya,” kata Danang yang mencoba menebak apa yang terjadi dengan Amel.
“Nggak, kok,” jawab Amel yang membuat sopirnya hanya mengangguk.
Bukan sedih. Cuma….
Amel mendesah sambil kembali mengarahkan pandangan ke luar jendela.
***
“Kenapa Pat nggak berangkat, ya?” tanya Debby sembari mengaduk-aduk jus jeruk yang baru saja tiba di mejanya. “Apa karena kemarin?”
“Pat pasti masih kesal karena dia nggak lulus latihan ujian,” jawab Amel yang tengah makan keripik kentang dalam kemasan.
“Seharusnya lo ramal Pat aja, Mel. Dia lulus ujian nasional apa nggak,” usul Amel.
Amel menggeleng. “Aku nggak mau ramal yang kayak gitu. Lagian Pat lebih suka berjuang sendiri. Dia nggak butuh ramalan.”
Gea tidak membeli apa-apa di kantin, dia memilih membaca buku. Perasaan bersalah kembali mendatanginya. Sebagai teman sebangku, Gea seharusnya lebih perhatian dengan Pat, bukannya terus mengurusi nilainya sendiri.
“Kalian tahu nggak, sih, akhir-akhir ini gue lagi dibatasi sama Mami.” Suara Debby membuyarkan fokus Gea saat membaca. “Masa buat perawatan yang biasanya satu juta, sekarang cuma boleh lima ratus ribu. Terpaksa deh gue buka paid promote dan endorse di i********:, ternyata lumayan juga hasilnya buat perawatan, ya walau masih tetap kurang,” ungkap Debby yang tampak mengerucutkan bibir. “Enaknya Amel, beli apa-apa pasti dituruti.”
“Nggak kayak di bayangan lo,” balas Amel singkat.
Mana mungkin Gea tidak pernah iri melihat teman-temannya. Mereka nyaris selalu terlihat segar. Terawat, mungkin lebih tepat. Salah satunya Debby. Menurut Gea, Debby memiliki yang semua gadis inginkan. Kecantikan, kekayaan, dan popularitas. Satu bonus lebih dari Debby yang tidak dimiliki Gea adalah kasih sayang dua orangtuanya. Jadi, ketika Debby mengeluh, sebenarnya Gea merasa risih. Gea tahu kalau Debby juga sering digoda karena sifatnya yang centil atau dihindari cewek lain karena responsnya dalam berbagai hal sering berlebihan. Akan tetapi, sosok seperti Debby seharusnya lebih sering bersyukur.
“Eh, itu kan Silvia sama Clara,” bisik Debby menunjuk dua cewek cantik yang langsung menjadi pusat perhatian di kantin. “Mereka jago banget nari.”
Gea menoleh ke arah dua gadis itu. Melihat gadis-gadis lain di sekolahnya yang berpenampilan begitu menarik hanya akan membuatnya merasa rendah diri. Jadi, Gea kembali fokus pada bukunya.
“Gea, gue punya beberapa voucer buat perawatan rambut sama wajah di salon langganan gue. Lo mau nggak?” tanya Debby.
“Eh?”
“Amel kan jelas nggak mau,” sindir Debby.
“Buat Gea aja,” ujar Amel.
“Mau, ya, Ge. Nanti bareng sama gue ke sananya. Minggu pagi,” kata Debby yang tampak antusias.
“Tapi a—”
“Nggak usah tapi-tapi. Pokoknya jadi,” paksa Debby yang akhirnya diangguki Gea.
***
Sepulang sekolah, Gea memutuskan mampir ke rumah Pat. Setelah menekan bel yang ada di dekat pintu, ia pun menunggu.
“Gea?” Pat tampak kaget seusai mendapati Gea berdiri di depan pintu rumahnya. “Lo sendiri?” tanyanya sembari celingukan karena tidak melihat Debby dan Amel.
Gea mengangguk. “Gue mau ajak lo belajar bareng,” jawabnya.
“Kebetulan, gue juga lagi belajar. Ayo masuk,” ajak Pat yang memasang wajah senang.
Mereka berdua pun belajar di ruang tengah. Keduanya duduk di karpet, bersanding dengan buku-buku dan juga mamalia kecil bernama Pino yang sedang makan apel.
“Pino, kamu kayaknya laper banget,” ujar Gea seraya mengelus punggung sugar glider milik Pat itu.
“Dia yang selalu nemenin gue kalo malam,” ujar Pat. “Dia kan nokturnal, jadi hampir selalu bangun.”
“Memangnya lo kalau malam ngapain, Pat?” tanya Gea.
“Dengerin radio. Ada acara favorit yang selalu gue dengerin,” jawab Pat. “Oh ya, soal yang ini gimana, ya? Buat nyari X, disubstitusi ke persamaan kuadrat, kan?”
Pat banyak bertanya pada Gea selama mereka belajar bersama. Tentu saja Gea bisa menjelaskannya dengan mudah.
“Gea, itu diminum dulu,” ujar Pat yang melihat gelas berisi sirop melon di samping Gea itu masih penuh.
Gea mengangguk. “Tante Niki kalau pulang jam berapa, Pat?” tanyanya seraya mengangkat gelas di sampingnya.
“Dua hari ini dia belum pulang,” jawab Pat. Nada suaranya terdengar tidak senang. “Dia memang kayak gitu, jarang ada waktu buat gue.”
“Lo sering sendiri dong di rumah ini?”
“Kan ada Pino,” jawab Pat seraya menunjuk hewan kesayangannya yang masih makan apel itu.
“Tapi lo nggak benci dia, kan?” tanya Gea yang terdengar hati-hati.
Pat tidak menjawab. “Eh, soal ini caranya gimana, ya? Gue masukin rumusnya udah bener belum?”
Gea mengerti kenapa Pat memilih mengganti topik pembicaraan. “Iya, ini betul, Pat,” tanggapnya.
“Banyak soal yang masih sering bikin gue bingung,” ujar Pat yang kemudian menggaruk kepala.
Melihat Pat begitu antusias belajar membuat Gea tersenyum. Walau begitu, ia khawatir jika sahabat itu terlalu keras pada dirinya sendiri. Apalagi, Pat sampai tidak berangkat sekolah. Gea pun memulai obrolan lagi, “Lo kenapa bolos, sih? Memang sih udah nggak ada pelajaran, tapi Pat kan nggak pernah bolos.”
“Gu-gue, nggak enak badan tadi pagi,” jawab Pat asal.
Gea bisa melihat alasan lain yang disembunyikan Pat. “Oke, kita lanjutkan.”
Gue tertekan, Gea. Ujian semakin dekat dan gue belum siap, apalagi ibu gue sama sekali nggak peduli. Andai gue anak yang pintar kayak lo, yang bikin target mencapai nilai sempurna. Dapat nilai pas aja gue kesusahan.
***