#episode 1
Smile
Aku ingat saat pertemuan pertama yang berkesan,senyummu Roy.Kau kakak senior yang selalu dekat dengan junior.
Bisakah aku lupakan hal itu, rasanya aku tak sanggup karena setiap kali ku buka mata hanya senyummu yang terlintas di pelupuk mataku.
Bagaimana ku jalani hari-hari tanpa melihat senyummu.Ya Tuhan inikah jalan cintaku, berakhir sampai di sini. Cinta yang ku bangun dengan susah payah hingga terpatri di lubuk hati terdalam. Mengapa? kau goreskan luka,ingin ku menangis di pelukan mu tapi tertahan oleh sikap mu yang lemah. Aku kalah cinta kita kalah.
Masih ingat tempo hari perdebatan yang mengiris sembilu.
"Mengapa harus ada cinta di antara kita, kalau pada akhirnya kita berpisah dan saling benci," Ran terus berujar di depan Roy.
"Apakah cinta kita salah, tak termaafkan.Jawab aku Roy," ucap Ran dengan lantang sambil sesekali menyeka air matanya yang mengalir.
Roy diam seribu bahasa, sementara Ran terus memaksa dengan rasa pilu di hatinya.
"Mengapa kau diam Roy, ayo katakan aku menunggu jawaban mu sekarang."
"Ran tenanglah jangan terus kau paksa dengan pertanyaan itu, biarlah takdir ini kita jalani bersama dengan lapang d**a.
Mungkin ini jalan terbaik bagi kita yang digariskan Tuhan bagi kita."Sambil menatap lekat mata Ran dan mengusap lembut tangannya.
Ada gejolak rasa yang membuncah di hatinya antara melepaskan atau bertahan tapi sakit rasanya.Sulit baginya untuk memilih, karena sejatinya cintaku untuk Ran tak pernah pupus. Andai kau tahu Ran keadaan ku sekarang kau pasti sedih dan tak membiarkan orang yang kau cintai kesakitan. Aku tak sanggup Ran bila nanti nya kau menderita karena keadaan ku. Sulit rasanya tuk mengatakan padamu.Ran maafkan aku. Roy mencoba meredam hatinya.
"Kau pasrah dan menyerah tanpa berjuang sedikit pun untuk cinta kita," masih dengan deru redam di dadanya.
"Ran kau adalah wanita tegar, aku percaya kau bisa melewati semua ini, yakinlah bila kita berjodoh pasti akan bertemu.''
Ran menunduk kan kepalanya mencoba mencerna kata-katanya di tengah kegundahan hatinya.Tiba-tiba Roy mengangkat wajah Ran dengan tangannya sambil berkata," lihat aku Ran , kau akan baik-baik saja dengan ada atau tanpaku," ucap nya penuh keyakinan.
"Tapi... Roy,"belum sempat Ran melanjutkan kata-katanya, Roy mengatupkan bibir Ran dengan jarinya.
''Bisa," masih dengan tatapan mata elang nya.
Bagaimana mana ku bisa apabila tatapan mu yang penuh cinta terus menggelitik jiwaku.
Aku tak tahan menghadapi ini semua sendirian.Seperti ada sesuatu yang hilang.Tidakk... aku tak boleh selemah ini.Rasanya seperti mimpi buruk.Tidak mudah dan entah berapa lama, aku butuh waktu. Aku mencoba mengerti dengan keadaan mu saat ini tapi tetap saja rasa tak percaya menggelayut dengan manja di ruang pikirku.Inikah rasanya putus cinta, baru saja kita rajut asa dengan indahnya, cinta kita akan tercerai-berai.
"Bagaimana dengan cinta sejati yang kau agungkan selama ini, mana Roy?!" Ran terus memukul d**a Roy dengan terus sesenggukan.
Roy menenangkan Ran dengan mengusap lembut air matanya dengan penuh cinta.
"Sudah Ran jangan begini aku tak sanggup melihat wanita yang kucintai menitikkan air mata.Sudah ya, tersenyumlah untukku."Pinta
Roy sambil membelai rambut Ran.
‘’ Ran ku antar kau pulang ,’’ ucapnya lirih
Ran masih termangu, meskipun berusaha sekuat tenaga untuk bisa menerima kenyataan ini.
Langit biru masih cerah dengan gumpalan awan putih yang berarak di angkasa.Burung-burung masih berkicau merdu. Alangkah ironinya hari ini, keadaanku saat ini tak lagi bersinar laksana mentari pagi.Sepertinya semesta tak mendukung kita tuk berpisah.
Ran tertatih bangkit dari duduknya, sementara Roy mencoba meneguhkan dirinya yang hampir jatuh “ Hei, hati-hati biar ku gendong sampai depan,” ingin menolak tapi batin Ran tak kuasa melihat ketulusan cinta yang terpancar di wajahnya.
Mengapa?lagi dan lagi kau buat aku tak berdaya dengan cintamu.Haruskah kita berhenti sampai di sini ? batin Ran terus berkecamuk tak menentu,tapi Roy sepertinya sudah bulat dengan keputusannya tanpa alasan yang jelas yang bisa diterima akal sehat .Wanita mana yang sanggup untuk memutuskan cintanya ketika lagi sayangnya, keputusan yang sepihak itulah yang dirasakan Ran .
“ Kita berhenti di sini Ran,” sambil menurunkan Ran dari gendongannya, lantas menuju parkiran mobil .
Yupz taman edelweis adalah tempat favorit kami di mana suka dan duka lewati bersama.
Masih ingatkah kamu Roy saat hujan tiba dan kita menunggu reda di taman ini sambil berteduh di bawah rindangnya pepohonan sambil bercanda tawa hingga hujan reda.Walaupun kau alergi air hujan ,kamu tidak peduli dengan dirimu dan satu lagi kau selalu membuatku tersenyum.Kau sangat bahagia apabila melihat ku bahagia apalagi saat ku basah kuyup oleh guyuran air hujan sambil membentangkan tangan dan berteriak memanggil namamu, Roy yang menyaksikan dari kejauhan.Taman edelweis menyimpan banyak kenangan.Apalagi saat kita adu lari, siapa yang tercepat sampai di bangku taman.
’’Ayo Roy kita lomba lari siapa yang cepat sampai di bangku taman,’’ ajak Ran penuh semangat
‘’Boleh siapa takut ,aku pasti menang,” dengan penuh keyakinan
‘’Kita mulai ya! Satu...dua... tiga...,” ucap Ran sambil memberi aba-aba.
‘’ Yeah..... aku menang ,’’ sorak Ran kegirangan laksana anak kecil yang mendapatkan mainan.
dan kau tertawa melihat tingkah Ran.
''Mengapa kau tertawa Roy?''
'' Lucu kau seperti anak kecil saja Ran,"jawabnya sambil menahan tawa.
''Sudah ah Roy ketawanya, malu tahu ," dicubitnya Roy dengan tangan nya.
''Iya sudah nih Ran.'' Roy menghentikan tawanya.
Masa itu masih terlintas di mataku, Roy.
Mobil melaju pelan, ku lihat Roy menutupi sesuatu yang tak bisa diungkapkan padaku.Begitu berat untuk berbagi? Aku seperti tak mengenal dirimu lagi.Kami terdiam seribu bahasa tak ada lagi gelak tawa yang biasa kau lontarkan,hanya kesunyian yang ada di antara kita.
Tak terasa sudah sampai depan rumah Ran.
''Ku antar kau masuk ya,'' pintanya sambil berjalan menuju gerbang .
''Sudah Roy biarlah sampai sini saja.''
''Kau nggak papa kan,''
''Ya, tak apa aku bisa sendiri.'' Ran masih menundukkan wajahnya, rasanya tak sanggup menatap wajah kekasihnya.
Mengalihkan pandangan adalah cara tepat agar aku tak terus berharap sama cintamu, Roy.Aku tak menyangka ini adalah hari bersejarah dalam hidupku di mana cintaku tertahan sampai di sini. Tak ada lagi cerita indah dulu, cinta kita cukup sampai di sini.Semoga aku mampu menatap masa depan cerah dengan senyuman .Thanks all for love.
Cinta memang susah ditebak, kapan dia datang dan pada siapa cinta itu singgah.Ketika semuanya telah tertulis dari sebelum lahir, manusia hanya berserah diri dan menerima takdirnya.Ku tulis kembali di lembar diary berwarna peach itu sebuah kisah cinta kita, tentangmu dan senyummu yang membekas di palung jiwaku.Aku terkesima pada pandangan pertama dan kau juga sama.Kesan pertama saat jumpa di perpustakaan melihat senyummu di saat kuliah di semester satu dan tidak lain tidak bukan cinta pertama untuk awal yang indah.
Episode 2
Pada suatu pagi nan cerah diliputi awan-awan yang berserakan di cakrawala dan hembusan angin yang terasa di kulit ari.Kicauan burung mengusik telingaku seolah menyapaku dengan keriangannya.
Masih tersisa sendu kala ku langkahkan kaki menuju kampus.Semburat cintamu telah merekah di Sukma, ingin rasanya ku berlari mengejar dan bersandar di bahu yang kekar menumpahkan segala rindu yang bertaut di kalbu.Inginku teriak memanggil namamu tapi tersadar ketika kakiku terantuk batu .’’Oops...aduh... sakit,’’ jerit Ran spontan ternyata itu hanya lamunan semata.
‘’Hati-hati mbak jangan melamun,’’ ucap pemuda yang kebetulan lewat di sampingku
Entah sampai kapan aku harus seperti ini, menolak lupa tentangmu adalah hal mustahil bagiku.Cinta telah mengajarkan padaku arti kesetiaan meskipun pada akhirnya berada di persimpangan jalan.
Kantin adalah tempat kedua cinta kita ,bagaimana bisa melupakanmu kenangan bersama begitu jelas kentara.Masih ingat keusilan saat kita makan bakso bareng,makanan favorit kita berdua.
‘’Kamu yang ini saja ya ,’’sambil menukarkan baso,kupikir tak pedas ternyata pedas gila.Padahal kau tahu aku tak suka pedas.Ku cubit kamu ’’ Kau sengaja ya ,’’ucapku kesal.
‘’ Ya maaf ,sudah tuh pada lihatin kita,’’ tak terasa aku dibuat malu sendiri
‘’By the way selamat ulang tahun ya,’’ sambil menyodorkan coklat silverqueen kesukaanku.
Momen ulang tahun yang ke sembilan belas tahun yang selalu ku ingat dan tempat duduk istimewa di pojok kantin, always loving you and remember this momen.
‘’Hei Ran apa kabar,’’ tiba-tiba suara itu mengagetkanku, aku menoleh ke sumber suara.
‘’Tristan,’’ sambil menunjuk ke arahnya
‘’Sudah lama ya nggak ketemu, apa kabar?"
"Seperti yang kau lihat I’m fine.’’ Lanjut Ran sambil tersenyum.
‘’Aku senang Ran bertemu denganmu, oh ya kau sendirian di sini ?’’
‘’Ya,’’sambil ku anggukan kepalaku.
‘’Tristan boleh tanya sesuatu tentang Roy ,’’tanyaku penuh selidik.
‘’Roy.....’’Tristan bimbang sejenak
‘’Ayolah Tristan kau sahabatnya kau pasti tahu sesuatu.’’ Ran masih penasaran.
‘’Roy sekarang di Bandung Ran, hanya itu yang ku tahu.Maaf Ran hanya informasi itu yang ku dapat tentang Roy.’’Ucap Tristan sambil memandang jauh ke depan seolah enggan menatapku, ya mungkin kau tak tega melihat diriku yang sekarang.
‘’Kau baik-baik saja kan Ran,’’lanjut Tristan
‘’Ya, it’s oke,’’ sambil ku tahan sesak di dadaku
‘’Ran aku duluan ya ada mata kuliah bentar lagi,’’ucap Tristan sambil berlalu meninggalkan Ran sendirian.
Ternyata kau menjauh dariku Roy, kenapa? Batin Ran terus bergemuruh antara percaya dan tidak.
‘’Ran !’’ tiba-tiba suara cempreng itu membuyarkan lamunanku, Vera sahabatku muncul tiba-tiba.
‘’Kamu bikin aku kaget ,’’ucap Ran sambil menyentuh bagian jantungnya.
‘’ Ku cari kau ternyata di sini, buruan yuk sudah masuk.’’ Sambil menggandeng tanganku menuju kelas.
Ran hanya mengikuti langkah Vera yang berjalan terburu-buru, aku tak peduli dengan sekelilingku.Seperti raga tanpa nyawa, bangkit dari keterpurukan adalah sebuah harapan yang harus ku usung, meskipun setiap langkahnya begitu terjal namun seiring waktu berlalu semua akan berdamai dengan keadaan. Hanya waktu, biarlah waktu kan menjawabnya.
Saat di rumah
Sore hari di rumah bukanlah untuk santai, masih banyak agenda kampus yang harus dikerjakan baik tugas mata kuliah atau sekedar beres-beres di kamar.
Terdengar suara panggilan dari mama,’’Ran... Ran ke sini sebentar nak,’’ sementara aku masih di kamar berkutat dengan tugas kampus yang hanya bisa ku pandangi saja. Ada buku diary warna peach yang tergeletak di sampingnya dan di sampulnya bertulis love serta bingkai foto kita berdua,manis bukan tiap kali ku lihat diary itu momen kebersamaan kita terukir di sana.Banyak sekali rekam jejak cinta kita yang sulit untuk di hapus.Ran menghela nafas panjang mengingat semua itu. Dengan cepat ia menuju sumber suara, mama sedang asyik membuat rendang kesukaanku.Memang sedari kecil rendang makanan favoritku.Apalagi sejak kecil ayah dinas di Padang tentunya masa yang tak terlupakan.Meskipun mamaku sunda dan ayahku Jawa entah kenapa lebih suka masakan Padang.Maklumlah masa kecil yang suka berpindah-pindah, delapan tahun di Padang terus ke pindah lagi ke Jakarta hingga sekarang.
‘’ Ya ma ada yang bisa Ran bantu.’’Sambil melongok ke pintu dapur
‘’Bantu mama ya biar cepat selesai.’’
‘’Siap mamaku tersayang, chef Ran siap eksekusi.’’ Kelakar Ran dengan senyum tipis mengembang di wajahnya yang lesung pipit ditambah lagi kulitnya yang kuning langsat dan rambut sebahu makin manis dipandang.
‘’Bisa aja anak mama ,’’ sambil senyum-senyum menatap putrinya itu.Meskipun kau jauh dari kakakmu yang kuliah di Yogyakarta tidak membuatmu berkecil hati kau tetap ceria Ran.Padahal mama tahu kau amat dekat dengan Erick, sifat manja mengingatkan mama pada kakakmu.
‘’Ma, ini sudah matang semua,’’ sambil membolak-balikkan rendang yang sudah matang merata
‘’Ma... kok bengong sih, mama mikirin Mas Erick ya,’’ Ran menatap lekat mamanya.
‘’Ya, hampir setahun lebih mama tidak ketemu kakakmu,’’ucapnya lirih
‘’Khan bisa video call ma ,jangan sedih lagi ya.’’
Mama hanya tersenyum dan mengangguk dengan ucapan Ran.Ya memang saat ini sangat mudah komunikasi untuk saling ketemu langsung,walaupun hanya melihat wajahnya di smartphone semua bisa terobati.Tetapi tetap saja seorang ibu akan merindukan anak-anaknya,pelukan dan kasih sayang serta do’a yang selalu menggema di setiap waktu untuk sang anak.
Malam harinya kami bisa makan bersama ,ayahku sedang tidak sibuk sehingga bisa pulang cepat.
‘’Gimana kuliahmu Ran?’’ tanya ayah memulai pembicaraan.
‘’Baik yah taka ada masalah kok,’’jawab Ran singkat
‘’Syukurlah ayah dan mama turut senang, iya kan ma,’’ sambil melirik ke arah mama
‘’Tentu dong mama ikut senang,’’sambil tersenyum ke arah Ran.
Selesai makan malam Ran buru-buru menuju kamarnya.Masih dengan nuansa hati yang sama tentang kehilangan cinta.Ran berusaha memejamkan matanya tetapi tetap saja matanya tak mau terpejam. Dia melihat keluar dari jendela kamarnya, suasana malam yang sunyi sama seperti hatinya saat ini.Andai masih bisa berkomunikasi denganmu Roy mungkin rindu ini tak kan membuncah seperti sekarang ini.Sayangnya kau memutus komunikasi untuk menghubungimu pun tak bisa.Katakan Roy bagaimana caranya aku melewati ini semua, bisik Ran dalam hati.
Malam terus beranjak naik Ran meraih buku diary peach di ranjangnya,ia berusaha menuliskan kata demi kata, sehingga tak terasa matanya mengantuk dan tertidur pulas.
Suara dering handphone membangunkan Ran
‘’Ya hello. ‘’
‘’Hei non udah jam berapa baru bangun?’’
‘’ What...!’’ Ran teriak histeris
‘’Jam tujuh ,oh my God bagaimana nih?’’ lanjut Ran kebingungan
‘’Buruan ga aku tunggu di kampus,’’
‘’Oke ,’’ sambil menutup handphone nya.
Secepat kilat Bersiap-siap menuju kampus dan pamitan ke kdua orang tuanya.
‘’Sarapan dulu Ran, kok buru-buru,”
‘’Nanti aja mah Ran sudah telat.’’ Sambil melihat ke arah jam tangannya.
‘’ Tidak bareng sama ayah saja Ran ,’’ ucap ayah melihat putrinya itu.
‘’Nggak usah yah , Ran sudah pesan taksi online ,’’
Suara taksi online terdengar dari luar.’’Ran berangkat dulu ya ma, yah sambil mencium tangan keduanya.’’
Akhirnya Ran beranjak keluar menuju taksi online.
Kebiasaan baru ketika telat adalah menyewa taksi online,padahal bila ada kamu lain ceritanya.Huff..Ran menghela nafas panjang melihat dirinya yang sekarang.Mau protes ke siapa ,hanya bisa membatin dalam hati.Sinyal memang hati pindah ke lain hati.Yang ada di pikiranku about love, love and love.Tak mudah halnya membalikkan keadaan seperti laiknya membalikkan telapak tangan.Lantas kenapa Roy rasa ini kerap kali hadir di manapun tempatnya.Kamu sudah terukir rapih di hatiku,seperti inikah seseorang yang mencinta tanpa ada kekasih di sampingnya.Kerinduan tentang dirimu, ingin melepas rindu dan berlari menghampirimu dengan mendekap erat bersamamu.
‘’Dengan Mbak Ran ,’’ tanya sopir taksi online
‘’Ya arah kampus pak.’’
Episode 3
Kampus nan biru
Kampus Tunas Mulia tercinta yang menyimpan sejuta kenangan indah yang mengukir romansa cinta kita dalam balutan kasih mulia.Jejak cinta yang kita usung tak akan lekang begitu saja.Andaikan bait kata yang indah terucap untuk cinta kita tak bisa tergantikan dengan apapun karena sejatinya cinta yang suci murni selamanya akan abadi terkenang sepanjang masa.Bahkan dengan cinta itu sendiri akan meneguhkan langkah kita.Jangan tanya cinta itu tumbuh apabila pemiliknya tak memupuk dengan baik.
Taksi online melaju cepat dan akhirnya sampai di depan kampus .Buru-buru Ran menghampiri Vera yang sudah dari tadi menunggunya.
‘’kenapa manyun, kesal nungguin ,’’ ledek Ran
‘’Kebiasaan ya Ran,kalau di tungguin begitu,’’ucap Vera kesal
‘’Sudah, maaf ya makasih Vera.’’
‘’Ya ,dimaafin dong untuk sahabatku tersayang,buruan yuk bentar lagi masuk.’’Tanpa ragu lagi Ran mengikuti langkah Vera.
Menjalani hari-hari tanpamu seperti membuka lembaran baru,walaupun terasa berat tetap harus tegar dan pantang menyerah.Mungkin inilah proses yang harus dijalani apapun itu.Berbicara akan kenangan denganmu jawabnya akan selalu sama yaitu sulit untuk dilupakan ,di kampus ini cinta kita bersemi.Apalagi saat latihan karate,berkali-kali kau menyuruhku untuk ikut,biar bisa jaga diri katanya.
‘’Walaupun kamu perempuan harus bisa bela diri biar tidak diganggu sama orang jahat, karena banyak di luaran sana yang harus kamu waspadai.’’Ucap Roy menasehati kekasihnya itu.
‘’Iya nanti aku ikut karate,’’ ucap Ran terpaksa
‘’Kok jawabnya nggak yakin gitu.’’
‘’Siap komandan.’’
Roy hanya tertawa mendengar ucapku.
Masih ingatkah Roy masa itu ,latihan karate bareng .Kalau ada rumus praktis untuk melupakan seseorang yang dicintainya mungkin lebih mudah untuk menggeser namamu dalam tahta cinta kita.
Akhirnya selesai juga kelasnya. ‘’Vera ke perpustakaan dulu yuk,’’ajak Ran sambil menggandeng tangan Vera.
‘’Sorry Ran,hei..hei..aku sudah ada janjian ketemu sama Daniel.’’ Sambil tersipu malu
‘’Ya sudah aku ke perpustakaan dulu ya.’’
Cinta membawaku pada tempat ini.Perpustakaan jadi saksi cinta kita di mana kebersamaan terukir di sini.Ran duduk di pojokan dekat jendela,dengan begitu dia bisa melihat orang lalu-lalang untuk mengalihkan kepenatan matanya.Kapan? semua ini berakhir,ini hanya dengungan saja.Tapi ku yakin Roy selalu mencintaiku.Kau selalu ada untukku Roy,ingin menepis bayangmu sekejap saja.Tapi cinta telah membuatku begini,desahku dan resah jiwaku kian hampa tanpa kehadiranmu.Ran terus terpaku dengan kegalauan hatinya,dia tidak menyadari ada sosok jangkung bermata sipit di depannya.
‘’Hei ...gadis kok baca sambil melamun,’’ katanya mengagetkan Ran
‘’Kau memperhatikanku sedari tadi ya,’’dengan cepat Ran mengatasi kekagetannya.
‘’Ada masalah denganmu,boleh berbagi masalah denganku,’’ tawanya dengan lembut
‘’Maaf ya kita belum saling kenal.’’
‘’Perkenalkan aku Prasetyo,panggil saja Pras.’’Lanjutnya memperkenalkan diri tanpa ku minta.
Dalam hati aku tak percaya orangnya indo namanya jowo.
‘’Hei... kok malah diam,terkesima ya dengan kegantengan saya.’’
‘’Yee.. gr.’’
‘’Ayo katakan siapa namamu?’’
‘’Panggil aku Ran.’’ Jawab Ran cepat
‘’Simpel amat nama kamu.’’ Ledek Pras sambil mengernyitkan alisnya
‘’Mau yang versi lengkap namaku Ran Zahra Anugerah.’’
‘’Bagus juga namamu seperti wajahmu,andai ku buat puisi dengan judul namamu seindah wajahmu,’’ canda Pras sambil tersenyum ke arah Ran.
Ran hanya menunduk dengan ucapannya.Baru kali ini ada orang yang baru ku kenal langsung akrab dan di tambah bercanda lagi.
Entah kenapa pertemuanku dengan Pras mengingatkanku pada Roy,ku tepuk pipiku aduh...sakit,ini tidak mungkin kenapa kejadian ini terulang lagi ya, hati Ran masih tak percaya ada kejadian persis sama.Apa iya sejarah akan berulang,masa iya cintaku di samakan dengan sejarah.Ran hanya bingung sendiri,masih ingat dua tahun lalu saat dia di perpustakaan dan duduk di pojokan juga bertemu dengan Roy.First on sight meet you because love.
Aku masih tertegun ketika Pras menegurku,’’Hei kok bengong terus.’’
‘’Nggak kok lagi kepikiran tugas aja,emang kenapa?’’ Ran balik bertanya
‘’Boleh aku duduk di sini,’’ pintanya
Ran hanya mengangguk dan tersenyum ke arah Pras.Ketika memulai lembar baru dalam kehidupan Ran ada saja celahnya untuk selalu mengingat Roy.Kami pun ngobrol sambil sesekali Ran mengutak-atik tugas mata kuliahnya.
Sejak saat itu kami sering ketemu di perpustakaan.Banyak hal yang ku tahu tentangnya di antaranya hobinya yang kembali mengagetkan Ran yaitu travelling,satu lagi kesamaan yang kutemui antara mereka berdua.Apakah ini kebetulan atau bagaimana,yang jelas aku tak bisa menerka jalan ke depannya antara aku dan Pras.Serapat-rapatnya Ran menyembunyikan cintanya pada Roy ,pada akhirnya akan ketahuan juga.Tapi Ran tak peduli hatinya belum berubah haluan,sosok Roy masih bertahta di hatinya.Ran kadang menangis mengingat dirinya yang sekarang,andai bisa berbagi ia ingin menumpahkan perasaannya.Untuk saat ini Ran hanya memendamnya sendirian, kadang Ran tak mengerti kenapa harus seperti ini.
Sampai suatu hari Pras mendatangi Ran yang sedang yang sedang duduk di bangku sendirian.
‘’Bisa ku temani duduk,’’pintanya
‘’Ya kok bisa tahu aku di sini?’’ Ran balik tanya
‘’Tadi ketemu Vera dan bilang katanya kau ada di taman dekat kampus,makanya aku inisiatif ke sini,’’jawabnya sambil tersenyum
‘’Inisiatif...,’’ Ran tersenyum mendengarnya
‘’Nah gitu dong tersenyum khan jadi cantik.’’
‘’Senang ya melihatku tersenyum,’’
‘’Ya habis gimana lagi ,tiap kali ku lihat wajahmu selalu murung.’’
Ran menggigit bibirnya,sakit memang kalau hati ini ketika hatinya masih mencintai seseorang yang entah kemana saat ini.
‘’Ran kau bisa berbagi denganku,meskipun kau tutupi perasaanmu orang-orang di sekelilingmu ikut merasakan apa yang kau rasakan,’’ Pras lembut menatapku keteduhan matanya sesaat menenangkan hati.Apakah ini firasat bagiku untuk membuka hatiku pada orang lain.Hati Ran diliputi kebimbangan.
‘’Aku bingung Pras dengan diriku ,bagaimana aku bisa menjelaskan pada orang lain.’’Ucap Ran sambil menunduk dan memainkan jarinya.
‘’Lihatlah pemandangan di depanmu,keindahan akan memancarkan kebahagiaan begitupun senyummu akan membuat duniamu berwarna.’’Keduanya memandangi keindahan taman dan tanpa sengaja mereka saling pandang dan keduanya tersipu.
Pras merasakan Ran adalah sosok istri idaman yang di carinya.Meskipun sekarang wanita yang dikaguminya sedang berusaha menata hatinya.
‘’Terima kasih Pras kau sudah meluangkan waktumu ,mungkin saat ini aku tak bisa mengungkapkannya.’’
‘’Ran aku minta maaf jika ini menyinggung perasaanmu.’’
‘’ Tidak Pras,sekali lagi makasih ya.’’
‘’Ok,sekarang ku antar kau pulang ya nggak boleh nolak.’’Tandasnya
Ran tersenyum dan mengiyakan ucapan Pras dan akhirnya mereka pulang bareng.
# Episode 4
Roy Hadinata Harun
Siapa yang tak kenal dengan sosoknya yang cool di kampus Tunas Mulia,namanya jadi gunjingan para juniorkhususnya.Maklumlah senior yang memikat hati semua cewek,dari selentingan kabar belum ada satu cewek pun yang berhasil meluluhkan hatinya.Terlalu ganteng kali ya atau kebanyakan kriteria,fff....
Milan adalah kakak senior juga yang tak kalah keren,bedanya orangnya humoris dan urakan gitu.Ini juga jadi incaran junior juga.Gila aja junior pada ngefans sama seniornya,Ran hanya geleng-geleng kepala melihat teman-teman seangkatannya.Belum satunya lagi tuh senior yang juga ganteng dan pendiam Tristan namanya.Para juniornya menyebutnya’’Trio Kesengsem’’,kok aku ketawa ya mendengarnya,nggak ada julukan yang bagus apa trio opa korea misalnya.
‘’Kenapa senyum-senyum?” Tanya Vera teman sebelahku
‘’Nggak kok aku heran aja kenapa pada heboh bicara senior?, ya aneh aja,’’
‘’Makanya jangan kudet Ran jadi cewek ,gaul dikit napa.’’
‘’Kau juga ikut-ikutan Vera,jangan-jangan kau sudah naksir salah satu trio itu ya,’’tebak Ran sambil menodongkan telunjuknya ke arah Vera.
‘’Yee...jangan asal tuduh ,Daniel mau di kemanan?’’
‘’Kantongi dulu Vera di kantong ajaib doraemon,’’celetuk Ran gemes
‘’Ah ...sudah ah ,bercanda mulu.’’
‘’By the way aku salut sama hubungan kalian,dari zaman ingusan sampai sekarang masih awet.’’
‘’Pakai kata ingusan segala bilang zaman SD susah amat,’’ucap Vera memonyongkan mukanya
Ran tertawa melihat ekspresi sahabat kecilnya itu,ada-ada saja tingkahnya.Ran menutup tawanya saat terdengar langkah dosen Pak Hariri sang dosen killer katanya,memasuki ruang kelas Ran.Pada mata kuliah ini nih yang bikin pening mata kuliah kalkulus.Mau protes juga nggak bisa , akibat salah masuk jurusan di mana planning awal masuk jurusan B.Inggris berubah haluan akibat motivasi yang menggebu tentang masa depan cerah gitu.Tapi kalau di jurusan B.Inggris mungkin tak akan sekelas bersama teman masa kecilnya,Vera.
Lagi-lagi dibuat heran sama trio c ini, aku menyebutnya begitu karena nggak suka dengan sebutan mereka yang bikin sakit perut.’’Kak... kak minta tanda tangannya,’’ucap salah satu teman menghampiri trio itu sambil lari-lari lagi.
Sontak aja semuanya teman kelasku berhamburan keluar,fans sejati nih.Ran masih memperhatikan tingkah mereka,sementara ada sepasang mata yang memperhatikan Ran dari kejauhan dan tak menyadarinya.Yah Roy tidak memperhatikan sekelilingnya matanya hanya tertuju pada gadis itu.