Pagi itu.
“Ma jodohin Naza Ma,” rengek seorang gadis berusia 18 tahun seolah meminta jajan, “terus cepet nikahin,” ucapnya enteng sembari menggoyangkan lengan baju ibunya yang tertumpu di meja makan.
“Kamu ini, masih bocil minta dinikahin. Kuliah dulu yang bener, baru aja lulus SMA.” Ayahnya yang menjawab sembari membalik koran pagi yang dipegangnya.
“Tapi anak tetangga, tujuh belas tahun udah menikah. Masa aku udah delapan belas tahun kurang dua bulan nggak boleh sih, Pa?” protes gadis bernama lengkap Nazarel Meilla Adhitama itu mencari dalil nikah muda.
“Ckk,” ibunya malah berdecak, “kamu nggak kesurupan, kan? Kenapa pulang dari pesta kelulusan SMA tiba-tiba minta dijodohin?”
Nazarel terdiam kala membayangkan acara pesta kelulusan semalam. Terlintas lagi bagaimana mesranya pemuda yang disukainya semenjak SMP menggandeng seorang gadis lain, lebih tepatnya berpacaran dan bergandengan dengan rival di kelasnya. Yang lebih parahnya, keduanya telah mempermalukannya dan berkata kalau dia tidak akan laku-laku.
Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Aku nggak kesurupan kok Ma. Cuma, kalau nikah dulu. Naza nanti kan bisa konsen kuliah, nggak jelalatan nyari cowok buat dijadiin pacar. Terus nanti di kampus nggak bakalan ada yang berani ganggu kalau tau Naza udah punya suami.” Ia bersikukuh mencari dalil-dalil supaya cepat dinikahkan.
Rama yaitu sang ayahnya menatapnya aneh. “Emang selama ini kamu di SMA jelalatan nyari pacar? Bukan belajar?”
Nazarel jadi terkekeh. “Belajar dong Pa. Cuma kan pacar juga wajib,” ujarnya tanpa tahu malu sampai lagi-lagi Rama menggelengkan kepalanya.
“Wajib endasmu,” jawab Rama ingin sekali menjitak kepala putrinya itu.
“Ayo dong Ma. Jodohinnya sama yang ganteng, gagah terus yang baik dan tidak sombong-”
“Sekalian pintar menabung,” potong ayahnya lagi.
“Nah itu juga penting, jangan yang pelit. Nanti Naza kekurangan jajan,” ujar Nazarel banyak nawarnya.
“Sudah minta, nawar lagi,” gedek Lorra yaitu sang ibunya tak menghiraukan permintaan aneh putri semata wayangnya itu.
“Harus dong Ma. Nanti jodoh Naza kakek-kakek atau gemuk atau jelek kan nggak mau juga,” dalih Nazarel menatap ibunya penuh dengan permohonan, “terus kalau pelit. Mama dan Papa mau nanti Naza tinggal tulang dan kulit doang kekurangan makan dan jajan. Masa tega anak semata golek yang cantik, imut serta lucu ini tersiksa dan pulang ke sini kurus kerempeng?” PD-nya memuji diri sendiri.
“Naza-Naza, dikira pernikahan itu permainan. Hari ini nikah, sudah bosan cerai gitu,” kata Rama sembari tertawa kecil.
“Papa malah nertawain sih? Naza bukan anak kecil lagi. Anak tetangga aja rumah tangganya awet, langgeng terus nggak kedengaran suka bertengkar meski masih tinggal sama kedua orang tuanya juga,” protes Nazarel tidak mau dianggap masih bocil.
“Anak tetangga mah nikah muda karena hamil duluan,” celetuk Lorra memberitahu anaknya itu tentang apa yang tidak diketahuinya.
Nazarel malah tersenyum iseng. “Apa aku juga harus hamil duluan biar cepet dinikahin?”
Lorra dan Rama saling menatap kaget.
“Anak uedan (edan),” ucap keduanya menyembur Nazarel yang langsung bangkit dari duduknya lalu berlari ke arah tangga.
Sebelum naik tangga. “Pokoknya kalau nggak cepat dinikahin, calon cucu Mama dan Papa launching, coming soon!!”
“NAZAREELLLL!” teriak Lorra gedek dengan ucapan anaknya itu. Siapa yang mengajarinya dan kenapa putrinya itu ngotot ingin segera dinikahkan meski jalannya dengan perjodohan?
Apa terjadi sesuatu dengan putrinya itu?
(Baru prologe ya. Gimana nih rombakan dari Love and Duty semula? Karena kalau dari kebohongan rasanya kurang srek sebab sekali berbohong harus menyiapkan seribu kebohongan lagi) jhehe
Lanjut pa nggak nih?