"Kak Rio, Aria udah siap!"
Hari ini adalah hari di mana Aria mulai berangkat ke sekolah barunya. Sejak pagi dia telah siap mempersiapkan semuanya, dan bergegas turun ke ruang tengah untuk segera berangkat.
"Rotinya dimakan dulu." ucap Rio melihat adiknya berlari menuju rak sepatu dan segera memaikainya, sementara ia tengah membaca koran di ruang tengah
"Udah abis."balasnya cepat
"Buset rajin amat."
"Ayo buruan kak!"
Seperti biasa, Aria memanglah sangat berisik bahkan di pagi hari seperti ini. Dan seperti biasa, Rio selalu menuruti permintaan adiknya daripada harus mendengar omelan Aria.
"Iya-iya, ambil jaket dulu bentar."
Rio pun berjalan menuju kamarnya untuk mengambil jaket. Sedangkan Aria, ia masih fokus dengan sepatunya.
"Aria mau bawa bekal apa enggak?" tanya mama
"Enggak usah deh mah, biar Aria jajan sama temen-temen dulu aja."
Tidak dapat dipungkiri, biasanya orang-orang akan mudah cepat akrab jika mereka sering menghabiskan waktu bersama. Pergi makan bersama di kantin adalah salah satu jalannya. Mama Aria pun juga mengetahui hal tersebut dan memakluminya.
"Yasudah kalau gitu, pokoknya yang terpenting jangan sampai telat makan ya."
"Oke siap ma!"
Ditengah percakapan mama dan Aria, suara derapan kaki milik Rio mulai mendekat.
"Udah siap?"
"Dah daritadi kak." balas Aria kesal, namun hanya diabaikan oleh kakaknya
Sementara Rio, dengan kunci mobil di tangannya, ia memasuki mobilnya terlebih dahulu. Sedangkan Aria, ia menghampiri mamanya untuk pamit.
"Mama, Aria berangkat dulu ya. Doain biar bisa cepet dapet temen di sana."
"Iya, mamah doain kok. Aria sama Rania semangat ya sekolahnya."
"Siap mah!"
Hari itu Aria dan Rania berangkat ke sekolah bersama. Sekolah mereka berdua berdekatan, tepatnya hanya berada di seberang.
"Dek nanti kalau butuh apa-apa, langsung dateng aja ya ke gedung sebelah. Nanti kakak tunjukin di mana sekolah kakak." ucap Rania
"Okay kak."
Setelah berpamitan dengan mamanya, mereka berdua ikut masuk ke dalam mobil. Lalu mobil mulai melaju menjauhi rumah mereka, menuju ke sekolah Aria berada. Meninggalkan mama Aria di rumah sendirian yang mulai kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Sepanjang perjalanan, mereka bertiga saling mengobrol satu sama lain, hingga tidak terasa telah tiba di tujuan. Perjalanan mereka ke sekolah tidak membutuhkan waktu lama. Karena sekolah dengan rumah hanya berjarak 30 menit dari rumah. Pemberhentian pertama mereka yaitu sekolah Aria terlebih dahulu, barulah nanti sekolah Rania setelahnya.
"Sekolah yang bener."
"Iya kakak ku tersayang. Udah ya, Aria masuk dulu. Bye!" kata Aria sambil menutup pintu mobil rapat
"Oke."
Melihat Aria masuk menuju gerbang sekolah, Rio mulai melajukan kembali mobilnya. Dirinya tidak tahu jika adiknya saat itu justru tidak kunjung masuk ke dalam sekolah. Aria hanya berdiri di gerbang sekolah, terdiam memandang bangunan di depannya.
"Oke sekarang aku deg-degan. Mulai panik dan mulai mules." gumamnya
Seorang satpam yang sedang menjaga gerbang sekolah, ia menengok dan melihat ke arah Aria berada. Ia heran karena ada seorang siswi dengan seragam asingnya, terus berdiri di gerbang sekolah.
"Ada apa neng?"
Terkejut melihat satpam menghampirinya, Aria sempat terbata-bata membalasnya.
"Eh, anu pak, ini, maaf anu, Aria mau tanya."
"Iya?"
"Kalau kelas 1C ada di mana ya pak. Saya kebetulan murid pindahan di sini."
"Owalah anak baru toh. Yaudah yuk neng, bapak anterin ke ruangan guru dulu aja."
"Wah, terimakasih banyak pak."
Satpam itu pun membantu Aria menunjukkan jalan menuju ruangan guru. Melewati para siswa yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, Aria justru merasa semakin berdebar. Jalan menuju ruang guru dari gerbang sekolah terasa sangat jauh baginya. Padahal tidak jauh sama sekali.
Tok tok tok!
Bapak satpam mengetuk pintu ruangan guru yang telah terbuka, dan menyapa salah satu guru perempuan berambut pendek di sana
"Permisi ibu Sulis."
Melihat kedatangan bapak satpam, bu Sulis berkata "Eh pak Danu, ada apa ya pak?" sambil melihat ke arah pak Danu dan Aria secara bergantian
Guru tersebut bernama ibu Sulis, sementara pak Danu adalah nama dari bapak satpam yang mengantar Aria.
"Saya nganterin murid baru ini bu, si eneng lagi nyariin kelas C."
"Aduh terimakasih ya pak udah mau anterin. Sini nak, duduk di sini dulu."
Aria hanya mengangguk dan menjawab "Iya bu." lalu berjalan menuju ke arah di mana bu Sulis tunjukkan
"Yasudah kalau gitu, saya balik ke post lagi ya bu."
"Oh boleh pak, terimakasih sekali lagi ya pak."
"Mari bu."
"Iya pak, mari."
Setelah pak Danu menyelesaikan tugasnya mengantar Aria, bu Sulis mengambil akih perhatian Aria sepenuhnya. Ia membicarakan berbagai peraturan, kondisi, arah dan kebiasaan di sekolah, yang biasanya dilakukan oleh para murid di sana. Aria sebagai pendengar di sana, ia hanya mengangguk mengerti dari penjelasan bu Sulis.
"Nanti kita masuk ke kelasnya barengan saja ya, biar sekalian ibu yang mengenalkan kamu ke semua teman-teman."
"Baik, terimakasih bu Sulis."
"Tentu, sama-sama."
Layaknya seorang guru, bu Sulis terlihat sangat mengayomi muridnya. Ia terlihat sangat baik, lembut dan sederhana. Hal itu membuat Aria merasa sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
Kring!!!!
Bel sekolah sebagai tanda dimulainya pelajaran mulai terdengar. Seluruh siswa-siswi pun mulai berlarian masuk ke dalam kelas mereka masing-masing. Termasuk juga dengan ibu Sulis dan Aria.
"Baiklah Aria, mari kita segera ke kelas ya."
(Aria Pov)
Sejak awal, mama udah bilang kalau seragamku emang belum jadi. Aku juga awalnya gak masalah, karena toh cuma seragam. Tapi kalau kayak gini sih gimana aku bisa sesantai sebelumnya. Sepanjang koridor, siswa-siswi melihat ke arahku. Seragam dari sekolah lama yang ku pakai, ternyata sangat amat sangat menyita perhatian mereka. Apalagi aku berjalan berdampingan dengan bu Suli. Aduh rasanya pingin kabur saja.
"Jalan menuju ke kelas C sangat mudah. Aria pasti bisa langsung hafal deh, ibu jamin." ucap bu Sulis membuyarkan lamunanku
"Iya bu, Aria sudah hafal kok jalannya."
Jalan menuju kelas 1C memang sangat mudah diingat. Aku cukup belok kiri begitu keluar dari ruang guru, lalu lurus saja menuju ke koridor dengan papan gantung bertuliskan angka 1. Sementara jalan dari pintu gerbang depan menuju ruang guru juga sangat mudah dihafal, karena hanya tinggal belok kiri saja. Mudah banget, bukan.
"Kita sudah sampai."
Bu Sulis menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah pintu bertuliskan angka 1C, dan membuatku juga ikut menghentikan langkahku. Kini aku mulai merasa panik, takut jika teman-teman kelasku tidak menerima kehadiran ku.
"Ayo Aria, kita masuk."
"Baik, bu."
Mau tidak mau, aku harus mau. Gak mungkin kan aku mundur dan minta ganti sekolah baru ke mama. Uang dari mana, coba. Kasihan mama dan kak Rio.
Kriettt!
Tadinya suara di dalam kelas sangat riuh. Bahkan aku di luar pun masih dapat mendengarnya. Tapi begitu bu Suli membuka pintu kelas, semua suara itu tiba-tiba menghilang, lenyap begitu saja. Menampilkan wajah para siswa yang terkejut dengan pemandangan di depan mereka, yaitu aku.
"Wah anak baru."
"Pindahan dari mana tuh."
"Kayaknya pendiem deh."
"Psst, jangan kenceng-kenceng."
Entah mereka tidak sengaja ataupun sengaja, tapi suara mereka bisa terdengar di telingaku.
"Selamat pagi." sapa bu Suli membuka kelas
"Pagi bu!" balas seluruh siswanya kompak
"Seperti yang kalian duga, kali ini kita kedatangan murid baru yang akan menjadi teman sekelas kalian. Jadi mohon bantuannya ya, untuk membantu Aria beradaptasi dengan baik sebagai teman kalian."
"Iya bu, siap!"
"Syukurlah jika kalian menanggapinya positif. Untuk seterusnya, Aria, ibu persilahkan kamu untuk berkenalan secukupnya."
Jujur, sebenarnya aku tidak ingin perkenalan. Kalau diizinkan, bisakah bu Suli melewatkan perkenalan ini.
"Aria?"
Suara bu Suli memanggilku, menyadarkan jika aku tidak bisa menolaknya. Perlahan ku tarik nafas dalam-dalam, lalu ku hembuskannya perlahan. Kini aku mendongakkan kepalaku, menghadap seluruh siswa-siswi yang ada di atas bangku mereka. Penuh rasa penasaran, mereka juga melihatku antusias. Rasanya seperti menjadi tontonan di kebun binatang.
"H-halo semuanya.."
Akhirnya aku berhasil menyapa mereka, meskipun dengan suara lirih. Untunglah juga, mereka menjawabku dengan positif.
"Halo!!"
Entah kenapa, aura positif yang mereka pancarkan dapat tersalurkan kepadaku. Keberanian dalam diri ini pun perlahan mulai naik, dan kurasa aku bisa memperkenalkan diri dengan baik.
"Perkenalkan nama aku Aria, asal dari kota seberang dan baru pindah ke sini sekitar 2 minggu yang lalu karena suatu hal. Kedepannya, mohon bantuannya ya!"
"Hai Aria!"
"Kita temenan ya!"
"Sini duduk sebelah aku aja, biar Jane pergi."
"Ih enak aja. Kamu aja sana yang pergi, biar Aria yang di sini."
"Aria, nanti kita ke kantin bareng yuk!"
Saat di tengah keriuhan siswa lainnya, ada seorang siswa yang tiba-tiba berbicara dengan cukup lugas hingga mampu membuat perhatian seluruh kelas tertuju ke arahnya.
"Bu, saya ide bagus."
"Apa itu, Jordan?"
"Bagaimana jika kita tiadakan pembelajaran hari ini. Hari ini adalah hari khsusus untuk menyambut Aria~"
Tentu saja ide gila anak laki-laki itu membuat teman sekelasnya tertawa dan bersorak ramai setuju.
"Iya setuju!"
"Kami sangat setuju, bu!"
Mendengar seluruh siswanya bersorak kegirangan, bu Suli hanya tersenyum. Kurasa ia pernah mengalami hal yang sama di saat remaja bersama temannya. Makanya dia terlihat memaklumi dan tersenyum gemas dengan perilaku siswanya. Tapi bukan berarti ia setuju dengan usul Jordan begitu saja.
"Sudah, perkenalan kita cukupkan dulu. Nanti kalian bisa lanjutkan saja ya bersama Aria."
Teriakan kecewa dari para siswa mulai terdengar. Mereka satu-persatu kembali duduk di bangku masing-masing.
"Aria, kamu boleh duduk di bangku sebelah sana."
"Iya, bu."
Aku pun berjalan menuju ke arah bangku yang ditunjuk bu Suli. Bangku tersebut berada tepat di dekat jendela, dan bersebelahan dengan seorang anak perempuan cantik berkulit putih dengan rambutnya yang tergerai.
Setelah aku duduk di bangku tersebut, perempuan itu menyapaku dan berkata "Hai, aku Ema." sembari mengulurkan tangannya ke arahku
"Halo, aku Aria."
Perempuan itu sangat cantik. Karena bangku kami berada tepat di sebelah jendela, cahaya dapat dengan mudah menyapa kami. Cahaya tersebut menyorot terang ke arah Ema, membuatnya terlihat sangat cerah. Padahal kulitnya sudah sangat putih. Tidak hanya sampai di situ, karena angin yang menyerbu masuk, membuat rambutnya yang tergerai terus saling berterbangan. Seperti aku ketika bermain di depan kipas angin.