Salma merasa lemas di seluruh tubuhnya. Hanya mendongakkan wajah untuk menatap dan menyapa seseorang yang datang ia tidak mampu. Tatapan mata wanita itu kosong dan menggambarkan luka yang sangat dalam.
Menyadari separuh jiwanya hilang, air mata itu kembali meluruh tanpa bisa dicegah. Menyadari semua yang dihadapinya adalah nyata, jantungnya kembali berdenyut nyeri. Ia sangat berharap semua itu mimpi dan saat ia terbangun, Hazel berada di sampingnya, tengah tersenyum memandanginya.
Adrian beranjak mengangkat tubuh rapuh itu. Menopangnya dengan kedua lengan kokohnya dan lantas membawanya masuk ke dalam kamar.
Amita yang baru saja tiba di kediaman Hazel mendadak panik tatkala mendapati rumah itu dalam keadaan berantakan dan terlebih melihat kondisi puterinya yang berubah pucat bagai mayat hidup.
Dengan ketenangan yang dibangun sebisa mungkin, Romy menjelaskan perihal yang terjadi, mengenai kecelakaan yang menimpa menantu kesayangannya.
Semua terjadi begitu saja. Tidak ada yang merencanakan. Itu semua kehendak Tuhan dan yakin akan ada pelajaran dibalik kejadian menyedihkan itu.
Sama seperti Salma, wanita paruh baya itu mendadak kehilangan kekuatannya. Romy membimbing Amita untuk duduk di sofa. Mencoba memberikan ketenangan bahwa masih ada harapan Hazel ditemukan dalam keadaan selamat, meski sampai detik itu Leo tak jua kunjung memberinya kabar terbaru.
Beberapa menit kemudian, terlihat Adrian menuruni tangga dan Amita bangkit dari duduk yang sungguh dirasanya tidak nyaman walau sofa itu terbuat dari material terbaik.
“Salma sudah tertidur, Bibi.”
Amita menganggukkan kepala. “Terima kasih, Ian,” ucapnya pelan lalu bergegas berlalu. Menaiki anak tangga menuju kamar Salma untuk memastikan kondisi sang puteri yang pasti sedang sangat terpukul.
“Bagaimana? Leo sudah mengabarimu? Ia mengirimimu pesan?” tanya Romy bertubi penuh harap pada Adrian selepas kepergian Amita.
Gelengan lemah kepala Adrian menjawab serentetan pertanyaan itu. “Tidak ada kabar apapun.”
Adrian mendudukkan dirinya di ruang kosong tepat di sebelah Romy. Pandangannya melirik noda darah yang baru disadarinya dan tercecer di lantai marmer putih hingga ke anak tangga. Sungguh Adrian tak memerhatikan jika telapak kaki Salma terluka akibat menginjak pecahan kaca itu.
Tampak dua pelayan wanita sibuk membereskan kekacauan yang terjadi. Memunguti kaca, menyapu hingga mengepel seluruh lantai. Raut sedih pun muncul di permukaan wajah mereka masing-masing. Kehilangan tuan rumah yang baik menciptakan rasa sakit di hati mereka.
***
Sayang, aku akan kembali! Tugasmu hanya satu, yaitu menungguku.
Sosok itu mencium kening Salma cukup lama sebelum akhirnya berbalik melangkah menjauh dan menghilang tertelan asap putih.
“Hazel, jangan tinggalkan aku. Aku mohon. Hazel … please … please,” lirih Salma. Terdengar begitu mengiba.
“HAZEEELLLLL!” teriaknya saat telah dirasa tenaganya kembali terkumpul.
“HAZEEELLLLL!”
“NOOOOOOO!”
Salma terbangun dari tidur hingga terduduk dengan napas terengah. Bulir keringat bercucuran di dahinya. Kedua tangannya terulur ke depan seolah ingin menggapai sesuatu tetapi kosong. Hanya udara yang ada dalam genggamannya.
“Hei, Sayang. Kau sudah bangun?”
Amita yang tengah duduk di sofa kamar itu segera bangkit dan duduk di tepi ranjang. Mengusap sayang dahi puterinya yang penuh dengan keringat yang membasahi wajah cantik itu.
Salma menoleh ke sumber suara. “Ma, di mana Hazel? Aku ingin bertemu dengannya. Aku melihatnya kemari, namun ia pergi begitu saja!” tanyanya kemudian dengan tidak sabar. Bola mata itu bergoyang mengisyaratkan tuntutan jawaban Amita.
Amita hanya menyunggingkan senyum tipis. “Makanlah dulu, Sayang. Sejak tadi siang perutmu belum terisi apapun. Hazel akan sedih jika ia tahu dirimu jatuh sakit,” ucapnya lembut. Meraih mangkuk yang ada di atas nakas dan mulai menyendok bubur itu untuk disuapkan kepada puterinya.
Salma tak merespon apapun. Ia hanya terdiam, menatap lurus ke depan dengan punggung bersandar pada kepala ranjang. Mulut itu bahkan tak berniat terbuka sedikit pun.
“Ayo, Sayang. Makanlah meski hanya satu atau dua suap untuk mengisi perutmu,” bujuk Amita pantang menyerah. Diperhatikannya wajah itu semakin pucat dengan kedua mata membengkak.
“Salma … Makan, Sayang.”
Tangan Amita yang menahan sendok berisi bubur itu berhenti di udara tepat di depan mulut puterinya sejak tadi, dan kemungkinan kram mulai merambati saraf di sekitar jari jemarinya hingga ke pangkal lengan.
“Aku tak merasakan lapar sedikit pun,” ucapnya datar setelah terdiam beberapa menit tanpa mengalihkan pandangan pada sang ibu. Bola matanya turun menatap sekilas perban yang membalut kakinya. “Bahkan aku tak bisa merasakan perih di kakiku, Mama,” lanjutnya parau.
Rasa sesak di dadanya kembali menyerang. Setelah bangun dari tidur, ternyata semua tampak sama. Tidak ada yang berubah bahwa kabar Hazel mengalami kecelakaan itu benar dan bukanlah mimpi semata.
Salma menyibakkan selimut. Menurunkan kaki dan menekan kuat telapaknya yang terdapat luka robek yang dalam di sebalik balutan perban. Memaksakan diri berdiri dan hendak berjalan namun rasa nyeri menjalar. Perlahan merambat hingga ubun-ubun.
“Aawww!” pekik Salma meringis kesakitan. Namun setelah itu ia tetap lanjut berjalan dan tak memedulikan rasa sakit yang mengaliri sekujur tubuhnya. Terlihat darah kembali merembes ke kain kasa yang membalut kaki itu.
Amita segera meletakkan mangkuk di atas nakas, dan segera beranjak mengejar Salma yang berjalan dengan tertatih-tatih keluar kamar. Wanita itu mengalungkan lengan Salma ke pundaknya dan memapahnya berjalan.
Di ujung tangga teratas, Salma bisa melihat begitu banyak orang di bawah sana.
Adrian dan Romy berdiri dengan kedua tangan tersimpan di dalam saku celananya. Keduanya telah berganti pakaian casual. Salma ingat Adrian masih mengenakan kemeja saat pria itu menemuinya siang tadi dan Romy pun memakai setelan jas lengkap. Dipastikan kedua pria itu pulang sejenak dan kembali lagi ke rumahnya.
Rafael dan Shinta yang merupakan orang tua Hazel juga berada di sana. Kedua pasang paruh baya itu duduk berdampingan di sofa dan menatap ke arahnya dengan raut terpukul. Terlebih Shinta yang tampak begitu pucat. Tubuh itu bergetar bersama isakan tangisnya yang terdengar samar.
Leo sang asisten berdiri kaku di sudut ruangan.
Dua pelayan wanita dan seorang tukang kebun rumahnya juga ikut berkumpul bersama orang-orang itu.
Dua pria berumur berseragam kepolisian tengah duduk dan bangkit berdiri kala melihat Salma dan Amita yang diam mematung di ujung undakan tangga.
Tanpa menunggu perintah, Adrian mengambil langkah ringan. Berjalan menaiki tangga. Melirik sekilas balutan kain di kaki Salma begitu ia tiba di depan wanita itu. Terlihat jelas darah segar merembes pada permukaan perban itu.
Segera Adrian menelusupkan kedua lengan di balik lutut dan punggung. Menggendong Salma ala bridal untuk dibawanya turun. Amita mengikutinya dari belakang.
Adrian mendudukkan Salma di sofa. Ia menempatkan dirinya sendiri di sandaran tangan sofa dengan kedua tangan berada di bahu wanita itu. Merengkuhnya sekaligus memberi kekuatan.
Shinta menarik diri dari dekapan suaminya dan bangkit dari duduk untuk berpindah ke ruang kosong, tepat di sebelah Salma. Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu mendekap Salma erat.
“Aku merasakan apa yang dirimu rasakan saat ini, Sayang,” ucap Shinta berbisik bercampur isakan.
Salma hanya mampu menanggapinya dengan gerakan anggukan kepala bersamaan aliran air mata yang kembali meluruh meski mata indah itu menyorot kosong ke depan.
Amita duduk di samping Shinta dan mengusap punggung wanita itu. Pun turut mencoba menyalurkan ketenangan dan juga memberikan kekuatan.
Shinta melepas rengkuhan itu dan berpaling pada Amita. Ia meremas pelan tangan Amita.
Dirasa seluruh keluarga telah berkumpul, pihak kepolisian kembali melanjutkan memberikan informasi mengenai kecelakaan yang menimpa Hazel Affandra.
“Kemungkinan besar kejadian terjadi sekitar pukul 9 – 10 pagi. Mobil Tesla merah milik korban menabrak pembatas jembatan dan terjun bebas ke sungai. Kini mobil itu sudah kami amankan di kantor kepolisian. Hanya saja, sampai sore hari ini sosok Hazel belum berhasil ditemukan oleh tim penyelamat,” terang salah satu pria berseragam.
Kenyataan itu menciptakan perih di d**a Salma. Kedua matanya kembali memanas dan terus memproduksi genangan air mata.
Lelah.
Salma lelah terus menangis. Tubuhnya seperti tak bernyawa. Sejak siang tidak ada jenis makanan apapun yang masuk ke dalam perutnya. Rasa melilit pun ia kesampingkan.
Pandangannya menatap nanar tiga barang yang teronggok di atas lantai di samping salah satu pria berseragam polisi itu.
Tas travel berisi pakaian dan bekal makanan yang ia siapkan untuk suaminya tadi pagi kembali tanpa sang pemilik. Satu tas lain berwarna hitam diperkirakan berisi macbook dan dokumen penting yang suaminya bawa untuk keperluan meeting.
“Dompet Bapak Hazel ada di dalam tas hitam ini, Nyonya,” ucap pria berseragam itu kala menyadari tatapan mata Salma mengarah pada barang-barang itu.
Salma mengangguk lemah. Ia belum ingin bersuara.
Tak henti-hentinya tangan Adrian mengusap bahu Salma. Menyadarkan wanita itu bahwa ia tak sendiri menghadapi kejadian memilukan itu. Ada banyak orang yang ada di sekitarnya yang akan menguatkannya dan menemaninya.
Romy memerhatikan tiap perlakuan Adrian pada Salma. Sepasang mata itu memicing tajam penuh curiga. Adrian mengabaikan pandangan aneh Romy.
“Kami pihak kepolisian dan tim penyelamat akan melanjutkan pencarian hingga enam hari ke depan atau jika diperlukan akan diperpanjang sesuai prosedur. Semoga segera mendapat titik terang.”
“Sekali lagi kami turut berduka atas musibah yang menimpa Bapak Hazel Affandra.”
Dua orang berseragam itu pun pamit undur diri dan akan terus mengabarkan perkembangan terbaru mengenai kondisi korban jika berhasil ditemukan.
“Hazel masih hidup. Ia menemuiku dan memintaku menunggunya.”
Salma akhirnya bersuara usai keterdiamannya. Ia menatap semua orang yang ada di dalam ruang tamu satu per-satu.
Orang-orang yang ada di sana pun hanya mampu memandangnya dengan tatapan berbeda-beda. Beberapa menatapnya sedih. Dua pelayan wanita tak mampu menahan tangisnya saat sang nyonya rumah mengatakan itu. Mereka pun berharap seperti itu. Tuan Hazel-nya selamat.
“Sal ….”
Suara lembut Adrian terdengar seolah sedang berusaha membangunkan Salma dari pikirannya sendiri yang mulai melantur tidak terarah, tetapi ia memakluminya.
“Aku berkata apa adanya, ADRIAN!”
Mengabaikan seruan kekesalan itu, Adrian lantas menarik kepala wanita itu. Menenggelamkannya pada sisi tubuhnya yang dekat.
Adrian hanya tidak menyukai sifat Salma yang dikenal matrealistis dan gemar berganti teman kencan di masa lalunya. Meskipun begitu, bukan berarti ia membenci wanita itu secara fisik.
Sejak ia menatap raga Salma yang rapuh, rasa empati dalam dirinya muncul dan mendorong dirinya untuk memberikan perhatian lebih. Sisi lain dari hatinya berbisik untuk selalu berada di samping wanita itu.
Bersambung ...