“Terima kasih sudah meluangkan waktumu untuk Salma,” ucap Elisa begitu ia mendapati Adrian mengambil posisi duduk di sebelahnya, di bangku taman kediaman Keluarga Affandra, tanpa memalingkan pandangan dari pancuran air di depan sana.
Hening. Hanya suara air mancur yang mengisi kesunyian di antara keduanya di sore hari itu.
“Aku berempati padanya. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan wanita itu. Aku sama terlukanya. Hazel sahabatku dan kepergiannya yang tiba-tiba membuatku ….”
Ucapan Adrian menggantung di udara. Pria itu tak mampu melanjutkan kata-katanya. Matanya terpejam erat hingga kerutan di sekitarnya tampak. Telunjuk dan ibu jarinya terangkat untuk menekan kedua matanya.
Saat Adrian membuka kembali kelopak matanya, Elisa yang setengah berpaling mampu melihat warna kemerahan di sklera mata pria itu dan ya, seorang Adrian menangis. Jejak basah di sekitar matanya terlihat jelas walau tidak sampai luruh di pipinya.
Elisa mengusap pelan punggung tegap Adrian di balik t-shirt polo putihnya. Hatinya ikut teriris melihat dua orang di dekatnya kini menahan luka batin yang entah kapan akan sembuh.
Di hari ke lima belas ini, Keluarga Affandra memutuskan menyelenggarakan acara doa bersama di kediaman mereka.
Pihak berwenang telah menghentikan proses pencarian Hazel satu hari lalu karena kemungkinan besar korban telah tenggelam dan terbawa arus sungai. Pintu mobil korban ditemukan pihak kepolisian dalam kondisi terbuka. Dipastikan korban berusaha menyelamatkan diri pada saat itu.
Seluruh keluarga besar Affandra dari pihak Rafael maupun Shinta datang. Para rekan bisnis Hazel maupun Rafael juga hadir, termasuk Adrian dan Romy. Para teman dekat dan tetangga juga berbondong-bondong meluangkan waktu mendoakan yang terbaik untuk Hazel.
Agenda doa bersama itu telah selesai sejak satu jam lalu. Elisa memutuskan mencari udara segar di taman belakang rumah. Sedangkan Adrian, seperti biasa, mengantar Salma ke kamarnya dan menemani wanita itu sejenak. Romy lebih memilih langsung meninggalkan rumah sahabatnya itu.
Salma masih belum menerima kenyataan bahwa raga Hazel tidak ditemukan. Itu lebih menyakitkan baginya. Setidaknya jika saja keberadaan Hazel diketahui dan dalam kondisi tidak bernyawa pun, ia masih bisa menemuinya di pemakaman. Tapi ini …
Jiwa Salma kembali terguncang dan Adrian tidak bisa melihatnya seperti itu. Pria itu berusaha semampunya untuk menenangkan Salma hingga wanita itu kini tertidur dalam kondisi berlinangan air mata.
Seketika pasokan udara menjadi menipis, Adrian beranjak keluar kamar. Melihat Elisa duduk termenung seorang diri di bangku taman, ia pun menghampiri wanita itu. Ia juga membutuhkan udara segar.
“Aku mengerti apa yang kalian berdua rasakan saat ini,” ucap Elisa seraya menekan bahu pria itu. Pandangan Elisa kembali terarah pada air mancur di depannya. “Kau tahu, Salma sangat mencintai Hazel. Itu menjadi satu-satunya alasan kenapa ia menjadi sangat terpukul seperti sekarang. Hazel cinta pertamanya dan hanya pria itu yang bisa menghadirkan perasaan indah itu di dalam kehidupannya.”
Adrian terdiam dengan atensi penuh pada Elisa.
“Salma selalu bercerita kepadaku bahwa ia merasa sedih karena orang lain berpikiran ia sosok wanita yang senang mempermainkan banyak pria. Padahal itu bukan keinginannya. Pria-pria itu sendiri yang mendekatinya dan rela memberikan apa saja padanya hanya agar keinginan mereka untuk memiliki Salma seutuhnya terwujud. Salma selalu menjaga miliknya untuk seseorang yang ia cintai, hingga ia menemukan cinta itu dalam diri Hazel.”
Satu bulir air mata Elisa menetes di telapak tangan Adrian yang terbuka di bawahnya. Pria itu membiarkan air mata itu jatuh dan mengering dengan sendirinya di sana.
Elisa yang menyadari matanya basah, dengan cepat mengusapnya menggunakan tangannya sendiri. Ia lalu menoleh membalas tatapan Adrian. “Aku juga tahu bahwa kau menjadi salah satu dari orang yang berpikiran seperti itu. Tak terkecuali Romy,” imbuhnya kemudian.
Adrian tidak bersuara. Ia juga tidak menyangkalnya. Semua yang Elisa tuduhkan benar adanya.
“Tapi aku berterima kasih padamu karena masih ada rasa empati di hatimu untuk Salma. Setidaknya ia tak harus merasa sendiri untuk saat ini. Ia membutuhkan banyak waktu untuk menyembuhkan lukanya dan perhatian dari orang-orang di sekitarnya,” tandasnya.
Elisa tidak tahu mengapa ia berbicara seperti itu. Apa yang keluar dari bibirnya mengalir begitu saja tanpa rencana. Hatinya sakit kala mengingat sahabatnya mengeluh tentang dirinya yang mendapat predikat buruk di mata orang lain.
Salma memang wanita berparas cantik sekaligus manis. Tubuhnya yang proporsional pun menambah daya tarik lawan jenis. Tentu saja banyak pria menginginkan dirinya, tapi ketika Salma menolak, mereka justru mengatai wanita itu dan menyebarkan rumor yang terkesan memojokkan serta merendahkannya.
Elisa tak ingin lagi mendengar orang lain menilai sahabatnya buruk.
Adrian mendesah lelah sembari mengusap wajahnya pelan. “Aku tahu, El. Aku melihat luka yang begitu dalam di mata Salma dan entah mengapa membuatku ikut merasakan luka itu.”
“Temani dia kalau begitu. Bantu sembuhkan luka itu. Kau bisa mulai menjadi seorang kakak baginya, karena posisi Hazel di hati Salma tentu tak mudah untuk digantikan oleh pria mana pun saat ini.” Elisa kembali meremas bahu kokoh Adrian, memberi keyakinan pada pria itu.
Adrian mengangguk pelan. Hanya itu yang bisa dilakukannya untuk menanggapi karena ia tak tahu harus mengatakan apa.
“ADRIAAANNN … TOLONG SALMAAA!”
Amita berteriak histeris dari ambang pintu dengan tiba-tiba, membuat Adrian dan Elisa menoleh cepat secara bersamaan ke sumber suara. Refleks Adrian berlari kencang, bukan ke arah Amita yang kini tengah menangis, melainkan langsung menuju kamar di mana Salma berada.
Elisa berhenti menahan bahu Amita yang bergetar hebat. “Apa yang terjadi pada Salma, Bibi?”
***
BRAAKKK!!
Adrian mendorong kasar pintu kamar Salma yang setengah terbuka. Seketika wajahnya menegang dengan bola mata membelalak. Terkejut, takut dan panik melapisi permukaan raut tampan itu.
Bergerak sigap, Adrian segera meraih tubuh Salma yang terkulai lemas di lantai kamar yang dingin.
“OH GOD!” geramnya tertahan.
“Salma … Sayang, bangunlah!”
Adrian menepuk-nepuk pipi Salma pelan namun tubuh wanita itu tak merespon apapun. Kelopak mata Salma menutup rapat. Ia sendiri tak sadar kata sayang lolos begitu saja dari bibirnya untuk memanggil wanita yang ada di pangkuannya.
“Please, Salma. Wake up!” ucapnya lagi masih bernada panik. Degup jantung Adrian berkejar-kejaran di dalam rongganya.
“Bukakan pintu mobilku sekarang juga! Aku akan segera membawanya ke rumah sakit!” teriak Adrian gusar begitu ia merasakan kemunculan beberapa orang di balik punggungnya.
Tanpa menunggu apapun lagi, Adrian memangku Salma dalam gendongan. Membawanya setengah berlari menuju mobilnya berada. Begitu menangkap sosok Elisa, Adrian memberi isyarat pada wanita itu untuk mengikutinya ke rumah sakit.
***
Seorang pria menatap sedih wanita di depannya yang tengah terbaring lemah. Sentuhan hangatnya mendarat di puncak kepala bersurai lembut itu lalu turun perlahan ke mata yang tengah terpejam dengan lingkaran hitam samar di sana, merambat ke pipi yang mulai tirus hingga membuat sang wanita mengerjap dan membuka kelopak matanya perlahan.
“Salma, Baby … please don’t do stupid thing anymore!”
“H-hazel? Apa itu kau?” tanya Salma parau.
Sosok itu menganggukkan kepala. Disusul memulas senyum hangat di detik berikutnya. Tanpa aba-aba Salma langsung mengalungkan lengan di leher pria itu. Memeluknya erat.
“Promise me, Baby.” Hazel berbisik lembut. Salma mengangguk dalam pelukan Hazel.
“Dan berhentilah menangis, okay! Aku baik-baik saja.”
Salma menggelengkan kepalanya berulang. “I can’t if you’re not here!” jawabnya serak. Suaranya nyaris hilang.
“Aku selalu bersamamu, Sayang. Trust me!” Hazel mengurai rengkuhan itu, lalu memandang wanitanya dengan lembut.
“Aku mencintaimu. Selalu.”
Kecupan hangat mendarat di kening Salma. Perlahan sosok itu memundurkan langkahnya, berbalik dan menghilang dalam sekejap.
“H-hazel…!!”
“HAAZEELLLL …. DON’T GO, PLEASEEEE!!”
“BAWA AKU BERSAMAMU! KUMOHON, HAZEEEELLL!”
Kepala Salma bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri berulang kali. Keringat bercucuran di pelipisnya dan membasahi wajahnya. Seluruh tubuhnya bergetar seiring bibir pucat itu membisikkan nama suaminya berulang.
“Salma, bangunlah!”
Adrian menggoyang-goyangkan lengan Salma, lalu berpindah menepuk pelan pipi wanita itu berkali-kali. Berusaha menyadarkan Salma dari mimpi buruk yang tengah dialaminya.
“Baby …Please, wake up!” panggilnya lembut.
Kelopak mata Salma terbuka begitu indera pendengarannya menangkap kata yang selalu didengarnya dari seseorang yang ia cintai. Namun kala ia menoleh ke sumber suara, wajah Adrian yang ia temukan dan tengah memandangnya dengan sorot lega.
“K-kau? Di mana Hazel?” tanya Salma gelisah. Dan lalu melayangkan tatapan ke seluruh sudut ruangan di mana ia berbaring yang tampak sepi. Hanya ada mereka berdua di dalamnya. Bau antiseptik dan obat menyentak kuat indera penciumannya.
“Salma, tenanglah agar jarum infus di tanganmu tidak terlepas,” peringat Adrian begitu melihat tangan Salma yang terdapat selang infus bergerak acak.
Perlahan Adrian membantu menegakkan posisi Salma. Menyandarkan punggung Salma di tumpukan bantal yang telah disusunnya, lalu mengambil segelas air putih untuk diberikan pada wanita itu. Salma menurut, meneguk air itu hingga tersisa setengah dan Adrian menyimpannya kembali di atas meja samping ranjang pasien.
Dalam dua menit kemudian, Adrian bersuara penuh kehati-hatian, memecah kesunyian. “Kumohon, Sal! Ikhlaskan hatimu. Kau juga harus melanjutkan hidupmu. Hazel akan kecewa melihatmu seperti ini,” ucapnya mencoba meluaskan hati dan pikiran Salma untuk bersedia menerima kenyataan yang dihadapinya. Meremas lembut tangan wanita itu.
Salma bungkam. Tak berniat menanggapi. Walaupun begitu, ucapan Adrian tetap masuk ke dalam pendengarannya.
Melanjutkan hidup?
Melanjutkan hidup yang seperti apa dan bagaimana jika tujuan hidupku sendiri saja adalah orang yang telah meninggalkanku?
“Banyak yang menyayangimu, Sal. Kau tidak sendirian. Ada aku, Bibi Amita, Elisa, Paman Rafael, Bibi Shinta. Mereka tidak akan membiarkanmu sendirian menjalani hidup ini. Trust me, Sal!”
Kepala Salma menoleh cepat saat Adrian mengucapkan kalimat terakhir itu. Ia menatap nanar Adrian.
Di sisi lain, jantung Adrian justru berdegup kencang begitu ia menerima tatapan Salma yang begitu dekat padanya.
Setelah menghabiskan beberapa detik untuk saling memandang, pada akhirnya Salma mengangguk samar. Adrian tersenyum manis. Membawa satu tangannya untuk melabuhkan usapan di puncak kepala wanita itu.
“Jadi queen kita sudah bangun?”
Suara lembut menggema di ruang rawat Salma. Muncul sosok wanita cantik berbalut snelli dengan stetoskop yang mengalung di lehernya. Melangkah anggun mendekat ke ranjang pasien – di mana Salma berada.
“Biarkan aku memeriksanya dulu, okay?” ujar wanita itu pada Adrian, lalu membimbing Salma untuk kembali berbaring dan memulai pemeriksaannya dengan detil.
“Bagaimana keadaannya, El?” tanya Adrian usai Elisa menyudahi pemeriksaannya pada tubuh Salma.
“Secara keseluruhan, kondisi Salma baik-baik saja walau masih lemah akibat banyaknya darah yang keluar. Ia masih harus banyak istirahat,” jawabnya dengan sesekali melirik pergelangan tangan wanita itu yang terbalut perban.
“Terima kasih, El!”
“Kau pulanglah dulu. Wajahmu sangat kusut dan tampak lelah. Istirahatlah! Aku akan menjaganya,” ucap Elisa penuh perhatian pada Adrian.
Apa yang dikatakan wanita itu memang benar. Adrian tampak berantakan. Dari kemarin sore hingga pagi itu, ia menemani Salma dan hanya tertidur beberapa jam saja di malam hari di sofa bed yang tidak terlalu besar yang ada di ruang rawat Salma.
Adrian mengangguk. Ia berpamitan pada Salma dan berjanji akan kembali lagi segera. Adrian mendaratkan kecupan singkat di puncak kepala Salma sebelum kemudian berlalu meninggalkan dua wanita itu.
“Aku memimpikannya lagi, El!”
Bola mata Salma menatap sendu Elisa yang duduk di kursi samping ranjang rawatnya. Dokter cantik itu menggenggam tangan Salma lembut.
“Lalu apa yang ia katakan padamu?” tanggap Elisa pelan.
“Ia baik-baik saja.”
“Berarti Hazel baik-baik saja, Sal. Kau tak perlu mengkhawatirkannya, okay?”
“Tapi El ….”
Elisa menggelengkan kepalanya. “Benar apa kata Adrian. Kau harus tetap melanjutkan hidupmu dan jangan bertindak bodoh. Perjalananmu masih panjang, Sal.”
Jantung Salma berdesir mendengar kata-kata sang sahabat. Melanjutkan hidup tanpa Hazel akan sangat tidak mudah.
Bersambung ...