20 Menit yang lalu di tempat yang berbeda.
Syaren baru saja sampai di toko buku biasa ia dan Rafael sering sekali membeli novel, terkadang mereka membacanya di sana juga karena toko buku itu difasilitasi meja dan kursi untuk mereka yang mau membaca disana, mirip dengan perpustakaan di sekolah-sekolah umumnya.
Ia lalu mengambil satu novel fantasi lalu membayarnya di kasir. Setelah itu berjalan ke meja atau kursi yang kosong untuk membacanya di sana.
5 menit kemudian, saat Syaren baru saja membuka lembaran selanjutnya, seseorang tiba-tiba saja datang dan berdiri di samping Syaren.
"Syaren? Kamu disini?" tanyanya.
Syaren sontak langsung menoleh dan menanggahkan kepala menatap siapa orang yang memanggilnya. "Ehh ... Lis? Belum pulang?" tanya Syaren.
"Aku di sini, berarti belum pulang dong, gimana sih," ucap Lisa.
"Hehe ... iya ya? Pertanyaan aku gak bermutu," ucap Syaren tertawa pelan. "Terus? Lagi ngapain di sini? Tumben banget ke toko buku, aku tau ya, kamu bukan kutu buku," ucap Syaren.
"Bukan aku yang nyari buku, tapi pacar aku noh," ucap Lisa melirik ke arah seorang pria yang tengah memilih-milih buku.
Syaren melihat ke arah pria yang Lisa lirik lalu menatap Lisa lagi. "Aahh ... kirain," ucap Syaren.
"Kamu kok di sini?" tanya Lisa.
"Lahh ... kenapa? Aku emang sering ke sini kok," ucap Syaren.
"Iya aku tau, aku juga emang sebenernya sering liat kamu sama Rafael kesini, cuma kok tumben aja sendirian, enggak sama Rafael."
"Ahh ... itu? Si Rafa nganterin Si Rendi," jawab Syaren.
"Iya aku tau dia lagi sama Si Rendi, tadi aku liat dia lagi sama Rendi. Cuma kok tumben, kenapa kamu gak ikut? Biasanya kamu sama Si Rafa selalu berduaan kan? Kalian sepaket! Kenapa gak ikut sama mereka?" tanya Lisa.
"Ya kali aku ikut sama urusan laki-laki, mau ngapain?" tanya Syaren.
"Iya sih ya, masa mereka pacaran kamu nontonin doang. Nyamuk kali ah ... Haha ...." ucap Lisa tertawa pelan.
Syaren langsung mengerutkan alis. "Pacaran? Siapa yang pacaran?" tanya Syaren.
"Si Rafael lah sama Si Rendi, mereka kan lagi pacaran," jawab Lisa.
Syaren mengerutkan alis. "Kata siapa mereka pergi pacaran?" tanya Syaren lagi menatap Lisa dengan sangat serius.
"Aku kan sebelum kesini ke cafe dulu sama pacar aku, tadi dia ambil pesenan punya mamanya. Nah pas mau keluar, aku liat si Rafael sama Si Rendi lagi sama dua cewek," jelas Lisa, "Ceweknya siapa sih gak tau, cuma keliatan punggungnya doang, tapi kalau dari belakang keliatannya sih masih satu sekolah sama kita, beda kelas kali ya ... kayak Si Maura sih, bener itu dia atau bukan ya aku gak tau."
Tangan Syaren dengan seketika mengepal kuat. "Mereka di Cafe mana?" tanya Syaren.
"Cafe Harmoni, dari sini gak jauh sih. Naik ojek mah 5 menit juga sampe, orang deket banget," ucap Lisa lagi.
"Oke deh, thanks ya Lis infonya," ucap Syaren tersenyum namun hatinya berkecamuk marah dan kesal menjadi satu.
"Yuhuu sama-sama, aku nyamperin cowok aku dulu ya," ucap Lisa menepuk pelan bahu Syaren.
Syaren kembali tersenyum dan mengangguk lagi. Ia lalu memasukkan novel yang tadi ia baca ke dalam tasnya setelah Lisa pergi. Lalu, setelah itu ia berjalan cepat keluar dari toko buku. Menaiki sepeda milik Rafael dan menggoesnya dengan sangat cepat hendak menemui Rafael di cafe yang tadi Lisa maksud.
"Berani-beraninya dia main-main," gumam Syaren. Matanya memicing kesal dan bibir yang sedikit mengerucut. "Liat aja, kalau apa yang Lisa itu bener, habis kamu Raf!"
10 Menit kemudian.
Syaren menstandarkan sepeda milik Rafael tepat di samping motor yang sangat ia kenali. Motor milik Rendi.
Huuuhh
Syaren menghembuskan nafasnya kasar, ia semakin kesal saat melihat motor yang sangat ia kenali itu terparkir di depan Cafe dan berada tepat di depan matanya.
"Kurang ajar Si Rafael! Dikasih jantung malah main hati! Ckk! Minta hati maksudnya," ucap Syaren seraya berkacak pinggang.
Ia lalu berjalan ke arah kaca jendela Cafe berniat mengintip terlebih dahulu. Syaren menaruh kedua tangannya di kaca jendela cafe dan mengintip. Benar saja apa kata Lisa tadi, ia melihat Rafael dan Rendi tengah terduduk di sudut ruangan bersama dua orang wanita yang memang masih mengenakan seragam SMA.
"Bener-bener tuh orang! Minta di banting apa gimana coba," gumam Syaren berdiri tegak, Ia lalu berjalan ke arah pintu hendak masuk. Namun, langkahnya terhenti saat tiba-tiba saja ia berpikiran untuk bertanya terlebih dahulu, ingin tahu apa Rafael akan berkata jujur atau sebaliknya.
Syaren lalu mengambil handphone di saku seragamnya, ia menatap layar handphone dan membuka pesan messenger w******p. Ia lalu menyentuh nama Rafael dan menyentuh 'Tulis Pesan' di layar handphonenya.
[Kamu di ajak Rendi kemana?]
Send
Syaren mengirimi Rafael pesan singkat, ia lalu melihat ke arah Rafael seraya menunggu pesan balasan. Terlihat Rafael yang mengambil handphone di saku lalu membacanya.
Syaren lalu sedikit mundur saat Rafael menoleh dan melihat ke segala arah.
Ting
1 Pesan masuk dari Rafael, Syaren menatap layar handphonenya dan membaca isi pesan dari Rafael.
[Nganterin dia ke toko sepatu. Dia mau beli sepatu buat futsal]
Huuhhh
Syaren memalingkan wajah ke arah lain, menghembuskan nafasnya kasar dan tersenyum smirk. Ia lalu kembali berdiri di bibir pintu dan melihat lagi ke arah Rafael. Matanya memicing dan mendelik sinis saat melihat Rafael tersenyum pada wanita yang duduk di hadapannya.
Syaren lalu mengetik lagi pesan untuk ia kirim pada Rafael lagi.
[Sejak kapan cafe jualan sepatu?] Pesan yang Syaren kirim pada Rafael, ia lalu melihat lagi ke arah Rafael masih dengan mata yang memicing, mendelik dan menatap Rafael dengan tatapan tajam.
Terlihat mulut Rafael yang menganga kaget setelah membaca pesannya. Pria itu lalu melihat ke arahnya. Syaren semakin menatap Rafael dengan tatapan membunuh hingga yang di tatap itu terlihat menelan ludah takut.
Syaren lalu menatap layar handphonenya lagi dan mengirimi Rafael pesan lagi.
[KELUAR DAN PERGI ATAU KITA PUTUS!!!]
Syaren mengetik dengan huruf capslock bold, menandakan ia sangat marah pada Rafael. Lalu tak lama kemudian, ia malah melihat si wanita yang menyentuh tangan Rafael. Syaren sontak langsung berjalan cepat menghampiri Rafael di sudut ruangan itu.
Tangan Wanita itu masih menyentuh tangan Rafael, Syaren yang tak terima sontak langsung memegang rambut si wanita dengan kasar.
"Aarrhhh ...." teriak Wanita itu lalu menoleh ke arahnya.
Syaren mengerutkan alis saat melihat siapa wanita itu, benar kata Lisa, wanita itu memang Maura.
"Kamu?"
"Beraninya menyentuh kekasihku hah!" ucap Syaren setengah berteriak.
"Kekasih?" ucap Maura dan Rendi bersamaan sedang wanita yang duduk di samping Maura hanya diam, kaget dan menonton bingung harus bagaimana saat melihat temannya di jambak.
"Raf? Lu sama ...."
"Jangan bahas dulu itu, bantuin!" ucap Rafael, ia bangun dari duduknya dan mendekati Syaren. "Lepas, Sya. Kasian." ucap Rafael seraya memegang tangan Syaren yang memegang rambut Maura.
Syaren melepas tangannya di rambut Maura dan menoleh menatap Rafael. "Kasian?" tanya Syaren. "Kamu kasian sama dia, terus sama aku?"
"Aku bisa jelasin, aku sama sekali gak tau kalau itu dedemit ajak aku kesini," ucap Rafael melirik Rendi lalu menatap Syaren lagi, "Kita ngobrol di luar, oke? Gak enak di liat sama pengunjung lain," ucap Rafael lagi.
Syaren sontak langsung menoleh ke segala arah dan benar saja. Hampir semua pengunjung Cafe melihat ke arahnya menjadikannya tontonan.
"Kamu gak mau kan jadi bahan tontonan? Kamu emang gak malu?" tanya Rafael.
"Haisshh ...." Syaren memejamkan mata menurunkan emosi menahan kesal. "Oke!" ucap Syaren hendak berbalik namun ternyata Maura sudah lebih dulu memegang pergelangan tangannya. Syaren sontak langsung menoleh lagi menatap Maura. "Ap,-"
Plak!
Satu tamparan berhasil mendarat di atas pipi Syaren hingga membuat Rafael dan Rendi yang melihat membuka mulut karena kaget.
"Maura? Kamu apaan sih?" tanya Rafael.
Syaren memegang pipi dan menatap Maura dengan tatapan tajam.
"Enak aja main pergi gitu aja, ya harus impas lah!" ucap Maura.
"Kamu gak pa-pa?" tanya Rafael memegang pipi Syaren yang Maura tampar.
"Kurang ajar! Sialan!" ucap Syaren, ia lalu mendekati Maura dan kembali menjambak rambut Maura, menariknya dengan sangat kasar hingga Maura berteriak mengaduh kesakitan.
"Aa-aahh ... lepas! Sakit!" ucap Maura. Tak mau kalah dengan Syaren, Maura juga menarik rambut Syaren dengan sangat kasar.
"Aa-aauuww lepas! Perempuan gak punya harga diri! Murahan! Gatel! Gak laku!" umpat Syaren.
Mendengar Syaren yang mengumpatnya, membuat Maura kesal dan semakin menarik rambut Syaren dengan sangat kasar.
Rafael yang melihat sontak langsung berusaha melerai, ia berusaha melepas tangan Syaren di rambut Maura. "Sya lepas, Sya. Malu." ucap Rafael. Ia lalu menoleh menatap Rendi. "Heh, bantuin! Malah nonton. Ini drama yang mulai elu ya!" ucap Rafael.
Rendi sontak langsung mendekati Maura, ia juga memegang tangan Maura di rambut Syaren berusaha melepaskan.
Setelah bersusah payah berusaha melepaskan, akhirnya Rendi dan Rafael berhasil memisahkan Syaren dan Maura.
Rafael melingkarkan tangannya di perut Syaren memeluk dari belakang, menarik tubuh Syaren dan menjauhkan Syaren dari Maura, begitu juga dengan Rendi, ia melakukan hal yang sama seperti yang Rafael lakukan.
Huuhhh
Rafael menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar lelah.
"Apa Lo? Gua gak takut ya!" ucap Maura.
"Maura? Udah! Kamu gak malu apa di liatin banyak orang? Dijadiin tontonan begini hah?" tanya Rafael.
"Ya jelas enggak lah, dia kan gak punya malu! Sejak kapan w************n punya malu? Rasa malunya udah putus!" ucap Syaren. "Denger ya? Gua juga gak takut sama Elu! Kalau gua takut, setelah liat cowok gua sama elu, gua langsung nangis dan kabur! Ini enggak kan? Gua langsung nyamperin Elu dan bikin elu malu! Dasar gatel!"
"Lu?"
"Apa?" tanya Syaren memotong, "Masih muda aja berani sama pacar orang, gimana nanti? Elu mau jadi simpanan om-om?"
"Sasya? Apaan sih?" tanya Rafael. "Kok gitu ngomongnya?"
"Kurang ajar!" Maura hendak mendekati Syaren lagi namun Rendi memeluknya dengan sangat erat hingga Maura sama sekali tak bisa berkutik.
Syaren melepas dengan kasar tangan Rafael yang melingkar di perutnya. Ia menatap Rafael dengan tatapan tajam lalu pergi, keluar dari cafe.
Rafael menatap Rendi sebentar lalu mengambil tas di atas kursi, ia lalu mengejar Syaren yang sudah keluar dari Cafe.
"Sya? Sasya?" panggil Rafael mengejar Syaren keluar dari Cafe juga.
Huuhhh
Maura menghembuskan nafasnya kasar, niatnya mendekati dan mengambil hati Rafael gagal total. Ia lalu melihat tangan Rendi yang masih melingkar di perutnya.
"Lepas!" ucap Maura melepas tangan Rendi di perutnya.
Rendi melepas tangannya yang melingkar di perut Maura, ia mundur mendekati Kila dan menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal bingung harus bagaimana.
"Gimana ini?" tanya Rendi pada Kila sedikit berbisik.
Yang ditanya malah mengangkat kedua bahunya tak tahu bingung harus bagaimana juga. "Gak tau," jawab Kila berbisik juga
Maura yang mendengar Rendi berbisik langsung memutar kedua bola matanya, ia mengambil tas diatas kursi dan keluar dari cafe juga.
Bersambung