"Kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau. Aku tidak akan terlalu peduli dengan privacy-mu." ucap Syaren.
Rafael menelan ludah, hatinya benar-benar terasa sesak, tenggorokannya juga tercekat saat mendengar Syaren berucap.
"Oke?" tanya Syaren, "Aku udah maafin kamu kok. Dan untuk yang tadi pas lagi latihan, aku minta maaf. Aku terlalu emosi tadi, makanya sampe gak sadar kalau aku udah lukain kamu," ucap Syaren.
Rafael melihat ke arah tangannya yang masih menggenggam tangan Syaren, wanita itu melepas genggaman tangannya.
"Hari ini kamu gak usah anterin aku pulang, kamu langsung pulang aja, aku udah pesen ojek online kok," ucap Syaren lagi.
Rafael kembali menelan ludah, entah kenapa d*danya terasa sangat sesak dan tenggorokannya juga semakin tercekat hingga untuk bernafas pun terasa sangat sulit. Ia ingin berucap tapi bingung harus mengucapkan kata apa.
Lalu, tak berselang lama kemudian, driver ojol menepi tepat di depan mereka.
"Mbak Syaren?" tanyanya.
"Iya saya, Mas." jawab Syaren lalu menoleh menatap Rafael, "Raf?"
Rafael menoleh menatap Syaren.
"Aku duluan ya? Besok pagi jangan jemput aku dulu deh, aku mau belajar berangkat sendiri. Mau latihan dari sekarang dan biar terbiasa juga," ucap Syaren seraya menepuk pelan bahu Rafael lalu berjalan mendekati driver ojol
Rafael melihat Syaren yang naik ke atas motor, ia ingin menghentikan tapi entah kenapa untuk berucap pun masih terasa sulit. Hingga akhirnya motor driver itu melaju jauh.
"Dia beneran marah?" gumam Rafael.
Tes
Tiba-tiba saja air mata keluar dari mata Rafael, ini kali pertama ia meneteskan air mata karena seorang wanita.
Rafael lalu melangkahkan kaki mengambil sepedanya yang terparkir di belakangnya, ia tak menaiki sepedanya, ia berjalan perlahan seraya memegang sepedanya. Berjalan di atas trotoar dengan pandangan lurus melihat jalanan namun tak begitu fokus.
Tes
Bulir bening kristal menetes membasahi punggung tangan Rafael, ia sontak langsung menatap langit yang terlihat mendung. Sudah di pastikan sebentar lagi pasti akan turun hujan, suara petir bahkan sudah mulai terdengar.
Rafael sama sekali tidak peduli, ia kembali berjalan lagi seraya memegang sepedanya. Entah mengapa ia enggan menaiki sepedanya dan enggan sampai dengan cepat ke rumahnya.
Dresss
Tiba-tiba saja air hujan turun dengan sangat deras. Saat orang lain berlarian mencari tempat yang teduh, Rafael malah dengan santainya berjalan di atas guyuran air hujan. Membiarkan air hujan mengguyur seluruh tubuhnya. Seragam yang ia kenakan bahkan sudah mulai basah dan terlihat tembus pandang.
Rafael terus berjalan hingga akhirnya ia menepi tepat di depan sebuah ruko kosong. Ia menatap lurus dengan pandangan kosong, melihat air hujan yang turun dari langit yang masih terlihat mendung.
Rafael merogoh saku celananya yang sudah mulai basah dan mengambil handphone. Rafael menatap layar handphonenya yang terlihat sedikit basah. Ia melihat jam di layar handphonenya.
17.20
Rafael membuka locked handphone dengan menggambar pola di layar handphonenya, ia lalu menyentuh aplikasi w******p lalu menyentuh nama Syaren.
Tuuttt tuuttttt
[Halo, Raf? Kenapa?]
"Syaaaa ...." panggil Rafael saat seseorang yang ia hubungi mengangkat teleponnya.
Hiks hiks hiks
"Aku salah, aku minta maaf." ucap Rafael seraya terisak tak dapat lagi menahan air mata dan hatinya saat mendengar suara Syaren, ia tak bisa mengontrol emosinya saat ia mendengar suara Syaren. "Aku janji gak akan gitu lagi sama kamu, Sya. Maafin aku."
[Kamu dimana?]
Rafael melihat ke segala arah, ia tak tahu ia dimana sekarang, sejak tadi ia hanya melangkahkan kaki mengikuti langkah kakinya dan tak tau arah tujuannya. "Di jalan, depan ruko kosong" jawab Rafael
Hiks hiks hiks
"Maafin aku, Sya."
[Tunggu, jalan? Jalan mana? Ruko kosong dimana?] tanya Syaren lagi.
"Mungkin deket tempat latihan, aku gak tau ini dimana."
[Ckk! Dimana sih? Ya udah, share location, aku kesitu sekarang. Jangan kemana-mana.]
"Tapi kamu maafin ak,-"
Pip_
Belum selesai Rafael berbicara, Syaren sudah lebih dulu mematikan sambungan teleponnya. Rafael melepas sepeda yang sejak tadi ia pegang dengan tangan kanannya hingga sepedanya itu terjatuh.
"Ckk!" Rafael berdecak kesal saat Syaren yang malah mematikan sambungan teleponnya sebelum ia berucap, ia menghapus air mata dan air hujan yang menyatu di wajahnya. "Tunggu-tunggu, tadi dia minta share location kan? Dia mau kesini kan?" gumam Rafael, ia lalu menatap layar handphonenya, menyentuh nama Syaren dan mengirim location di mana ia berada.
Pip!
"Ehh ... kok mati?" gumam Rafael saat handphonenya tiba-tiba saja mati, ia berusaha menyalakan lagi handphonenya itu namun tak berhasil. "Arrgghh sial!" ucap Rafael seraya mengacak-acak rambutnya yang basah.
Rafael lalu duduk berjongkok dan menatap lurus lagi, terlihat air hujan yang turun dari langit itu menggenang, tak terlihat jernih namun berubah kecoklatan.
Huuhh
Rafael menghembuskan nafasnya kasar. "Chatnya masuk enggak ya?" gumam Rafael. Ia lalu merapatkan kedua tangannya di atas lutut dengan pandangan masih melihat air hujan yang turun.
Beberapa menit kemudian.
"Rafael? Kamu ngapain di sini hah?" tanya Seorang wanita tiba-tiba berdiri sekitar satu meter di depan Rafael dengan payung merah muda di tangan kanan dan jaket berwarna abu di tangan kirinya.
***
Klak
Syaren menutup pintu rumahnya berniat untuk menemui Rafael yang entah dimana.
Ting
1 Pesan masuk terdengar. Syaren langsung menatap layar handphonenya, terlihat nama Rafael berada di notifikasi atas handphonenya.
Klik
"Aihhhh ... ini kan ruko kosong depan komplek. Dia ngapain coba di situ, bukannya pulang juga." ucap Syaren. Ia lalu membuka payung dan berjalan ke arah pagar hendak keluar.
Setelah keluar dari pintu pagar rumahnya, Syaren berjalan perlahan hendak keluar dari komplek perumahan rumahnya. Ia berjalan dengan langkah yang lumayan cepat. Tangan kanan yang memegang payung erat-erat. Hembusan angin yang lumayan besar hampir saja membuat payungnya terbang, namun sekuat tenaga ia berusaha memegang dengan sangat erat payungnya itu agar tak terlepas dari genggamannya.
"Kalau enggak sayang, males aku kaya begini! Beruntung kamu di sayangin sama aku, Raf! Dan buat Si Maura, liat aja ... gak akan pernah aku maafin!" gumam Syaren.
Tap tap tap
Syaren menghentikan langkah saat pria yang sangat ia kenali sudah berada di depan matanya, tengah berjongkok di depan ruko kosong dengan kedua tangan di atas lutut dan dagu yang di taruh di atas tangan menatap lurus dengan pandangan kosong, entah apa yang sedang pria itu pikirkan.
"Bener-bener ya dia!" gumam Syaren melangkahkan kaki mendekati Rafael.
Tap tap tap.
"Rafael? Kamu ngapain di sini hah?" tanya Syaren dengan nada sinis.
Rafael sontak langsung menanggahkan kepala saat seorang wanita bertanya padanya. Ia langsung berdiri tegak saat melihat siapa yang berdiri di depannya itu.
"Sya?" panggil Rafael.
"Kamu tuh bener-bener nguji aku banget ya! Aku udah baik-baikin kamu loh tadi walau rada nyesek," ucap Syaren dengan mata yang memicing.
"Kok kamu cepet banget kesininya?" tanya Rafael tanpa memperdulikan ucapan Syaren. "Perasaan baru tadi aku chat kamu."
"Ya kamu liat ini dimana! Ini depan komplek rumah aku!" ucap Syaren.
Rafael melihat ke segala arah dan ia baru menyadari kalau ia memang berada di dekat komplek perumahan rumah Syaren, ia terlalu fokus berjalan mengikuti langkah kakinya hingga tak menyadari kalau sejak tadi ia berjalan ke arah rumah Syaren.
"Kamu tuh bener-bener ya! Nguji aku terus perasaan," ucap Syaren.
"Syaaa?" panggil Rafael dengan mata yang berkaca-kaca menatap Syaren.
Syaren sontak langsung diam bingung harus mengucapkan kata apa saat melihat mata Rafael yang mulai berkaca-kaca, ini kali pertama ia melihat Rafael yang seperti akan menangis. Sejak kecil hingga saat ini, mereka memang belum pernah bertengkar separah ini.
Ini juga kali pertama ia melihat Rafael yang hampir terlihat berantakan. Syaren juga baru menyadari kalau baju yang Rafael kenakan sudah sangat basah bahkan tembus pandang, rambut yang basah dan tak beraturan. Rafael terlihat sangat mengkhawatirkan.
Melihat Rafael yang seperti itu, membuat Syaren yang melihat jadi semakin tak tega.
"Ckk!" Syaren berdecak kesal, ia lalu memberikan jaket abu-abu yang ia sampirkan di tangan kiri pada Rafael. "Pake," ucap Syaren.
Bukannya mengambil jaket itu, Rafael malah terus menatap Syaren hingga membuat yang di tatap bingung harus bagaimana.
"Astagfirullah," ucap Syaren, ia lalu menaruh payung merah muda yang sejak tadi ia pegang itu di lantai dan memakaikan jaket itu di tubuh Rafael.
Rafael memegang tangan Syaren yang tengah memakaikan jaket di tangannya. "Aku beneran sayang sama kamu, maafin aku," ucap Rafael.
Bersambung