Dalam dunia ini, manusia dibagi menjadi
tiga kelompok utama yaitu Alpha, Beta,
dan Omega.
Alpha dikenal sebagai pemimpin dalam
dunia ini. Mereka memiliki fisik lebih
kuat, dominan, dan dalam banyak kasus,
merekalah yang menduduki posisi paling
tinggi dalam masyarakat. Mereka bisa
"menandai" Omega sebagai milik mereka.
Beta, adalah kelompok paling netral.
Mereka tidak memiliki feromon mencolok
seperti Alpha atau Omega, dan mereka
juga tidak mengalami siklus
khas
yang bisa menarik Alpha secara naluriah.
Mereka mengalami siklus yang disebut
heat, yaitu periode di mana hasrat dan
daya tarik mereka meningkat tajam. Di
masa lalu, Omega sering dikekang atau
dikurung selama masa heat, karena
dianggap berbahaya baik bagi diri
mereka sendiri maupun Alpha yang
kehilangan kontrol.
Tentu saja, dunia telah mulai berubah.
Undang-undang telah diperbarui.
Omega berhak hidup bebas, bersekolah,
bekerja, dan mencintai siapa pun. Tapi
luka sejarah tak mudah hilang. Banyak
dari mereka tetap hidup dengan rasa
waspada, menyembunyikan diri, rasa
takut dan menjaga jarak.
Visualisasi Karakter
(pic from pinterest!!)
Selamat membaca •••
Gavima Arzand, biasanya dipanggil
Gavi adalah seorang omega yang tidak
memiliki feromon. Tubuhnya tidak
pernah mengeluarkan aroma manis
seperti vanilla atau karamel seperti
Omega lain. Dia juga tidak pernah
mengalami siklus heat. Sewaktu remaja,
dia sempat diperiksa oleh dokter sekolah
karena hasil tes genetiknya menunjukkan
keanehan. Dia memang terdaftar sebagai
Omega, tapi tubuhnya nyaris "kosong".
Tidak ada reaksi hormonal. Tidak ada
feromon yang bisa terdeteksi. Sejak saat
itu, dia mengaku "Aku adalah seorang
beta," ucapnya saat pertama kali masuk
SMA. Dan orang-orang percaya. Mereka
tidak mencurigainya, karena dia tidak
terlihat seperti Omega. Juga tidak ada
Alpha yang akan menoleh dua kali saat
lewat di sebelahnya. Bahkan sensor ruang
kesehatan tidak mendeteksi perubahan
kadar hormon apa pun.
Tapi, menjadi Beta jauh lebih aman
pikirnya, dibanding menjadi Omega
lemah dan rentan jadi sasaran Alpha
birahi di luar sana. Dia juga tidak ingin
diperlakukan seperti makhluk lemah.
Dia tidak ingin dijadikan objek atau
dikasihani. Dia tidak ingin ditanya
kenapa dia tidak bisa heat, atau
disarankan terapi agar "feromonnya
bisa aktif". Terapi membutuhkan uang
banyak, sedangkan dia hanyalah anak
seorang ibu-ibu tukang jahit yang
sakit-sakitan.
Oh iya, Gavi juga mempunyai kenalan
omega yang sangat cantik sekali. Willie
namanya, dia adalah sahabat baiknya.
Mereka bertemu di klub sastra dan
langsung akrab sejak pertama kali
berbicara. Selain cantik dan wangi, dia
juga tenang, pintar, sopan dan kaya raya.
Gavi pun tidak habis pikir kenapa orang
yang hampir mendekati kata sempurna
ini malah berteman dengannya.
"Revisi, revisi lagi," ujar Willie
sembari meregangkan tubuhnya.
Bahunya naik-turun pelan, kemudian
ia menjatuhkan tubuhnya ke meja
dengan napas lelah. "Gavi, bantu aku,"
sambungnya sambil menunjuk layar
laptopnya yang penuh coretan merah dari
dosen pembimbing.
"Maaf, tapi aku juga lagi mengerjakan
revisiku, Will," balas Gavi, ia masih
menunduk pada laptopnya sendiri
sembari ingin menyantap makanannya.
Sendoknya terisi nasi dan potongan kecil
ayam goreng yang hendak ia suapkan
ke mulut dengan cepat karena waktu
istirahat mereka hampir habis. Namun,
belum sempat ia memasukkannya
kedalam mulutnya, tiba-tiba seseorang
tidak sengaja menabrak lengannya.
Nasi dan potongan ayamnya tumpah
berantakan ke meja, sebagian bahkan
mengenai Will dan sedikit terlempar ke
lantai.
"Sorry, tidak sengaja," kata orang itu
cepat-cepat.
Gavi buru-buru menoleh dengan niat
marah, tapi ucapan dan emosinya
seketika memudar. Orang itu berdiri
tegak dihadapannya. Sangat tinggi,
dengan rambut hitam yang sedikit acak,
kulit pucat bersih, dan sepasang mata
tajam yang membuat Gavi seolah ditusuk
pandangannya. Tampan. Sangat tampan,
hingga untuk sepersekian detik Gavi lupa
kalau sesendok makanannya terbuang
sia-sia.
Namun yang lebih membuat Gavi
terdiam adalah pria itu tidak sama sekali
menatapnya. Padahal dia adalah korban
disini
Pria tampan itu berdiri bengong, ia
terpaku menatap Willie sahabatnya, yang
kini sedang menyeka celananya dengan
tisu. Tatapan pria itu bukan sembarang
tatapan biasa. Itu adalah pandangan khas
seorang Alpha yang baru saja mencium
sesuatu yang menggugah insting
primitifnya.
"Sudah pasti dia seorang Alpha," batin
Gavi. Ia sudah terlalu sering menyaksikan
pemandangan seperti ini.
Sudah ia yakini pasti orang ini juga
akan jatuh hati saat melihat kecantikan
Willie yang duduk di depannya. Willie
memang tidak menyadarinya, tapi ia
adalah tipe yang disukai banyak orang
apalagi kulitnya putih bersih, matanya
teduh, dan ada semacam kelembutan
dalam pembawaannya yang membuat
semua orang merasa nyaman saat berada
didekatnya. Belum lagi aroma khas
Willie yang entah kenapa selalu segar,
seperti embun dan kayu manis wangi
yang pasti membius siapa pun yang dekat
dengannya.
"Minta maaf yang benar, kau sudah
membuat makanannya jatuh," ujar
Willie pada orang itu, ekspresinya datar
tapi suaranya tegas. Dia itu adalah tipe
yang tidak suka orang disekitarnya
diperlakukan sembarangan.
"Baiklah, biar aku yang membayar
makanan kalian semua, anggap saja
permintaan maafku," ucapan itu ia
tujukan kepada Willie.
Ia membungkuk sedikit, dan Gavi
bisa melihat jelas bagaimana pria itu
mengendus aroma Willie secara halus,
seperti seseorang yang tengah mencoba
menahan diri agar tidak terbawa hasrat.
Kontrol diri yang cukup kuat... namun
tetap kentara.
Willie mengernyit, "Totalnya 40
ribu, bayar ke ibu-ibu sana," Willie
mengarahkan telunjuknya ke arah
penjaga kantin yang kini sedang melayani
mahasiswa lain.
"Baiklah," jawab pria itu sambil berjalan
menjauh, namun bahkan saat melangkah,
kepalanya tidak berputar ke arah lain.
Matanya tetap memandangi Willie seolah
takut kehilangan pemandangan indah itu
sedetik pun.
Gavi setia memandangi pria itu, dan
sesuatu dalam dadanya terasa mengerut.
Ia sudah tahu bagaimana cerita ini akan
berakhir. Sama seperti sebelumnya.
Sama seperti semua Alpha yang pernah
menatap Willie seperti itu. Cepat atau
lambat, pria itu pasti akan kembali lagi.
Dan, mereka... akan meminta tolong pada
Gavi untuk mengenalkannya pada Willie.
Gavi menghela napas panjang, lalu mulai
mengelap meja.
"Willie," panggil Gavi,
"maaf ya, kau juga kena."
"Tidak apa-apa. Bukan salahmu. Tapi
ada untungnya juga, kita jadi tidak perlu
keluar uang hari ini" jawab Willie dengan
tawa kecil yang terdengar dipaksakan.
Gavi hanya mengangguk pelan, lalu ia
mulai memungut sisa makanannya yang
jatuh dan membuangnya ke tempat
sampah terdekat
Saat ia kembali ke tempat duduknya
untuk menghabiskan makanannya yang
tersisa, Gavi diam-diam menoleh ke arah
pria yang kini sedang menyerahkan
uang ke penjaga kantin. Ternyata pria itu
masih sesekali mencuri pandang ke arah
mereka...lebih tepatnya, ke arah Willie.
Gavi untuk mengenalkannya pada Willie.
Gavi menghela napas panjang, lalu mulai
mengelap meja.
"Willie," panggil Gavi,
"maaf ya, kau juga kena."
"Tidak apa-apa. Bukan salahmu. Tapi
ada untungnya juga, kita jadi tidak perlu
keluar uang hari ini" jawab Willie dengan
tawa kecil yang terdengar dipaksakan.
Gavi hanya mengangguk pelan, lalu ia
mulai memungut sisa makanannya yang
jatuh dan membuangnya ke tempat
sampah terdekat
Saat ia kembali ke tempat duduknya
untuk menghabiskan makanannya yang
tersisa, Gavi diam-diam menoleh ke arah
pria yang kini sedang menyerahkan
uang ke penjaga kantin. Ternyata pria itu
masih sesekali mencuri pandang ke arah
mereka...lebih tepatnya, ke arah Willie.
Gavi tersenyum tipis, "sesuai dugaan"
batinnya bergumam.