Gelap di dalam lubang bukan gelap yang biasa. Di permukaan, malam masih punya bintang, punya bayangan, punya batas. Di bawah sini, tujuh meter di bawah kebun karet yang sudah mati, gelap itu pekat seperti benda yang bisa dipegang. Kasan menggantungkan lampu karbitnya di pasak kayu, dan nyala biru kecilnya hanya sanggup menerangi sejauh ujung cangkul.
Ia merangkak. Bukan berjalan, bukan membungkuk — merangkak, karena terowongan ini hanya selebar bahu orang dewasa dan setinggi anjing duduk. Kayu kelapa penyangga melintang setiap satu setengah meter, sebagian sudah melengkung menahan beban tanah di atasnya. Kasan tahu nama tiap kayu itu seperti tahu nama saudaranya sendiri. Yang melengkung di mulut terowongan ia sebut Bungkuk. Yang berderit kalau hujan ia sebut Cengeng. Ayahnya yang mengajarinya begitu — beri nama pada kayu, supaya kalau ada yang berubah bunyi, kau tahu mana yang sedang menjerit.
Udara di sini berat. Bukan berat karena kotor, tapi berat karena diam. Tidak ada angin. Yang ada hanya napasnya sendiri, dengus pelan dari mulut yang ia buka supaya tidak terlalu banyak menelan debu. Debu arang. Halus seperti tepung, hitam seperti dosa, dan ia tahu — semua orang di Sangkar Arang tahu — bahwa debu inilah yang pelan-pelan membunuh ayahnya. Bukan runtuhan yang melumpuhkan kaki kiri Sukirman. Yang membunuhnya adalah belasan tahun menghirup tepung hitam ini sampai paru-parunya jadi batu.
Kasan menyalakan cangkulnya pada urat batu bara yang membentang di dinding. Lapisan tipis, mengkilap di bawah lampu, seperti kaca yang dipoles. Dulu, kata Jumadi, lapisan di sini setebal lengan. Sekarang setipis jari. Lubang dangkal ini sudah hampir habis arangnya. Tiap hari ia harus menggali lebih jauh ke samping untuk mengisi separuh gerobak yang dulu penuh dalam tiga jam.
Ia bekerja dengan ritme yang sudah jadi tubuhnya sendiri: ayun, congkel, kumpulkan, dorong ke karung. Keringat mengalir di punggungnya dan bercampur debu jadi lumpur tipis. Sesekali ia berhenti, bukan untuk istirahat, tapi untuk mendengar. Itu kebiasaan yang membuat orang menertawakannya. Kasan diam, memejamkan mata, dan mendengarkan tanah. Atap yang sehat diam. Atap yang sakit bicara — denyut halus, retak sebesar rambut yang menjalar, butir pasir yang jatuh sendirian. Hari ini atap diam. Kasan bernapas lega dan kembali mengayun.
Setelah karung kelima penuh, ia merangkak mundur menarik gerobak kecil di rel kayu. Sembilan meter ke mulut lubang terasa seperti sembilan kilometer. Ketika kepalanya akhirnya muncul di permukaan, cahaya sore menusuk matanya begitu tajam sampai air mengalir. Ia berlutut di tanah merah, batuk, mengeluarkan dahak hitam, dan untuk sesaat hanya menghirup udara yang bergerak — angin biasa, angin yang gratis, angin yang tidak ia hargai sampai ia kehilangannya tiap hari di bawah sana.
Langit di atas Sangkar Arang berwarna jingga kotor. Di kejauhan berdiri derek tambang lama, raksasa besi yang sudah berkarat sejak perusahaan negara pergi. Rel kereta yang dulu mengangkut batu bara ke pelabuhan kini ditumbuhi ilalang. Kota ini dibangun di atas batu bara dan ditinggalkan di atas batu bara, dan orang-orang yang tersisa menggali sisa-sisanya dengan tangan, seperti tikus mencari remah di rumah yang sudah dijual majikannya.
Kasan mendorong gerobaknya menuju gudang. Di sepanjang jalan setapak, lubang-lubang lain menganga seperti mulut. Dari satu lubang, kepala Pendi muncul, hitam seluruhnya kecuali putih matanya. "Dapat banyak, San?" Kasan menggeleng. "Tipis. Lapisan tinggal sejari." Pendi meludah. "Punyaku juga. Sebentar lagi semua lubang dangkal ini cuma jadi kuburan."
Gudang Toke Bahar berdiri paling besar di ujung kampung, dinding seng, atap tinggi, dan di depannya timbangan baja yang mengkilap — satu-satunya benda di kota ini yang dirawat seperti berlian. Di balik meja, Toke Bahar duduk, lelaki gemuk berusia lima puluhan dengan kemeja batik dan cincin yang menelan jari. Ia tidak menakutkan secara fisik. Yang menakutkan adalah buku tebal di hadapannya, buku bersampul karton yang berisi angka-angka, dan tiap angka di buku itu adalah rantai.
Kasan menumpahkan karungnya ke timbangan. Jarum bergerak. Toke Bahar memicingkan mata, mencatat, lalu menutup buku besar dan membuka buku lain yang lebih kecil. Buku itu Kasan kenal. Sampulnya sudah robek di sudut. Itu buku ayahnya.
"Kasan," kata Toke Bahar, suaranya lembut seperti orang berbelasungkawa. "Bapakmu, semoga tenang di sana, meninggalkan ini." Ia memutar buku itu menghadap Kasan dan menunjuk angka di baris paling bawah. "Sisa utangnya. Sudah aku potong dari setoranmu tiga bulan ini."
Kasan menatap angka itu. Ia bisa membaca — ia sempat sampai kelas dua SMK sebelum keluar — tapi angka itu seperti ditulis dalam bahasa lain. Jumlahnya tidak masuk akal. Lebih besar dari semua arang yang bisa ia gali dalam dua tahun, mungkin tiga. "Pak," katanya pelan, "Bapak cuma pinjam buat obat dan buat sekolah saya dulu. Tidak mungkin sebesar ini."
Toke Bahar tersenyum, dan senyum itu sabar, hampir kasihan. "Bunga, Kasan. Waktu berjalan, utang tumbuh. Aku tidak menanamnya, aku cuma mencatat." Ia menutup buku itu. "Tapi aku orang baik. Aku tidak menagih paksa. Kau setor terus, sedikit-sedikit, dan kita aman." Ia menjeda. "Cuma satu masalah. Lubangmu hampir kering, kan?"
Kasan tidak menjawab. Ia tidak perlu. Toke Bahar sudah tahu segalanya tentang lubang-lubang itu, lebih tahu dari para penggalinya sendiri, karena dialah satu-satunya yang membeli, satu-satunya yang menjual beras dan minyak tanah, satu-satunya yang memegang buku.
Kasan pulang dengan uang yang bahkan tidak cukup untuk membeli karbit baru. Rumahnya kecil, dinding papan, lantai tanah yang ditepuk keras. Dari dalam terdengar batuk. Batuk ibunya. Bukan batuk biasa — batuk yang berakhir dengan suara basah, suara yang membuat dada Kasan dingin tiap kali mendengarnya. Di sudut, adiknya Nurlela, lima belas tahun, duduk di bawah lampu minyak dengan buku tulis terbuka, menyalin pelajaran dari buku pinjaman teman karena ia tak punya buku sendiri.
"Kak," kata Nurlela tanpa mengangkat kepala, "besok bayaran sekolah. Tiga bulan nunggak." Kasan duduk di ambang pintu, melepas sepatu botnya yang dipenuhi lumpur. Di dalam, ibunya batuk lagi, dan kali ini Kasan mendengar warna lain di dalam batuk itu. Warna darah. Ia memejamkan mata, seperti ia memejamkan mata di bawah tanah, dan mendengarkan rumahnya sendiri yang pelan-pelan runtuh.