Hari kelima di rumah sakit, Fina menghabiskan pagi dengan melipat baju yang sebenarnya sudah terlipat.
Demamnya sudah tiga hari hilang. Hitung darahnya naik pelan, dan Iqbal sendiri yang datang menandatangani surat izin pulang dengan senyum yang dipaksa terlihat netral. Fina memasukkan buku doa ke tas, lalu membuka laci nakas dan mengambil amplop cokelat dari bawah tisu. Ia menimbangnya sebentar di telapak tangan, menyelipkannya di antara dua baju, lalu menutup resleting.
"Boleh Mas yang bawa?" tanya Revan dari pintu, menunjuk tas itu.
"Boleh."
Revan menenteng tas di bahu, dan dengan tangan yang lain menahan pintu mobil ketika Fina duduk perlahan. Ia tidak menawarkan lengan, dan Fina menghargai itu. Sepanjang jalan pulang mereka sama-sama tidak bicara, tapi kali ini sunyi itu tidak menggantung.
Mbak Marni sudah menunggu di teras, memegang kain lap yang tidak ia perlukan. "Bu Fina! Alhamdulillah, rumah sepi sekali lima hari ini. Saya sampai ngomong sendiri di dapur."
"Terima kasih, Mbak."
"Ibu mau minum apa? Mau saya buatkan jahe? Pak Revan, tasnya biar saya..."
"Bukan itu dulu, Mbak Marni," kata Revan lembut. "Dia sudah ditunggu."
Pintu depan terbuka dan sebuah kertas besar menyembul lebih dulu dari ambang, disusul kepala berkacamata. Langga berdiri di sana dengan seragam yang dikeluarkan separuh, memegang kartu karton seukuran bantal di depan dadanya. Warna-warni krayon, huruf-huruf besar yang agak miring: SELAMAT PULANG IBU. Di bawahnya digambar sebuah rumah, empat orang, dan matahari yang tersenyum dengan kacamata.
"Ibu!"
"Sayang."
Langga berlari, lalu berhenti satu langkah di depan Fina. Ia ingat. Ia tidak menabrak. Ia memeluk perut Ibu dengan hati-hati, mengangkat kartunya ke atas bahunya, dan menempelkan pipi di gamisnya.
"Langga hitung. Lima hari. Langga bikin gambarnya dari kemarin tapi Mbak Marni bilang matahari nggak boleh pakai kacamata, terus Langga bilang boleh."
"Boleh, dong." Fina mengusap kepalanya. "Matahari kan juga perlu melihat Ibu."
"Papa tiap malam baca cerita nabi buat Langga. Papa nggak marah. Papa salah ucap satu kali, terus bilang maaf." Langga menengadah dengan bangga yang dipendam. "Langga hitung juga."
Fina mengangkat mata ke arah Revan yang berdiri di belakang dengan tas, dan Revan, tanpa bisa menyembunyikan ujung telinganya yang memerah, tiba-tiba sibuk memeriksa tali tas. Fina menahan senyum.
"Terima kasih sudah menghitung, sayang."
Di balik Langga, pintu ruang tengah terbuka sedikit. Hasna berdiri di tangga dengan satu tangan di pegangan dan satu di perut. Ia dan Fina bertatapan sebentar. Hasna mengangguk, kecil, dan naik tangga lagi tanpa suara. Itu cukup.
•||•
Malam itu Revan masuk ke kamar Fina membawa dua gelas teh hijau dan duduk di kursi, bukan di ranjang. Ia sudah bertanya sebelum membuka pintu: "Boleh aku masuk?" dan Fina menjawab dari balik bantal, "Boleh, Mas."
Ruangan itu hangat oleh lampu meja. Fina bersandar di kepala ranjang dengan selimut sampai pinggang, bergo tipis menutupi rambutnya, dan rajutan krem berada di pangkuannya, bertambah beberapa baris sejak ia pulang. Ia menerima gelas teh, menyesap, dan tidak berkata apa-apa tentang rasanya, yang berarti rasanya cukup.
"Aku mau bicara," katanya.
"Aku di sini."
"Waktu di rumah sakit, Mas minta maaf satu-satu. Aku dengar semuanya. Aku tidak langsung jawab karena aku tidak tahu harus jawab apa." Fina menaruh gelas di nakas. "Sekarang aku tahu."
Revan menegakkan tubuh dan tidak menyela.
"Aku mau percaya, Mas." Suaranya tenang, tapi tangannya meremas ujung selimut. "Pelan-pelan. Bukan karena Mas minta maaf dengan baik, tapi karena lima hari ini Mas ada. Kali ini ada."
"Fin..."
"Tapi aku punya syarat." Fina menatapnya lurus. "Mas harus tuntas dan jujur kepada Mbak Hasna. Tuntas. Bukan setengah-setengah, bukan menunggu dia kuat dulu atau bayinya lahir dulu lalu bilang, nanti kita lihat. Bukan karena aku. Karena Mbak Hasna berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahannya sendiri." Ia berhenti, dan suaranya merendah. "Aku tahu rasanya jadi orang yang paling akhir diberi tahu, Mas. Aku tidak mau ada orang lain di rumah ini yang merasakan itu karena aku."
Revan menarik napas. Ia ingin mengatakan bahwa ia sudah mengatakan segalanya, bahwa Hasna sudah tahu, bahwa mereka sudah sepakat menunggu. Tapi ia tahu persis apa yang Fina maksud. Ia pernah mengatakan "aku mencintai Fina" kepada Hasna dan sesudah itu bersembunyi di balik kata menunggu.
"Aku sudah bicara," katanya pelan. "Dan aku akan bicara lagi. Sampai tidak ada yang tersisa untuk disembunyikan."
"Janji?"
"Bukan janji. Aku tidak mau menjanjikan sesuatu yang bisa kubuat sia-sia." Revan menggeleng. "Aku akan melakukannya, dan kamu bisa lihat sendiri."
Fina mengamati wajahnya, dan lama-lama bahunya mengendur. "Itu jawaban yang bagus."
"Aku belajar."
Hening sebentar. Revan menunduk menatap gelasnya yang masih penuh, kemudian mengangkat wajah.
"Boleh kita sholat berjamaah?"
Fina berkedip. Satu detik. Dua. Lalu ia mengangguk.
•||•
Fina berdiri di belakang Revan di atas sajadah, mukena putihnya jatuh sampai mata kaki. Ia terlalu lemah untuk berdiri lama, jadi ia duduk di kursi setelah takbir, tapi dari sana ia bisa melihat punggung Revan yang membungkuk dan mendengar suaranya, tidak merdu, sedikit serak, tetapi sungguh-sungguh.
Surat yang ia baca pendek. Fina mengikuti dalam hati, dan di tengah rakaat kedua ia merasakan sesuatu naik ke tenggorokannya.
Selama bertahun-tahun ia sholat sendirian di kamar yang sama. Di sudut yang sama, menghadap arah yang sama, dengan doa yang sama, yang kadang tak sampai selesai karena air mata. Berjamaah beberapa kali belakangan ini masih terasa seperti hadiah yang takut ia rusak kalau terlalu cepat dipercaya. Ia menatap punggung di depannya dan mengingatkan dirinya sendiri untuk bernapas.
Ketika salam terakhir, Revan tidak langsung berbalik. Ia menunggu, memberi Fina waktu menunduk dan mengusap pipinya dengan ujung mukena tanpa terlihat. Fina menggigit bibir. Air matanya jatuh diam-diam, tanpa isak, dan ia berterima kasih kepada punggung itu karena tidak menoleh.
Di nakas, ponselnya menyala.
Fina mengambilnya setelah Revan keluar membawa sajadah. Pesan dari Iqbal, singkat dan profesional seperti biasa: Kontrol Kamis jam 10. Bawa hasil lab.
Ia membacanya dua kali. Pintu terbuka sedikit, dan kepala Revan muncul di celahnya. "Boleh Mas lihat sebentar? Ada tetes hujan di jendela, nanti tempiasnya masuk."
"Boleh."
Revan menutup jendela, lalu menoleh. "Pesan dari siapa? Tadi kulihat layarnya menyala."
"Dokter Iqbal." Fina menyodorkan ponselnya. "Kontrol Kamis."
Revan membaca dan mengembalikannya. "Kita berangkat sama-sama."
"Mas tidak perlu..."
"Aku perlu," katanya, sederhana, dan keluar menutup pintu.