Perawat memutar engkol ranjang sampai punggung Fina tegak sedikit. Hanya sedikit, tetapi cukup untuk membuat kepalanya berputar dan ruangan miring ke kiri.
"Pelan-pelan, Bu," kata perawat itu. "Tarik napas. Ya, begitu. Lihat satu titik saja."
Fina memilih titik di tembok: sebuah paku kecil bekas gantungan jam. Lama-lama dunia kembali lurus. Ia tersenyum, tipis, dan perawat itu tersenyum balik dengan bangga seperti seorang guru pada murid yang akhirnya bisa membaca.
Ia sudah dua kali bertanya kepada perawat tentang ginjalnya, dan dua kali dijawab hal yang sama: sebagian besar masih ada, tidak perlu cuci darah, nanti dokter Hendra yang menjelaskan angkanya. Jawaban itu seharusnya menenangkan. Nyatanya setiap kali ia mendengarnya, ia merasa seperti mendengar berita tentang orang lain.
Ruang pantau ini jauh lebih tenang daripada ICU. Ada jendela yang menghadap taman kecil, satu kursi, satu meja dengan botol air dan secarik kertas yang ditempel dengan plester. Fina membacanya sudah tiga kali. Gambar Langga: seorang perempuan duduk di ranjang dengan kerudung kuning, mulutnya melengkung lebar dari telinga ke telinga, dan di bawahnya tulisan huruf besar-besar, IBU SENYUM. Di pojok ada gambar kecil kacamata bulat.
Revan menempelkannya sendiri tadi pagi sebelum pergi mengantar Langga dan Bima ke sekolah. "Dia mau gambar ini ada waktu Ibu bangun lagi," katanya. "Dia bikin sampai jam dua pagi."
"Mas pulang mandi dulu sesudahnya," kata Fina. "Mas bau."
Revan mencium bajunya sendiri, meringis, dan tidak membantah. Ia menurut tanpa mencari alasan lain, dan Fina diam-diam menyimpan fakta kecil itu di tempat yang belum ia beri nama.
•||•
Pukul sebelas, terdengar bunyi roda berdecit di lorong. Fina menoleh ke pintu, mengira itu troli sarapan yang terlambat.
Yang muncul adalah kursi roda. Di baliknya, Dimas, dengan kemeja digulung dan wajah yang sengaja dibuat datar. Di atas kursi roda, memakai kerudung krem dan gamis longgar, dengan bayi merah muda di dadanya yang terbungkus kain tipis, duduk Hasna.
"Mbak Hasna," kata Fina. Suaranya naik tanpa ia izinkan. "Mbak baru empat hari. Jahitannya..."
"Jangan ceramahi aku, Fin." Hasna mengangkat satu tangan. Wajahnya pucat, ada lingkar gelap di bawah matanya, tetapi dagunya naik seperti dulu. "Aku keluar rumah sakit pagi ini. Mama melarang aku mampir ke sini. Mama bilang, pulang dulu, Hasna, kamu belum boleh ke mana-mana. Jadi kubilang ke Dimas, belok kiri."
"Gue sudah bilang itu ide buruk," kata Dimas dari belakang kursi.
"Dan kamu tetap mengantarku."
"Karena kalau gue nggak antar, lo bakal naik taksi daring sendirian."
Hasna tidak membantah. Itu cukup menjawab.
Dimas mendorong kursi sampai di sisi ranjang, mengerem rodanya, lalu mundur tanpa berkata-kata. Ia berhenti di ambang pintu, membelakangi mereka, seperti penjaga yang tahu persis bagian mana dari ruangan itu bukan miliknya.
"Mas Dimas," panggil Fina. "Terima kasih."
"Sama-sama, Fin." Ia tidak menoleh. "Gue di luar kalau perlu."
Pintu setengah menutup. Hasna meletakkan sebuah tas kain di pangkuannya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Gumpalan rajutan merah muda pucat, masih bergantung dua jarum bambu pada ujungnya.
Fina tidak bergerak. Matanya hanya pada gumpalan benang itu.
"Ini di keranjangmu di kamar," kata Hasna. "Kusuruh Mbak Marni mengambilnya dan menitipkannya ke Dimas tadi pagi. Aku tidak tahu caranya merajut, jadi jangan salahkan aku kalau ada yang terlepas." Ia mengangkat bahu. "Aku pikir kamu pasti ingin tahu selimut itu aman. Dan aku pikir... Kirana butuh selimut yang kamu bikin. Bukan yang dibeli."
"Sebentar lagi selesai." Fina menyentuh gumpalan itu dengan ujung jari. Benangnya lembut. "Tiga hari lagi mungkin empat."
"Kalau begitu kamu harus sembuh dulu, dan merajut sisanya."
"Iya."
Hasna menarik napas, lambat, mencari kata. Fina tidak membantunya. Ada hal-hal yang memang harus dicari sendiri.
"Aku mau bilang terima kasih," kata Hasna. "Dan aku benci mengatakannya. Aku sudah latihan di mobil. Terdengar lebih gampang di mobil."
"Untuk apa?"
"Untuk menyuruh Revan pergi. Dimas cerita. Kamu sudah di depan pintu operasi, dan kamu bilang, tunggu aku masuk, setelah itu pergi." Suaranya serak. "Orang yang mau mati dan tetap menyuruh suaminya pergi ke istri lain. Aku tidak bisa membayangkan melakukan itu."
"Aku tidak mau mati."
"Aku tahu. Justru itu."
Fina memandang bayi di dada Hasna. Wajah kecil yang merah, kelopak mata tipis seperti kertas, bibir yang bergerak mengisap udara dalam tidur.
"Anak itu berhak punya ayah yang hadir," kata Fina pelan. "Waktu Langga lahir, ayahnya tidak ada. Aku tidak mau ada anak lain yang tumbuh dengan cerita begitu karena aku."
Hasna terdiam lama.
"Aku pikir kamu menang," ucapnya akhirnya. Matanya menatap bayinya, bukan Fina. "Waktu aku melihat Revan menangis di rumah sakit, waktu dia menolak berbohong, aku pikir ada pertandingan dan kamu menang dan aku kalah. Aku benci kamu karena itu. Lalu aku melahirkan. Dan semalam aku tidak bisa tidur karena sadar, tidak pernah ada pertandingan. Cuma aku yang salah hitung."
Fina tidak menjawab. Ia tidak tahu jawaban yang pantas untuk sesuatu yang sejujur itu.
"Mbak sudah tenang sekarang?" tanya Fina.
"Belum." Hasna tertawa kecil, pendek, tanpa suara. "Mama menangis di mobil tadi. Katanya aku keras kepala, dari kecil sudah begitu. Aku bilang, Ma, itu bukan keras kepala, itu aku cuma mau sampai sini. Mama diam. Mama jarang diam."
Ia menatap jendela, lalu kembali pada Fina. "Ada yang sedang kupikirkan, Fin. Besar. Belum waktunya kuceritakan, ke kamu atau ke siapa pun. Aku cuma mau kamu tahu aku tidak sedang menyembunyikan sesuatu untuk menyakitimu."
"Aku percaya."
"Kamu terlalu gampang percaya."
"Mungkin." Fina tersenyum letih. "Tapi Mbak datang membawa benang rajutku. Orang yang mau menyakiti tidak datang membawa benang."
Hasna mengangkat bayi di dadanya dengan dua tangan yang gemetar. "Pegang dia. Perawat boleh bantu. Aku mau dia kenal kamu."
Perawat yang berjaga mendekat tanpa diminta, menyusun bantal di lengan Fina, dan meletakkan Kirana dengan hati-hati di lekuk siku kirinya, tempat tidak ada selang. Beratnya tidak lebih dari semangkuk nasi. Hangatnya menyebar ke seluruh lengan.
"Halo, Kirana," bisik Fina. Ia lupa bahwa ia sedang sakit. "Aku Fina. Aku yang merajut selimutmu. Belum selesai, tapi hampir."
Bayi itu menggeliat. Satu tangan mungil keluar dari kain, membuka dan menutup, mencari. Jari-jarinya menyentuh telunjuk Fina, ragu, lalu menggenggamnya. Erat sekali, jauh lebih erat dari yang seharusnya mungkin untuk makhluk sekecil itu.
Fina tidak berkedip. Di sisi kursi roda, Hasna menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Dia nggak mau lepas dari kamu," kata Hasna dari balik jarinya.