Aku Fara Adelina yang terlahir sebagai alat . Aku gak pernah dapatkan sanjungan ataupun dihargai.
Hidupku sangat menderita, orang tuaku bekerja siang malam tanpa henti, hingga kemauan anaknya pun mungkin mereka tak mengerti.
Hari-hari ku ditemani bisingnya alat kebersihan dan gelapnya malam, mereka hanya tau cara menghidupi ku dengan uang.
Apa itu kasih sayang? dan bagaimana rasanya di peluk hangat saat sedang terpuruk ?
Setiap hari, ku bersemayam dalam ketakutan dan was-was seorang diri. Mengerjakan semua tugas rumah tanpa henti tanpa mengenal waktu.
Seolah duniaku hanya berputar didalam rumah, ingin keluar menghirup udara segar bersama teman-teman pun.. sangat sulit untuk dilakukan.
Orang tua Durjana itu selalu memarahi bila tau aku menghabiskan waktu di luar sana dan pulang sedikit terlambat. Pernah suatu hari aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah, juga tugas sekolah.
Karena waktu masih sore menjelang petang alias pukul 3 sore dan kebetulan temanku akan mengadakan pesta. Akupun memutuskan untuk ikut menghadiri, sungkan juga terus menerus menolak ajakan mereka.
Pertengahan acara berlangsung, dering telepon mengalun pelan dan suara diseberang minta untuk segera pulang sebab ada sesuatu hal penting yang harus dibahas.
sepersekian detik setelah panggilan berakhir, jantungku berdetak kencang tak beraturan dan d**a ku serasa sakit bahkan perih untuk bernafas rasanya seperti menelan duri.
Aku berlari keluar setelah meminta izin meninggalkan tempat acara dan meminta maaf tidak bisa mengikuti acara hingga selesai.
Diperjalanan aku terlalu bar bar dalam mengendarai motor, dan beberapa kali hampir menyerempet pengguna jalan lain.
Aku tak peduli hinaan dan teriak mereka semua, yang terpenting sekarang sampai rumah tepat waktu. Aku terlalu overthinking dan sudah membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
Mungkin sapu akan melayang di atas punggung ku ? atau mungkin sandal yang membungkam mulut ini. Sial harusnya dia tak mengajak ku keluar
Aku terus saja menangis ditengah perjalanan dan sesekali mengusap air mata. Dipertengahan aku tak sengaja menabrak pengendara yang akan menyeberang jalan, pengendara itu berdiri dan menatap ku tajam.
Aku yang masih dengan posisi duduk diatas motor menatap nya dengan gemetar dan was-was.
" duhh ribet nih, pasti kena omel dan minta ganti rugi. pura pura ajalah" batinku
Pemotor itu mendekati ku dengan langkah lebar, aku pun spontan berdiri sambil menahan sakit di lututku.
"ma...maaf kak gak sengaja, anu tadi buru-buru soalnya jadi gak lihat. abisnya kakak sendiri yang tidak hidupin lampu sen" dengan nada memelas aku menjelaskan.
"APA ! jelas jelas saya sudah pelan dan kamu yang seenak jidat ngebut dari arah berlawanan. POKOKNYA KAMU HARUS GANTI RUGI, SAYA GAK MAU TAU !"
"ta.. tapi kak saya tidak ada uang untuk meng mengganti kerusakan. bi... bisa pakai cara lain gak kak ? asal bukan uang" (tanyaku dengan nada memelas)
(duh tabungan masih dikit masa ganti rugi, abis dong buat ke bengkel. cara lain ajalah paling juga permintaan sepele)
Pemotor itu membuka helmnya dan menyunggingkan sudut bibirnya. tatapan matanya tak setajam saat masih terlihat dalam kaca helm.
aku menelan ludah getir, saat tangannya menyentuh wajahku. tatapan matanya kian lama kian menurun (dibuat merinding tubuhku ini)
"gw Putra Rizki, panggil aja gw Riz. nih catatan nomer gw." (kertas kecil digenggaman ku, Langsung pergi)
Gilak tuh cowok masa langsung pergi gitu aja, ninggalin gw. tapi ganteng juga dia body nya woww, tangannya kekarrr. meleleh hati adek bang.
ehh amit amit cowok kayak gitu gw puji puji, anehh.
(melanjutkan perjalanan)
"