Aina tersenyum melihat mobil MPV putih berhenti tepat di depan rumah pamannya, tanpa menunggu lagi dia berlari menghampiri mobil tersebut. Dari dulu Rafi tidak pernah mengecewakannya, selalu tepat waktu jika mereka memiliki janji. Dia membuka pintu depan dan duduk di samping Rafi, tersenyum manis pada pria itu.
“Menurut Mas, Ai cocok nggak pakai baju ini?” tanya Aina menyerongkan tubuhnya ke arah Rafi.
Rafi memperhatikan wanita di sampingnya yang mengenakan dress tanpa lengan warna kuning lembut dengan motif bunga-bunga kecil biru yang manis. Dia terlihat cantik dengan make up tipis yang menyapu wajahnya. “Cocok, kamu cantik sekali,” kata Rafi tersenyum.
Wajah Aina merona, senyuman di bibirnya tampak semakin lebar. Dia kembali menghadap depan dan membiarkan Rafi melajukan kendaraannya.
“Mas sama Mbak Andara mau keluar jam berapa nanti malam?” tanya Aina setelah beberapa saat mobil melaju di jalanan. “Takutnya entar Ai kelamaan.”
“Mungkin jam tujuh,” sahut Rafi sambil tetap memperhatikan depan.
“Memangnya mau ke mana?”
“Hmm … makan malam,” Rafi kembali menjawab pendek.
Aina menunduk, wajahnya terlihat muram. “Ai iri sama Mbak Andara, dia pasti bahagia banget punya suami kayak Mas Rafi.”
Rafi menoleh pada Aina sekilas, dia menghela napas, kemudian menepuk-nepuk punggung tangan wanita itu sebentar. Sekadar menghiburnya? Mungkin iya, atau mungkin hanya karena Rafi tidak tahu harus berkata apa.
“Mas, mau jawab pertanyaan Ai nggak?” Aina tiba-tiba mendongak, menatap pria di sampingnya dengan serius.
“Pertanyaan apa?”
“Tapi Mas harus jujur ya?”
Rafi mengangguk.
“Waktu Mas nikahin Mbak Andara, apa Mas cinta sama dia?”
Rafi melirik Aina, kemudian kembali melihat ke depan. Selama beberapa saat dia hanya diam.
“Kalau Mas keberatan buat jawab, nggak apa-apa kok.”
“Awalnya nggak,” jawab Rafi tiba-tiba.
Diam-diam, Aina merasakan hatinya mengembang, jika Rafi menikahi Andara bukan karena cinta, berarti pria itu masih memiliki perasaan padanya. Tanpa ia sadari, bibirnya membentuk lengkungan ke atas.
“Tapi Andara wanita terbaik yang pernah Mas temui,” lanjut Rafi pelan. “Dia ibu yang sempurna buat anak-anak Mas.”
Senyum di bibir Aina menghilang. “Tapi apa Mas mencintai Mbak Andara?” tanyanya pedih. Dia menatap pria yang hingga kini masih sangat ia cintai.
Rafi diam tidak menjawab.
Wanita itu memalingkan wajah, pandangannya lurus ke depan. Benaknya dipenuhi penyesalan masa lalu, andai dia tidak pernah meninggalkan Rafi untuk menikah dengan pria lain, dia pasti sudah jadi istri Rafi saat ini. Dulu Aina masih terlalu muda, tekanan dari keluarganya membuat wanita itu tidak bisa memilih. Hubungan percintaannya bersama Rafi yang terjalin sejak SMP terpaksa ia tinggalkan demi memenuhi tuntutan orangtuanya, menikah dengan laki-laki pilihan mereka.
Sekarang dia sudah berusia dua puluh enam tahun, tahu apa yang dia inginkan. Dia juga tahu Rafi masih mencintainya, hanya rasa tanggung jawab dan kasihan pada Andara-lah yang mungkin masih membuatnya mempertahankan pernikahan mereka. Tapi Aina tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya, dia harus memperjuangkan kebahagiaannya, setelah bertahun-tahun menderita karena perlakuan mantan suami dan mertuanya.
“Mas, nanti Mas nggak usah nungguin Ai ya? Ai kayaknya bakal lama deh,” pinta Aina menoleh pada Rafi.
“Nanti kamu pulangnya naik apa?”
“Biar nanti Ai telepon Om Hasto saja minta dijemput.”
Rafi melirik Aina sekilas, kemudian mengangguk sambil mengucapkan kata, “Oke.” Dia tidak menyadari perubahan wajah Aina yang menjadi tegang.
******
Menatap langit selalu bisa membuat hati Andara merasa tentram, terutama jika ia sedang memiliki masalah seperti saat ini. Karena itu dia menambahkan lantai terbuka di atas kamar yang sengaja ia buat di toko. Untuk menenangkan diri jika ia merasa penat dan lelah.
Andara termenung, pikirannya dipenuhi dengan foto-foto Aina. Dia tidak pernah tahu sebelumnya jika wanita itu sangat cantik, masih muda dan terlihat menawan. Itu membuat hatinya semakin merasa perih, dia bukan apa-apanya Aina, pantas saja jika suaminya tidak pernah bisa move on dari wanita itu.
Andara meraih telepon genggamnya dengan malas ketika mendengar benda itu berdering.
“Halo,” sapanya sopan.
“Ini dengan Mbak Andara?”
“Ya, betul. Ada yang bisa dibantu, Mbak?” jawab Andara sambil mencari-cari buku catatan yang biasa ia selipkan di saku, sebagai persiapan jika sewaktu-waktu ada yang meneleponnya untuk memesan kue.
“Ini Aina, Mbak Andara. Mungkin Mbak nggak pernah kenal saya, tapi saya sangat mengenal Mbak Andara.”
Tangan Andara yang sedang meraba-raba sakunya terhenti, mendadak dia merasakan denyutan nyeri pada hatinya.
“Aina…,” gumamnya parau. Wanita yang meneleponnya ini … wanita yang dicintai suaminya.
“Ya. Maaf jika mengganggu, tapi bisa saya bertemu Mbak Andara? Ada yang perlu saya bicarakan dengan Mbak.”
Andara terdiam, dia merasa ada sesuatu yang mencekik lehernya hingga tidak sanggup berkata apa-apa. Dadanya terasa sesak karena menahan napas.
“Mbak Andara?”
“Y-ya,” susah payah Andara berusaha menjawab.
“Mbak Andara bersedia bertemu saya?”
“Y-ya, bisa. Kapan?”
“Kalau bisa sekarang.”
“Di mana?”
Andara mengingat nama restoran yang disebutkan Aina, kemudian dia mematikan telepon dan bergegas berdiri. Menuruni tangga dengan terburu-buru.
******
Dua wanita itu duduk berhadapan, memilih tempat di sudut yang jauh dari pengunjung lain. Saat Andara datang, Aina sudah menunggunya, sedang menatap jendela yang terkena tetesan air hujan. Beberapa hari ini Jakarta selalu mendung, tapi baru sekarang hujan turun dengan begitu derasnya.
Aina menatap wanita di depannya dengan gugup, berkali-kali dia menghela napas seolah ingin melepaskan beban yang menghimpit dadanya.
“Maaf sudah mengganggu waktu Mbak Andara,” katanya parau, kemudian dia berdeham mencoba menghilangkan sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. “Saya … Aina.”
“Aku tahu,” jawab Andara pendek. Matanya menatap lurus ke arah wanita yang tengah berbicara padanya. Kembali denyutan nyeri itu menghampirinya, menyadari Aina terlihat lebih cantik dari foto yang dia temukan di email suaminya.
“Oh, ya,” gumam Aina gugup. Dia diam sesaat, kemudian memberanikan diri untuk memulai lagi percakapan. “Mungkin Mbak belum pernah dengar tentang saya, saya—”
“Kamu mantan pacar suamiku. Aku juga tahu itu,” potong Andara yang membuat Aina kembali menutup mulutnya.
Wanita itu menunduk, memainkan jemarinya dengan gugup. “Ya, saya mantan pacar Mas Rafi,” gumamnya pelan. “kami berhubungan sejak kelas dua SMP, dia cinta pertama saya. Sebaliknya, saya juga cinta pertama Mas Rafi.” Saat mengucapkan kalimat terakhir, Aina mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap wanita di depannya. Jika ingin meraih kebahagiaannya, dia harus berani menunjukkan pada Andara, kalau dia adalah bagian penting dalam kehidupan Rafi.
Andara tersenyum kecut. Cinta pertama ya? Cinta yang tidak akan pernah dilupakan semua orang. Sayangnya cinta pertama Andara adalah laki-laki yang dia nikahi, hingga dia belum mengerti bagaimana rasanya kehilangan cinta pertama. Mungkin dalam waktu dekat, dia akan merasakannya….
“Kami sudah berencana menikah, saya bahkan bersedia menyerahkan kehormatan saya pada Mas Rafi….”
Kilat terkejut terpancar dari mata Andara, dia menatap lekat pada lawan bicaranya. Tenggorokannya mendadak kering di udara sedingin ini, buru-buru diteguknya jeruk hangat yang tadi ia pesan.
“Saya bukan hanya cinta pertama Mas Rafi, saya juga wanita pertamanya,” tegas Aina.
Setelah berhasil menenangkan diri, Andara kembali menatap Aina. “Lalu?” tanyanya dingin. “Setiap orang memiliki ‘hal pertama’ yang kemudian dia tinggalkan, bukan?”
Wajah Aina memerah, perasaan terhina membuatnya semakin berani. “Ya, Mbak Andara benar,” katanya. “Tapi yang mungkin Mbak Andara tidak tahu, Mas Rafi meninggalkan saya karena terpaksa. Keluarga saya menginginkan saya menikah dengan pria pilihan mereka.” Aina menatap Andara tanpa ekspresi, rasa gugup yang tadi ia rasakan saat pertama berbicara dengan istri orang yang dicintainya, lenyap begitu saja.
“Selama ini saya menganggap telah meminjamkan Mas Rafi pada Mbak Andara, dan sekarang saatnya saya meminta kembali apa yang seharusnya jadi milik saya.”
Perasaan marah menjalar pada diri Andara, tapi dia berusaha mengendalikannya sebaik mungkin. “Mas Rafi bukan barang, dia bukan milik siapa-siapa,” ujar Andara gusar sambil berusaha memelankan suaranya. Dia tidak ingin semua orang di restoran ini tahu apa yang mereka bicarakan. “Dia memilih menikahiku, bukan kamu.”
“Mas Rafi memilih menikahi Mbak Andara karena tidak bisa menikahi saya, hal itu dia lakukan untuk pelampiasan,” balas Aina mematahkan ucapan Andara. “Hari ini Mas Rafi bilang pada saya kalau dia tidak mencintai Mbak saat menikahi Mbak Andara, karena itulah saya memberanikan diri menemui Mbak Andara.”
Sudut mata Andara memanas. Rafi mengatakan itu pada Aina? Begitu cintakah dia pada Aina hingga membicarakan hal-hal sensitif tentang dirinya pada wanita itu? Andara menggeleng pelan, dia buru-buru menghapus sudut matanya sebelum air mata j*****m itu menetes. Kemudian berdiri sambil meraih tasnya.
“Aku harus menjemput anakku,” katanya bersiap pergi. Namun Aina menahan dengan meraih tangannya.
“Mbak sudah pernah merasakan kebahagiaan dengan Mas Rafi, sekarang biarkan saya merasakan kebahagiaan saya, Mbak. Saya mohon, lepaskan Mas Rafi, dia tidak mencintai Mbak Andara.”
Andara berusaha melepaskan tangan Aina, tapi wanita itu sama sekali tidak melonggarkan cekalannya.
“Saya baca semua status-status Mbak di sss tentang Mas Rafi, Mbak selalu berpikir dia suami yang sempurna, yang sangat mencintai Mbak sepenuh hati. Sadarkah Mbak kalau Mbak Andara sudah membohongi diri sendiri? Sudah setahun saya berhubungan lagi dengan Mas Rafi, kami bertemu setiap hari, dan saat dia sedang bersama saya, tidak sedikit pun dia teringat pada Mbak Andara. Kalau selama ini dia bersikap baik pada Mbak Andara, itu hanya bentuk dari rasa tanggung jawabnya karena Mbak Andara istrinya, bukan karena dia mencintai Mbak.”
Rasa marah bercampur sedih terlihat jelas dari raut muka Andara, sekuat tenaga dia menahan air matanya agar tidak menetes. Dengan sekali sentakan yang kuat, dia berhasil melepaskan cekalan Aina, mengangkat tangannya dan menampar pipi wanita itu keras.
“Kalau memang akhirnya aku melepaskan Rafi, itu bukan karena kamu. Tapi karena dia tidak pantas untuk terus bersamaku!” desis Andara, kemudian berbalik dan meninggalkan Aina yang meringis kesakitan.