Pukul sembilan lebih sedikit Bude Lastri mengantar Kasih dan Cinta pulang. Andara langsung mengajak kedua buah hatinya ke kamar mereka dan tidak keluar lagi. Rafi yang mengetahui hal itu hanya duduk di ruang tengah, menatap pintu kamar yang tertutup rapat dengan nanar. Hatinya gamang, bingung dan sedih, menyesali semua yang sudah terlanjur terjadi. Dia tidak bisa menyalahkan Aina karena wanita itu menemui Andara, yang harus disalahkan adalah dirinya sendiri. Dia yang bermain api, pada akhirnya dia juga yang harus terbakar. Namun sayangnya api yang sudah ia nyalakan tidak hanya membakar dirinya.
Getaran pada saku Rafi membuyarkan pikiran pria itu, dengan malas dia mengambil telepon genggamnya dari saku dan melihat sebuah pesan yang dikirimkan Aina.
Kita harus bicara.
Bunyi pesan tersebut. Tapi Rafi mematikan ponsel dan meletakkan benda itu tanpa membalas. Dia akan bicara dengan Aina, tapi tidak sekarang. Yang ada di pikirannya saat ini hanya berharap agar besok Andara sudah memaafkannya, setelah itu, dia bisa menyelesaikan urusannya dengan Aina.
Namun saat terbangun keesokan harinya, Rafi menyadari harapannya tidak akan terpenuhi secepat itu. Ketika membuka matanya dia masih berada di sofa, di ruang tengah yang berhadapan dengan kamar putrinya. Melihat pintu di depannya sudah terbuka, pria itu segera berdiri dan melongok ke dalam kamar. Kasih dan Cinta masih terlelap, tapi dia tidak menemukan Andara. Rafi langsung beranjak menuju ke belakang. Seperti dugaannya, wanita yang ia cari sudah ada di sana, melakukan pekerjaan rumah seperti biasa.
“Dek,” panggil Rafi pelan.
Andara hanya menoleh sekilas, senyum yang biasa terpasang di wajahnya kini sama sekali tidak tampak, kemudian dia kembali sibuk memasukkan baju-baju ke mesin cuci.
“Masih marah?” tanya Rafi menghampiri istrinya, menyentuh bahu wanita itu lembut.
Marah? Andara tidak tahu apa kemarahan yang ada di hatinya saat ini, dia merasa dadanya sesak setiap kali melihat Rafi, rasa nyeri menggeliat di dalamnya, memaksa air matanya turun saat teringat apa yang sudah dilakukan suaminya. Perasaan itu menyiksanya … sangat menyiksanya.
“Mulai hari ini aku akan menetap di toko, Mas. Bersama anak-anak,” kata Andara tanpa melihat ke arah Rafi.
Rafi menarik tangannya dari bahu Andara, wajahnya mendadak pucat. “Tapi di toko cuma ada satu kamar, Dek,” ucapnya pelan, lebih kepada pasrah, dia tahu Andara tidak akan mengurungkan niatnya.
“Nggak masalah, kami bisa tidur bertiga,” gumam Andara sambil memasukkan detergen ke mesin cuci dan kemudian menekan tombol on. “Oya, mobil nanti kubawa, aku butuh buat ngantar anak-anak sekolah.”
“T-tapi nanti Mas ke kantor naik apa?”
Andara menoleh ke arah Rafi, menatap pria di sampingnya sambil mengernyit. “Kamu bisa bawa motor,” ujarnya datar.
“M-motor?”
“Kenapa? Mas keberatan? Mas khawatir Aina nggak mau diajak Mas lagi kalau Mas nggak bawa mobil?” tukas Andara ketus.
Rafi melongo, seketika wajahnya jadi merah padam. Selama tujuh tahun pernikahan mereka, baru kali ini Andara berkata ketus seperti itu kepadanya. Apa yang baru saja dituduhkan Andara sama sekali tidak benar, dia hanya merasa canggung ke kantor membawa motor setelah terbiasa membawa mobil.
Tanpa memedulikan ekspresi Rafi, Andara berlalu meninggalkan suaminya menuju dapur. Sedikit rasa puas menyelusup masuk ke dalam hatinya. Mobil itu, dia yang membelinya. Menggunakan tabungan dari keuntungan toko roti yang ia kumpulkan. Tentunya Andara merasa sakit hati sekali mengetahui Rafi tidak hanya menggunakan mobil tersebut untuk ke kantor tapi juga untuk bertemu dengan mantan pacarnya yang masih ia cintai. Bahkan mungkin mereka berdua sering menghabiskan waktu di dalam mobil. Andara bergidik jijik membayangkan apa saja yang mungkin dilakukan suaminya bersama Aina di dalam mobilnya. Dia harus mencuci mobil itu bersih-bersih! Jika mungkin, menjualnya dan mengganti yang baru. Sebuah MPV terlalu besar kalau dipakai Sebuah city car terasa lebih cocok untuknya dan anak-anak.
******
Ini malam ketiga Andara tidur di toko. Kedua putrinya sudah terlelap, dan dia hanya menatap nyalang langit-langit kamar tanpa bisa memejamkan mata sedikit pun. Kata-kata yang diucapkan Aina terngiang kembali di telinganya.
“Saya baca semua status-status Mbak di sss tentang Mas Rafi, Mbak selalu berpikir dia suami yang sempurna, yang sangat mencintai Mbak sepenuh hati. Sadarkah Mbak kalau Mbak Andara sudah membohongi diri sendiri? Sudah setahun saya berhubungan lagi dengan Mas Rafi, kami bertemu setiap hari, dan saat dia sedang bersama saya, tidak sedikit pun dia teringat pada Mbak Andara. Kalau selama ini dia bersikap baik pada Mbak Andara, itu hanya bentuk dari rasa tanggung jawabnya karena Mbak Andara istrinya, bukan karena dia mencintai Mbak.”
Persetan!
Dada Andara tiba-tiba terasa panas. Perasaan marah dan sedih menguasainya, dia bangkit dan meraih ponselnya lalu membuka aplikasi f*******:. Tangannya gemetar saat menggeser layar ke peraturan f*******: dan menandai pilihan “hapus akun selamanya”, lalu menekan “lanjutkan ke penghapusan akun”. Setelah melakukan semua itu, dia menangis seorang diri.
Andara tahu semua ini tidak akan mudah baginya. Mengatasi masalahnya tidak mungkin semudah menghapus akun f*******:, atau menutupi lingkaran hitam di bawah matanya dengan color correction dan concealer. Tidak apa. Dia akan mengusahakan yang terbaik. Saat ini dia hanya perlu menangis, menangis hingga semua rasa sakitnya memudar. Setelah itu dia siap bangkit dan menjalankan kehidupan seperti biasa lagi. Demi buah hatinya, demi masa depannya.
Dan seperti yang ia harapkan, Andara selalu bisa menyimpan air matanya saat kembali menghadapi hari. Dia memasang senyum manis setiap kali berbicara dengan kedua buah hatinya, bekerja dengan efisien dan menemui pelanggan toko dengan wajah ceria. Sedikit tambahan make up mampu menyembunyikan sembab pada kedua matanya.
Andara melirik jam di dinding ruangannya, pukul 14.30, sudah waktunya dia menjemput Kasih dan Cinta. Dia segera beranjak dari kursi dan meraih tas, memasukkan ponsel yang tergelatak di meja ke dalamnya, kemudian melangkah menuju pintu keluar.
Saat membuka pintu, Andara dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang sudah berdiri di depannya.
“Kenan?!” teriaknya spontan.
Pria di hadapan Andara tersenyum. “Halo, Andara. Apa kabar?”
“Wah, kejutan kamu mampir ke toko kueku, mudah-mudahan ini kabar baik ya?” cengir Andara sumringah. Kenan sahabatnya sejak SMP, tapi meski masih sama-sama tinggal di Jakarta, sejak dia menikah dengan Rafi mereka sudah jarang berkomunikasi.
“Kabar baik seperti apa misalnya?” tanya Kenan mengerutkan keningnya.
“Mungkin kamu mau ngantar undangan sekaligus pesan kue pengantin?”
Kenan terkekeh. “Sayangnya nggak,” ujarnya.
“Ya … sayang sekali,” gumam Andara memasang wajah kecewa, “aku nggak jadi dapat orderan besar dong,” sambungnya sambil berpura-pura cemberut. Disambut tawa yang semakin keras dari Kenan.
“Tenang saja, aku pasti pesan kue sama kamu kalau aku nikah nanti,” gurau pria itu masih tertawa.
“Alaaah … kapan? Keburu kamunya kadaluwarsa entar nggak ada yang mau lho,” sahut Andara sambil menutup pintu.
“Kamu mau pergi?”
“Iya nih. Sorry, ya … aku harus jemput Cinta sama Kasih sekarang. Kamu tunggu saja di sini, cuma sebentar kok.”
“Boleh ikut?”
Andara memandang Kenan, melihat raut wajah pria itu yang tiba-tiba jadi serius.
“Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, An. Aku antar kamu jemput anak-anak sambil kita membicarakannya di mobil.”
Andara diam beberapa saat, kemudian dia mengangguk, dan tanpa berkata apa-apa, dia berjalan mendahului Kenan. Entah kenapa dia merasa Kenan mengetahui masalahnya, tapi dari siapa?
Bersambung....