Tak ada yang dapat dilakukan keduanya kala Joan membawa Devi serta anak-anaknya ke dalam kehidupan keluarga Liana dan Anjani.
Setelah memperkenalkan secara resmi, Joan juga menambahkan bahwa Devi akan tinggal bersama dalam satu atap demi menghindari adanya tudingan ketidakadilan sikap Joan terhadap dua istri dan tiga anaknya.
Pendapat itu dibantah oleh Liana.
“Mas, bukankah lebih baik jika kamu membelikan hunian baru untuk mereka tinggali saja, itu baru namanya adil!” protes Liana.
Ketika mengatakannya, rasanya ia lega telah merasa bisa melemparkan sebongkah gundah dalam hati.
“Justru itu, kalau kubelikan rumah baru, nanti yang ada kamu dan Devi saling tuduh aku tak adil dan akhirnya kalian bertengkar karena aku. Jadi, untuk sekarang begini keputusanku. Semalam kita sudah mendiskusikan ini,” bisik Joan.
Yup, mereka kini tengah bicara empat mata dan meninggalkan Anjani sendiri di antara calon ibu tiri serta dua anaknya yang kembar.
“Mas, ini nggak mungkin!” Sekali lagi Liana memprotes suaminya, berharap ia akan berubah pikiran.
“Liana, maaf. Semua sudah kuputuskan.”
Sejenak Liana diam. Dia menatap kecewa.
“Baiklah kalau memang begitu keputusan kamu, Tapi, untuk sekarang jangan dulu membawa dia tinggal di sini. Apa tanggapan warga nanti kalau mereka tahu Mas bawa Devi ke sini sebelum pernikahan terjadi?! Setidaknya, kalian menikahlah lebih dulu. Itu saja dariku!” Liana tak mau lagi mendengar suaminya membantah, ia pun melengos pergi setelah mengatakannya.
Di ruang tamu sana, Devi serta dua saudaranya berlagak sok dekat dan akrab, berharap bisa memenangkan hati Anjani yang merasa tak nyaman. Jika ditanya, ia hanya cukup menjawab iya atau tidak.
Meski hati sebal, Anjani juga tak dapat membantah kata-kata sang ayah. Terlebih lagi ibunya yang sudah mengikhlaskan tentang pernikahan antara Joan dan Devi.
“Anjani, ayo pergi,” ajak Liana seraya menarik tangan putrinya yang masih duduk di sofa.
Devi dan kedua putrinya menatap tak suka. Selepas keduanya pergi, anak sulungnya yang bernama Fira berbisik.
“Bun, aku nggak suka sama gayanya, nyebelin!” Devi yang mendengarnya langsung menyikut pelan.
“Hush! Jangan bicara sembarangan, nanti kedengeran papamu! Ingat, tujuan kita ke sini untuk apa?! Jangan membuat masalah!” balasnya kembali berbisik.
Fira langsung menutup mulutnya rapat. Bersamaan dengan itu, Joan datang. Ketiganya langsung tersenyum biasa.
“Maaf, ya, suasananya tidak mengenakan begitu. Dan, setelah diskusi dengan Liana, sebaiknya kamu dan anak-anak pulang saja dulu. Maaf, aku tak berpikir dulu sebelumnya, tapi benar kata Liana, kita harus menikah dulu baru setelah itu kamu dan anak-anak bisa tinggal di sini,” kata Joan terpaksa. Pada akhirnya, ia bisa sedikit berpikir waras.
Devi dan kedua anaknya tampak kecewa, tetapi mau bagaimana lagi, semua sudah diputuskan.
Dengan raut kesal, Devi memaksakan senyum palsunya.
“Oh, enggak apa-apa, Mas. Wajar saja, Liana pasti nggak suka kami dan menganggapku sebagai pelakor. Jadi ....”
“Cukup, Devi. Kamu jangan berpikir begitu. Liana, walau pun dia memang tidak menyukai kamu, tapi dia tidak pernah menuduh kamu pelakor atau apalah. Malah, dia memberi kita restu untuk menikah secara sah. Tolong jangan bicara begitu lagi, ya.” Joan memotong ucapannya yang seolah-olah memprovokasi kedua anaknya.
Mendengar pembelaan Joan, Devi mendengkus. Meski begitu, ia tetap minta maaf pada Joan dan tak akan mengatakannya lagi, apalagi di depan anak-anaknya.
“Oke, Mas. Aku akan sabar menunggu sampai kita menikah. Maaf.”
Tak ada lagi kata. Pagi itu Joan langsung mengantar kembali Devi dan kedua anaknya ke rumah petak kecil di pojok kota metro.
“Nah, sabar dulu, ya, sampai kita menikah. Nggak lama, kok, cuma dua minggu lagi.”
Devi mengerucutkan bibir, membuat Joan merasa tak enak hati. Lelaki itu lantas menyunggingkan senyum dan meraih punggung tangan mantan kekasih yang akan segera ia nikahi itu penuh kasih sayang.
“Jangan cemberut, sabar.”
Melihat itu, Fira dan Fara yang sedari tadi mengintip di ambang pintu kamar pun senyum-senyum iseng. Lalu, keduanya masuk ke kamar dengan niat tak mau mengganggu. Saat itu, di ruang tamu sempit, Devi merangkul lengan Joan dengan manjanya, lalu menyandarkan kepala di bahu kekar itu.
“Mas, kamu janji nggak akan tinggalin aku lagi, kan?” tanyanya pelan.
Joan yang sempat bisa melupakannya kini kembali merasakan adanya kembang-kembang asmara lagi terhadap sang mantan terindahnya. Ditambah, kini hadir dua anak kembar hasil percintaannya belasan tahun lalu sebelum berpisah.
“Iya. Tidak akan. Aku janji. Mau ninggalin gimana, sedangkan aku punya dua anak dari kamu. Memangnya aku seberengsek itu?” balasnya. Ia masih mengelus-elus punggung tangan sang mantan.
“Makasih, Mas.” Wanita licik itu diam-diam menyunggingkan senyum tipis, merasa telah berhasil memenangkan hati Joan.
“Iya. Lagian, kenapa tidak datangi aku lebih cepat, sih?! Kenapa baru sekarang kamu datang bawa anak-anak kepadaku?”
Devi langsung bermuka panik, lalu ia menjelaskan jika dirinya tak mungkin bisa melakukan itu. Ia tahu waktu itu Joan sedang menikmati hidup baru dengan Liana, tak mungkin baginya menghancurkan keluarga yang baru saja bisa saling mencinta. Ia tak bisa.
Ini juga sebenarnya terpaksa sebab kedua anaknya yang sudah beranjak dewasa memaksa agar mereka bisa menemukan ayah kandungnya. Karena alasan tak tega, ia terpaksa masuk lagi ke dalam kehidupan sang mantan dan beresiko menghancurkan hubungannya dengan Liana.
Lihai sekali bicaranya wanita licik itu. Sudah jelas ia hanya mengada-ada.
“Kamu ini terlalu tegaan, sih. Ya sudahlah, terpenting sekarang adalah masa depan anak-anak. Kamu tak usah lagi risau soal biaya pendidikan dan lainnya. Aku bisa menanggung semua kalau soal harta. Dan, maaf karena aku sempat mencampakkan kamu dulu.”
Devi menatap bahagia, sekali lagi ia berterima kasih dan memeluknya mesra.
“Terus, soal orang tua kamu gimana, Mas? Aku takut,” katanya pelan. “Dulu, kita berpisah itu gara-gara kita tidak direstui, kan?” lanjutnya lagi.
“Itu dulu. Tapi sekarang beda, orang tuaku tak bisa melarang lagi setelah tahu kamu melahirkan anak-anakku. Jadi, jangam dipikirkan, ya. Kita akan mendapat restu kali ini,” ucap Joan pelan, berusaha menenangkan.
Mendengarnya, Devi semakin bersemangat, ia memeluk erat Joan. Perlakuannya membuat lelaki itu kembali merasakan gelora asmara muda yang telah lama tak ia rasakan dengan Devi.
Pria itu mengangkat dagunya pelan, menatap setiap cekung mata serta lekuk wajah dengan seksama. Perlahan, ia mulai mendekatkan wajah bermaksud mencium mesra. Namun, tak jadi ia lakukan sebab teringat ada dua anak-anak di rumahnya saat itu.
“Kenapa, Mas?” tanyanya berbisik pelan.
“Ada anak-anak di rumah, enggak enak. Kita, kan, belum sah,” balasnya tak kalah pelan.
Lantas Devi segera memanggil kedua putrinya, menyuruh mereka untuk pergi ke pasar belanja bahan makanan. Mereka pun menurut dan pergi.
“Mas, sekarang mereka sudah nggak ada, kalau mau ....” Devi tak malu-malu menawarkan diri kepada Joan yang sedari tadi sudah menahan nafsu.
Pria itu menelan ludah kala Devi menarik dasinya pelan, menuntun masuk ke dalam kamar.
“Mas, aku milikmu.”
Tak terdengar lagi suara obrolan, hanya suara-suara lenguhan samar dalam kamar petak kecil itu.
Bersambung.