Liana membiarkan suaminya menanam mawar merah di taman rumah, tetapi ia tak sadar jika suatu waktu dirinya akan terluka oleh duri dari tumbuhan tersebut. Semua hanya tinggal menunggu waktu.
**
Pada akhirnya, hari pernikahan pun tiba. Walau Anjani berat menerima, tetapi Liana yang berbesar hati meminta agar anaknya ikhlas.
“Ayo sayang,” ajaknya dengan wajah murung, tetapi masih sanggup mematri senyum, meski itu palsu.
Anjani menatap sedih, lalu ia memeluk ibunya dengan erat. Mereka saling merengkuh dan menumpahkan kesedihan itu berdua untuk sejenak, sebelum mereka benar-benar pergi menyaksikan ijab kabul yang akan segera dilakukan Joan Anderson.
Tepat pukul sepuluh siang, Joan mengucap ijab, menghalalkan Devi.
“Sah ...!” Serentak semua yang menyaksikan berkata.
Walau berat hati, Liana tak berdaya. Terlebih, ia sudah memutuskan untuk mengikhlaskan keduanya untuk bersatu.
Tak jauh dari Joan, Anjani dan Liana melihat Devi mencium tangan pria itu takzim, lalu Joan sendiri mengecup lembut kening Devi. Senyumnya tak berhenti terpatri saking bahagianya, sampai-sampai ia tak melirik Liana.
Anjani menyentuh punggung tangan ibunya dengan harapan bisa sedikit menenangkan. Mereka beradu tatap, tampak di kedua pasang mata itu embun tiba-tiba saja muncul. Liana yang menyadarinya langsung menggenggam tangan putrinya dan berbisik pelan.
“Tahan, Sayang. Jangan sampai kita menangis di sini, nanti papamu risih,” tegurnya di daun telinga.
Anjani mengangguk, ia berusaha tegar dan segera mengusap sudut matanya.
**
Sementara keduanya sibuk menata hati yang hancur, dua pasangan baru itu tampak bahagia. Wajah mereka berseri kala secara bergantian saling berbisik.
Adakah Liana cemburu? Tentu saja, wanita mana yang takkan merasa cemburu jika lelaki sah-nya tertawa bahagia bersama dengan wanita lain.
Hebatnya, Liana berusaha tegar dan menahan diri agar tak mempermalukan suaminya di depan umum.
“Liana, Anjani, ayo pulang sama mami. Toh, acaranya sudah selesai.” Mertuanya tiba-tiba mengajak pergi.
“Tapi, Mi ....”
“Ayo, Oma. Anjani ikut pulang sama Oma aja,” sela Anjani tanpa memotong perkataan ibunya. Kemudian, tanpa menunggu ibunya berkata lagi, Anjani langsung pergi menuju mobil omanya.
Wanita yang dipanggil oma oleh Anjani itu menatap pada Liana.
“Kamu enggak ikut kami? Atau masih mau memerhatikan kemesraan pengantin baru itu?” tanyanya serius.
Sekilas Liana menoleh pada Joan, tak rela jika harus meninggalkan suaminya dengan Devi, istri barunya.
Di kejauhan, Joan bersama Devi serta anak kembarnya tertawa-tawa bahagia, meraka bahkan tak memerhatikan keberadaan Liana dan Anjani.
Mau pergi, mau tidak, sepertinya Joan tak peduli.
“Dari pada jadi nyamuk, lebih baik kamu ikut mami. Kita pulang bareng, kalau perlu malam ini tinggal aja di rumah mami,” kata mertuanya seraya menatap secara bergantian antara Liana dan Joan di depan sana.
Sejenak Liana terdiam, benar apa kata mertuanya. Namun, tak mungkin baginya kalau menginap.
“Baiklah, Liana ikut mami pulang, tapi sepertinya kalau untuk menginap enggak dulu,” balas Liana. Kakinya melangkah maju menyusul Anjani.
“Ya, terserah saja.”
***
Selepas penghulu, para saksi, dan tokoh agama pulang, barulah Joan menyadari kalau Liana dan Anjani sudah tak ada di tempat.
“Loh, mereka ke mana, ya?” gumamnya pelan.
Devi yang merasa terabaikan pun segera menggandeng lengannya mesra.
“Mas, cari Mbak Liana, ya? Mereka sudah pulang lebih dulu sama mami,” terangnya. Tak lupa senyum ia tunjukkan.
Joan mengerutkan kening, lalu mengangguk mengerti.
“Ya sudah, sekarang kita juga siap-siap pulang, ya.” Joan berkata seraya menggenggam tangan Devi erat.
Kedua anaknya bersemangat dan langsung berlari ke luar masjid untuk mengambil barang-barang yang akan dibawa ke rumah Joan.
Sementara Joan dan Devi sibuk bersiap untuk pulang ke rumah yang sama-sama ditinggali Liana, ia yang baru saja sampai ke rumah dan masuk dengan lesu.
Untuk malam ini, Anjani memilih untuk tinggal di rumah omanya. Gadis itu enggan pulang dan belum siap tinggal satu atap dengan sang ibu tiri.
“Nyonya, Anda sudah pulang,” sapa Bi Tiar sopan.
Liana tersenyum getir, “Iya, Bi. Tolong siapkan makanan dan antarkan ke kamar saya, ya. Lagi kepengen makan di kamar.”
“Nggih.” Tanpa menunggu lagi, Bi Tiar bergegas pergi ke area dapur untuk memasak.
Liana berjalan pelan, tetapi sebelum menaiki anak tangga, perhatiannya teralihkan pada kamar di sudut sana—kamar yang telah disiapkan untuk malam pertama suaminya dan Devi.
Penasaran, ia pun memutuskan melihat sekilas.
Ketika daun pintu didorongnya, semerbak wangi bunga menyeruak menusuk hidung. Matanya berkaca-kaca kala melihat ranjang terkurung kelambu putih di setiap sisinya. Kelopak mawar merah bertaburan di atas bed bersprai putih. Tak lupa lilin-lilin sudah ditata rapih di lantai, tinggal diberi nyala api.
‘Ah, hatiku rasanya panas, Mas. Nanti malam kamu akan menghabiskan waktu dengannya di kamar ini, kan?’
Air matanya menitik tanpa terasa, ia tak sanggup membayangkan dengan apa yang akan dilakukan pasangan baru itu nanti malam.
Pintu pun segera ditutupnya, Liana naik ke lantai atas terburu-buru.
Lantas, Joan sendiri kini telah berada di jalan menuju rumah.
“Maaf, ya, kita tidak bisa pergi bulan madu seperti pasangan lainnya,” ucap Joan pada si istri baru.
Wanita itu tersenyum lebar, mengatakan bahwa ia tak mempermasalahkan. Malah, ia berkata tidak mau bulan madu, takut itu akan membuat Liana marah.
Lagi-lagi ia berusaha menarik perhatian Joan dengan menyeret nama istri pertamanya.
Namun, kali ini Joan tak menanggapi, dia hanya tersenyum seraya membanting stir ke arah lain yang berlawanan dengan arah rumahnya.
“Loh, Mas. Kita mau ke mana?”
Joan tersenyum, lalu menaik-turunkan kedua alisnya.
“Karena kita tidak bisa berbulan madu, untuk hari ini kita jalan-jalan saja dan pulang nanti. Sekalian ajak anak-anak main,” katanya.
Perkataan Joan membuat si kembar bersorak riang.
“Mas, makasih,” ucap Devi menampakkan raut bahagia tak terkira.
“Oke, kita ke mana, nih, bagusnya?” tanya Joan bersemangat, ia melirik sekilas kedua putri palsunya di belakang.
“Kita ke ....” Fira menaruh telunjuknya di pipi, masih berpikir.
“Taman hiburan!” sela Fara semangat.
Fira mendelik sebal dan menentang keinginan Fara.
“Aku nggak mau ke sana, Pa! Maunya pergi main game dan makan-makan di mall. Ayo ke sanaa!”
“Ih, jangan dengerin dia.” Fara menyela.
Karenanya, mereka berdua ribut saling lempar omongan. Joan hanya tertawa kecil memerhatikan, sementara Devi berusaha menenangkan agar semuanya diam.
“Sudah, sudah. Kita akan pergi ke tempat yang kalian mau, ya. Tapi giliran. Nah, ayo suit dulu. Yang kalah, harus bagian akhir, ya.” Joan berusaha memberi usul.
Keduanya setuju. Mereka pun melakukannya. Dan ternyata Fara yang menang. Tandanya, siang itu mereka harus pergi terlebih dahulu ke tempat yang diinginkan Fara, yaitu pergi ke taman hiburan.
“Mas, apa nggak apa-apa kita jalan begini tanpa mbak Liana?” tanya Devi kemudian, ia memasang raut wajah khawatir.
Joan menoleh, menyentuh punggung tangannya.
“Enggak apa-apa. Dia akan mengerti, kok. Sudahlah, kita jalan-jalan dulu untuk menyenangkan anak-anak. Selagi mereka senang-senang, kita juga bisa ngedate,” ucapnya seraya menyungging senyum.
“Cieeee ....” Dua remaja itu malah menggoda kedua orang tuanya sambil tersenyum iseng.
Wajah Joan memerah, pun dengan Devi. Ya, mereka yang hatinya dilanda bunga-bunga asmara tak bisa menyembunyikan rasa bahagia. Keduanya merasa hari itu adalah milik mereka, sampai-sampai lupa akan kehadiran kedua remaja yang ikut bersama.
**
Selagi keempatnya bersenang-senang dan tertawa riang tanpa beban, Liana mengalami kecemasan luar biasa akibat galau memikirkan sang suami yang kini telah resmi menjadi milik Devi. Tak dapat ia pungkiri rasa takut di hati akan kehilangan Joan untuk selama-lamanya.
Bahkan, sampai sore ia masih menunggu kedatangan suami serta istri keduanya pulang.
Ia takut jika suaminya tak pulang hari itu.
Bersambung.