Anjani tak lagi dapat menahan kekesalannya terhadap dua orang yang mengaku kakak tirinya itu.
Setelah membuat Liana tak memercayainya, mereka juga merebut perhatian Joan dalam waktu singkat.
Anjani cemburu, tapi tak mampu mengungkapkan.
Lalu, hari ini pun saat pergi ke sekolah, mereka sengaja mendekati Rayno. Memperkenalkan diri bahwa mereka adalah kakak dari Anjani. Mereka mengajaknya mengobrol ini dan itu, bahkan mengacau di kantin. Membuat Anjani tak punya kesempatan berduaan dengannya.
Rayno adalah seniornya di sekolah, tetapi keduanya sudah sangat dekat dan saling memiliki rasa suka satu sama lain. Hanya saja, mereka memilih memendam rasa hingga sekarang. Merasa bahwa usia keduanya belum tepat untuk saling bertukar perasaan.
Dan, sepertinya duo kembar itu takkan pernah membiarkan Anjani mendapatkan Rayno. Sebab, Fara juga ternyata menyukainya.
Ditambah mereka satu kelas, mudah baginya mendekati Rayno, si remaja tampan dan pintar di sekolah.
**
Anjani tak bisa lagi menerima kekalahannya, tetapi tak mampu juga melawan keduanya. Ditambah, mereka punya dukungan Joan. Salah-salah, Fira dan Fara akan memutarbalikkan fakta dan malah menuding Anjani yang bermasalah.
“Ih! Nyebelin!” Anjani melempar tas ke ranjang dengan kesalnya.
Ia berjalan mengintip di balik jendela, keluarga tirinya tengah makan siang di area taman samping rumah.
“Keterlaluan! Setelah merebut perhatian papa, sekarang mereka berusaha merebut Rayno dariku! Keterlaluan!”
Anjani melemparkan diri di ranjang, dan tanpa sadar ia terlelap begitu saja.
Lalu, saat terbangun, rupanya hari sudah mau gelap. Dan, tak ada yang membangunkannya saat tidur.
Perlahan, Anjani bangkit dari ranjang, ia menekan saklar lampu, lalu pergi ke kamar mandi dan segera membersihkan diri.
“Tuhan, ini baru dua hari mereka ada di sini, tapi kenapa aku terlupakan begitu saja?!” Anjani tersedu di bawah guyuran shower.
Hatinya serasa sesak dan muak. Entah harus sampai kapan ia harus menjalani penderitaan batin yang amat menyiksanya.
Seusai mandi, ia bergegas turun ke area dapur untuk mengisi perut yang kosong sejak siang tadi.
“Eh, Non. Sudah bangun,” sapa Bi Tiar ramah. “Tadi bibi periksa ke kamar ternyata tidur, mau membangunkan tak tega. Soalnya seperti sangat kelelahan.”
Anjani tersenyum kecil.
“Enggak apa-apa padahal Bi. Tadi itu ketiduran.”
“Non butuh sesuatu? Mau makan?” tanyanya kemudian. Lalu, Anjani mengangguk pelan.
“Mama ke mana, Bi? Dan, papa juga belum pulang? Sekarang, kan, akhir pekan.”
Sejenak Bi Tiar terdiam. Ia masih menyendok lauk-pauk ke atas piring untuk nona mudanya.
“Bi, kok diem?”
“Anu, Non. Mama Non belum pulang kerja. Tadi nelepon, katanya hari ini lembur. Kalau papa Non sudah pulang, tapi ....” Ucapannya terhenti. Bi Tiar agak ragu mengatakannya.
Dan, sikap itu justru membuatnya semakin penasaran.
“Pergi dengan tante Devi?” tanyanya menebak.
Ia menunggu jawaban dengan cemas, berharap jika lebih baik pembantunya menjawab papanya akan lembur juga di kantor.
“Iya. Katanya, hari ini kedua saudara tiri Non Anjani ulang tahun. Mereka meminta pergi ke restoran untuk makan malam bersama. Tapi, tadi papa Non berniat mengajak Non, kok. Cuma itu ... anu ....” Lagi-lagi ucapannya menggantung begitu saja. Bi Tiar benar-benar tak enak hati harus menyampaikan semuanya.
“Cukup, Bi. Jangan teruskan, berikan saja piringnya. Anjani laper,” selanya tak lagi mau mendengar.
Bi Tiar memberikan sepiring nasi dengan berbagai lauk-pauk yang disediakan untuknya. Ia merasa iba sekarang.
Bukan tanpa alasan, jelas betul raut wajah nona mudanya sangat sedih. Akan tetapi, ia juga tak punya cara untuk menghiburnya. Semua terlalu rumit dan serba salah.
Dua jam setelahnya, Anjani kembali naik ke kamar. Kembali ia goreskan kata demi kata sebagai curahan hatinya yang mulai sepi dan tertinggal.
Anjani beranggapan bahwa Joan sudah tak sayang lagi padanya. Ia diabaikan dan dibuang.
Hingga saat mendengar deru mobil di halaman, Anjani tak meneruskan lagi tulisannya. Ia cepat-cepat mengintip dari balkon, apakah itu mamanya, berharap ia tak jadi lembur.
Akan tetapi, ia dibuat kecewa, ternyata yang datang adalah Joan dan keluarga barunya. Anjani tak banyak berharap, ia langsung menutup buku diary, lalu membawa buku tersebut naik ke atas ranjang.
Tak lama ketukan di pintu didengar.
“Anjani, papa masuk, ya.”
Bukannya menjawab, saat mendengar suara Joan memanggil namanya ia langsung pura-pura tidur.
Dan, ketika lelaki itu benar-benar mendekat, ia sama sekali tak curiga bahwa putrinya hanya berpura-pura.
“Sayang, kamu kecapean, ya, dari tadi tidur terus.” Joan duduk di tepi ranjang, ia mengelus rambut putrinya dan mengecup pipinya lembut.
Joan membawakan sesuatu dan menaruhnya di atas nakas sebelum ia kembali turun malam itu.
Anjani membuka mata, melirik ke samping dan menghela napas pendek.
‘Apa aku masih harus percaya atau tidak tentang papa yang masih mencintaiku dan peduli? Aku tak menyangka papa ingat aku dan membawakan makanan favoritku.’
Gadis remaja itu menunduk setelah membuka kotak berisi cake dan donat kesukaannya. Bertanya-tanya apakah arti dari pemberian papanya itu?
***
Joan yang lelah sehabis kerja pun menyempatkan diri menuruti keinginan Fira dan Fara, bahkan sampai membuat kecewa anak kandungnya sendiri, Anjani.
Namun apalah daya, ia yang perlahan termakan bujuk rayu sang istri baru tak dapat memungkiri semuanya.
Walau sadar telah mengacuhkan Anjani, ia tak berani meminta maaf secara terbuka. Dan, sebenarnya Joan ini tipe pendiam, ia tak bisa banyak merangkai kata lalu mengungkapkan semuanya begitu saja. Biarlah sikap yang menunjukkan.
Selepas turun dari lantai dua, ia memilih melihat Fira dan Fara terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar Devi. Kedatangannya disambut senyum oleh mereka.
“Selamat istirahat, anak-anak.” Seusai mengatakannya, Joan kembali menutup pintu dan pergi. Membiarkan dua putri palsunya beristirahat dengan nyaman.
“Loh, kamu sudah selesai mandi? Cepet banget,” kata Joan pada istrinya.
Devi masih mengeringkan rambut dengan hair-dryer menghadap cermin. Kimono tipis melekat di tubuhnya yang ramping. Dirasa sudah mengering, wanita itu menyisir rambutnya perlahan. Setiap gerak tangannya tak luput dari pandangan Joan.
Pemandangan itu akhirnya membuat birahi Joan terpancing. Normal saja, bukan? Ditambah lagi keduanya adalah sepasang pengantin baru. Wajar jika setiap malam menghabiskan waktu untuk bermesraan memadu cinta.
“Mas, gendong aku, dong, ke ranjang,” ucap Devi dengan nada suara pelan dan manja. Ia meletakkan mesin pengering rambut ke dalam laci dan menatap malu ke arah suaminya.
Tak banyak omong, Joan yang jiwa kelelakiannya telah bangkit pun tersenyum nakal dan langsung menggendong Devi. Dengan semangat, ia melempar tubuh wanita itu ke atas ranjang.
“Enggak masalah, kan, kalau aku masih bau keringat gini?” bisik Joan seraya mengecup pipinya bertubi-tubi.
Devi malah tertawa, tampaknya ia malah senang dengan keagresifan Joan malam itu.
“Nanti juga sama-sama berkeringat,” sahutnya diiringi tawa.
Devi bangun dari posisi tidurnya. Mendorong Joan yang masih lengkap mengenakan pakaian. Saat itu, dengan semangat tangannya bergerak liar. Membuka satu persatu kancing kemeja yang tak sulit dibuka itu.
Mereka melakukannya sambil tertawa-tawa bahagia, mengulang kemesraan malam kemarin. Bahkan, kini lebih leluasa dan tak malu-malu lagi.
Sementara keduanya tengah tertawa riang, tanpa keduanya sadari, ternyata ada yang mengintip di luar kamar, tepatnya melalui celah gorden yang tak tertutup sempurna.
Dalam gelap, orang itu mengepalkan tangan. Matanya menatap marah, menampakkan suatu bara kebencian yang berapi-api.
Siapakah dia?
Bersambung.