Ibu kota memang tak slalu sepi apalagi jalannya pagi hingga malam selalu saja macet, seperti sore hari ini diriku terjebak macet sudah hampir satu jam lamanya. Hari ini aku pulang agak telat pasalnya setelah mengajar diriku menghadiri seminar yang mengharuskan diriku untuk datang dan alhais pulang kali ini diriku terjebak macet.
Sedari tadi ponselku berdering dan slalu kuabaikan karena itu telepon dari adikku yang meminta untuk cepat pulang dan meminjam leptopku pasalnya leptopnya sedang diservis dan akan digunakan untuk menonton drama korea, akupun menolak dengan keras karena memang aku tak penyuka drama apalagi drama korea, namun ada satu wanita yang slalu memaksaku untuk menemaninya menonton drama drama romantis korea dan akupun tak pernah menolaknya.
Kulihat layar ponselku lagi dan ternyata bukan adikku melainkan wanita pemaksa itu, tanpa fikir panjang akupun langsung mengangkat telepon tersebut dan siap siap mendengar suara cemprengnya
“DAFFA!!!” teriaknya dari seberang sana membuat telingaku langsung berdengung
“engga usah teriak kenapa sih” gerutuku lagi
“habisnya kamu nyebelin, katanya sampai sini jam tujuh tapi apa ini udah jam delapan dan kamu belum sampai”
“jalan macet, bawel”
“pokoknya aku gak mau tahu, lima belas menit lagi kamu harus sampai sini titik” katanya lagi dan langsung memutuskan sambungan telepon tersebut.
Akupun hanya bisa menghela nafas dan tersenyum membayangkan wajahnya yang kesal itu, wanita yang tadi menelponku adalah Ayra Khandra Zaida gadis cerewet dan bawel yang slalu menganggu hari-hariku, aku dan dia bertetangga dan juga sahabat dekat pasalnya kami tahu tumbuh kembang masing-masing, jarak umur kami hanya terpaut dua tahun saja aku dua puluh tujuh tahun sedangkan dia dua puluh lima tahun, umurnya memang masih dibawahku tapi dia dengan seeenaknya memanggilku dengan sebutan nama tampa embel-embel kakak abang ataupun mas, katanya itu menggelikan dan dia juga sudah terbiasa dengan memanggil diriku dengan sebutan nama.
Dan iya hari ini dia ulang tahun yang kedua puluh lima dan diriku harus datang ke acara pestanya tersebut tepat waktu, tapi bagaimana bisa diriku saja masih terjabak macet seperti ini dan juga belum membeli hadiah untuknya, niatku memang ingin memberikan dia bunga mawar putih dan juga cincin karena di hari spesial ini aku ingin melamarnya dan menjadikannya wanita satu-satunya dihatiku selain bunda dan juga adikku tentunya.
Tapi mengingat waktu yang tak memungkinkan akhirnya diriku membeli bunga mawar putih saja dan cincinnya bisa besok setelah aku mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu, toh cincin hanya simbol kan yang penting ungkapan perasaanya terlebih dahulu.
Dirikupun menepikan mobil didepan toko bunga yang aku sangat bersyukur jam segini masih buka dan kuharap bunga bunganya masih segar, pasalnya Ayra sangat tak suka jika melihat bunga sudah layu. Lantas tanpa menunggu lama lagi akupun langsung keluar dari mobil dan masuk kedalam toko tersebut
“selamat malam kakak, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang penjual Bunga yang sepertinya masih kuliahan terlihat dari wajahnya yang masih muda
“saya ingin membeli mawar putih tapi yang masih segar” kataku lagi
“owh mawar putih baik kak, kebetulan mawarnya baru sampai”
“iya, saya ingin dirangkai seindah mungkin”
“baik kak, kakak bisa tunggu lima belas menit yah” kata wanita tersebut akupun mengangguk dan wanita itupun menyuruh diriku duduk agar tak cape berdiri terus, akupun menuruti ucapannya dan diriku langsung duduk dan membuka ponselku dan ternyata banyak sekali pesan dan yang membuatku menghela nafas kasar kala melihat pesan dari dosen senior menyuruhku untuk menghadiri seminar besok dibandung, lantas aku yang memang baru dua tahun menjadi dosen dan masih junior dikampus tersebut langsung menjawab menyutujui, dan senyumku langsung mengembang melihat pesan dari Ayra dan ternyata dia mengirimkan fotonya yang sudah cantik dengan gaun putih dan menunjukan wajah cemberutnya
Si bawel : aku udah dandan cantik gini kalau gak dateng awas lho
Pesan yang dikirim tersebut langsung membuatku kembali bersemangat, tak lama kemudian aku langsung membalas pesan tersebut
Daffa : jelek gitu cantik dari mananya coba?
Jawabku dan langsung mengirimnya
“cantik” kataku lirih dengan memandang foto tersebut
“ehh kenapa kak?, saya cantik begitu?” tanya wanita penjual Bunga yang sudah didepan Revan, Revanpun menatap penjual tersebut
“ehh bukan dek”
“hehe kirain kakaknya bilang saya cantik”
“sudah jadi” tanyaku untuk mengalihkannya
“sudah kak, ini bagaimana bagus tidak”
“bagus, berapa?” tanyaku
“duaratus limapuluh ribu kak” jawab wanita tersebut lantas akupun mengangguk dan langsung mengeluarkan dompet dan mengambil tiga lembar uang seratusan dan langsung memberikannya kepada wanita penjual bunga tersebut
“terimakasih kakak, bentar saya ambil kembaliannya dulu”
“tidak usah itu buat kamu, bonus karena sudah merangkai ini sangat indah”
“benarkah kak” tanya wanita tersebut, lantas aku langsung mengangguk
“wah terimakasih kak, dan good luck yah nembak cewenya” kata wanita tersebut memberikan diriku semangat, akupun tersenyum heran dan langsung keluar dari toko tersebut, tau saja dia jika diriku ingin mengungkapkan perasaan kepada seorang wanita, batinku dan langsung masuk kedalam mobil, akupun terlebih dahulu menghirup bau bunga mawar putih yang harum ini dengan tersenyum, semoga kamu menyukainya bawel, batinku lagi dan langsung menancapkan gas menuju hotel tempat berlangsungnya pesta.
***
Setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan akhirnya diriku sampai di Hotel Mahardika dimana pesta perayaan ulang tahun Ayra berlangsung, akupun langsung bergegas masuk lift dan memencet tombol lantai delapan, semoga dengan bunga ini dia tak akan mengomel, batinku dengan menghirup bau harum bunga itu kembali.
Setelah sampai dan pintu lift terbuka lantas aku langsung menuju Ballrom hotel, sesampai dipintu masuk akupun dibuat takjub dengan ruangan ini yang sudah didesain sangat indah dengan dominan warna putih ditambah lagi ada banyak bunga mawar putih disetiap sudut ruangan, walaupun banyak mawar putih disini tapi kuyakin mawar putih yang diriku bawa adalah yang paling indah, akupun tak heran pasalnya Ayra sangat menyukai warna putih dan bahkan apapun yang dia miliki kebanyakan warna putih.
Lantas akupun langsung masuk dan mencari-cari keberadaan Ayra, dan mataku tertuju ke atas panggung dimana disana ada Ayra dengan senyum bahagianya bersama laki-laki dan bergandengan mesra, eits siapa lelaki tersebut, batinku menerka-nerka, dan dapat kudengar lelaki tersebut bernyanyi dan suaranya sangat indah
Not sure if you know this
But when we first met
I got so nervous I couldn't speak
In that very moment
I found the one and
My life had found its missing piece
So as long as I live I love you
Will have and hold you
You look so beautiful in white
And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
What we have is timeless
My love is endless
And with this ring I
Say to the world
You're my every reason
You're all that I believe in
With all my heart I mean every word
So as long as I live I love you
Will haven and hold you
You look so beautiful in white
And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
Suara lelaki tersebut terus mengalung indah sehingga membuat para tamu undangan terhipnotis dan memandang panggung, dan dapat kulihat Ayra juga sudah berhadapan dengan lelaki tersebut dan tersenyum bahagia
So as long as i live i love you,
Will have and hold you,
You look so beautiful in with,
And from now to my very last breath,
This day I’IL cherush,
You lokk so beautiful in white, tonight....
Lagu itu berakhir dengan sempurna dan sorak-sorak para tamu menriuhkan suasana ballromm ini lantas dapat kulihat lelaki tersebut berjongkok didepan Rina dan mengulurkan sebuah cincin didepannya, jangan bilang....
“Ayra will you marry me?” kata lelaki tersebut dan sukses membuat para tamu bersorak meriah dan berkata
“terima... terima... terima...” sorak-sorak para penonton, Ayrapun menatap lelaki tersebut dengan tersenyum, jangan terima Ay jangan, batinku yang sudah meremas sisi samping celanaku
“iya aku mau” jawab Ayra dengan malu-malu dan sukses membuat semuanya bertepuk tangan dengan bahagia, mendengarnya seakan-akan duniaku terasa runtuh, dan diriku sudah dibuat lemas oleh jawaban Ayra, aku keduluan seseorang dan sekarang aku merasa patah hati perasaan yang sejak dulu aku pendam dan akan kuungkapkan malam ini ternyata semuanya sirna.
***
Sedih, patah hati, marah itulah yang saat ini diriku rasakan, tapi aku bisa apa?, semuanya sudah terlambat dan itu adalah ulahku, memang perkataan Rizal temanku kemarin memang benar
Flasback on
Seperti biasa Daffa jika weekend akan menghabiskan waktu bersama teman –tamnnya ditempat Gym miliknya. Setelah lelah berolahraga Daffa langsung duduk dikursi yang ada dan meneguk air mineral bersama Rizal sahabatnya waktu kuliah dulu
“gimana?” tanya Rizal kepadaku
“gimana apanya?” tanya Daffa heran
“masa gak paham sih, pasti lho masih jalan ditempat kan” katanya lagi dengan mengelap keringat yang ada ditubuhnya dengan handuk
“maksud lho apa sih gue gak ngerti” kata Daffa lagi
“yaelah, hubungan lho sama Ayra lah” katanya lagi dan membuat Daffa terkejut
“gak usah terkejut gitu kali, gue udah tahu, lho sebenarnya Cinta kan sama Ayra” jawab Rizal santai
“dari mana lho tahu zal” tanya Daffa lagi dengan agak kesal
“gue tahu dari mana itu bukan urusan lho kali, nih ya lagian gue tuh udah bisa nebak, lho sama Ayra sahabatan udah lama banget dan juga tetanggan lagi, apa-apa lho slalu membicarakan Ayra dan juga tatapan lho beda saat ngelihat dia, bahkan saat lho denger dia sakit aja lho langsung pulang padahal waktu itu kita mau kumpul bareng temen lainnya, gue gak sebodoh orang lain yang gak melihat diri lho cinta sama Ayra” kata Rizal membuat Daffa seketika bungkam
“gini yah, jarang banget persahabatan antara perempuan sama laki-laki itu murni tanpa adanya rasa, pasti salah satunya ada yang menyukainya dan itu terlihat jelas diantara lho sama Ayra” kata Rizal lagi
“terus gue harus apa?” tanya Daffa kepada Rizal
“ya lho ungkapin perasaan lho lah” jawab Rizal dengan ngegas
“tapi kalau setelah gue ungkapin perasaan gue, dia nolak gue dan malah jadi dia jaga jarak dan ilfil sama gue gimana” tanya Daffa lagi
“ya itu resiko lah, setiap perbuatan yang kita lakukan pasti ada resikonya kan” jawab Rizal dengan menaikan alisnya
“iya juga sih” lanjut Daffa dan memasang wajah frustasi
“nah makanya cepet ungkapin ke dia, sebelum dia diambil orang lain baru tahu rasa lho, inget Daf lho terlambat sedikit bisa merubah semuanya dan tentunya lho gak bakal dapet cintanya, malah dapet sakit hatinya” lanjut Rizal
“iya juga sih Zal, gimana kalau gue ungkapin perasaanya saat ulang tahun dia” tanya Arkan meminta pendapat Rizal
“ya emang kapan ulang tahunnya?”
“seminggu lagi sih”
“ide bagus tuh, jadian di hari ulang tahun si wanita bakal romantis” kata Rizal dengan alay dan langsung mendapatkan jitakan dari Daffa
“ish kok lho malah mukul gue sih, gue bilangin bini gue baru tahu rasa” kata Rizal kesal
“yaelah beraninya bilang sama bini lho, nanti gue dilemparin centong nasi gimana” kata Daffa lagi membuat Rizal tertawa membayangkan dulu saat Daffa pergi ke rumah Rizal untuk mengambil hasil proyek yang mereka kerjakan, pada saat ini disana mati lampu dan Hanum istri Rizal mengira Daffa maling dan Daffa langsung dilempari centong nasi
“hahaha lho masih inget ternyata” lanjut Rizal dengan bergidik ngeri
“inget lah, kejadian itu gak akan gue lupain tahu, lagian lho tuh betah banget sama Hanum” kata Daffa
“namanya juga cinta Daf, gitu gitu juga cewe yang bisa bikin gue klepek-klepek dan puas diranjang” kata Rizal lagi sehingga Daffa langsung memukul lengan Rizal lagi
“lho gak usah bikin otak gue yang suci ini jadi kotor kenapa sih”
“alah, makanya cepet nikahin tuh si Ayra biar tahu gimana rasanya” kata Rizal dan langsung tertawa terbahak-bahak melihat wajah Arkan yang sudah kesal.
Flasback off
Tanpa fikir panjang akupun langsung keluar dari ballrom tersebut meninggalkan pesta tersebut bahkan tanpa mengucapkan apa-apa kepada Ayra dan memberikan bunga tersebutpun tak aku lakukan karena sudah terlanjur kecewa.
Sesampai dilobi hotel akupun langsung membuang bunga tersebut ketempat sampah yang tersedia dan langsung berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobil dan pulang, lebih baik diriku pulang dari pada disini terus makan hati, biarkan Ayra memarahiku besok aku tak peduli karena yang sekarang aku inginkan hanya ingin mandi dibawah kucuran air dingin shower untuk menjernihkan segala fikiranku.