Raine berdiri di depan ruang arsip tua yang terkunci rapat sejak ia pertama kali datang ke markas Bulan Perak. Di balik pintu besi itu, tersembunyi dokumen-dokumen kuno tentang sejarah kawanan, silsilah, serta… rahasia yang tak pernah diungkapkan.
Setelah pertemuan dengan Lucien, Raine merasa harus memahami akar sejarah mereka—untuk tahu kelemahan dan kekuatan kawanan ini. Ia ingin tahu: siapa sebenarnya Lucien? Mengapa Bayangan Hitam begitu terobsesi dengan wilayah mereka?
Dengan bantuan Kayden, pintu akhirnya terbuka. Aroma debu dan kertas tua menyambut mereka. Rak-rak kayu tinggi menjulang, dipenuhi bundelan dokumen dan manuskrip kulit serigala.
“Gunakan ini dengan bijak,” kata Kayden sebelum meninggalkannya sendirian.
Raine membuka satu buku bersampul hitam pekat. Di sana, ia menemukan hal yang mengguncang—Bayangan Hitam dulunya adalah bagian dari Bulan Perak. Mereka adalah faksi yang dibuang karena ambisi kekuasaan, dipimpin oleh seorang alpha haus darah bernama Alaric… ayah dari Lucien.
Tangannya gemetar saat membaca:
“Alaric diusir bukan karena kekalahan, tapi karena kejamnya ia pada saudara-saudaranya sendiri. Ia ingin kawanan tunduk, bukan bersatu. Pengkhianatannya menyebabkan perang saudara berdarah, memisahkan dua kawanan untuk selama-lamanya.”
Raine menutup buku itu perlahan, napasnya berat. Kini ia paham: konflik ini bukan hanya soal wilayah. Ini soal warisan… soal darah dan dendam lama yang belum selesai.
Dan sebagai Luna, dialah yang harus mengakhirinya.
Serangan mendadak itu mengguncang seluruh markas Bulan Perak. Suara lonceng peringatan bergema di malam gelap, membangunkan seluruh kawanan dari tidur mereka yang gelisah. Teriakan dan langkah panik terdengar di mana-mana. Namun di tengah kekacauan itu, Raine tetap berdiri tenang.
Ia memimpin langsung tim penyelidik ke tempat kejadian. Menara penjaga timur kini hanya puing terbakar, dan tubuh penjaga—seorang remaja serigala bernama Lior—terbaring tak bernyawa dengan luka cakar yang dalam di dadanya.
Raine berlutut di sampingnya. Ia menatap wajah Lior yang masih penuh harapan muda, meski kini telah dibungkam selamanya.
Darius berdiri di belakangnya. “Kita tak bisa lagi menunggu. Mereka jelas ingin mengguncang kita sebelum menyerang habis-habisan.”
“Aku tahu,” bisik Raine. “Tapi kita tidak akan terburu-buru. Kita akan membuat mereka merasa aman… sebelum kita menghancurkan jantung mereka.”
Ia bangkit dan segera memerintahkan:
• Perkuat pertahanan seluruh sisi perbatasan.
• Bentuk pasukan pemburu bayangan: tim kecil yang lincah, tak terlihat, dan mampu menyerang diam-diam di malam hari.
• Bangun kembali menara penjaga—dalam satu malam.
Saat itu pula, Raine mengambil keputusan besar: ia akan pergi ke wilayah Bayangan Hitam secara diam-diam. Bukan untuk menyerang, tapi untuk mencari tahu kelemahan Lucien—dan jika mungkin, membuka celah diplomasi terakhir sebelum semuanya berubah menjadi pertumpahan darah besar.
Darius langsung menolak. “Itu terlalu berisiko.”
“Pemimpin harus berani menghadapi sumber masalah, bukan hanya bayangannya,” jawab Raine, tegas.
Dan malam itu, di bawah langit tanpa bintang, Raine bersiap menyusup ke wilayah musuh—sendirian. Tanpa pengawal. Hanya dengan kepercayaan pada instingnya… dan keyakinan bahwa ia bisa memutus rantai dendam yang telah diwariskan selama dua generasi.
Perjalanan ke wilayah Bayangan Hitam bukan sekadar penyusupan—ini adalah langkah yang bisa mengubah takdir kawanan. Raine mengenakan jubah gelap, menyembunyikan aroma dan identitasnya dengan ramuan khusus dari penyihir tua kawanan, lalu menyelinap melewati garis batas saat malam berada pada titik tergelapnya.
Hutan di wilayah musuh terasa berbeda. Tidak hanya karena pepohonannya lebih rapat, tapi karena hawa kematian seperti menggantung di udara. Raine bisa mencium bekas pertempuran lama di tanah yang ia injak, dan amarah yang masih tertinggal di tiap dinding batu yang ia lewati.
Ia bergerak dalam senyap, berbekal ingatan dari peta kuno yang ia pelajari siang tadi. Tujuannya jelas—menuju pusat kekuasaan Bayangan Hitam, tempat Lucien dan para penasihatnya tinggal.
Namun saat ia hampir mencapai tepi jurang tempat benteng musuh berdiri, Raine dihentikan. Bukan oleh penjaga, bukan pula oleh serigala musuh… tapi oleh suara yang ia kenal.
“Tak kusangka kau akan datang sendiri, Luna Pengganti.”
Lucien berdiri di antara bayangan pepohonan, mengenakan jubah hitam dengan simbol warisan Alaric di d**a. Ia tidak membawa pasukan. Hanya dirinya dan Raine—seperti dua keping masa lalu yang bertabrakan di tengah malam.
“Karena aku bukan pengecut yang bersembunyi di balik ancaman,” jawab Raine tanpa gentar.
Lucien tersenyum kecil, matanya memicing menilai. “Jadi kau datang untuk menyerah?”
“Aku datang untuk menawarkan pilihan. Sebelum perang ini menelan kita semua.”
Senyumnya menghilang. “Kau ingin damai, padahal darah sudah tertumpah?”
“Darah yang tak perlu. Ini bukan lagi tentang Alaric atau masa lalu. Ini tentang apakah kau ingin menjadi pemimpin… atau hanya bayangan dari ayahmu.”
Lucien terdiam sejenak. Untuk sesaat, malam menjadi hening. Hanya angin yang menjawab.
“Menarik,” gumamnya akhirnya. “Kau lebih berani daripada yang kukira. Tapi jangan salah paham… aku tidak datang dari kegelapan untuk menawar perdamaian. Aku datang untuk mewarisi takhta yang seharusnya jadi milik kami.”
Raine menatapnya tajam. “Kau akan mendapat jawabannya nanti. Tapi jangan ragukan ini, Lucien: jika kau memaksa perang… maka aku akan jadi akhir dari semua ambisimu.”
Lucien menatapnya lama sebelum menghilang ke dalam kabut.
Raine berdiri sendiri di tepi jurang, jantungnya berdebar. Ia tahu: damai tidak akan mudah. Tapi malam ini, ia telah menancapkan satu hal di hati musuhnya—ketakutan.
Dan itu, kadang, adalah awal dari kemenangan.