Wajah Abizar seketika menggelap melihat pemandangan yang menusuk hatinya itu. Betapa tidak, seorang laki-laki yang mencintai istrinya berani memperlakukan istrinya dengan seintim itu? harga dirinya terluka.
Jelita hanya bisa diam membeku melihat Abizar berjalan ke arah mereka dengan wajah murka sedangkan Bima, pemuda itu terlihat santai bahkan ia terkesan menantang Abizar.
Abizar menatap Bima dengan tatapan tajam menusuk. “Kau sedang apa di sini? bukankah jam besuk sudah lewat?” Abizar masih menahan emosinya.
“Aku meminta kepada suster dan mereka mengizinkanku. Jadilah aku bisa masuk ke mari,” jawab Bima. Ia terlihat tidak terpengaruh dengan emosi Abizar yang sangat jelas terlihat membara di matanya.
“Kau sudah cukup berada di sini, sekarang pergilah!” usir Abizar, ia masih berusaha m