“Shaf, gimana pacarmu jadi jemput?” tanyaku padanya
“ngga Arr, gatau dia belum membalas pesanku, kayaknya aku bakal naik ojol aja.”
“beneran gapapa kamu naik ojol? hmm yaudah kamu pulang duluan saja” kataku yang takut nanti kalo dia melihat dengan siapa aku dijemput.
“ah pasti kamu dijemput dia kan? Nanti di jalan pasti aku liat dia, yasudah aku pesan dulu ojolnya” katanya sambil menatap ku curiga.
Lumayan lama kita menunggu ojol yang dipesan, sampai akhirnya ojol itu sampai di tempat kami meneduh. “aku duluan ya Arr lihat saja pasti aku tau siapa yang akan menjemputmu”
“ah sudah sana naik, kasian abangnya itu nunggu kamu lama”. Akhirnya tinggalah aku sendirian di sini, sebenarnya aku takut juga sendiri karna sudah malam dan berada di pinggir jalan. Batrai ponsel ku pun sudah tinggal lima persen tapi dia lama sekali membalas pesanku, sekitar setengah jam aku berdiri dan kena gerimis hujan dipinggir jalan. Ternyata, dia baru selesai mandi makanya jadi lama untuk menjemputku.
“lama banget ngapain dulu sih kamu?” pesan yang ku kirim saat sudah kesal dia tak kunjung datang.
“maaf ya tadi aku mandi dulu, makanya jadi lama”.
Hari itu di mana hujan turun, akhirnya aku senang bisa melihat kamu senyum karna aku memakai pakaian warna kesukaan kamu, pujian singkat itu selalu aku ingat sampai sekarang. Kamu bilang kamu senang lihat aku pakai baju warna kuning, saat kamu bilang itu di belakang kamu di atas motor kuning ini aku tersenyum, senyum paling lebar yang aku rasakan setelah sekian lama tak pernah aku lakukan lagi. Aku senang kita sama – sama tersenyum di bawah hujan. Hujan selalu punya cerita di setiap perjalanan hidup ku, walaupun selama perjalanan banyak orang yang melihat kita aneh karna aku naik motor warna kuning dan menggunakan baju dengan warna yang sama. Ah tapi aku tidak peduli asal aku merasa bahagia, mungkin mereka juga melihat kita sangat bahagia pada waktu itu. Kita tidak langsung melewati jalan arah rumah ku, kamu selalu mengajak ku berkeliling sebentar, tidak aku tidak pernah marah jika kamu tidak mengantarkan ku pulang dengan cepat, justru aku senang karna kita jadi punya waktu lebih lama.
“ada tissue ngga na?” katanya di bawah jalan Antasari
“yah ngga ada, aku ga pernah bawa tissue kemana-mana” ucapku jujur
“yah ini kacamatanya basah” katanya
“yah terus gimana?” kata ku tidak enak kepadanya
Akhirnya kita tetap melanjutkan perjalanan ke rumah ku. Lagi dan lagi semua yang kamu pakai jadi daya pikat untuk ku, ini aneh sebelumnya aku biasa saja dengan laki-laki berkaca mata tapi setelah terpikat dengannya aku jadi suka laki-laki berkacamata seperti Ardhito Pramono contohnya, setelah sampai di depan gang rumah ku aku turun dan pamit.
“terima kasih sudah diantar sampai kena gerimis tadi” kata ku yang tidak enak karna merepotannya
“ gapapa, selagi aku masih bisa dan sedang tidak sibuk, yasudah aku pulang ya” katanya pamit
“iya hati – hati ya di jalan” setelah itu kita tos seperti biasa setiap kali kita pamit.
Hari itu aku menyukai dinginnya malam dengan perasaan sejuk karna sedang jatuh cinta, perasaan yang tadinya tidak ada kini semakin nyata, padahal aku sedang berada diposisi yang salah karna sudah memiliki pasangan yang keberadaannya jauh dari Jakarta. Selama itu pula temanku sama sekali belum ada yang tau, banyak hal yang sebenarnya jadi pertimbangan mengapa aku belum berani bercerita. Aku adalah orang yang suka menceritakan segala hal yang telah dialami, tapi semenjak kenal kamu aku menjadi orang yang bisa menyembunyikan semua hal tentang kamu. Bermain sandiwara di balik kebahagiaan yang telah kita ciptakan, dan menjadi pribadi yang tertutup karna takut cerita kita akan mereka tau. Bukan maksud aku tidak ingin memerkan kedekatan kita. Hanya saja sikapmu di Sekolah buat aku bingung, kadang kamu seperti orang yang tidak kenal aku, kadang juga kamu ternyata memperhatikan setiap hal yang aku lakukan di dalam Sekolah. Waktu itu aku senang menggunakan cardigan kuning di sekolah karna baju seragam ku yang kecil, lalu aku ke kantin dan ada kamu dengan teman teman cowo kamu yang lain duduk di salah satu bangku di kantin, aku kira kamu ga peduli sama kehadiran aku dan teman ku di kantin. Ternyata setelah sepulang sekolah kamu mengirim pesan di line ku.
“tadi kenapa pakai cardigan di sekolah?” katanya menanyakan cardigan ku di sekolah
“gapapa cuma mau pakai aja, emang gaboleh?” jawab ku
“ kirain sakit jadi pake cardigan di sekolah” katanya
“ngga ko cuma mau pake aja”
Perhatian kecil kamu yang aku kira ga ada waktu di sekolah ternyata salah, selama ini teman ku sering lihat kalo kamu suka mencari keberadaan ku dan sering melihat ke arah ku itu benar, aku fikir itu hanya ledekan dari teman-teman ku yang iseng aja. Ternyata, kamu orangnya gengsi, iya gengsi kamu besar banget. Aku tau kamu pengen sekedar menegur aku di sekolah atau saat kita ga sengaja ketemu di tangga lantai dua tapi terlalu gengsinya kamu justru yang terjadi adalah kita lebih sering kaya orang yang ga kenal satu sama lain. Aku tadinya sudah tidak mempermasalahkan sikap kamu yang seperti itu. Cuma kadang aku merasa kamu kan cowo kenapa gengsian banget. Tapi di balik gengsi kamu, kamu adalah orang yang peduli sama keberadaan aku di sekolah. Setiap harinya aku makin merasa kalau kamu memang memperhatikan aku di sekolah, gerak gerik yang kamu lakukan menjadi perhatian ku juga. Waktu itu tempat biasa kamu parkir motor di lapangan sekolah berbeda, aku yang memperhatikan dari depan kelas heran biasanya di sekolah ini akan ada satu motor yang jadi pusat perhatian dan mencolok karna warnanya, saat sedang asik melihat keluar kelas temanku tiba-tiba menghampiriku, mungkin dia sadar kenapa aku lama sekali berada di luar kelas.
“Dii ngapain di depan kelas tumben banget” ucapnya yang penasaran
“ngga, cuma mau liat lapangan aja” jawabku yang takut dia sadar apa yang sedang aku lakukan
“ah boong, aku tau kamu lagi mencari keberadaan si yellow kan?” tebaknya kepadaku
“ih sotau ya kamu, orang ngga” jawabku ngeles tebakannya
“udah ga usah boong orang ketauan” dia tetep maksa kalo jawabannya benar
“udah ah ayo masuk, nanti kita diomelin malah di luar” ajak ku agar dia tidak terus menanyakan itu.
Iya memang benar hari itu aku mencari keberadaan motor tua kuning itu dan pemiliknya. Mungkin waktu itu kamu sedang bolos sekolah atau sakit aku juga tidak tau, karna malamnya memang tidak berkabar. Saat bel istirahat akhirnya berbunyi aku pergi ke kantin bersama temanku dan lagi aku mencari keberadaanmu dan tidak ada.