"Bun... Aku pulang lebih awal, guru-guru pada rapat Itu putraku." Aku membekalinya ponsel demi memudahkan komunikasi kami, dan tentu aku membatasi penggunaannya.
"Oke sayang, pak supir akan menjemput ya. Jangan kemana-mana. Seperti biasa, tunggu bersama pak satpam" Aku selalu gemas dengan sikap acuh tak acuhnya.
"Hmm..." Si dingin hanya berdehem. Entah gen dari mana yang ia bawa. Dalam keluarga kami tak ada yang bersifat demikian dingin. Sepertinya murni pembawaan gen ayah biologisnya.
Rambut kecoklatan, kulit terlalu putih untuk orang Indonesia, dan jangan lupakan bola mata abu-abunya. Ia anak bule yang lahir dari rahim adikku, Anita Oktavia yang sekarang sudah mulai bangkit menata hidupnya. Meskipun ia enggan berinteraksi dengan putraku, tapi aku memakluminya. Papa dan mama sudah menerima kehadirannya sejak peristiwa 8 tahun lalu, saat Ia pulang dengan perut besar tanpa seseorang yang harus bertanggung jawab.
Kala itu Nita menangis tergugu sambil menundukkan kepala. Satu tangannya memegangi perut buncitnya. Gama adik pertamaku mengabariku untuk segera pulang karena mama pingsan. Aku shock saat langkahku tak sadar terhenti di depan pintu, menyaksikan papa menampar pipi mulus Nita yang tengah berbadan dua. Aku berhasil menarik benang merah penyebab mama pingsan adalah si bungsu.
Gama Aprilio tengah mengeraskan rahangnya dan berusaha membangunkan mama dibantu asisten rumah tangga kami. Sementara aku memutuskan segera merengkuh Nita dan menjadikan tubuhku tameng dari amukan papa.
"Jangan lindungi anak kurang ajar ini Maraa! Pergi dari sini, anak tak tahu malu" ayah mana yang tidak kaget, yang tidak kecewa tiba-tiba putrinya pulang dari masa pendidikan dengan kondisi hamil tanpa suami. aku sangat memaklumi ayah.
"Papa kecewa sama kamu!" Sama, aku juga kecewa, meskipun kedua tanganku masih melindungi adik perempuan satu-satunya yang jelas lebih hancur dari siapapun. aku sangat tahu adikku pasti sangat terluka.
"Maara! Jangan bela dia, sudah cukup ia selalu merecoki kita!" Itu ucapan adik perkasa ku. Ia selalu tak pernah akur dengan si bungsu. Jarak Gama dan Nita hanya 1 tahun beberapa bulan. Papa dan mama sering sekali memakaikan pakaian kembar untuk mereka hingga Gama menjadi risih dan merusuh sejak kecil. Jarak Gama dan aku empat tahun, menjadikan aku kakak panutan bagi kedua adikku. Namun, saat emosi menguasai adikku yang terlalu jangkung itu tak segan memanggilku dengan nama saja.
Itu sebagian kecil ucapan keluarga kami menggambarkan kekecewaan pada Nita. Aku membawa Nita ke apartemenku. Apartemen yang aku beli bersama mantan tunanganku dan baru lunas 3 bulan kemarin, waktu itu. Bulan berikutnya aku pindah ke Surabaya karena kewajiban perusahaan dengan memboyong adikku.
Disana Nita melahirkan bayi tampan. Sejak itu aku bilang pada Nita bahwa akulah ibu dari bayi itu. Ia tak pernah melahirkan dan harus melanjutkan hidupnya. Aku membiayai kuliahnya lagi di Jogja dengan menjual apartemen yang mengingatkanku pada luka, tanpa campur tangan papa mama yang sudah terlampau kecewa. Beruntung pekerjaanku selalu mulus dengan gaji bagus. Bersyukur orangtua kami mampu membiayai kuliah kami keluar negeri. Sehingga aku dan Gama (yang waktu kejadian Anita tengah liburan semester) bisa menempati posisi penting di perusahaan yang kami lamar. Sehingga tak kesulitan membiayai kuliah Anita hingga semester demi semester. Mengabaikan 2 tahun pendidikannya di Australia yang menuliskan kenangan buruk dalam hidupnya.
Aku menjauhkannya dari putraku demi kebaikan mereka. Bagaimana tidak, sejak awal Anita kecewa dengan hidupnya, kecewa dengan kekasihnya, berimbas pada kebenciannya kepada putranya. Anita mengalami syndrom baby blues, sampai pada tahap ingin melukai diri sendiri bahkan bayinya yangtak berdosa. Sekarang si bungsu telah mendirikan restoran bersama temannya berlokasi masih di Jogja. Sedangkan aku sudah pindah tugas 3 tahun yang lalu dari Surabaya ke Jakarta kembali. Putraku sudah 2 SD dan diusiaku yang memasuki 33 tahun aku belum pernah menikah dan tentu saja cukup bahagia.