Tara I mean Little D kita, sedang duduk di depan televisi menyaksikan Chanel YouTube yang bisa di akses dari saluran televisi berbayar. Di depannya berserakan logam entah apa namanya yang akan ia rakit menjadi mobil-mobilan yang katanya dengan sekali pencet akan berubah jadi Little Bumblebee seperti Transformer, film favoritnya, yang tengah dia tonton. Pak D benar-benar menanggapi serius soal hobby Tara ini. Menurutnya hobby Tara adalah hobby warisan dari para pria Jillian, yang sayangnya memang benar.
Di samping Tara, Pak D duduk sambil melipat sebelah kakinya dengan tablet di tangan. Jas dan dasinya ia taruh asal di sandaran sofa. Tersisa lengan kemeja yang terlipat asal-asalan dan rambut acak. Gurat lelah semakin menampakkan garis kedewasaan di wajahnya. Aku sedang sibuk menelpon katering yang ku pesan untuk makan malam keluarga sebentar lagi. Sudah pukul setengah tujuh, tapi katering langgananku belum mengantarkan makanan yang ku pesan. Sementara setengah jam lagi semua orang akan sampai. Kenapa aku tidak memasak sendiri saja , jawabnya aku capek harus ribet dengan urusan makan sementara aku tiba tadi pagi dari Singapura.
Otangtuaku beserta Gamma, tuan dan nyonya Jillian, jangan lupakan pasangan fenomenal kita, adikku Anita dan Sam Jillian juga akan datang. Mengingat malam ini penting untuk putraku.
Sebenarnya aku cukup berdebar, aku sudah menyampaikan lewat telpon kepada semua orang untuk terus berpura-pura bahwa Tara memang putraku. Bahwa Sam dan Nita hanya paman dan bibinya. Bahwa keluarga Jillian hanya bosku yang turut menyayangi Tara dan menganggapnya sebagai cucu.
Aku juga meminta semua orang untuk menyetujui apapun seandainya putraku yang selalu mengingatkan untuk dipanggil Tara mulai sekarang, menginginkan sesuatu. Meskipun aku juga mewanti-wanti mereka untuk bersikap sewajar mungkin terhadap Tara.
"Melamun Maara?" Pak D mengangkat sebelah alisnya. Sedari dia masuk ke dalam rumah, bibirnya senantiasa terkatup, enggan tersenyum maupun bicara. Dia masih marah soal dimana aku tinggal.
"Eh..." Aku berkedip mengumpulkan kesadaran. "Kapan kau akan membuka pintu di depan sana" pak D benar-benar dalam mode macan yang sedang dapat tamu bulanan.
Aku segera beranjak lalu mendesah lega saat ku dapati beberapa orang yang membawa beberapa kotak plastik berisi makanan pesananku tersenyum tak enak di depan pintu.
"Bu maaf, sedikit telat... " Gadis muda yang kutaksir berada di awal 20 nyengir kuda. Aku pun tersenyum mafhum, asalkan tidak benar-benar telat tak masalah. Tidak lucu saat semua orang datang tapi di meja makan belum ada apa-apa.
Aku mengarahkan tiga orang ini langsung menuju dapurku, sudah ada mbak Sri yang ikut-ikutan panik sejak tadi.
"Makasih Bu, mari... Kami pamit" aku mengangguk setelah mengangsurkan uang seratus ribu untuk tip mereka. Wajah-wajah bahagia itu seketika berbinar menerimanya. Aku tersenyum dalam hati, membatin dulu aku juga begitu saat menerima tips dari atasanku saat magang di bank yang notaben jadi tukang fotokopi saja.
"Bun... Sudah rapi ini ya....?" Mbak Sri selesai menata makanan dan menambahkan buah-buahan dari kulkas sebagai pelengkap.
"Thanks mbak Sri ya, mbak Sri Sisihin dulu buat makan malam mba Sri"
"Sudah kok Bun... Saya juga sisain buat mas D kalau nanti malam bangun karena lapar" aku mengangguk dan menuju pusat keramaian di ruang keluarga rumahku.
Sudah ada Anita dan Sam yang bercengkrama dengan hangat bersama Little D aka Tara. Aku merasa lega, putraku tak lagi canggung berhadapan dengan Anita. Meski Anita sedikit merasa terbebani dengan mata berkabut kesedihan saat mengusap kepala putranya.
"Aunty, aku bukan bayi lagi. Please buang tanganmu dari rambutku" Anita hanya tersenyum, biasanya Nita akan terus menggoda Tara dengan jawaban judes juga, tak jarang mereka berakhir bertengkar seperti adik Kakak. Sementara D putraku, akan judes kepada siapa saja selain kepadaku, oh sekarang juga manja kepada beruang besar yang disebutnya sebagai ayah. Bahkan Tara bilang, wajahnya sudah mirip Pak D, sudah pantas jadi anaknya.
Tak lama muncul Rachel dan Paul Jillian yang disambut Pak D di ruang tamuku yang sebenarnya akan jadi sesak jika mama papa dan Gamma datang. Siang tadi dengan sedikit malu aku meminta Pak D untuk mengganti sofa ruang tamuku dengan kapasitas yang lebih lebar. Jangan tanya dulu kenapa aku meminta kepadanya. Biarlah nanti saja ku ceritakan.
Setidaknya aku masih bersyukur pria itu masih bisa ku tangani dengan baik.