Author POV :
" Happy birthday princessnya papa " ucap seorang pria paruh baya dengan riang sambil mengenakan topi kerucut ulang tahun
Lovella yang baru turun dari tangga lantai 2 seketika memutar bola mata jengah.
" Pa, aku udah 17 tahun dan masih aja tetap harus dirayain pake pernak pernik heboh gini?" tunjuknya pada berbagai macam pita ditangga dan rumah.
" Aduhh princessnya papa udah gede nih, jadi malu ya kalau rayain heboh begini?" kekeh Yohanes sambil menyalakan lilin dikue ulang tahun putrinya.
" hm.. Tapi makasih ya pa " ucap Lovella lalu mengecup pipi Yohanes dan duduk dikursi.
" sama-sama sayang, yuk make a wish dulu sebelum tiup lilinnya " ajak Yohanes
Lovella memejamkan matanya. Seketika bayangan masa lalu saat keluarganya masih utuh terlintas dikepalanya. Ia ingat, saat mamanya yang menyiapkan semua ini dan papanya yang selalu ceria merayakan ulang tahunnya. Saat mamanya yang memasakkan sarapan dipagi hari, saat mamanya yang membangunkannya. Air matanya menetes saat rasa bersalah menghampiri kembali.
" Princessnya papa kok nangis? " tanya Yohanes yang menyadarkan Lovella dari bayangan rasa bersalah.
" Gak apa-apa pa, cuma terharu papa daridulu sampai sekarang gak pernah bosan untuk rayain setiap momen bareng Lovella " ucap Lovella sambil menyeka air matanya dan tersenyum kembali.
" Ayo berdoa ya, kali ini jangan nangis lagi "
" hm..." gumam Lovella lalu menutup matanya.
" Tuhan, terima kasih atas semua berkat yang diberikan. Terima kasih untuk segalanya yang ada dihidup aku, Terima kasih untuk Papa yang amat sangat aku cintai, Terima kasih untuk kesehatan yang Tuhan berikan ke Papa, aku harap Papa bisa bareng aku terus. Cukup aku kehilangan mama karena kesalahanku. Aku gak mau kehilangan siapapun lagi dihidupku. Maaf kalau aku banyak minta, tapi semoga Tuhan selalu memberikan yang terbaik buat aku " kata Vella dalam hati lalu membuka mata dan meniup lilinnya.
" yeyyyy!!! Sekali lagi, selamat ulang tahun ya Princess nya papa. Kamu harta papa yang paling berharga, semoga selalu diberkati Tuhan ya sayang " ucap Yohanes lalu mengecup dahi putrinya lama.
" Pa?" panggil Lovella
" Hm?" deham Yohanes yang sadar dari lamunannya
" Maaf .. " gumam Lovella dengan suara kecil namun dapat didengar oleh Yohanes.
" Jangan ngomong begitu. Itu bukan salah kamu sayang " kata Yohanes dengan suara menghibur
Yohanes menatap Lovella dalam diam, ia tau seberapa berat rasa bersalah putrinya pada kematian Sinta, istrinya. Padahal ia tau sekali, itu sama sekali bukan salah putrinya. Kejadian itu hanya kecelakaan yang kebetulan terjadi dihari ulang tahun Lovella. Lovella yang ceria dan terang bagai mentari itu selalu murung dan terasa seperti mendung saat hari ulang tahunnya. Ia menatap tangan Lovella yang sedang menggenggam pisau pemotong kue dengan gemetar.
" Potong kuenya nak, habis itu kita sarapan ya "
*****
Lovella tiba di sekolah dengan diantar oleh Papa nya. Lagi-lagi Yohanes menghela napas melihat berapa buruknya suasana hati putrinya hari ini.
" Apa kamu istirahat aja di rumah? Gak usah sekolah dulu " gumam Yohanes.
" Gak apa-apa Pa, Lovella tetap sekolah kaya biasa aja. Terima kasih ya Pa sekali lagi " ucap Lovella yang berusaha memperbaiki suasana hati didepan Yohanes
" Serius? Ayo peluk papa dulu sayang " kata Yohanes sambil merentangkan tangannya
Lovella maju memeluk Papa nya.
" Terima kasih Pa, Lovella sayang banget sama Papa. You are my pers lope Pa! " kata Lovella dengan suara manja
" Masa sih Papa itu pers lope kamu?" tawa Yohanes
" Iya dong.. Papa itu satu-satunya yang Lovella punya. Bareng aku terus ya Pa.. jangan kemana-mana. Lovella bener-bener sayang banget sama Papa. " lirih Lovella. Ia bingung, suasana hatinya hari ini amat sangat tidak karuan.
" Iya sayang, Papa bakal bareng kamu terus. Kamu itu cintanya papa, hartanya papa, segalanya untuk papa. Apapun yang terjadi, kamu harus tetap jalani hidup dengan baik ya sayang " ucap Yohanes dengan jantung yang nyeri. Perasaannya tidak enak, dia sama sekali tidak ingin melepaskan pelukan dari putrinya.
" Kamu gak usah sekolah ya hari ini? Kita berdua pergi piknik aja yuk?" ajak Yohanes sambil melepaskan pelukan mereka
" Gak bisa pa, hari ini Lovella ada ujian Try out yang terakhir sebelum 2 bulan lagi Ujian Nasional " jawab Lovella.
" okay, Papa antar sampai kamu masuk gerbang ya Princess " kata Yohanes
Lovella mengangguk dan beranjak keluar dari mobil. Yohanes yang keluar mobil mendadak tubuhnya tegang melihat sebuah mobil Sport berwarna hitam dengan plat B 1 VAD. Seketika Yohanes menghampiri Lovella dan berdiri didepan putrinya itu.
" Gak usah sekolah ya sayang? Kali ini aja... nanti soal Try Out itu bisa papa urus. " ucap Yohanes sambil terus melirik kebelakang.
" Gak bisa pa.. nanti kalau aku diperlakukan istimewa kaya gitu orang-orang pasti heran " jawab Lovella yang bingung dengan tingkah Papa nya.
" Em.. okay. Kamu masuk sendiri ya, Papa gak bisa antar kamu sampai gerbang " ucap Yohanes sambil mengelus kepala putrinya dengan hati yang lagi-lagi terasa berdenyut.
" Iya pa, I love you Pa " kata Lovella sambil memeluk papanya sekali lagi. Ntahlah, pagi ini waktu terasa sangat lambat berjalan dan berat bagi Lovella.
" Sampai jumpa sayang, jangan lupa berdoa ya nak " Yohanes melambaikan tangannya dengan senyuman tulus. Matanya terasa buram oleh air mata. Ia tau, sudah saatnya..
Lovella berjalan menuju gerbang dan Yohanes mengikuti dibelakang dengan langkah pelan. Ia terus-menerus melirik mobil Sport dan putrinya dengan sikap yang sangat waspada.
Mobil sport itu menurunkan kaca jendelanya perlahan, terlihat sosok pria berjaket hitam yang sangat tampan dibalik kemudi. Yohanes semakin tegang dan jantungnya berpacu sama cepatnya dengan langkah kakinya menuju Lovella.
Pria berjaket hitam itu tersenyum miring sambil mengeluarkan pistol dari dalam dasbor mobilnya. Ia mengarahkan pistol ke arah Lovella dan disadari oleh Yohanes. Perlahan, telunjuk pria itu menarik pelatuk.
DORRRR
" Lovella!!!!!!" teriak Yohanes yang langsung memeluk Lovella
*****
TBC