Cahaya matahari pagi yang terik menembus celah gorden sutra abu-abu tebal, jatuh tepat di atas ranjang berukuran king size berselimut sutra hitam yang kini tampak berantakan. Bagi Senja, cahaya itu tidak membawa kehangatan, melainkan rasa perih yang langsung menusuk kelopak matanya yang bengkak akibat menangis semalaman penuh.
Saat kesadarannya perlahan terkumpul, rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar ke seluruh urat nadinya. Tubuhnya terasa remuk, sendi-sendinya kaku, dan rasa ngilu yang menusuk di area pangkal paha membuatnya meringis tertahan ketika mencoba menggeser posisi duduk. Senja memejamkan mata rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan yang hampir lolos.
Setiap jengkal kulitnya terasa panas, menjadi saksi bisu atas kebrutalan badai semalam. Danu Aryawangsa telah meluapkan seluruh puncak frustrasi, amarah, dan dendam kesumatnya yang membara akibat dikhianati Melani ke atas tubuh sucinya. Pria itu benar-benar memperlakukannya tak lebih dari seonggok daging tak berharga, sebuah alat bayar utang yang sah di atas kertas siri.
Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, Senja bangkit berdiri. Kakinya gemetar hebat, lemas seolah tidak sanggup menopang berat tubuhnya sendiri. Ia berjalan tertatih menuju cermin besar di sudut kamar tidur mewah tersebut.
Begitu menatap pantulan dirinya, d**a Senja seketika mencelos, dihantam rasa ngeri yang teramat dalam. Rambutnya kusut, wajahnya pias tanpa darah, sudut bibirnya tampak bengkak keunguan akibat tamparan Melani dua hari lalu, dan yang paling menyiksa batinnya adalah bercak-bercak kemerahan yang pekat di sepanjang ceruk leher hingga tulang selangkanya. Itu adalah cap kepemilikan yang ditinggalkan Danu dengan kasar. Air mata Senja kembali luruh tanpa suara, meratapi nasibnya yang kini telah kehilangan kesucian di dalam sangkar emas yang dingin ini.
Cklek.
Suara pintu kamar ganti terbuka memutus rantai kepedihan Senja.
Danu Aryawangsa melangkah keluar dengan penampilan yang luar biasa rapi dan kontras dengan kondisi Senja yang mengenaskan. Pria itu telah mengenakan setelan jas kerja premium berwarna hitam pekat, kemejanya dikancing sempurna hingga ke leher, dan rambut klimisnya disisir rapi ke belakang. Aroma alkohol yang semalam melekat pada tubuhnya kini telah menguap, digantikan oleh wangi parfum maskulin yang tajam, mewah, dan mengintimidasi. Wajah tampannya kembali datar, beku, dan sekeras batu marmer, sama sekali tidak memperlihatkan gurat penyesalan sedikit pun setelah merenggut paksa mahkota seorang gadis perawan semalam.
Danu berjalan mendekati meja rias untuk mengambil jam tangan Rolex-nya. Sepasang mata elangnya melirik sekilas ke arah Senja melalui pantulan cermin dengan tatapan yang luar biasa dingin dan merendahkan.
"Bersihkan dirimu," perintah Danu. Suaranya berat, dalam, dan tidak memiliki riak emosi hangat sedikit pun. "Jangan biarkan tubuhmu berbau menjijikkan seperti itu saat turun ke bawah."
Senja tersentak pelan. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap jemari kakinya yang telanjang di atas lantai. "Baik... Mas."
Mendengar panggilan itu, gerakan tangan Danu yang sedang memasang jam tangan seketika terhenti. Rahangnya mengeras, dan aura di dalam kamar tidur itu mendadak turun drastis hingga terasa mencekat jalur pernapasan Senja. Danu membalikkan tubuhnya, mengambil dua langkah lebar yang intimidatif hingga bayangan tubuh tegapnya mengurung total sosok mungil Senja.
"Jangan pernah lancang memanggilku dengan sebutan menjijikkan itu," desis Danu tepat di depan wajah Senja, nadanya begitu rendah namun menusuk hingga ke tulang. "Aku bukan 'Mas'-mu,. Kita tidak sedang menjalani pernikahan normal yang didasari oleh cinta beda kasta yang indah. Kau ada di sini karena kakakmu menjualmu untuk melunasi utang miliaran rupiah keluargamu. Statusmu di rumah ini tidak lebih tinggi dari selembar kertas kontrak kerja."
Senja memejamkan mata, menahan debaran jantungnya yang berpacu liar karena ketakutan. "M-maaf... Tuan Danu."
Seringai sinis dan dingin terbit di bibir tipis pria itu melihat kepasrahan Senja. "Bagus. Kau rupanya cepat belajar."
Danu tak mengalihkan tatapannya dari Senja.
"Dengar baik-baik. Selama kau tinggal di bawah atap rumahku, ada aturan yang harus kau patuhi tanpa bantahan," Danu mulai menetapkan batasannya dengan suara yang mutlak. "Pertama, panggil aku Tuan jika kita berada di rumah ini, dan jangan pernah berlagak menjadi nyonya rumah di depan para pelayan. Kau harus tahu diri di mana posisimu berdiri."
Senja mengangguk kaku dengan tenggorokan yang terasa kering terikat. "Baik, Tuan."
"Kedua, wilayahmu di rumah ini terbatas. Kamar kerja pribadi di lantai bawah, ruang arsip, dan area halaman belakang yang berpagar tinggi adalah area terlarang untukmu. Jangan pernah menginjakkan kakimu ke sana tanpa izin dariku, atau kau akan tahu sendiri akibatnya," lanjut Danu, sepasang matanya menatap tajam mengunci manik mata Senja.
"Dan yang ketiga... jangan pernah berani menampakkan wajah menangismu yang menyedihkan itu di hadapanku saat aku pulang kerja. Aku menikahimu bukan untuk melihat air mata drama setiap hari. Mengerti?"
"Mengerti, Tuan," bisik Senja parau. Air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya mati-matian ia tahan agar tidak jatuh di depan pria kejam ini, persis seperti aturan yang baru saja diucapkan.
Danu menatap Senja untuk terakhir kalinya pagi itu, menatap sudut bibirnya yang bengkak dan lehernya yang penuh bercak merah dengan pandangan yang tak terbaca sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar kamar dengan ketukan sepatu pantofel yang tegas, meninggalkan Senja dalam keheningan penjara barunya.
Setelah membersihkan diri dengan air hangat yang sedikit mengurangi rasa linu di tubuhnya, Senja turun ke lantai bawah dengan mengenakan gamis sederhana miliknya yang ia bawa dari desa. Rumah mewah dua lantai itu terasa begitu asing, sepi, dan terlalu luas untuknya. Langkah kakinya yang ragu-ragu membawanya menuju area dapur bersih yang didominasi oleh marmer putih dan peralatan modern.
Di sana, seorang wanita paruh baya berwajah ketus dengan celemek yang terikat di pinggangnya sedang sibuk menata sarapan. Bi Inah. Pelayan senior di rumah itu membalikkan tubuhnya saat mendengar langkah kaki Senja.
Bukannya memberikan salam hormat pada istri baru majikannya, Bi Inah justru melayangkan tatapan mata yang penuh selidik, dingin, dan meremehkan ke arah Senja. Matanya sempat tertuju pada bekas kemerahan di leher Senja yang tidak tertutup sempurna oleh kerah gamisnya.
"Jadi... kau wanita dari desa yang dibawa Tuan Danu kemarin?" tanya Bi Inah dengan nada suara yang sengaja ditinggikan, sarat akan nada sinis. "Tuan Danu tadi sebelum berangkat sudah berpesan padaku. Dia bilang, meskipun kau sudah sah di atas kertas, kau tidak boleh bermanja-manja di rumah ini. Kau harus belajar mengurus keperluan rumah tangga sendiri."
Senja memaksakan sebuah senyuman tipis, mencoba bersikap sopan meskipun hatinya terasa seperti diremas. "Iya, Bi. Saya Senja. Mohon bimbingannya jika ada pekerjaan rumah yang harus saya bantu di sini."
Bi Inah mendengus pelan, melipat kedua tangannya di d**a. "Pekerjaan di rumah sebesar ini tentu banyak, tidak seperti gubukmu di kampung. Tapi untuk hari ini, Tuan Danu hanya memintamu untuk membersihkan ruang makan setelah sarapan selesai, dan mencuci semua pakaian kotor milik Tuan secara terpisah di ruang belakang. Ingat, pakaian Tuan Danu menggunakan bahan mahal, jangan sampai ada yang rusak atau robek karena kecerobohan desamu."
"Baik, Bi. Akan saya kerjakan dengan hati-hati," jawab Senja tulus. Baginya, bekerja kasar bukanlah hal baru. Di desa, ia sudah terbiasa bekerja keras demi mencari uang pengobatan ibunya. Pekerjaan fisik ini justru jauh lebih baik daripada harus berdiam diri di kamar dan terus-menerus dibayangi oleh ketakutan akan sosok Danu.
Sarapan pagi itu dilalui Senja dalam kesendirian di sudut meja dapur yang sepi. Setiap suapan rotinya terasa hambar, tertahan di kerongkongan karena bayangan wajah ibunya yang berada jauh di ruang ICU rumah sakit terus berputar di benaknya.
Senja meremas dadanya yang terasa sesak luar biasa. Ia tahu, penderitaan fisik dan batin yang ia telan bulat-bulat di rumah mewah ini adalah harga mati yang harus ia bayar agar selang oksigen ibunya tetap mengalirkan napas kehidupan. Di bawah atap neraka milik Danu Aryawangsa ini, Senja berjanji pada dirinya sendiri untuk mengubur dalam-dalam harga dirinya, menjadi sosok penurut yang tak bersuara, demi satu-satunya alasan ia bertahan hidup: kesembuhan sang ibu.
Namun, Senja tidak pernah menduga bahwa ujian pertamanya akan datang secepat ini. Saat ia melangkah menuju area belakang, tumpukan kemeja mahal milik Tuan Danu dan tatapan mata Bi Inah yang menuntut seolah siap menguras habis seluruh sisa tenaga di tubuh ringkihnya yang hampir tumbang.
Sanggupkah fisik Senja bertahan, sementara rasa ngilu semalam masih menyiksa setiap jengkal tubuhnya?"
"Tunggu apa lagi? Cepat bawa ember itu ke belakang!" bentak Bi Inah, suaranya melengking memecah keheningan koridor lantai bawah.
Senja tersentak dari lamunannya. Tubuhnya yang masih didera rasa linu luar biasa akibat kebrutalan Danu semalam dipaksa bergerak maju. Namun, karena rasa ngilu di pangkal pahanya yang tak tertahankan, langkah Senja menjadi lambat dan sedikit pincang.
Melihat hal itu, Bi Inah mendengus muak. Tanpa peringatan, tangan pelayan senior itu bergerak maju dan mendorong kasar bahu ringkih Senja hingga gadis itu terhuyung, menabrak tembok marmer yang dingin.
"Aakh!" Senja meringis kesakitan, refleks memegangi perut bawahnya yang terasa kram.
"Jangan berlagak manja dan pasang muka melas di depanku!" desis Bi Inah kejam, menatap Senja dari atas ke bawah dengan pandangan menjijikkan. "Kau pikir bekas merah di lehermu itu bisa dijadikan tameng untuk bermalas-malasan? Sadar diri, Senja! Kau di sini cuma pelampiasan Tuan Danu. Di atas ranjang kau mungkin disentuh, tapi di bawah atap ini, derajatmu bahkan tidak lebih tinggi dari keset kaki!"
Kata-kata Bi Inah menembus tepat ke ulu hati Senja, merobek sisa-sisa harga diri yang mati-matian ia pertahankan sejak pagi.
Senja tidak menjawab. Ia menunduk dalam-dalam, membiarkan air matanya menetes satu demi satu, membasahi lantai marmer mengkilap yang harus ia bersihkan nanti. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mengangkat ember kayu yang berat, menyeret kakinya yang lemas menuju ruang cuci di halaman belakang yang gersang.
Matahari Jakarta yang mulai meninggi terasa membakar kulit lehernya yang penuh luka cap kepemilikan dari Danu. Di depan papan gilasan yang keras, Senja bersimpuh. Setiap kali tangannya mengucek kemeja satin mahal milik pria yang semalam menghancurkannya, rasa perih di sekujur tubuhnya berdenyut hebat.
Dada Senja bergemuruh hebat, sesak oleh ironi yang teramat perih.
Statusnya adalah seorang istri yang sah di mata agama. Semalam, tubuh sucinya diserahkan seutuhnya di atas ranjang sutra sebagai taruhan nyawa ibunya. Namun siang ini, di rumah mewah yang seharusnya menjadikannya seorang nyonya, ia justru diperlakukan lebih rendah dari seorang b***k, dipaksa mencuci bersih sisa-sisa wangi parfum pria yang telah merenggut paksa kehormatannya tanpa seujung kuku pun rasa bersalah.
Dari ambang pintu kaca yang membatasi ruang cuci, Bi Inah berdiri tegak sambil melipat kedua tangannya di d**a. Sepasang matanya yang berkerut menatap punggung ringkih Senja yang naik-turun menahan isak tangis di depan papan gilasan.
Bukannya merasa iba, sebuah senyuman puas dan penuh kemenangan justru perlahan terukir di wajah paruh bayanya yang ketus.
‘Rasakan itu, dasar gadis kampung tidak tahu diri,’ batin Bi Inah berdesir penuh kebencian.
Bagi Bi Inah, tidak ada satupun wanita yang pantas menduduki takhta nyonya di rumah mewah ini selain Melani. Melani adalah dewi pembawa keberuntungan untuknya. Selama dua tahun menjadi nyonya rumah, Melani tidak pernah pelit. Bi Inah kerap dihujani hadiah-hadiah mewah, tas bermerek bekas yang masih sangat bagus, pakaian mahal, hingga bonus uang tunai yang nominalnya berkali-kali lipat dari gaji pokoknya, hanya demi memastikan Bi Inah menutup mulut dan ikut menyembunyikan fakta bahwa Melani tidak pernah mau tidur seranjang dengan Tuan Danu.
Bi Inah melangkah mendekat, sengaja menghentakkan kakinya keras-keras di atas lantai semen luar agar Senja tahu dia sedang diawasi.
"Gosok yang bersih, Senja! Jangan sampai ada sisa noda minyak atau keringat di kerah kemeja Tuan Danu," tegur Bi Inah, suaranya terdengar begitu congkak, berlagak layaknya sang pemilik rumah. "Kalau sampai ada bahan kemeja mahal itu yang kusut atau rusak karena tangan kasarmu, aku tidak akan segan-segan melaporkannya pada Tuan Danu agar uang bulanan untuk ibumu di rumah sakit dipotong!"
Senja tersentak. Tangannya yang memerah karena deterjen murahan seketika berhenti mengucek. Ia tidak menoleh, hanya mampu mengangguk pelan dengan bahu yang bergetar menahan tangis yang kian membuncah. "Baik, Bi... akan saya bersihkan sampai tuntas."
Bi Inah mendengus puas melihat kepasrahan Senja yang tak berdaya. Ia membalikkan tubuhnya, melangkah kembali ke dalam rumah yang sejuk ber-AC, meninggalkan Senja yang terus memeras sisa tenaga di bawah terik matahari pagi.
Sambil berjalan menuju dapur, Bi Inah merogoh saku celemeknya, menatap layar ponselnya yang menampilkan foto kiriman terbaru dari Melani yang sedang berada di Milan. Senyumannya merekah lebar, penuh dengan pemujaan mutlak.
‘Tenang saja, Nyonya Melani...’ monolog Bi Inah di dalam hati dengan kilat mata yang picik dan kejam.
‘Di rumah ini, posisi Nyonya besar akan tetap menjadi milik Nyonya Melani. Wanita kampung itu tidak akan pernah mengecap rasanya hidup bahagia sebagai istri Tuan Danu. Saya sendiri yang akan memastikan hidupnya di rumah ini berubah menjadi neraka j*****m yang paling menyiksa, sampai dia sendiri yang berlutut memohon untuk pergi... atau sampai tubuh ringkihnya itu hancur tidak berbentuk.’
Bersambung