Mallory, seorang bos mafia paling berpengaruh di negara A. Dia pembunuh berdarah dingin. Dia juga memiliki seorang putri yang diberikan nama Morana, yang bermakna kematian. Morana, putri kesayangannya sekaligus tangan kanan Mallory. Tugas penting, selalu ia percayakan kepada Morana, untuk mengeksekusi.
Althaf, seorang pemuda tampan, ia adalah seorang tentara pasukan khusus. Karirnya sangat bagus di dunia militer. Namun Ayahnya terbunuh di tangan Mallory. Mallory dan ayahnya adalah musuh bebuyutan di dunia gelap. Kini Althaf yang menggantikan sang ayah. Althaf berjanji akan membalas dendam kepada Mallory dengan apapun caranya.
Di tempat sebuah hiburan malam, terdengar suara hingar- bingar musik. Mereka menggoyangkan badan, sesuka hati, dengan gaya yang tidak beraturan. Mereka hanya ingin mencari kebahagian hati seperti yang mereka inginkan.
Terlihat di sebuah meja, seorang pemuda, sedang menghabiskan malamnya dengan beberapa orang gadis. Meneguk wine hingga, menghabiskan beberapa botol. Dia adalah Althaf. Namun ada yang menarik perhatian Althaf, ketika pandangan matanya tertuju pada seorang gadis. Menurutnya, gaya gadis itu sangat misterius.
Althaf bertanya kepada Bill, orang kepercayaan sekaligus sahabat baiknya,"Siapa gadis itu?" Althaf menunjukkan dagunya, pada orang yang ia tanyakan.
Bill, melihat ke arah yang Althaf maksud dan membuat nya sangat terkejut," Dia kan Morana, putri kesayangan Mallory," jelas Bill.
Mendengar nama Mallory di ucapkan Bill, seketika darah Althaf mendidih.
"Apa yang kau katakan? apa itu benar?" tanya Althaf.
"Ya, benar. Selain putri kesayangan, dia juga orang kepercayaan ayahnya sendiri." Bill menatap Morana, sambil meneguk winenya.
Althaf berdiri dari duduknya. Dia berjalan menuju meja Morana.
Bill, melihat itu, takut bila Althaf melakukan hal yang akan merugikan diri sendiri maupun dirinya. Oleh karena itu, ia mengeluarkan ponsel dari saku celana, menelpon anak buah mereka, untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu. Lalu Bill mengikuti Althaf ke meja Morana.
"Boleh saya duduk di sini?" tanya Althaf kepada Morana.
Morana, melihat pada Althaf dan mengangguk mengiyakan Althaf.
"Sendiri saja?" Althaf memulai bicara.
"Hmm, seperti yang kamu lihat." Morana, terus menerus meneguk minuman keras miliknya.
"Apa, kau sedang mempunyai masalah?" tanya Althaf lagi, ketika melihat Morana seperti orang yang sedang frustasi.
Jika benar begitu, jelas ini adalah awal langkah yang bagus untuk Althaf memulai balas dendamnya.
"Kalau aku mengatakan ya, apa kau bisa menyelesaikan nya?" jawab Morana, sinis.
"Aku bisa membuatmu bahagia. Aku bisa membuatmu melupakan semua masalahmu." Lalu Althaf berdiri dengan menyodorkan kartu di atas meja Morana. Ia pun melangkah meninggalkan hiruk pikuk yang ada, menuju suit room yang disediakan di club itu.
Melihat kartu yang diberikan Althaf, Morana tersenyum tipis.
"Althaf, apa yang kau lakukan ini?" Bill mengiringi langkah Althaf.
"Kamu tentu tahu, apa yang ada dalam pikiranku," jelas Althaf.
"Dasar iblis, baiklah, selamat bersenang-senang. Bila ada masalah, cepat hubungi aku." Bill menepuk pundak Althaf dan pergi ke meja yang tadi, untuk melanjutkan malam yang panjang ini.
****
Pintu terbuka, di depannya sudah ada orang yang Althaf tunggu sedari tadi.
Dengan santai Morana, masuk dan menutup pintu.
Sementara Althaf duduk di atas ranjang dengan menyilang kaki, di tangannya ada gelas berisi wine. Matanya menatap tajam wajah Morana.
Morana, menghampiri Althaf, mengambil gelas berisi wine itu dan menghabiskannya dalam satu tegukan.
"Aku sangat suka dengan gayamu." Althaf membelai pipi lembut Morana. Tangannya membuka semua yang menutupi tubuh gadis ini.
Hingga terjadilah pergumulan di antara mereka dengan penuh hasrat yang menggebu. Titik peluh mengalir dari tubuh liar mereka. Bau peluh bercampur dengan bau anyir hasrat, menjadi puncak kenikmatan malam panjang mereka berdua.
****
Morana, mengerjapkan matanya, karena silau oleh cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah jendela. Ia mencoba duduk dan memegang kepalanya yang terasa berat juga pusing. Seketika, baru lah gadis ini menyadari bahwa dirinya tidak berbusana sama sekali, tubuh polos tanpa sehelai benang pun. Dengan seksama ia melihat ke sampingnya, namun tidak ada seorangpun di sana. Lalu ia terbayang dengan malam panas yang dihabiskannya dengan pria yang tidak dikenal.
Rasa kecewanya dengan sang Ayah, membuat ia merasa frustasi. Belum pernah sekalipun Morana di bentak Mallory, tapi kemarin Mallory begitu sangat marah dan kecewa padanya. Karena Morana gagal menjalankan misi yang Mallory percaya kan padanya. Hingga Morana, pergi seorang diri untuk menenangkan hatinya ke klub ini tanpa sepengetahuan siapapun.
Dalam lamunan, Morana, dikejutkan dengan suara bariton Althaf yang baru keluar dari kamar mandi, tubuhnya hanya berbalutkan handuk. Memperlihatkan d**a bidang yang sixpack.
"Kau?!" ujar Morana, tubuhnya langsung ia tutupi dengan selimut.
"Hey! Mengapa kau malu? bukankah, tadi malam aku sudah melihat semuanya? Oh, lebih tepatnya sudah menikmati nya," tandas Althaf dengan tersenyum smirk.
"Lupa kan semua nya! anggap tidak pernah terjadi apa pun!" Morana, berdiri dengan masih berbalutkan selimut. Ia punguti baju yang berserakan di lantai, dan pergi ke kamar mandi.
'Hah, melupakan semuanya. Tidak akan! dan tidak akan pernah, sampai aku bisa mencapai Ayahmu! dan membalas dendam atas kematian Ayahku' batin Althaf menahan emosi.
Tak lama kemudian, Morana keluar dari kamar mandi dengan berpakaian lengkap. Tanpa basa-basi ia keluar dari kamar itu. Namun sebelum ia benar-benar menghilang, Althaf memanggilnya dengan setengah berteriak, " Kapan saja kau membutuhkan kebahagiaan, temui lah aku di sini," pekiknya.
Morana, berhenti sejenak mendengar teriakkan Althaf, lalu melanjutkan lagi langkahnya.
****
"Nona muda, kamu dari mana saja semalaman? Tuan sangat mengkhawatirkanmu," tanya Robert, ketika melihat wajah Morana, di hadapannya.
"Seperti yang kamu lihat ini, aku baik-baik saja, jadi tidak perlu cemas." Morana masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Robert sendiri.
Ia berbaring di atas ranjang, semua anggota tubuhnya terasa sakit dan pegal. Lalu ia berusaha memejamkan mata. Tapi pikiran dan hatinya tertuju pada Althaf. Semua kejadian tadi malam bagaikan kaset rusak, mengulang di memorinya. Semua sentuhan Althaf masih begitu ia rasakan.
"s**l! mengapa aku memikirkan dia?!" geram Morana pada dirinya sendiri.
Mallory pun mengetuk pintu kamar Morana.
"Morr…," panggil Mallory.
Dengan malas Morana, bangkit dan membuka pintu. Hatinya masih sangat kesal kepada Mallory. Setelah itu ia berbaring kembali membelakangi sang Ayah.
"Morr, kau dari mana saja? kau tidak memikirkan Ayah yang cemas denganmu?" Mallory duduk di samping putri kesayangannya itu.
Morana, tetap diam tanpa sepatah kata pun.
"Morr, kau masih marah padaku?" tanya Mallory.