Sementara di pelabuhan itu, antara kubu Morana dan penyelundup, bertempur habis-habisan. Mereka mengira di antara mereka ada yang berkhianat. Dengan gesit Morana, menghabisi mereka semua. Hingga semuanya terkapar tak berdaya. Morana, duduk di jok mobil dengan pikiran kacau. Meskipun ia menang dalam pertempuran ini, tapi ia tetap gagal menjalankan misi yang diberikan Mallory. Pasti Mallory akan marah besar kepadanya, seperti waktu itu.
"Nona muda, apa kita pulang sekarang?" tanya Robert, wajah Robert penuh dengan anyir darah.
"Ya, apapun yang terjadi nanti, aku harus menghadapinya." pandangan mata Morana, sayu kedepan.
"Kau putri kesayangannya." Robert menjalankan mobilnya.
"Hah, putri kesayangannya? ku rasa tidak seperti itu." Morana, membuang muka ke jendela samping.
****
Keesokan hari.
Althaf bersiap untuk berangkat ke kantornya. Selain seorang militer, ia juga memiliki perusahaan. Sebelum berangkat dia menyempatkan dirinya untuk melihat sang Ibu yang sangat dicintainya.
Ibu Althaf mengidap gangguan jiwa, semenjak Mallory menghabisi nyawa suaminya di depan mata kepalanya.
"Ibu," panggil Althaf, seraya meraih tangan wanita itu. Ia menggenggam tangannya erat. Lalu mencium punggung tangan itu dengan hikmat, "Ibu tidak usah khawatir, aku akan membalas dendam ayah untukmu."
Namun wanita yang Althaf ajak bicara, tidak bergeming sedikitpun. Pandangan matanya
Kosong. Althaf menyeka air yang mengalir di sudut matanya. Lalu dia memanggil pelayan untuk memberikan ibunya makan dan minum obat. Setelah itu baru ia benar-benar meninggalkan ruangan itu.
Sampai di lobby kantor, Althaf terkejut dengan kehadiran Morana disana, " Morana." Althaf mendatangi Morana yang sedang duduk menunggu dirinya.
"Dari mana kau tau kantorku?" tanya Althaf.
"Bukan hal yang sulit untukku mencari tahu. Apa aku mengganggumu?"
"Ah, tidak sama sekali. Ayo ke ruanganku!" ajak Althaf.
Althaf mengajak Morana, duduk di sofa. Dan menatap gadis itu lekat, seolah ingin bertanya.
"Aku sedang punya masalah dengan Ayahku. Aku ingin menenangkan hati," ucap Morana.
"Kau bisa menceritakan masalahmu kepadaku! aku adalah pendengar yang baik." Althaf mencoba memancing Morana.
Namun itu tidak mungkin bagi Morana, karena ia takut kalau Althaf mengetahui siapa dirinya. Lelaki ini akan meninggalkan dia.
"Aku belum siap untuk bercerita." Akhirnya Morana angkat bicara.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membahagiakanmu."
Althaf memeluk Morana, membelai pipi lembutnya. Lalu ia mendekatkan wajah pada gadis itu. Hingga mereka lupa, di mana tempat mereka sekarang. Pergumulan panas pun terjadi, sehingga tubuh polos mereka dipenuhi keringat.
Saat mereka berdua merasa terbang, tiba-tiba pintu dibuka oleh Bill. Bill, memang selalu keluar masuk di ruangan Althaf tanpa mengetuk atau permisi terlebih dahulu.
Setelah pintu terbuka, mulutnya ternganga lebar menyaksikan apa yang sedang terjadi di depan matanya. Melihat goyangan bos yang selama ini di seganinya.
Althaf, menghentikan aktivitas yang dilakukan olehnya saat ini. Dengan gerakan cepat ia menyambar jas yang ada di bawah kakinya. Dan menutupi kebanggaan dirinya. Dengan tatapan seakan membunuh ia melihat Bill.
"Ah, maaf. Sepertinya aku salah ruangan." Bill, cepat-cepat keluar dari sana dan menutup pintu.
Setelah keluar, ia tertawa cekikikan mengenang adegan yang barusan disaksikannya, melintas di otak kotornya.
Morana, memunguti pakaian yang berserakan di lantai, lalu ia ke kamar mandi mengenakan pakaiannya.
Setelah Althaf memakai semua pakaiannya, ia mengambil ponsel dari laci meja. Menekan tombol panggil kepada Bill.
"Ya, Bos," jawab Bill.
"Urusan kita belum selesai." Althaf mematikan ponselnya.
Mendengar kemarahan Althaf membuat tubuh Bill, terasa meriang.
"s**l! biasanya aku juga langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Dia tidak pernah mempermasalahkannya. Mengapa hari ini, aku terlihat bersalah?" Bill, mengumpat tidak terima dengan kemarahan Althaf.
Morana, keluar dari kamar mandi.
Althaf mendekatinya dan memeluk tubuh gadis ini.
"Sayang, maafkan aku atas kekacauan ini," pinta Althaf.
"Tidak apa, ayo kita pergi makan siang! aku sangat lapar."
"Mari! tapi ajaklah, sepupumu itu untuk Bill. Dia tidak pernah dekat dengan wanita." Althaf mempunyai rencana untuk bawahan sekaligus sahabat baiknya itu.
"Baiklah, nanti aku akan menghubunginya." Morana bergelayut manja pada Althaf.
*****
Karena paksaan dari Althaf, akhirnya Bill ikut juga ke club yang biasa mereka datangi.
Bill tidak menyadari kalau wine miliknya sudah dimasukkan obat perangsang oleh Althaf.
Seluruh tubuh Bill, terasa panas dingin, dan dia menatap Althaf seperti menyadari sesuatu. Althaf hanya tertawa terbahak mendapatkan tatapan Bill, " Bersenang-senang lah! kau belum pernah merasakannya, hingga kau sangat terkejut siang tadi," ucap Althaf bahagia, karena ia berhasil mengerjai Bill yang kaku itu.
Morana membawa Serina masuk dalam suite room.
"Mengapa kau mengajakku ke sini?" heran Serina.
"Untuk bersenang-senang," jawab Morana.
Tak lama, Althaf masuk membawa Bill kedalam suite room yang sudah ada Morana dan Serina di sana.
Kemudian keduanya kompak meninggalkan mereka berdua. Serina yang tertipu oleh sepupunya sendiri merasa marah.
"Morr, kenapa kau lakukan ini?!" pekiknya, dan Morana menjawabnya dari luar, "Selamat Bersenang-senang." Kemudian terdengar suara tawa Morana dan Althaf.
Serina menatap Bill. Pipi Bill terlihat memerah karena menahan sesuatu.
"Ck, haruskah aku dengannya?" keluh Serina, meskipun ia terbiasa dengan beberapa lelaki, tetapi ia alergi terhadap Bill.
Selesai berbicara, Bill langsung menyerang Serina. Seperti macan yang siap memangsa korbannya. Gerakan cepat Bill, membuat Serina tidak bisa mengelak. Hingga gadis ini tepar tak berdaya.
Bill, tidak berani menatap serina yang ada di sampingnya. Dalam hati, ia sangat mengutuk perbuatan Althaf kepadanya.
Sementara Serina diam saja, ia merasa Bill, adalah sosok lelaki sempurna setelah malam ini. Meski sebelumnya dia sangat tidak menyukai Bill.
Dalam hingar-bingar dentuman musik yang begitu memekakkan telinga, Althaf dengan Morana meneguk wine hingga menghabiskan gelas demi gelas. Kemudian dari kejauhan, tampak beberapa orang yang memakai baju hitam semua, mirip dengan orang yang datang saat Althaf dan Morana makan di kawasan elit waktu itu.
"Sudah datang rupanya," gumam Althaf menyeringai.
Robert langsung menghampiri Morana," Nona muda, apakah anda baik-baik saja?" tanyanya dengan nada cemas.
"Ayah, sedang apa kau disini?"
"Diam kau! seharusnya aku yang bertanya seperti itu," bentak Mallory, lalu menarik lengan putri kesayangannya itu.
"Lepaskan aku! aku bukan anak kecil lagi yang harus selalu menerima semua emosimu!" Morana melepaskan diri dari Mallory dan bersembunyi di belakang Althaf.
"Kau yang mengirimkan pesan itu?" tanya Mallory kepada Althaf.
"Iya, kenapa? apa kau mengira tidak akan lagi, melihat putrimu ini? seperti aku yang tidak akan pernah bisa melihat Ayahku." geram Althaf.
"Kau tidak tau dengan siapa kau berhadapan sekarang?!" bentak Robert.
"Hahaha, siapa yang tidak mengenali Mallory si pembunuh berdarah dingin? jelas saja aku sangat mengenalnya. Kalian yang tidak mengenalku, kalau begitu perkenalkan, aku Althaf putra dari David. David yang telah kau habisi tanpa ampun, hingga membuat Ibuku mengalami gangguan mental," ucap Althaf berapi-api.