Setelah Edler beranjak dari rumah Lenna, dia kembali menghampiri ke arah kereta kudanya.
Lalu ia menaiki dan hendal bergegas pergi.
"Sudah selesai, Tuan?" tanya kusir.
“Sudah. Ayo kita segera pulang sebelum gelap.”ucap Edler.
"Baik, Tuan." ucap kusir.
"Oh ya, Sebelum ke villa, kita singgah dulu ke Buitenzorg." kata Edler.
"Baik, Tuan." jawab kusir.
Buitenzorg adalah nama resmi kota Bogor pada jaman penjajahan Belanda kala itu.
Edler ingin singgah dulu ke tempat itu guna mencari rumah yang nantinya ingin dia tempati sendiri selama disana. Ia ingin mencari rumah untuk tempat tinggalnya melalui temannya yang berada disana.
Ia tau orang tuanya dan rombongan lain tidak akan berada lama di tanah air.
Karna itu dia berniat ingin mencari tempat tinggal sendiri selama ia berada disana agar ia dapat selalu menemui Lenna, wanita yang ia sukai.
————————————————————
Sesampainya di Buitenzorg/Bogor, ia langsung menuju tempat pabrik besi yang berada tak jauh dari pusat kota guna menemui rekannya itu yang selaku pemilik pabrik besi baja kala itu.
Saat berada di pabrik besi itu, beberapa pekerja terlihat berada di dalam ruang kerja yang panas dan dengan penerangan yang seadanya. Di dalam ruang tersebut, pekerja sibuk melakukan pekerjaannya seperti memanaskan lempeng logam, mengendalikan alat penghembus angin, menempa besi, dan menghaluskan permukaan besi.
Di sisi lain dalam ruangan, terdengar bunyi logam beradu memenuhi telinga. Tiga orang bertugas menghantamkan palu untuk membentuk pola besi dan satu orang lainnya bertugas untuk menjaga logam agar tak lepas ketika dihantam palu.
"Ayo pukul. Satu, dua, tiga!" kata seorang pekerja.
Bara dari api menyebar ke sekitar pekerja. Edler juga sempat terpercik oleh bara. Sementara, para pekerja tampak santai berada di dalam ruangan walaupun tak menggunakan baju.
Kemudian Edler menghampiri salah satu pekerja, dan menanyakan keberadaan temannya itu.
"Hei, dimana Marinus?" tanya Edler.
"Tuan Marinus sedang mengawasi pekerja di belakang, Tuan." jawab pekerja itu.
Tanpa menjawab apa-apa, Edler langsung bergegas menemui Marinus, rekannya sekaligus pemilik pabrik itu.
Setelag berjalan ke arah yang di tunjukkan oleh salah seorang pekerja disana, ia mendapati Marinus yang sedang mengamati pekerja disana.
Marinus adalah orang Belanda yang sudah tinggal di Indonesia lumayan lama. Ia berteman dengan Edler sejak sama-sama mengelola perdagangan VOC di wilayah Eropa. Namun mereka berpisah semenjak Marinus memutuskan untuk pindah ke Indonesia dan mengelola VOC di Indonesia dari jalur belakang.
"Marinus!" teriak Edler memanggil.
Marinus yang mendengar seseorang memanggilnya, ia menoleh ke arah suara yang memanggilnya itu.
"Hey, Edler." sahut Marinus.
"Bagaimana kabarmu? Kapan kau datang kemari, sudah lama kita tidak bertemu.” tanya Marinus sambil berjabat tangan dan memeluk Edler.
"Kabarku baik, bagaimana juga dengan kabarmu kawan?” Jawab Edler.
“Kabarku baik. Sampai saat ini pun masih baik.” Ucap Marinus sembari tersenyum.
“Mari masuklah ke dalam ruanganku. Kita bicara di dalam.” Ucap Marinus mengajak Edler.
“Emm tidak perlu, Tempat ini sangat panas. Aku benar-benar tidak tahan. Mungkin sebaiknya kita bicara di luar saja.” ucap Edler.
"Hahaha. Baiklah. Mari kita keluar." ajak Marinus.
Lalu mereka berdua pun berjalan keluar pabrik. Karena Edler yang tidak panas dengan suasana panas di dalam pabrik.
Setelah mereka berada diluar pabrik, Edler langsung mengatakan perihal tujuannya datang kemari.
Selain pemilik pabrik, Marinus juga seorang pemilik perkebunan teh, pabrik teh, pemilik rumah-rumah mewah yang dijual belikan untuk orang bangsawan Belanda maupun pejabat Belanda yang tinggal disana.
Itulah sebabnya Edler menemui Marinus karena Edler mengetahui dia memiliki banyak rumah untuk di beli olehnya.
Sambil berjalan-jalan diluar area pabrik, Edler mengutarakan tujuannya.
"Aku ingin menetap di negeri ini. Apa kamu masih memiliki rumah kosong untuk dijual?” ucap Edler menanyakan kesediaan rumah.
"Kau ingin menetap disini? Lantas apa yang bisa aku bantu?" tanya Marinus.
"Itulah alasanku datang kemari, kau memiliki banyak rumah megah disini, aku ingin membelinya untuk tempat tinggalku." tutur Edler.
Marinus mengangguk-ngangguk. “Jadi begitu ya.”
"Apa kau ingin menetap disini karna perintah orang tuamu untuk mengurus perdagangannya?" tanya Marinus.
"Yah itu termasuk salah satunya, tapi aku mempunyai maksud lain disini. Tapi ada kemungkinan juga aku akan di beri wewenang dalam tugas perdagangan ayahku disini, walau itu bukan tujuan utamaku?" jelas Edler.
"Memangnya kau mempunyai tujuan apa disini?" tanya Marinus.
"Ah sudahlah. Itu bukan urusanmu, nanti akhirnya juga kau akan tau sendiri." jawab Edler.
"Hmmm. Baiklah. Kau ingin rumah yang bagaimana?" tanya Marinus.
"Aku ingin yang besar, luas, dan bersuasana sejuk disini." jawab Edler.
Marinus mengangguk. “Oke. Bisa saja aku carikan untukmu.”
"Ada beberapa rumah di wilayah ini yang masih belum di huni, kau pilih saja semaumu. Mana yang membuatmu nyaman." jawab Marinus.
“Lalu mau kapan kamu akan melihatnya?” Sambungnya lagi.
"Baiklah, kita akan berunding besok saja. Hari ini sudah hampir menjelang malam. Aku harus istirahat dulu di penginapanku. Aku lelah sekali hari ini.” jelas Edler.
"Baiklah kalau begitu. Datanglah saja kemari.” ucap Marinus.
"Baiklah. Ya sudah, aku akan pulang dulu." jawab Edler.
"Ok. Sampai jumpa besok. Hati-hati di perjalananmu. Banyak gerombolan di luar sana.” ucap Marinus mengingatkan.
“Tenang saja. Aku selalu siaga dengan situasi seperti itu.” Ucap Edler.
“Baiklah. Sampai jumpa besok.” Lalu Edler berpamitan dengan sahabatnya itu.
Edler bergegas ke arah kereta kudanya.
Lalu ia menaikinya dan langsung berjalan pulang.
"Sudah beres, Tuan?" tanya kusirnya.
"Sudah. Ayo kita langsung menuju penginapan saja. Aku sangat lelah hari ini. Aku ingin beristirahat.” jawab Edler.
"Baik, Tuan." ucap kusirnya.
Lalu ia pun berangkat menuju pengingapannya yang terletak di pusat kota.
————————————————————-
Tak terasa, malam pun tiba.
Terlihat Ratih dan Lenna yang sedang bersantai di dapurnya dekat api tungku.
Lalu Ratih menanyakan pendapat Lenna soal Edler.
"Lenna, apa pendapatmu tentang pria itu?" tanya Ratih.
Lenna menggeleng.
"Entahlah bu, walau dia terlihat baik, tapi aku masih sedikit takut. Ditambah lagi karna dia orang Belanda." tutur Lenna.
"Oh ya, Apa kamu tau, saat kamu mandi sore tadi, ibu sempat berbincang dengan Edler, Edler bilang dia ingin selalu datang kemari." ucap Ratih.
Lenna menoleh ke arah Ibunya itu.
"Memangnya mau apa dia ingin kemari?" tanya Lenna.
"Tadi saat kamu mandi, ibu banyak berbicara dengan dia. Lalu dia mengatakan pada ibu kalau dia menyukaimu. Karna itulah dia ingin selalu datang kemari untuk menemuimu." jelas Ratih.
Lenna kaget mendengar perkataan dari ibunya.
"Memang apa yang dia sukai dariku bu? Dia seorang bangsawan kaya, lalu kenapa dia menaruh rasa suka pada orang sepertiku? Lagipula kita baru hari ini bertemu. Kenapa bisa dia langsung menaruh perasaan terhadapku?” ucap Lenna.
"Entahlah, ibu tidak tau alasannya. Ibu juga tidak menanyakan alasan mengapa dia menyukaimu." jelas Ratih.
"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Yang penting kamu tetap berhati-hati saja terhadap dia. Yang ibu takutkan, ia hanya berpura-pura baik untuk merebutmu.” lanjut Ratih.
"Aku tidak habis pikir saja bu. Padahal aku dan dia baru kenal dan baru bertemu hari ini sejak pertama dia datang. Tapi apakah secepat itu dia jatuh hati pada seorang wanita yang baru ia lihat? Lagipula dia kan belum mengenalku bu, aku juga belum mengenal dia. Itu saja yang membuatku tak habis pikir." jelas Lenna.
"Iya. Ibu juga berpikir seperti itu. Apa dia memiliki maksud lain, atau apa, ibu juga masih bertanya-tanya dalam hati sendiri. Tapi ya sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Yang jelas kamu tetap hati-hati saja. Ibu juga akan selalu mengawasimu dan melindungimu sebisa mungkin." sahut Ratih.
"Hmm.. Aku akan malu jika sampai bertemu dengannya lagi. Tidak mungkin juga aku bisa menghindar darinya. Karena pasti dia akan selalu datang ke tempat tuan Heots.” ucap Lenna.
"Kenapa harus malu? Memangnya kamu punya salah pada pria itu? Memangnya kamu mencuri? Tidak perlu malu. Bersikaplah biasa saja. Bersikaplah dingin.” jelas Ratih.
"Aku malu perasaan bu." ucap Lenna.
"Kenapa malu perasaan? Kalau kamu merasa malu atas perasaanmu, itu tandanya kamu juga ada perasaan pada orang itu. Ditambah lagi kamu selama ini kan belum pernah dekat dengan pria. Dan belum pernah merasakan juga apa yang namanya jatuh cinta. Iya kan?" ucap Ratih.
"Iya sih. Tapi di lihat-lihat dia memang tampan. Aku hanya kagum saja dengan ketampanan parasnya. Belum ada rasa suka." jelas Lenna.
"Wajarlah jika kamu merasa kagum pada seorang pria. Baru kali ini juga kan kamu merasakan hal itu dengan lawan jenismu? Ya sudah, kalau kamu tidak ada perasaan apapun, kamu tidak perlu malu, bersikaplah biasa saja kalau kamu bertemu lagi dengannya!" ucap Ratih.
"Hmm. Baiklah. Akan aku coba biasa saja nanti." ucap Lenna.
"Ya sudah, ini sudah malam. Ayo masuk kamar. Waktunya untuk istirahat. Besok kita harus kembali bekerja." ucap Ratih.
"Iya bu." jawab Lenna.
Setelag perbincangan itu, lalu Lenna melangkahkan kakinya menuju kamar bersama Ratih untuk kembali beristirahat.
Sesampainya di dalam kamar, terlihat Ratih lebih dulu membaringkan tubuhnya di kasur.
Sedangkan Lenna malah bercermin di kaca yang menempel pada lemarinya.
"Memangnya secantik apa sih aku ini? Sampai-sampai pria bangsawan tampan bisa menyukaiku? Hmmm.. Perasaan aku terlihat biasa saja. Tak ada yang istimewa dariku." batin Lenna sambil dia bercermin melihat dirinya sendiri.
Ratih yang melihat Lenna itu merasa heran, tumben-tumbennya dia bercermin malam-malam begini.
Tidak seperti biasanya.
"Lenna, kenapa kamu malam-malam begini bercermin? Tidak seperti biasanya." tanya Ratih heran.
"Eh, tidak bu. Aku hanya melihat saja diriku. Apa menurut ibu aku ini cantik?" tanya Lenna.
Ratih tersenyum geli mendengar perkataan Lenna itu.
Tidak biasanya dia bertanya seperti itu pada ibunya.
"Kamu mau bagaimanapun juga selalu terlihat cantik Lenna. Memangnya kenapa tumben kamu bertanya seperti itu." ucap Ratih.
Lalu Lenna duduk di tepi ranjang.
"Aku hanya berpikir, memangnya secantik apa sih aku ini, sampai-sampai pria bangsawan sepertinya menaruh perasaan terhadapku. Padahal aku lihat dari diri sendiri tak ada yang istimewa dariku." jelas Lenna.
"Namanya perasaan seseorang jika sedang jatuh cinta atau menyukai lawan jenis itu tidak bisa di ukur dari segi apapun. Tidak pandang bulu. Tidak peduli mau orang itu bagaimana penampilannya, latar belakangnya, dan jati dirinya, kalau sudah menyukai orang itu ya sudah pasti akan tetap suka. Cinta itu memang buta." jelas Ratih pada Lenna.
Lenna sejenak berpikir tentang perkataan ibunya itu. Apa sebenarnya yang di namakan dengan cinta itu.
Lalu tak lama dia pun membaringkan tubuhnya di samping ibunya untuk tidur.
Ternyata cinta itu sudah buta sejak berabad-abad yang lalu. Tanpa memandang bulu, tanpa memandang derajat orang itu sendiri.
Bukan hanya di jaman modern saja.