"WOI AWAAS!"
Bruk!
Sayangnya peringatan itu tak akan berpengaruh saat celaka sudah di depan mata. Bola oren dengan garis-garis hitam itu melambung tinggi ke arah Selina. Selina mendengar teriakan orang-orang. Namun, bayangkan untuk lari, menghindar saja Selina tidak sanggup karena saking terkejutnya. Alhasil, Selina membiarkan bola itu menghantam kepalanya dengan lumayan kencang. Efeknya tidak terlalu parah, tidak sampai berdarah, hanya puyeng yang membuat Selina hampir pingsan dan limbung ke tanah andai tak ada tangan yang menahan tubuhnya.
"Lo nggak pa-pa?"
"Selina nggak pa-pa kan?"
"Lin, are you okay?"
"Lin mana yang sakit?"
Terlalu banyak pertanyaan yang sama membuat Selina meringis lalu perlahan berusaha berdiri tegak. Tetap dengan tangan yang setia memijat pelipisnya bekas di