Bab 1.
Hujan.
Selalu hujan di Selokan Barat.
Air kotor mengalir sampai ke mata kakiku. Baunya busuk, campuran antara sampah, darah kering, dan keputusasaan.
Aku duduk bersandar di tembok yang retak, memeluk lutut. Jubah compang-camping yang kupakai sudah tidak bisa disebut jubah lagi. Warnanya abu-abu, penuh tambalan.
Namaku Kael.
Umurku 19 tahun.
Statusku di kota ini hanya satu: sampah.
Di Akademi Sihir Aetheria, mereka memanggilku "Anak Kutukan".
Mereka tidak sepenuhnya salah.
Di tengah dadaku ada sebuah tanda. Bentuknya seperti mahkota yang retak menjadi dua. Panas. Terkadang berdenyut seperti jantung kedua.
Dan di punggungku, ada rahasia yang lebih mengerikan.
Aku menarik ujung bajuku ke atas. Di punggung bagian bawah, terdapat dua bekas luka besar.
Bukan luka biasa. Itu adalah bekas sayap yang dicabut paksa.
Darah dan dagingnya disobek saat aku masih bayi.
"Anak campuran," begitu bisik para pelayan.
"Ayahnya adalah Raja Iblis. Ibunya adalah selingkuhan manusia dari Raja Cahaya."
Aku tidak pernah bertemu dengan mereka. Aku dibuang di selokan ini saat umurku baru tiga hari.
Sejak hari itu, aku hidup sendirian.
Tangan kananku mengepal. Dari ujung jari, muncul api kecil. Warnanya emas, hangat, dan terasa familiar.
Tangan kiriku juga mengepal. Dari telapaknya, keluar asap hitam. Dingin, dan rasanya seperti menusuk tulang.
Aku memiliki dua kekuatan yang tidak seharusnya ada dalam satu tubuh.
Jika aku ceroboh menabrakkannya, maka tubuhkulah yang akan hancur terlebih dahulu.
"Percuma," gumamku. Api dan asap itu padam bersamaan. "Tidak ada gunanya juga."
Dari kejauhan, terdengar suara bel akademi. DONG. DONG. DONG.
Itu adalah tanda bahwa para murid bangsawan akan memulai latihan sihir di lapangan utama.
Aku membenci suara itu.
Karena aku tidak pernah diperbolehkan masuk. Darahku kotor, kata mereka. Kehadiranku akan m*****i akademi.
Perutku berbunyi. Sudah dua hari aku tidak makan.
Roti basi yang kumakan kemarin sudah habis.
Berarti aku harus pergi ke pasar. Mencuri, seperti yang biasa kulakukan.
Langkahku terhenti.
Di atas langit, ada sesuatu yang tidak beres.
Langit retak.
Ada garis hitam yang panjang, seperti kaca yang pecah. Dan dari celah itu, keluar asap berwarna merah pekat.
"Gerbang Neraka," bisikku. "Terbuka lagi."
Hal itu sudah tertulis dalam ramalan sejak seribu tahun lalu.
"Saat Anak Mahkota lahir, Gerbang akan terbuka. Dan dunia akan dipaksa untuk memilih."
Aku tertawa. Suaranya pahit. "Memilih apa? Memilih siapa yang akan mati duluan?"
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki. Cepat, teratur, dan banyak.
Itu adalah Patroli Akademi.
"Di sana!" teriak salah satu dari mereka. "Itu Anak Kutukan!"
Aku langsung berlari.
Aku tahu mereka tidak akan menangkapku untuk diajak bicara. Mereka akan menangkapku untuk disiksa. Dengan alasan "demi keamanan akademi".
Aku berbelok ke g**g yang sempit. Napasku mulai tersengal.
Tangan kananku mengeluarkan api untuk membakar tumpukan kayu yang menghalangi jalan. Tangan kiriku mengeluarkan asap untuk mengaburkan pandangan mereka.
"Berhenti, Kael!"
Sebuah anak panah cahaya melesat dari belakang. Anak panah itu meleset dari kepalaku hanya beberapa sentimeter.
Aku terus berlari, sampai akhirnya aku tiba di ujung g**g buntu.
Di depanku ada tembok tinggi. Di belakangku, ada lima orang penyihir akademi yang berseragam putih.
Pemimpin mereka maju ke depan. Dia mengenakan jubah panjang dan membawa tongkat emas.
"Kael Varnok," katanya dengan suara datar. "Dengan perintah langsung dari Raja Aetheria, kau dinyatakan ditangkap."
"Atas dasar apa?" tanyaku. Aku berusaha membuat suaraku terdengar berani, padahal lututku gemetar.
"Atas dasar darah iblis yang mengalir di dalam tubuhmu. Kau adalah ancaman bagi kerajaan."
Aku mengepalkan kedua tanganku. Api dan asap keluar bersamaan.
"Aku tidak mau ditangkap."
"Kalau begitu, kami akan memaksamu."
Mereka menyerangku secara bersamaan.
Aku menangkis serangan pertama dengan api. Aku menghindar dari serangan kedua dengan asap.
Namun, aku hanya satu orang. Sedangkan mereka berlima.
Sebuah sihir angin menghantam tepat di dadaku.
DUG.
Tubuhku terpental dan menghantam tembok di belakangku. Darah keluar dari sudut bibirku. Tanda di dadaku berdenyut kesakitan.
"Selesai," kata pemimpin itu. Dia mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi.
Tiba-tiba, terdengar suara lain dari atas.
"Diam."
Suara itu adalah suara seorang perempuan. Dingin, jelas, dan berwibawa.
Sebuah anak panah angin melesat dari atas tembok. Anak panah itu tepat mengenai dan menjatuhkan tongkat milik pemimpin.
Semua orang langsung menoleh ke atas.
Di atas tembok, berdiri seorang gadis.
Rambutnya panjang berwarna perak. Matanya berwarna biru seperti es. Dia mengenakan jubah biru-putih milik Akademi.
Di punggungnya, tergantung sebuah busur.
*Putri Mahkota Lyra Aetheria.*
"Siapa pun yang berani menyentuhnya," kata Lyra. Suaranya tidak keras, tetapi setiap kata terdengar jelas. "Akan berurusan denganku."
Para penyihir itu saling berpandangan. Lalu, dengan enggan, mereka mundur.
"Mohon maaf, Yang Mulia," kata pemimpin itu. "Tetapi dia berbahaya."
"Dia akan menjadi lebih berbahaya jika kalian terus memojokkannya," jawab Lyra. "Sekarang, pergi."
Mereka pun pergi, sambil terus melirik ke arahku.
Suasana menjadi hening.
Hanya ada suara rintik hujan.
Aku masih duduk di tanah, sambil sesekali batuk darah.
"Kenapa... kau menolongku?" tanyaku dengan suara pelan.
Lyra melompat turun dari tembok. Gerakannya ringan. Dia lalu berjongkok di depanku.
"Karena aku sudah membaca ramalan itu," katanya. "Dan karena... kau terlihat seperti orang yang belum menyerah untuk hidup."
Aku tertawa kecil. Dadaku terasa sakit. "Aku sudah lelah hidup."
"Kalau begitu, cobalah hidup karena alasan lain," katanya.
Dia mengulurkan tangannya ke arahku.
Tangannya bersih, putih, dan tidak ada luka. Sementara tanganku kotor, kasar, dan berlumuran darah.
Aku menatap tangannya dalam waktu yang lama.
"Jika aku ikut denganmu, aku mungkin akan mati."
"Mungkin," jawabnya. "Tetapi jika kau tidak ikut denganku, maka kau pasti akan mati di sini. Sendirian."
Ada sesuatu di mata Lyra. Bukan rasa kasihan.
Itu adalah tekad yang kuat.
Aku menghela napas panjang. Lalu, aku menggenggam tangannya.
Tangan kami sangat berbeda.
Tangannya hangat. Tanganku dingin.
Namun, saat kulit kami bersentuhan, tanda di dadaku yang tadinya berdenyut, tiba-tiba berhenti.
Lyra menarikku untuk berdiri. "Namaku Lyra."
"Aku tahu," kataku. "Putri yang katanya tidak pernah tersenyum."
"Sekarang, aku tersenyum," katanya pelan. "Karena kau mau ikut denganku."
Kami berjalan keluar dari g**g itu bersama-sama.
Di belakang kami, hujan masih turun.
Di depan kami, langit masih retak.
Tetapi untuk pertama kalinya dalam hidupku,
aku tidak berjalan sendirian.
"Ke mana kita akan pergi?" tanyaku.
"Ke tempat yang aman terlebih dahulu," jawab Lyra. "Lalu, kita akan mencari cara untuk menutup Gerbang itu. Sebelum tengah malam di hari ketiga."
"Hari ketiga?"
"Tanda di dadamu," kata Lyra. Dia melirik ke arah dadaku. "Aku bisa merasakannya. Jika tidak ditutup, maka kau akan meledak dan menghancurkan setengah kota."
Aku terdiam.
Jadi, ini adalah akhir dari hidupku.
Namun anehnya, aku tidak merasa takut.
Karena ada gadis ini yang berjalan di sampingku.
Dan saat kami melewati gerbang kota,
aku mendengar sebuah bisikan pelan dari arah langit.
"Anak Mahkota telah bergerak..."
BAB 1 - TAMAT