Sohwarin terdiam. Jemarinya masih tertahan di bawah genggaman Kalief, sementara ujung roknya berhenti tepat di pertengahan paha.
“Kalief…” suaranya melirih. “Aku hanya ingin memastikan satu hal.”
“Memastikan apa?” Kalief menurunkan tangan wanita itu dengan hati-hati, lalu menarik rok Sohwarin hingga kembali menutup kedua lututnya.
“Bahwa kau benar-benar menginginkanku.” Sohwarin menunduk, jemarinya meremas seprai. “Bahwa aku masih pantas untuk di inginkan.”
Kalief menghela napas panjang. Ia kembali meletakkan kedua telapak tangannya di betis Sohwarin, melanjutkan pijatan yang sempat terhenti, seakan ingin menegaskan bahwa ia tidak pergi ke mana-mana.
“Kalau aku tidak menginginkanmu, aku tidak akan ada di kamar ini. Aku juga tidak akan meninggalkan kamar sewaanku, lalu pindah ke rumah yang setiap penghuninya menganggap ku parasit,” ucapnya tenang, tanpa nada tersinggung sedikit pun. “Aku hanya ingin menunggu sampai kita halal, Sohwa. Kenapa itu begitu sulit untuk kau percaya?”
Sohwarin menggigit bibir bagian dalamnya. Rasa malu menjalar sampai ke telinga. Ia sadar betul apa yang baru saja ia lakukan yaitu menguji seorang pria di kamarnya sendiri, di malam yang sama ketika putrinya menghina bentuk tubuhnya di meja makan.
“Maafkan aku,” bisiknya akhirnya. “Aku memang sudah berjanji… hanya betis, kan?”
“Ya. Hanya betis,” jawab Kalief sambil tersenyum tipis.
Wanita itu tertawa kecil, tawa yang di paksakan untuk menutupi sesuatu yang tidak ingin ia akui. Selama beberapa menit berikutnya, kamar itu hanya di isi suara jemari Kalief yang menekan otot betis dan sesekali helaan napas lega Sohwarin. Tidak ada lagi rok yang naik, tidak ada lagi desahan yang di buat-buat.
Setelah selesai, Kalief bangkit dan mengembalikan kursi kecil itu ke tempatnya semula.
“Istirahatlah. Besok pagi kau harus ke kantor.”
“Kalief.” Sohwarin memanggil tepat ketika tangan pria itu menyentuh gagang pintu. “Terima kasih… karena tidak memanfaatkan kesempatan.”
Kalief hanya mengangguk, lalu menutup pintu pelan-pelan di belakangnya.
Begitu pintu tertutup, senyum di wajah Sohwarin luruh. Ia merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang menerawang. Sebagian hatinya lega karena Kalief membuktikan diri sebagai pria yang bisa menahan diri. Tapi sebagian lagi justru semakin gelisah. Pria yang menahan diri, atau pria yang memang tidak tergoda sama sekali? Dua hal itu terdengar mirip, padahal akibatnya jauh berbeda bagi seorang wanita berusia lima puluh lima tahun. Sohwarin memiringkan tubuhnya, memeluk bantal, dan membiarkan pertanyaan itu menemaninya sampai tertidur.
Di dalam kamar tamu, Kalief menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang baru saja tertutup. Kepalanya menengadah, matanya terpejam, membiarkan napasnya turun perlahan.
Ada yang mengganjal di hatinya, dan ganjalan itu bukan soal rok yang nyaris tersingkap tadi. Melainkan sepasang mata Sohwarin yang menuntut bukti. Wanita itu mulai ragu, dan keraguan tidak pernah tumbuh sendiri. Selalu ada yang menanam benihnya lebih dulu. Kalief tahu betul siapa penanamnya.
“Sabine…” gumamnya lirih.
Ia melangkah ke jendela, menyibak tirai sedikit. Dari lantai dua, halaman belakang kediaman Tanri terlihat lapang. Kolam renang di tengahnya memantulkan cahaya lampu taman, tenang dan biru, seolah tidak tahu apa-apa tentang keributan yang terjadi di dalam rumah.
“Aku tidak boleh membalas gadis itu dengan cara yang sama,” bisiknya pada bayangan dirinya sendiri di kaca. “Kalau aku ikut keras, Sohwa yang akan hancur di tengah.”
Kalief menarik napas dalam-dalam. Ia sudah pernah hidup di rumah besar yang setiap sudutnya menyimpan kebencian. Kediaman keluarga Tanvis di Singapura mengajarinya satu hal yaitu permusuhan di dalam satu atap tidak pernah berakhir dengan pemenang. Ia tidak ingin mengulanginya di sini.
Malam itu Kalief tertidur dengan satu tekad sederhana. Besok, ia akan mencoba lagi mendekati Sabine dengan cara baik-baik, sekeras apa pun gadis itu menolaknya.
Ia sama sekali tidak menyadari, tekad itulah yang justru akan menjeratnya.
Keesokan paginya, Sabine menuruni anak tangga dengan wajah kusut. Semalaman ia nyaris tidak tidur.
Sekitar pukul sebelas malam ia sempat keluar kamar untuk mengambil air, dan tepat saat itu pintu kamar mamanya terbuka. Kalief keluar dari sana, menutup pintu itu dengan sangat pelan, seakan tidak ingin ada yang mendengar. Bayangan itu terus berputar di kepala Sabine sampai pagi.
“Non Sabine mau sarapan apa?” tanya Atun yang sedang menata piring di meja makan.
“Nggak usah, Bi.” Sabine menarik kursi lalu menjatuhkan tubuhnya di sana. “Mama mana?”
“Nyonya sudah berangkat dari tadi, Non. Katanya ada rapat pagi.”
“Terus… laki-laki itu?”
Atun tampak ragu sejenak. “Tuan Kalief masih di kamar. Semalam beliau kerja, Non. Pulangnya pagi buta.”
Sabine mendengus. Ia memutar-mutar gelas jus di depannya tanpa berniat meminumnya.
Kemarin ia sudah memakai cara paling kasar yang ia punya yaitu memaki, menghina, mempermalukan pria itu di depan mamanya sendiri. Hasilnya nihil. Kalief hanya menunduk, meminta maaf, lalu tetap saja duduk di kursi yang sama pada malam berikutnya. Justru dirinya yang berakhir dengan pipi memerah oleh tamparan sang mama.
Berarti cara itu salah.
Sabine menegakkan punggungnya. Sebuah pikiran baru terbentuk perlahan-lahan di kepalanya, dan pikiran itu membuat sudut bibirnya terangkat.
“Kalau dia memang mengincar uang,” gumamnya sendiri, “berarti imannya tidak setebal yang dia bilang. Dan laki-laki seperti itu pasti punya titik lemah.”
Ia hanya perlu menemukan titik lemah itu, memancingnya keluar, lalu memperlihatkannya pada sang mama. Sekali saja Kalief tergelincir, semuanya selesai. Tidak akan ada pernikahan.
Sabine bangkit, meninggalkan sarapan yang bahkan tidak ia sentuh, lalu naik kembali ke kamarnya. Beberapa menit kemudian ia keluar dengan bikini hitam dan handuk tersampir di lengan.
Matahari belum terlalu terik ketika ia sampai di tepi kolam. Sabine sengaja tidak langsung menceburkan diri. Ia meletakkan bathrobe-nya di kursi, meregangkan tubuh, lalu menunggu.
Tepat seperti dugaannya, belum sampai setengah jam, pintu kaca yang menghubungkan ruang keluarga dengan halaman belakang terbuka. Kalief melangkah keluar sambil membawa secangkir kopi, rambutnya masih setengah basah.
Langkah pria itu terhenti begitu melihat siapa yang berdiri di tepi kolam.
“Sa… Sabine.” Kalief buru-buru memalingkan wajahnya ke arah pagar taman. “Maaf, aku tidak tahu kau ada di sini. Aku masuk lagi saja.”
“Kenapa harus masuk?” Sabine melangkah mendekat, suaranya ringan, nyaris terdengar manis. “Ini rumah calon istrimu, kan? Kau bebas ke mana saja.”
Kalief tidak menjawab. Ia meletakkan cangkirnya di meja kecil di samping kursi, wajahnya tetap menghadap ke arah kolam.
“Aku lihat kau keluar dari kamar Mama semalam,” lanjut Sabine sambil berhenti tepat di samping pria itu. “Jam sebelas. Kalian ngapain?”
“Aku hanya memijat kaki mamamu.”
“Memijat kaki,” Sabine mengulang, lalu tertawa pendek. “Wah, sebentar lagi kau naik pangkat. Dari tukang pijat jadi tukang warisan.”
Rahang Kalief mengeras, tapi ia tetap tidak menoleh. “Bine, aku sudah bilang. Aku tidak akan menyentuh uang kalian sepeser pun. Aku tetap bekerja seperti biasa. Malam ini pun aku masuk lagi.”
“Oh iya, aku lupa. Bartender.” Sabine memiringkan kepalanya, memperhatikan telinga pria itu yang mulai memerah. “Kalau kau memang sebersih itu, buktikan. Pergi dari rumah ini hari ini juga.”
“Aku tidak bisa.”
Sabine memperhatikan setiap gerak pria itu. Punggung yang terlalu tegak untuk ukuran seorang bartender, cara memegang cangkir yang terlalu rapi, dan telinga yang memerah hanya karena di tatap terlalu lama. Semua itu ia simpan baik-baik di kepalanya.
“Kenapa? Karena kau cinta Mama, atau karena kau tidak sanggup kehilangan kolam renang ini?”
Kalief menarik napas panjang. Ia tetap memilih diam, sama seperti semalam, sama seperti kemarin sore di meja makan. Diam yang ia kira akan meredakan segalanya.
Tapi Sabine menangkap hal lain dari diam itu. Pria ini tidak pernah membalas. Tidak sekali pun. Dan bagi Sabine, orang yang tidak pernah membalas adalah orang yang bisa terus di dorong sampai jatuh.
Ia melangkah lebih dekat lagi. Sedikit saja lagi, bahunya akan menyentuh lengan Kalief.
“Lihat aku,” ucapnya pelan, hampir berbisik.
Kalief tidak bergeming, matanya tetap terpaku pada permukaan air.
“Kubilang lihat aku.” Sabine memiringkan tubuhnya, memaksa masuk ke dalam garis pandang pria itu. “Kenapa? Takut? Atau kau memang tidak pernah berani menatap mata orang yang tahu siapa kau sebenarnya?”